
Ryan menatap jalanan. Raisya, Rayhan, dan Ria masih menunggu kelanjutan kisah Ryan yang bisa dibilang seperti mimpi.
“Aku tahu kalau waktu itu aku tidak bermimpi. Aku betul-betul ke Jepang, negeri yang terdepan soal teknologi, negeri asal para mangaka terkenal, serta negeri asalnya berbagai hal hebat di dunia. Aku tak menyangka hal itu...” Ujar Ryan.
“Ayah masih tak percaya, bukan?” Tanya Rayhan.
“Yah, pada akhirnya ayah dipaksa untuk mengakui kalau itu semua bukanlah mimpi. Ayah dan enam teman ayah menginjakkan kaki kami di Jepang.” Ujar Ryan lagi.
“Lalu? Bagaimana dengan kakek dan nenek?” tanya Ria. Ryan mengangguk.
“Kedua orang tua ayah setuju dan mereka mempersiapkan segalanya dengan baik. Ayah serasa menjadi orang beruntung, dikirim ke Jepang untuk mewakili negara, mungkin hanya para atlet saja yang bisa...” Ryan berkata.
“Apa ayah disana terkena masalah?” tanya Rayhan
“Tidak, ayah malahan merasa senang. Ayah merasa liburan disana...” Ryan memejamkan matanya.
“Yah, liburan dan kau tidak belajar selama hampir sebulan...” Raisya mendengus.
“Baiklah, selanjutnya adalah cerita saat ayah ada di Jepang...”
***
“Ryan, jaga dirimu disana. Kami tak ada disana dan jika waktu mengizinkan, kami akan berkunjung kesana.” Ujar ayahnya sambil menyerahkan paspor yang dibuat olehnya untuk Ryan.
“Tenang saja, aku dan teman-temanku akan menjaga diri. Ayah dan ibu juga ya?” Ryan menyalami kedua orang tuanya dan pamit.
Ryan lalu berkumpul bersama teman-temannya yang juga diantar oleh keluarga mereka masing-masing.
Hati ini adalah hari keberangkatan mereka ke Jepang, negeri tempat turnamen dunia ini dilaksanakan.
Mereka berangkat siang setelah pulang sekolah dan para guru terkejut bukan main setelah Ryan dan teman-temannya memberikan surat dari pemerintah tentang permintaannya untuk mengirim Ryan bersama teman-temannya ke Jepang.
Karena surat itu dari pemerintah, para guru memberikan libur sampai pemerintah memberikan kabar kapan Ryan dan teman-temannya akan masuk.
“Yah, tak terbayang kalau aku akan pergi ke negeri anime!” Agus yang merupakan Otaku tingkat akut tak henti-hentinya bahagia.
__ADS_1
Bisa pergi ke Jepang merupakan impian semua Otaku ataupun Wibu di seluruh dunia, begitu juga Ryan, Agus, dan Justin.
“Kita diminta Check In duluan kalau akan naik pesawat.” Ujar Hendra. Ia mengaku pernah naik pesawat saat masih SMP dulu dan ayahnya mengajarkan cara-caranya.
Mereka lalu bergerak menuju tempat yang diminta setelah bertanya beberapa kali pada petugas sekitar.
“Apa kita terlihat seperti orang tersesat?” Ryan menggaruk kepalanya. Mereka terlihat seperti orang tersesat saja.
“Mau bagaimana lagi, ini bandara luasnya tak terhingga.” Fredy ikut menggaruk kepalanya.
“Lautan jadinya kalau kau mengatakan luasnya yang tak terhingga?” Rio melirik Fredy.
“Apa kau tak tahu ungkapan?” tanya Leo.
Selesai Check In, mereka diminta untuk pemeriksaan sebentar. Hendra yang tahu segalanya tentang tahapan naik pesawat memimpin mereka menuju tempat selanjutnya dengan hati-hati.
Mereka masih 17 tahun dan mereka sepakat kalau orang tua mereka takkan menemani mereka lagi. Anggap saja sebagai pelajaran.
“Kita ini sudah besar, bisa jaga diri, sama seperti Ryan yang mencurigai orang pemerintah sebagai pencuri...” ujar Justin sambil melirik Ryan.
“Waktu itu hanya tragedi, oke?” Ryan menaikkan jempolnya.
“Sepertinya kita bisa belajar dari Ryan tentang jurus Sapu Sakti...” ujar Rio sambil menahan tawanya.
