
“Nak, bangun. Sudah sampai.” Pramugari pesawat itu menepuk pipi Ryan yang tertidur dengan pulas.
Pramugari itu menggaruk kepalanya, di pesawat itu kini tersisa Ryan dan teman-temannya yang masih tertidur. Semua penumpang sudah turun duluan.
“Astaga, mereka ini sulit sekali dibangunkan...” Teman pramugari itu menepuk pipi Ryan lagi, tetapi sedikit lebih keras.
“Uaahh, kalau maju jangan pakai ulti!” Ryan langsung terbangun sambil berteriak keras.
Karena pesawat itu isinya hanya Ryan, teman-temannya, dan petugas di pesawat, sehingga suara teriakan Ryan bisa terdengar keras karena bergema.
“Dimana kita?” tanya Rio yang baru bangun.
“Isekai mungkin?” tanya Agus yang baru bangun dengan mata masih sedikit terbuka.
“Apa sudah sampai?” tanya Hendra dengan tenang.
“Ya, kami sudah sampai dan tersisa kalian saja di pesawat ini. Sebelum turun...” pramugari itu menjelaskan yang perlu dilakukan setelah pesawat mendarat.
Ryan dan teman-temannya yang baru bangun tentu saja tak bisa menyimak dengan benar. Pramugari itu menggaruk kepalanya laku berkata dengan sederhana, “Periksa barang-barang Anda.”
Ryan dan yang lainnya langsung memasukkan Headphone mereka dan kembali menyimak. Pramugari itu kembali menjelaskan dengan sederhana.
Berkata panjang takkan membuat tujuh orang ini paham, batin pramugari itu.
Ryan dan yang lainnya mengeluarkan jaket mereka lalu memakainya. Setelah selesai, mereka memakai tas mereka lalu turun dari pesawat. Sambil turun, mereka memakai Auto Translator yang diberikan oleh orang yang sebelumnya ke rumah Ryan.
Mereka kembali dituntun oleh Hendra dan karena ini Jepang, mereka tak bisa bertanya pada penjaga sekitar.
Mereka berkeliling di gedung bandara tanpa tahu arah, sampai seorang petugas baik hati bertanya pada mereka.
Petugas itu bertanya dalam bahasa Jepang, Agus yang Otaku sekalipun masih belum terlalu paham dengan bahasa Jepang.
“Petugas itu memakai alat yang sama dengan kita, mungkin kita bisa bertanya?” tanya Ryan sambil menyikut Hendra.
Hendra lalu mencoba bertanya dan tiba-tiba, alat yang dipakai oleh Hendra dan teman-temannya bereaksi.
Bahasa Jepang yang dipakai oleh petugas itu terdengar menjadi bahasa Indonesia. Kira-kira seperti ini artinya, “Ada yang bisa saya bantu?”
Hendra lalu mengatakan hal yang ingin ia tanyakan dan petugas itu tetap menjawab dengan bahasa Jepang, tetapi bahasa yang didengar oleh semuanya bahasa Indonesia.
__ADS_1
“Jam? Sekarang sudah pukul 9 malam waktu setempat, sudah 5 menit sejak pesawat kalian mendarat di bandara...” jawab petugas itu saat Ryan bertanya jam pada petugas itu.
“Jam 9 malam?!”
Mereka diberitahu oleh Ari kalau akan ada seorang pemandu yang akan memandu mereka saat sudah sampai di Jepang.
Mereka lalu bertanya dimana mereka bisa mengambil koper mereka yang dititipkan di bagasi. Petugas itu menuntun mereka ke sebuah tempat.
Mereka lalu menghampiri tujuh koper dengan warna yang berbeda-beda dan memeriksa nama yang tertera disana.
“Jalan untuk keluar lewat sini...” petugas itu menuntun kembali mereka sampai ke sebuah pintu lebar yang terbuka. Disana lumayan sepi.
“Nah, sampai jumpa...” ujar petugas itu lalu kembali ke tempatnya tadi bertugas.
Ryan dan yang lainnya menggaruk kepalanya. Mereka keluar dari pintu lebar itu dan melihat satu orang yang membawa kertas yang bertuliskan nama Squad mereka, N5S.
“Kalian baru datang...” orang yang membawa kertas itu terlihat kesal, “Aku sudah menunggu kalian sejak setengah jam lalu...”
“Mau bagaimana lagi, kami mengantuk karena perjalanan dari Indonesia...” ujar Ryan sambil menggaruk kepalanya.
