Remaist Online: Return Of The Legend

Remaist Online: Return Of The Legend
137. Kisah sang Dewa Pedang


__ADS_3

FastStone ikut menyimak pelajaran yang diberikan oleh Reiy pada Li. Waktu tidak terasa saat Reiy memberikan pelajarannya, tetapi harus FastStone akui, kalau pelajaran Reiy itu benar-benar mudah untuk dipahami.


Waktu berjalan sampai hampir menuju sore saat Reiy menyelesaikan seluruh pelajaran sederhana yang ia katakan merupakan sebagian kecil dari ajaran suci dari Tuhan.


“Saat kau bermusik, ingatlah untuk selalu melibatkan perasaan saat memainkan Music Instrument. Karena dibanding saat bermain asal-asalan, bermain dengan perasaan itu dapat membuat musikmu mewakili perasaanmu sendiri.”


“Usahakan agar saat kau berlatih Music Instrument, luangkan waktumu untuk merenung, merenungkan apa yang mungkin kurang dalam permainan musikmu.”


“Untuk membuat permainan musikmu menjadi lebih nyata, belajarlah dari secuil pengalaman hidupmu. Dan mungkin, pendengar musikmu akan memahami maksud dari musikmu itu.”


“Dari pengalaman, kau dapat menemukan sebuah inspirasi untuk semua nada musikmu.”


Reiy memberikan banyak pelajaran bagi Li, bukan hanya yang disebutkan diatas, tetapi lebih banyak lagi.


“Nah, kau sudah mendengarkan sedikit dari pelajaranku, apa kau bisa mempraktekkan pelajaranku?” Reiy menepukkan kedua tangannya. Satu seruling yang terlihat sederhana muncul dari ruang hampa.


“Kau akan bermain dengan seruling ini...” Reiy memberikan seruling itu. Li menerimanya dan berpikir keras.


“Hmm, apa kau sudah melupakan semua pelajaranku tadi?” Reiy menaikkan alisnya, “Santai saja, kau bisa mengambil inspirasi dari pengalaman pribadimu...”


Li berpikir keras sebelum mulai meniup seruling itu. Suara merdu dan menyejukkan terdengar dari lubang seruling itu.


“Suara yang  terdengar menyejukkan, tetapi aku bisa memahami makna dari musik sederhana ini...” Reiy mengusap dagunya sambil tersenyum tipis, tak ia sangka pelajaran yang memerlukan waktu puluhan tahun untuk ia pahami dapat dipahami oleh Li dalam waktu sekejap.


[Kau menghibur Art Goddess Reiy!


Kau mendapat INT+100, Charisma+100, dan Kapasitas Mana+900 mana.


Kau mendapat title 'Musician'!


Menambahkan Lucky Point+20 saat tampil di depan umum atau berburu]


Li masih belum membaca jendela informasi itu sampai ia menyelesaikan permainan musiknya.


Sisi lain, FastStone, Naze, Lynx, dan Tsuyoshi berada pada situasi sedang menikmati musik Li. Mereka seperti sedang memikirkan saat-saat terendah dalam hidup mereka atau saat mereka berada pada keterpurukan.

__ADS_1


Sederhananya, Li mengambil pengalaman saat kegagalannya menjadi seorang Spearman. Karena saat itu pikirannya hanya untuk menjadi kuat, itulah sebabnya ia merasa frustasi saat ia tak juga berhasil menjadi Spearman.


Saat yang merubah seluruh hidupnya adalah saat ia bertemu dengan seseorang yang memberikannya Job Musician ini dan membuatnya bertemu dengan Top Global nomor satu, Flame King Slitherio yang gelarnya berubah menjadi Flame Sword Emperor Slitherio.


Disaat Li menyelesaikan permainannya, seorang pria dengan sayap berwarna merah melesat dengan cepat menuju mereka semua.


***


Slitherio membuka matanya, ia tidak menyangka akan tertidur di dalam hutan yang terlihat mengerikan. Ia membuka matanya dan langsung terbang menuju Utara.


Slitherio merasa kalau dirinya tertidur dalam waktu sebentar, tetapi hari semakin sore saat dirinya melesat ke Utara.


Semakin dekat dengan Kota Hostix, Slitherio semakin merasakan aura yang terasa menyejukkan.


“Aura ini, aku merasa tenang saat merasakannya...” Slitherio bergumam pelan.


Karena dirinya sering mengikuti pertempuran dan dikeroyok banyak musuh, ia semakin melatih instingnya menjadi semakin tajam, mungkin menyetarai insting milik Naze yang selalu berada di dalam hutan.


Alasan Slitherio menajamkan instingnya karena merasa memerlukannya. Saat ia berada di hutan sekitar Kota Rough, ia selalu merasa terancam, baik karena ancaman serangan tiba-tiba dari musuh ataupun kehilangan nyawanya, ia selalu merasa terancam.


Sebab itulah Slitherio melatih instingnya melalui pertarungan, baik melalui melawan banyak monster ataupun melalui pertempuran, ia melatih instingnya.


Slitherio mendarat dan melihat Li yang sedang bermain seruling di hadapan seorang wanita. Tsuyoshi, FastStone, Naze, dan Lynx terlihat seperti sedang menikmati musik Li.


Tepat saat Slitherio mendarat, cahaya terang kembali terlihat dan memunculkan sosok pria yang membawa pedang di punggungnya.