“Oi, diamlah. Aku akan memukuli kalian kalau sampai kita tak mendengar bagian kita...” Hendra terlihat serius.
“Benar juga...” mereka lalu diam sampai akhirnya bagian mereka dipanggil.
“Ikuti aku...” Hendra melihat sebentar tiketnya lalu berjalan memimpin enam orang temannya menuju pesawat mereka.
Mereka kembali bertanya pada petugas sekitar dan mereka kembali terlihat seperti orang tersesat.
Mereka hanya membawa tas gendong sekolah mereka dan di dalamnya berisi beberapa hal penting selama di perjalanan, seperti camilan ataupun yang lain.
Sebelum masuk bandara, mereka membawa satu koper yang berisi keperluan mereka selama beberapa minggu di Jepang. Saking bahagianya, Agus dan para Otaku lainnya yang ada di Squad N5S sampai membawa satu tas kecil untuk membawa oleh-oleh yang mereka beli di Jepang nanti.
__ADS_1
Mereka akhirnya sampai di pesawat dan terakhir tinggal naik dan menikmati perjalanan mereka. Karena mereka melakukan penerbangan internasional, orang-orang di sekitar mereka berbicara dalam bahasa yang sulit dimengerti.
“Bilang apaan sih? Tidak paham aku...” Rio menggaruk kepalanya saat mereka sudah duduk.
Ada tujuh orang dan satu orang akan duduk dengan orang lain. Ryan, Fredy, dan Hendra duduk di kursi yang sama. Leo, Justin, dan Agus duduk di kursi yang sama pula. Yang tersisa tinggal Rio yang akan duduk bersama sepasang kekasih. Kursi di pesawat itu memang dibagi menjadi tiga.
“Sabar ya, Rio Andriana?” Leo menepuk pundak Rio setelah mereka duduk dan terlihatlah kalau hampir semua teman Rio memprihatinkan nasib Rio.
Sebelum berangkat, ada beberapa aturan yang diberitahukan oleh pramugari pesawat itu. Ryan dan yang lainnya mendengarkan dengan seksama. Sesekali pramugari itu juga berbicara dalam bahasa Inggris.
Mereka bertujuh pergi ke Jepang hanya berbekal tekad untuk menang turnamen, tak ada yang lain. Serta beberapa benda yang wajib dibawa oleh mereka.
Diantaranya adalah Auto Translator. Benda ini diberikan oleh Raditya yang waktu itu disangka pencuri oleh Ryan dan benda itu wajib dipakai saat mereka pergi ke luar negeri.
Ponsel, tiket, camilan, headset, headphone, pengisi daya, powerbank, dompet yang isinya kartu identitas, seamplop uang dari orang tua, dan beberapa buku menjadi isi dari tas masing-masing anggota N5S.
Isi koper yang mereka bawa adalah baju ganti selama beberapa minggu serta seragam yang mereka buat untuk turnamen ini.
Warna seragamnya sendiri berwarna biru gelap dengan garis berwarna hitam di pundaknya serta lambang N5S di dada kirinya. Sederhana saja, ujar Ryan sang perancang seragam itu.
Mereka lalu menikmati perjalanan dengan bercerita santai, kecuali Rio yang terlihat sudah memakai headphone miliknya untuk mendengarkan lagu.
Selama di pesawat, mereka dilarang untuk menyalakan ponsel, kalau mode pesawat boleh saja. Sebab itulah Ryan dan yang lainnya memakai mode pesawat untuk mendengar lagu ataupun bermain game ringan.
Selama 7 jam perjalanan, mereka memilih tertidur setelah selama setengah jam bercerita santai. Mereka mematikan ponsel mereka setelah selesai bercerita dan tertidur untuk waktu lama.
***
“Umur 17 tahun sudah pergi ke Jepang, benar-benar seperti mimpi saja ayah ini...” ujar Rayhan.
“Benar, itu benar-benar mimpi!” Ria berkata sedikit berteriak.
“Yah, kami waktu itu benar-benar malu awalnya karena di pesawat itu hanya kami saja yang masih remaja...” Ryan tersenyum tipis, “Tapi Paman Rio lebih malu daripada kami...”
“Paman Rio waktu itu benar-benar sial, ya?” tanya Rayhan yang dijawab anggukan oleh Ryan.
__ADS_1
“Kelanjutannya benar-benar malu...” Ryan menutup wajahnya, “Pesawat akhirnya sampai di Jepang saat sudah malam...”