“Itu wajar karena disini suhunya sedikit dingin, bisa membuat orang sedikit mengantuk.” Ujar orang itu membenarkan ucapan Ryan, “Ikuti aku, aku akan mengantar kalian ke Money Changer yang ada di bandara ini...”
“Dari pemerintah, kita diberi bekal 4 juta, dari orang tuaku aku mendapat 500 ribu...” ujar Ryan.
Semua orang disana mendapat uang bekal dari pemerintah sebesar 4 juta dan .ereka juga mendapat uang bekal sebesar 500-600 ribu dari orang tua mereka.
“Kita tukar sebagian uang Indonesia menjadi uang Jepang dan sebagian lagi kita simpan.” Ujar Ryan. Mereka merancang keuangan mereka selama di Jepang dan mereka harus berhemat.
“Di hotel seharusnya ada Wi-Fi, bukan?” tanya Rio. Hendra dan Justin mengangguk, sebagian lagi menggeleng.
“Sinyal kalian akan tetap ada di sini, tetapi aku sarankan agar kalian berhemat. Disini biayanya benar-benar besar, aku saja sampai kebingungan untuk mengatur keuanganku...” ujar pemandu mereka.
“Nah, sudah sampai...” pemandu itu mengantar mereka ke sebuah kios kecil yang bertuliskan aksara Jepang.
Karena pemandu mereka sudah mengatakan tempat itu adalah Money Changer, mereka masuk sambil mengeluarkan uang yang menjadi bekal mereka.
Petugas Money Changer berbicara bahasa Jepang, Ryan yang berkata kali ini dan mereka menukar uang Indonesia mereka menjadi uang Jepang.
Setelah selesai, mereka keluar dan kembali menemui pemandu yang sedang duduk menjaga koper mereka.
__ADS_1
“Sekarang kita ke hotel khusus.” Ujar pemandu itu lalu mengajak mereka ke mobil yang terparkir tak jauh dari sana.
Sebuah mobil SUV terparkir di dekat mereka dan pemandu mereka menaikkan koper mereka yang lumayan kecil baginya dan lumayan besar bagi yang membawanya.
“Hotelnya dekat atau tidak?” tanya Ryan yang duduk di depan. Pemandu yang menyetir mobilnya menggeleng.
“Hotel itu khusus dipesan oleh panitia untuk para peserta turnamen dan jaraknya kira-kira dua puluh menit dari sini...” ujar pemandu itu.
Ryan mengangguk. Ia menoleh ke belakang dan melihat teman-temannya yang asyik mengobrol ramai, entah itu tentang game ataupun yang ingin mereka lakukan selama di Jepang.
“Kalian memang ramai, ya?” tanya pemandu itu sambil tertawa kecil.
“Ah, benar. Kami memang ramai seperti ini dan kami harap kami tidak mengganggu anda.” Ujar Ryan sambil menangkupkan kedua tangannya.
“Ah, tidak. Malah aku senang karena aku takkan mengantuk...” pemandu itu lalu teringat sesuatu, “Kalian belum makan, ya?”
Pertanyaan pemandu itu membuat Ryan dan teman-temannya terdiam, “Begitu ya?”
“Belum...” Rio dengan bodohnya menjawab sambil menggaruk kepalanya.
“Baiklah, kita akan makan mie udon di dekat sini...” pemandu itu mengelus perutnya, “Aku juga ingin makan makanan itu...”
***
“Eh?! Kamar kita kosong?!” tanya Hendra sambil menjambak rambutnya dan jatuh berlutut.
“Kita akan tidur dengan futon, bukan?” tanya Ryan. Setidaknya ia tahu nama benda itu karena sering muncul di anime sebagai tempat tidur para karakternya.
“Aku cari dulu...” Agus mencari ke lemari besar yang ada di dekat sana lalu berkata, “Ada sembilan futon yang tergulung disini. Masing-masing satu...” ia lalu mengeluarkan satu gulungan futon.
Mereka lalu meletakkan koper mereka di dekat lemari itu lalu mengambil satu persatu futon yang digulung lalu membukanya. Mereka menjajarkan futon mereka.
Mereka lalu rebahan bersamaan di futon itu. Rio berkata dengan pelan, “Kita sudah sejauh ini, semoga kita tak mengecewakan Indonesia...”
“Yah, kau benar...” Hendra berkata pelan.
“Oh ya, jadwalnya bagaimana?” tanya Leo tiba-tiba. Semua orang langsung diam.
“Memangnya kita ada jadwalnya?” tanya Justin lagi. Ryan terlihat berpikir keras.
__ADS_1