
“Baiklah, sampai jumpa...” Slitherio dan Naze melambaikan tangannya pada Sean dan beberapa anggotanya. Malam itu keduanya memilih kembali langsung ke Midvast.
Slitherio sedang ada pekerjaan di dunia nyata sehingga ia mengajak Naze untuk kembali ke Midvast.
“Jika ada kabar terbaru infokan padaku ya?” Ujar Slitherio sebelum menghilang.
Sean melambaikan tangannya sebelum bergumam, “Tenang saja...”
Perlu waktu sekitar lma menit untuk berpindah dari Benua Northev menuju Benua Midvast karena jarak antara Midvast dan Northev adalah sejauh 10-20 Km. Sedangkan jarak Heaven’s Vision milik Slitherio dan dewa lainnya adalah sejauh 10.000 Km lebih. Yang artinya Heaven’s Vision mereka sudah mencakup seluruh dunia.
Midvast masih malam, sedangkan di dunia nyata sudah pagi atau siang. Slitherio kembali ke rumahnya dan memutuskan sambungannya untuk sarapan.
***
Ryan membuka matanya, hari ini adalah hari Sabtu, seharusnya ia libur hari ini. Tetapi karena ada keperluan berupa pekerjaan sederhana dari atasannya membuatnya tak bisa bersantai dulu.
Sebab itulah ia mengajak Rio untuk kembali ke Midvast dan memutuskan sambungan disana. Ia kembali ke dunia nyata saat pagi sudah datang dan anaknya sudah berangkat sekolah.
“Apa kau keasyikan bermain sampai melupakan anakmu?” tanya Raisya sambil menaikkan alisnya saat melihat Ryan yang keluar buru-buru.
“Tidak, aku hanya lupa saja dan aku ada keperluan mendadak dengan atasanku...” ujar Ryan mengambil air minum lalu meminumnya dan berjalan mendekati Raisya.
“Aku akan pergi sebentar, jaga rumah...” Ryan mengusap kepala Raisya lalu berjalan pergi.
Saat ada di luar, Ryan langsung berlari menuju tempat kerjanya. Karena sudah nyaris terlambat ia terpaksa berlari dan memaksa tubuhnya yang masih kaku karena bangun tadi.
Jalanan terbilang ramai karena hari ini hari Sabtu dan kebanyakan orang mendapat libur di tempat kerjanya. Seharusnya Ryan begitu, tetapi karena dipanggil oleh atasannya membuatnya tak memiliki waktu libur.
Saat berlari pun Ryan bisa terhambat. Bagaimana tidak terhambat kalau ia melihat siaran televisi di toko elektronik sesaat.
Beritanya tentang Guild Xiun yang terlibat masalah dengan sebuah kekaisaran di Benua Westerie. Tak ada yang mengetahui masalah apa yang terlibat diantara mereka, tetapi yang pasti jika salah satu diantara mereka kalah maka akan menyimpan dendam pada pihak yang menang.
Ryan menggelengkan kepalanya sambil melihat jam pada ponselnya dan memilih berlari lagi. Jarak tempat kerjanya masih jauh dan ia malah memilih menonton berita.
Ryan mempercepat larinya yang jelas membebani tubuhnya dan tepat saat tubuhnya telah melewati batas staminanya, ia akhirnya sampai di tempat kerjanya.
__ADS_1
“Halo Ryan, kau terlambat lagi...” atasannya yang bernama Pak Fendi menepuk pundak Ryan yang sedikit berkeringat, “Dan ini adalah keterlambatanmu yang ke-9...”
“Apa anda tidak ada pekerjaan sampai menghitung yang seperti itu?” tanya Ryan sambil mengatur napasnya. Orang-orang yang otaknya selalu benar tak pernah menjadi teman-temannya Ryan.
“Lupakan itu, aku ingin memberimu pekerjaan tambahan...” ujar pak Fendi lalu mengajak Ryan masuk.
***
Ryan berjalan pulang dengan keringat yang muncul di wajahnya. Permintaan pak Fendi ternyata sederhana, ia hanya meminta Ryan untuk menyalin sebuah file ke laptopnya karena pak Fendi sedang tidak enak badan.
“Sialan memang pak Fendi. Kukira keperluan mendadak, ternyata hanya hal sepele...” Ryan berdecak saat memikirkan hal itu.
Karena sederhana, ia bisa menyelesaikan pekerjaan sederhana itu dalam waktu singkat dan ia pulang dengan santai.
Saat di perjalanan pulang, ia mampir sebentar ke minimarket dan mencari sarapan. Perutnya berteriak meminta diisi karena sudah lama sejak ia memakan sesuatu.
Sudah menjadi kebiasaannya untuk selalu mengonsumsi pil gizi sebelum tersambung ke Remaist Online. Dan biasanya efek pil gizi itu akan bertahan selama satu hari.
