
Atra mengusap wajahnya, ia merasa asing dengan tempatnya kini. Ia lalu memandang sekelilingnya dan melihat hal yang mengejutkan.
Semua teman-teman Guild Sevens dan beberapa pemain yang mungkin mati saat di stadium sedang berkumpul di suatu desa.
“Hoi, apa kau tau ini dimana? Aku tak menemukan lokasi Syacht, mana mungkin kita bisa dihidupkan lagi di tempat yang jauh dari tempat kematian kita...” FastStone menepuk pundak Atra. Whu datang dengan wajah serius.
“Kita ada di desa di tengah hutan, aku tadi sudah melihatnya dengan mata langsung dan menemukan sebuah lubang yang amat besar.” Whu berkata dengan wajah serius.
Atra membuka Map dan melihat di sekitarnya, “Eh? Dimana Syacht?”
“Kita masihlah di Sky Empire dan tempat ini kemungkinannya adalah Everest Mountain.” LoghSeveria datang sambil membawa segelas air. Ia lalu meminumnya.
“Jadi, apa kita akan kembali ke Syacht?” tanya Atra.
“Bagaimana kita bisa kembali ke Syacht kalau kota itu hanya berbentuk lubang besar saja!” Asvi mengerutkan dahinya. Ia adalah yang paling terkejut saat melihat lubang besar yang dimaksud oleh Whu karena ia dan Whu sendiri yang melihat lubang itu.
“Darimana kau tau kalau lubang itu adalah Syacth yang hancur?” tanya Ovyx. Ia datang sambil membawa sekeping biskuit yang sedikit kacau bentuknya.
“Darimana? Karena lubang itu dekat dengan istana Sky Empire dan beberapa orang berhasil kembali ke sana.” Asvi menjawab sambil mengambil biskuit yang dibawa oleh Ovyx lalu memakannya.
Lynx datang dengan Naze yang wajah keduanya terlihat bingung. Dibelakangnya ada Clover, Clarey, Renne, dan June.
“Hanya kita saja yang mati dari Guild Sevens?” Lynx berkata sambil menatap Whu. Whu hampir saja menyelamatkan nyawanya jika saja Visidha tidak menendang Whu ketika melesat menyerangnya.
Clover sebenarnya selamat, tetapi dia memilih untuk diam. Mungkin ia merasa sebagai yang terlemah diantara 17 anggota Guild Sevens.
“Apa kita bisa segera menuju istana Sky Empire?” tanya Geisha gelisah. Ia memang sedari tadi terlihat gelisah.
“Ada portal sebenarnya, tetapi aku...” belum selesai Lynx berbicara sudah dipotong oleh Geisha.
“Tidak ada waktu, kita harus segera pergi ke istana.” Geisha berjalan duluan, diikuti oleh Lynx yang akan menunjukkan jalan.
“Kenapa?” tanya LoghSeveria, Asvi, Naze, Clarey, dan Ovyx.
“Oh, aku paham...” Atra mengangguk lalu ikut berlari bersama mereka. Ia lalu menyejajarkan dirinya dengan Zynga, “Aku tau alasan kenapa Geisha amat ingin pergi ke istana Sky Empire...”
__ADS_1
Zynga mengangkat alisnya, tetapi ia mempercepat larinya dan berhenti di depan sebuah antrian.
“Disini tempat portalnya...” Lynx menunjuk ke sebuah lingkaran putih yang terlihat tipis itu, “Dan aku tau caranya kita bisa mendahului semua antrian ini...” ia lalu berlari ke dua penjaga yang mengurus portal itu.
“Sesuai janjiku tadi, kami ingin kembali ke Syacht..” Lynx berkata dengan percaya diri, membuat orang-orang di belakangnya kebingungan.
“Hei, kami sudah duluan!”
“Antri ke belakang!”
Keributan segera tercipta ketika si pengurus portal mengaktifkan portal dan mencari sesuatu di dalam sebuah Map.
“Maaf, tidak ada yang namanya Syacht di map sekarang...” penjaga berkata sambil menundukkan kepalanya, “Ada tempat lain?”
“Istana Sky Empire...” Geisha berkata dengan pelan. Si penjaga llau mencari sesuatu dan menekannya.
