
Luvian menatap sekelilingnya, “Kenapa kita dibawa kesini?”
“Bagaimana kau bisa memindahkan kita sejauh ini hanya dalam waktu singkat, eh?!” Tak ada yang memedulikan pertanyaan Luvian.
“Mereka kini berada di sebuah tempat dengan kediaman besar yang dikelilingi oleh tanaman bunga. Kediaman itu telah hancur sebagian karena suatu pertempuran dahsyat, ini terlihat dari beberapa tembok yang gosong ataupun tertebas pedang.
“Perkenalkan, ini adalah Void Hill, tempat kediaman terdahulu keluarga Lavenia yang telah kuhancurkan...” Slitherio menunjuk kediaman yang sudah ditutupi tanaman liar.
Meski ini adalah permainan, tetapi sulit untuk mengatakannya sebagai sebuah permainan. Bagaimana tidak, semua detailnya sudah mencapai tingkatan yang permainan VRMMORPG lain sulit menirunya..
Memang, setelah beberapa bulan peluncuran permainan Remaist Online ini, ada beberapa permainan genre serupa yang diluncurkan.
Tetapi karena grafis dari permainan ini yang dibuat oleh salah satu manusia tercerdas di bumi membuat permainan ini jauh lebih terkenal dibanding permainan lainnya.
Grafisnya yang bahkan menyentuh sampai ke detail bentuk rumput serta batu yang dibuat serupa serta suasana yang dibuat semirip mungkin dengan dunia nyata membuat permainan Remaist Online lebih cepat dikenal orang-orang.
“Ini... Void Hill?” tanya Alex. Tentu ia mengenal nama tempat itu karena ia pernah mencuri suatu barang langka disini, membuatnya dikenal sebagai King of Thief, “Penampilannya berbeda dari yang kukenal sebelumnya...”
Slitherio serasa ingin mencekik Alex karena kata-kata bodohnya itu. Bukankah sebelumnya ia sudah mendengar tentang kabar Slitherio yang menghancurkan kediaman Lavenia itu?
“Kudengar kalau Slitherio juga pernah menghancurkan sebuah kediaman keluarga bangsawan HeavenSoul...” Qiun berkata dengan pelan, tetapi tetap bisa didengar oleh yang lainnya.
Slitherio tidak menjawab kata-kata Qiun melainkan memilih berjalan masuk ke dalam kediaman itu. Kalau ada hantu, maka hantu itu tidak akan bisa keluar karena cahaya matahari bisa membunuh mereka dalam sekejap.
Biasanya, bangunan tua di Remaist Online akan mendapat penghuni baru, jika sudah lama tidak ditempati oleh makhluk bernyawa. Yaitu Ghost, jenis monster yang hanya bisa dibunuh dengan skill elemen.
Para Ghost akan muncul di beberapa tempat di bangunan tersebut dan akan menghuni tempat itu. Seiring berjalannya waktu, para Ghost ini akan semakin bertambah kuat. Ditambah dengan jumlah mereka yang luar biasa banyaknya membuat mereka sulit dihancurkan karena memang para Ghost ini selevel tingkat jumlahnya dengan jenis monster bernama Fire Ant.
Zero berjalan mengikuti Slitherio, terlihat dari raut wajahnya ia seperti ingin mengetahui lebih banyak tentang petualangannya.
“Ayo kita masuk...” Slitherio membuat secuil api dan cahaya terang seketika menyinari bangunan itu.
Suara teriakan keras terdengar dan sempat membuat WhiteFang ragu untui masuk. Tak lama setelah teriakan itu dimulai, mereka semua merasakan tekanan di tempat itu bertambah kuat.
Tekanan itu ternyata membuat teriakan itu hilang. Slitherio berbalik lalu tersenyum, “Ikuti aku...”
__ADS_1
Sean berjalan di belakang untuk melindungi WhiteFang yang memiliki HP paling tipis diantara mereka.
Slitherio sesekali membuka beberapa ruangan yang bisa dibuka, kalau tidak bisa dibuka Slitherio biasanya akan mendobrak pintu itu hingga hancur.
“Apa kalian tahu kalau tingkat keseraman di Void Hill berada jauh di bawah King Forest?” tanya Slitherio memecahkan hening.
Semua orang terdiam, kecuali Alex. Alex berjalan di sebelah Slitherio dan bertanya, “Kau pernah ke King Forest?”
“Tentu saja, saat aku, Whu, Atra, dan Selena mencari Magic Cube...” Slitherio menatap ke langit-langit.
“Sensasi saat disana betul-betul masih teringat di pikiranku...” ujar Alex. Slitherio mengangguk.
“Jangan bercerita seperti itu. Siapa tahu kalau sosok yang tidak kita inginkan malah berdiri di belakang Sean...” Fei menatap ke kanan dan kirinya. Dari gerak-geriknya, ia terlihat seperti ketakutan terhadap hal semacam hantu dan sebagainya.
“Kau takut hantu?” tanya Qiun. Fei mengangguk.
“Maka turunlah dari posisi 11 Ketua Guild Profesional...” Gorzsha menatap Fei datar. Fei balik menatapnya dengan tatapan tajam, “Kami tidak memerlukan seseorang yang takut terhadap hak sepele seperti ini...”