Versi terbaru pil gizi bisa membuat orang yang mengonsumsinya mampu menahan lapar selama tiga hari tanpa makan apapun. Bisa dibilang kalau ini adalah penemuan terbaik yang pernah diciptakan manusia.
Ryan sampai di rumah saat matahari sudah di atas kepala. Saat sampai di rumah, anaknya baru saja pulang dan mereka masuk bersama-sama.
“Ayo kita makan siang...” masakan Raisya hari ini adalah telur dadar yang isinya adalah tahu dan keju. Ryan sebenarnya bisa membuat masakan ini, tetapi karena kemampuannya bisa dibilang rata-rata membuatnya tak bisa membuatnya lebih baik dari Raisya.
Ketiganya makan dalam diam karena Ryan sendiri mengajarkan pada Rayhan untuk tidak pernah bicara saat sedang makan. Pelajaran ini sendiri turun dari ayahnya sendiri.
***
Besok adalah hari Minggu, jadi Ryan berencana bermain sampai siang dan Raisya akan mengatakan pada Rayhan kalau Ryan sedang ada pekerjaan atau apapun itu. Jangan sampai Rayhan tahu Ryan sedang bermain.
Malamnya, Ryan langsung tersambung saat Rayhan sudah tidur dan Raisya ikut bersamanya. Dan saat ini, Ryan sudah tersambung kembali dan ia berada di dalam rumahnya.
Slitherio menatap sekelilingnya, di Midvast sudah siang dan Slitherio berencana menaikkan levelnya seharian penuh.
“Slitherio, kau ditantang duel oleh FastStone lagi...” tiba-tiba, Atra datang dan mengganggu Slitherio yang sedang duduk santai di dekat jendela kamarnya.
__ADS_1
“Lagi?” tanya Slitherio. Ini sudah duel ke-16 sejak ia kenal dengan FastStone dan sudah ke-13 sejak mereka meninggalkan Gods Island.
“Katanya ia ingin menjadi lebih kuat dan menyandang gelar God Among the Gods...” ujar Atra sambil menepuk dahinya, “Setelah itu kau harus melawanku, ya?”
“Mana mau! Kau itu setidaknya berada di nomor tujuh kalau soal kekuatan dan nomor tiga jika soal kecepatan. Aku ragu kau bisa menandingiku nantinya.” Ujar Slitherio sambil menaikkan bahunya.
Ada susunan baru tentang pemain terkuat dan bisa dibilang nama Flame Sword God Slitherio berada di nomor dua atau tiga. Slitherio sudah lupa karena daftar itu keluar sekitar tujuh sampai sembilan bulan lalu.
Keduanya berjalan keluar dan berjalan menuju stadium Hostix. Kota Hostix sudah berubah menjadi kota besar dan sudah seharusnya Hostix memiliki stadium. Stadium sendiri dibuat oleh Slitherio berada di luar kota dengan alasan agar jauh dari keramaian.
Stadium sendiri dibuat untuk mencari penduduk yang ingin bergabung ke dalam Guard of Hostix. Biasanya, yang terpilih akan diberikan latihan yang berat oleh Six Dragon Pillar.
Disana sudah menunggu semua anggota Guild Sevens dan dua orang tambahan. Slitherio mengenali dua orang itu karena memang mereka juga menapaki jalan dewa dan sampai di Gods Island.
Seorang yang membawa tombak berwarna biru di punggungnya dipanggil Wilhelm sang Blue Dragon God. Satu orang yang memakai jubah berwarna coklat dengan pedang tersarung di punggungnya bernama Desert God Lore.
“Nah, kau sudah datang, bagaimana kalau kita mulai saja duelnya?” seorang pria yang berdiri di tengah-tengah stadium menggenggam gagang pedangnya yang berwarna biru. Ia adalah sang War God FastStone.
Catatan Penulis:
Saya lagi gak enak badan karena terus begadang buat nulis dan kadang-kadang main Rank.
Kalo up-nya makin gak tentu sama terlambat, bisa aja karena waktu itu saya lagi pusing atau agak panas gitu badannya.
Satu lagi, saya lagi kena Writer Block dan jujur saja, rasanya gak enak.
Ketika lagi asyik nulis tiba-tiba kehilangan ide, begitulah yang saya rasakan akhir-akhir ini. Rancangan cerita yang saya buat dulu sudah gak terpakai lagi karena banyaknya perubahan yang saya buat.
Ditambah ada hari raya di daerah saya membuat saya semakin kekurangan waktu buat nulis. Kalaupun ada, pasti saya pakai buat ngerjain tugas yang muncul untuk mengurangi kebosanan para murid selama liburan.
Kalo up-nya akhir-akhir ini cuma 1 sampe 2 chapter dalam sehari, itu artinya penulis lagi stuck idenya atau lagi pusing.
Itu aja yang bisa saya sampaikan saat ini. Jangan lupa minum air agar selalu sehat. ;)
Salam,
__ADS_1
Rio.