“Maaf, tetapi kami sudah duluan memesan portal ini untuk kami, Guild Sevens.” LoghSeveria melambaikan tangannya lalu berjalan melewati portal mengikuti yang lainnya.
Keributan segera terhenti ketika LoghSeveria mengatakan nama Guild Sevens.
***
“Uh...” Slitherio mengusap kepalanya, ia sudah merasa kalau sebelumnya ada masalah, kenapa kepalanya bisa terbalaskan sesuatu yang empuk.
“Akhirnya kau sadar...” seorang pria berkata lalu memanggil seseorang. Slitherio merasa asing dengan wajahnya lalu bertanya, “Siapa kau?”
“Aku adalah ahli pengobatan istana dan baru saja aku memanggil Yang Mulia Serioza untuk mengurus dirimu.” Pria itu tersenyum lebar.
Seorang pria paruh baya datang dan berdiri di sisi Slitherio dan menatap Slitherio tajam. Pria itu adalah Serioza.
Slitherio membenarkan posisinya lalu duduk dan menghadap Serioza, “Aku ada dimana?”
“Di ruang singgasana Sky Empire. Orang yang tadi kau hadapi pada saat terakhir sudah kami rawat , sedangkan wanita dengan jubah hitam putih dan jubah ungu sudah kami rawat. Pria berseruling tadi memintaku untuk mencari teman-temannya. Dan temanmu tadi memangku kepalamu.” Serioza menjelaskan dengan singkat.
Slitherio melebarkan matanya, ia lalu menatap ke belakang dan menemukan wajah yang tidak asing sedang duduk sambil meluruskan kakinya.
__ADS_1
“Geisha?” Slitherio mendekatkan wajahnya, ia menatap dalam-dalam wajah orang yang tadi memangku kepalanya.
Geisha mengangguk lalu memeluk Slitherio erat. Slitherio melebarkan matanya, ia masih berusaha mencerna situasi.
“Akhirnya Ketua sadar setelah pingsan selama sepuluh menit lebih...” Li datang dengan biasa.
Asvi, Ovyx, Lynx, Zynga, LoghSeveria, dan Naze datang. Mereka lalu berjongkok di depan Slitherio dan di belakang Serioza.
“Baiklah, kalian selesaikan dulu urusan kalian. Aku akan kembali...” Serioza menepuk pundak Atra dan Whu yang baru datang kemudian berjalan menjauh.
Atra dan Whu mengangkat alisnya, keduanya tidak memahami situasi karena tiba-tiba saja pundak mereka ditepuk oleh Serioza.
Clarey, Renne, dan June datang dengan wajah santai, terlihat keduanya seperti telah melalui hal yang menyenangkan. Di belakang mereka berjalan Selena dan Riana yang berbincang seru.
Slitherio berdiri dan menghadap semuanya. Sekarang, semua anggota Guild Sevens kembali berkumpul lagi setelah melalui pertempuran yang berat.
Slitherio tersenyum, senyum yang mengandung kemenangan.
***
“Gagal?” tanya seorang pria pada Visidha yang berdiri biasa sambil melepaskan aura yang tidak menyenangkan.
“Gagal total, bahkan jasad Wagata, Zen, Fadexion, dan Fisvion tidak bisa kutemukan...” Visidha berkata sambil tersenyum tipis.
“Gagal... Aku gagal untuk mencari tubuh baru untuk Death God...” pria itu bukan lain adalah Leone.
Leone memangku dagunya, ia tak menyangka bahwa kegagalannya in berlanjut sampai sekarang.
“Baiklah, tidak ada jalan lain selain kita mengeluarkan semua jendral Hell Empire...”
“Bukankah dengan begitu kita sudah melewati rangkaian rencana yang digunakan untuk mengacaukan kekuatan tempur Midvast?” tanya Visidha.
“Peduli sekali aku dengan rencana itu, yang penting adalah kita harus mengeluarkan semua jendral Hell Empire dari Gate of Beast Hell.” Ujar Leone.
“Jika sampai gagal...” Leone menatap Visidha tajam.
__ADS_1
“Kalau gagal kenapa? Aku dapat membunuhmu sekarang kalau aku ingin...” Visidha mengangkat kepalan tangannya, membuat Leone menelan ludahnya.