“Tapi kau tidak tau wujud hantu yang pernah kulihat...” Fei memegangi kepalanya. Secara tiba-tiba, suara pintu terbuka sendiri membuat ketua Guild Violeta terkejut bukan main dan berteriak sekeras ia bisa.
“Maaf, aku membuka pintu ini karena aku penasaran...” Kurei menggaruk kepalanya dengan wajah tak bersalahnya, “Aku tak sengaja...”
“Apa kau tahu kalau aku sudah ketakutan saat mendengar suara pintu terbuka itu dan kau berkata tidak sengaja?!” Fei berjalan mendekati Kurei dan meraih kerah jubah Kurei yang ditutupi jirah tebal.
“Hei, ini adalah ruang pertemuan...” Sean yang berdiri di dekat Kurei membuka pintu itu lagi, membuat jantung Fei serasa ingin melompat keluar dari hidungnya.
“Jangan melakukan hal seperti itu lagi!” Fei melipat tangannya sambil menggerutu kesal.
Sean menengok ke dalam ruangan itu dan melihat lebih jauh lagi isi ruangan itu, “Kurasa tempat ini bisa kita pakai menjadi tempat kita membicarakan hal yang kau tadi ingin katakan...”
Kurei, Luvian, dan WhiteFang ikut melihat isi ruangan itu bersama dengan Sean.
“Ada sekitar... dua belas kursi di tempat ini dan sebuah meja besar...” ujar Luvian menghitung kursi yang ada disana.
“Aku disini. Tidak mau tahu!” Fei segera mengambil tempat di sebelah Sean yang mengambil tempat di ujung meja panjang itu yang berada di dekat jendela besar juga.
__ADS_1
Mereka akhirnya mengambil posisi duduk mereka yang sesuai dengan keinginan mereka. Jika dilihat dari posisi duduk Sean, yang ada di sebelah kanannya adalah Luvian, WhiteFang, Gorzsha, Alex, dan Zero. Yang ada di sebelah kirinya adalah Fei, Kurei, Slitherio, Carey, dan Alex.
“Baik, apa yang ingin kau katakan, Slitherio?” tanya Sean setelah semua orang duduk dengan tenang.
“Ini tentang perjalanan selanjutnya kalian semua...” Slitherio melirik semua orang.
“Kita hanya perlu membagi 9 ketua Guild yang lainnya dengan sama rata dan mencari beberapa anggota lagi, bukan?” tanya Sean. Ia bisa menebak usul Slitherio yang selanjutnya karena memang hal inilah yang mereka terapkan pada perjalanan sebelumnya.
“Ini bukan hanya tentang mencari pemain lainnya yang memiliki kekuatan kira-kira setara dengan kita...” Slitherio memangku dagunya, “Jika dilihat dari beberapa hasil duel sebelum aku dan Sean kembali...”
“Aku ada beberapa laporan tentang GvG yang terjadi sebelumnya...” Alex mengangkat tangannya. Ia lalu berkata.
“Kira-kira, Guild Azure Dragon sudah ditantang sebanyak 10 kali dan mereka menang dengan mudahnya karena memang kekuatan Zero itu sebenarnya lebih tinggi dariku...”
“Guild Crimson sudah ditantang sebanyak 12 kali dan 11 kali menang serta 1 kali seri karena memang kecepatan tangan Carey sudah setara denganku yang mampu mengambil gauntlet yang ada di hadapan Gorzsha sekarang juga...”
Gorzsha melirik Alex di sebelahnya dengan tajam, “Apa maksudmu? Kau ingin merampas gauntlet kesayanganku ini?”
“Itu perumpamaan, bodoh...” Alex mendengus kencang lalu melanjutkan.
“Guild Thiefer telah ditantang sebanyak 15 kali dan 13 kali menang serta 2 kali seri...”
“Kenapa bisa sebanyak itu?” tanya Slitherio.
“Mereka tergiur dengan posisi keempat guild terkuat...” Alex menghela napasnya, “Tak ada ketua guild yang cukup bodoh untuk berebut posisi tiga besar guild terkuat di Midvast...” tentu yang dimaksud oleh Alex adalah Guild Sevens yang menempati posisi pertama Guild terkuat di Midvast, diikuti oleh Guild Reister dan Guild Darkness.
“Guild Reozsya ditantang sebanyak 5 kali dan 5 kali menang...”
“Guild Violeta ditantang sebanyak 2 kali dan 2 kali menang...”
“Guild Takazui ditantang sebanyak 8 kali dan 8 kali menang...”
“Guild Xiun ditantang sebanyak 14 kali dan 12 kali menang serta 2 kali seri...”
“Dan terakhir, Guild Archero yang ditantang sebanyak 16 kali dan 12 kali menang serta 4 kali nyaris kalah...” Alex menutup laporannya.
__ADS_1
“Bagaimana bisa kau hampir dikalahkan oleh Guild One-Star ataupun di bawahnya? Aku benar-benar heran denganmu, WhiteFang...” Sean menatao WhiteFang dengan tajam.