“Aku merasakan aura keberadaan God Zein, tetapi kenapa aku merasakannya dari pemuda ini?” pria itu menunjuk Slitherio.


God Zein adalah salah satu dari Twelve First Gods dan menyandang gelar sebagai Flame God serta menjadi dewa terkuat ketiga diantara sepuluh dewa elemen yang tersisa.


Slitherio mengangkat tangannya, “Ada apa anda mencari dewa saya?”


Pria itu mengangkat alisnya, “Dewamu? Apa kau bercanda?”


“Tidak, saya tidak bercanda...” Slitherio tetap memakai nada yang sopan.

__ADS_1


“God Zein itu adalah dewanya para Phoenix dan para manusia yang menguasai elemen Api...” pria itu mengelus dagunya, “Apa mungkin kau adalah Phoenix?”


Slitherio mengeluarkan sayapnya dan menatap pria itu. Ia mengetahui kalau kekuatan pria itu berada jauh diatasnya, bahkan lebih tinggi lagi dari FolkChase sekalipun. Itulah sebabnya ia berbicara dengan sopan saat ditanyai olehnya.


“Aku merasakan kalau kalian berlima adalah pengguna pedang, apa kalian mau menerima pelajaran suci dari Tuhan?” pria itu menawarkan sebuah pelajaran bagi mereka berlima, “Kesempatan ini jarang didapatkan oleh manusia biasa...”


“Sudahlah, Gaburon. Jangan ganggu aku memberikan sedikit pelajaranku pada pemuda ini.” Reiy menepuk pundak pria itu dengan pelan sambil tersenyum tipis.


Slitherio, Naze, FastStone, Tsuyoshi, dan Lynx membuka sedikit mulut mereka. Apa ini mimpi? Mereka bertemu dengan Hero terkuat sepanjang sejarah Physical And Magic, yaitu Hero Gaburon.


“Anda... Adalah legenda yang mampu memainkan pedang dengan cepat dan lincah?” Slitherio menunjuk Gaburon dengan gemetaran.


“Oh, kau mengenalku? Tentu saja, aku adalah legenda bagi para pengguna pedang di benua ini...” Gaburon lalu menceritakan kilas balik kehidupan masa lalunya.


Ia adalah seorang pemuda sederhana yang menyukai benda yang disebut dengan pedang. Ia bahkan memakai sapu ibunya untuk bermain pedang-pedangan.


Kehidupannya berubah total saat dirinya diambil oleh seseorang yang mengaku sebagai dewa dan dimasukkan ke dalam sebuah dimensi yang isinya adalah beberapa remaja yang terlihat kebingungan.


Karena tidak ada pilihan, Gaburon akhirnya memilih untuk memejamkan matanya dan tertidur.


Hal pertama yang ia lihat saat membuka matanya adalah wajah seorang pria yang rambutnya berwarna merah dan mata yang berwarna merah juga. Ia mengenalkan diri sebagai God Zein.


Gaburon akhirnya dilatih oleh God Zein dan diberikan ajaran suci dari Tuhan tentang seni berpedang.


Tuhan sendiri datang dan menganugerahkan sebuah gelar baginya setelah puluhan tahun berlatih di sebuah tempat yang disebut dengan Gods Island. Gelar itu adalah Sword God dan ia lalu dikenal dengan nama God Gaburon.


Gaburon menerima gelar itu lalu kembali ke Midvast dengan sebuah teknik yang disebut dengan teleportasi. Ia kembali ke rumahnya dan menemukan kalau adiknya adalah satu-satunya yang masih hidup dari seluruh keluarganya.


Adiknya sudah semakin tua, tetapi dirinya tidak. Ia lalu menghibur adiknya dan mengatakan kalau adiknya harus menjalani sisa hidupnya dengan tenang. Gaburon akhirnya tinggal di rumahnya sampai adiknya meninggal dunia.


Adiknya meninggalkan dua anak, seorang laki-laki dan seorang perempuan. Gaburon melatih kedua anak itu dan menjadikannya sebagai pendekar pedang yang hebat. Keduanya akhirnya mencapai hal yang sulit untuk dicapai oleh orang lain, yaitu menguasai ilmu pedang sampai pada batas tertinggi pencapaian para manusia, yaitu Amat Ahli dan menjadi salah satu dari sedikitnya manusia yang berhasil menapaki jalur keabadian.


Kedua anak itu menikah dengan orang yang mereka cintai dan menurunkan banyak sekali pendekar pedang. Kelak, keluarga itu dikenal lagi sebagai keluarga bangsawan Bureito, salah satu dari banyaknya keluarga bangsawan yang memiliki sebuah ilmu keabadian yang dikembangkan sendiri oleh Gaburon.


Kedua anak itu akhirnya meninggal setelah gagal menembus ke alam yang baru, yaitu alam kehampaan. 

__ADS_1


Nama Gaburon sebagai Dewa Pedang dikenal karena kemampuannya saat mengalahkan sekitar 200.000 monster yang mencoba menginvasi Midvast tengah. Masa itu dikenal sebagai Era Kekacauan.


Setelah menyelesaikan urusannya di Midvast selama hampir dua ratus tahun, Gaburon akhirnya kembali ke Gods Island dan memasuki dimensi baru, yaitu Gods Realm kemudian bersantai disana sampai hari ini.


__ADS_2