Remaist Online: Return Of The Legend

Remaist Online: Return Of The Legend
164. Pertempuran Sahara Desert II


__ADS_3

Seluruh pasukan segera maju, entah itu Defender atau Attacker, semua maju. Taktik ini dibuat oleh Sean sehari sebelumnya.


Seluruh Defender dengan inti job Tank serta sejenisnya dan Attacker dengan inti job Warrior, Assassin, serta sejenisnya maju duluan. Slitherio dan yang lainnya yang berdiri di posisi depan tetap ditempat mereka.


WhiteFang diberi posisi di belakang untuk memberi perintah bagi para Attacker di belakang. Beberapa Defender juga diam di posisi belakang untuk melindungi para Support ini.


Posisi WhiteFang digantikan oleh Whu yang memiliki kekuatan hampir menyetarai 11 Ketua Guild Profesional.


Slitherio memilihnya karena hanya Whu seorang yang Slitherio ketahui dapat menghilangkan perbedaan jumlah saat pertempuran.


Saat Seven Deadly Sins di posisi depan pasukan lawan serta tujuh jendral Hell Empire bergerak, barulah Slitherio dan yang lainnya maju. Kekuatan mereka adalah yang tertinggi diantara pasukan aliansi.


Sebenarnya, mereka berniat mengajak Desert God Lore untuk ikut bergabung dalam pertempuran, tetapi entah apa alasannya, Lore menolak untuk ikut dalam pertempuran.


Pasukan Hell Empire berjumlah amat banyak, tetapi keragaman jenis serangan yang dimiliki pasukan aliansi jelas lebih banyak dibanding pasukan Hell Empire.


Saat pasukan Hell Empire maju, WhiteFang yang menerima perintah untuk memberi perintah untuk menyerang dari belakang segera berseru, “Panah mereka!” WhiteFang lalu menarik busurnya dan melepaskan anak panah dalam jumlah besar.


Hari itu, anak panah yang disiapkan oleh pasukan aliansi sebanyak 5.000 anak panah per orang. Tujuannya untuk mengantisipasi kejadian kehabisan anak panah.


Pasukan para Defender dan Attacker mulai berbenturan dengan pasukan lawan. Saat terjadi hal itu, pasukan pemanah dari belakang mulai melepaskan banyak sekali anak panah.


Dengan level kebanyakan para Archer ini adalah level 400, membuat satu anak panah saja sebenarnya cukup untuk menghabisi satu prajurit Hell Empire.


Tetapi satu prajurit Hell Empire malah me Erina lebih dari satu anak panah, membuat hujan anak panah yang dibuat mereka menjadi tidak terlalu mempengaruhi pertempuran.


Di depan, para Defender dan para Attacker berterimakasih pada para Archer karena membantu mereka mengurangi musuh.


Disaat mereka berada pada situasi di atas angin, lain ceritanya dengan para pemimpin dua pasukan besar ini.


***


“Kekuatan Seven Deadly Sins memang sulit diremehkan...” Slitherio berusaha mengatur napasnya, ternyata sulit untuk berusaha mengimbangi Leone, apalagi berusaha mengalahkannya. Terlihat sulit.

__ADS_1


“Midvast sudah kehilangan otaknya, mencoba mencari gara-gara dengan Seven Deadly Sins ini!” Sueta yang sedang menghadapi Serioza tertawa lepas, tanpa memedulikan lawannya yang sudah kesulitan untuk bernapas tenang.


“Tidak!” Zaburo mengeratkan genggamannya kemudian maju melawan seorang pria yang memiliki tubuh gendut yang mengaku bernama Demino.


Demino ini bisa dibilang sedikit lemah, tetapi ia mampu memojokkan Zaburo yang jelas-jelas memiliki kekuatan sedikit dibawahnya, hampir menyetarainya..


Trestio mendapat lawan Whazard, jadi ia kembali melawan musuh yang sama dengan enam bulan lalu. Tetapi kekuatan Trestio juga tak bisa dianggap remeh. Hanya dia yang mampu mengimbangi lawannya, bahkan di saat yang lainnya kesulitan untuk mengimbangi lawannya.


Alex mendapat lawan seekor burung yang berubah menjadi manusia, ia mengaku bernama Lava Bird. Bisa dibilang, kekuatan keduanya berimbang, tetapi Alex berhasil dipojokkan oleh lava Bird hanya dalam waktu singkat.


Sebagai Thief, Alex memiliki serangan layaknya Archer dan memiliki kecepatan layaknya Assassin. Seharusnya ia mampu mengimbangi Lava Bird yang dikenal hanya memiliki serangan yang kuat tapi memiliki kecepatan yang rendah.


Sang Gold Dragon God Sean mendapat lawan yang mendapat julukan Hell Dragon Visidha. Memang nasibnya Sean sial karena mendapat lawan sekuat Visidha.


Dan memang yang ditakutkan Sean terjadi. Visidha mampu memojokkan Sean hanya dalam waktu singkat, bahkan sebelum Sean mampu mendaratkan serangannya pada Visidha.


Qiun mendapat lawan yang mengaku bernama Louse. Dia mengaku adalah salah satu dari anggota Seven Deadly Sins dan dianggap terkuat nomor empat.


Ucapan Louse itu benar adanya, batin Qiun setelah ia bertarung melawannya selama beberapa saat.


Kurei mendapat lawan yang mengaku bernama Deviasy dan Kurei mampu mengimbanginya meski hanya sesaat. 


Vet si anggota Seven Deadly Sins yang paling muda mendapat lawan bernama Carey. Carey ini memiliki kemampuan pedang terbaik nomor empat sedunia, setelahnya Zero, Slitherio, dan Sean.


Meski begitu, Carey terus mengasah kemampuan pedangnya ditambah dengan kemampuan membunuhnya yang terbilang sedikit keji. Tetapi semua itu tetap tak mampu membuatnya mengimbangi Vet yang memakai pisau kecil sebagai senjatanya.


Whu mendapat lawan yang bernama Bagune, seorang Demon yang memiliki kekuatan terbesar nomor tiga di Hell Empire. Whu juga mampu mengimbangi Bagune, meskipun Bagune sudah mengeluarkan seluruh kekuatannya, Whu juga sudah mengeluarkan seluruh kemampuannya.


Fei melawan seekor ular bernama Mide dan disebabkan karena bentuk tubuhnya itulah Fei dapat melawannya dengan sedikit mudah, meski pada akhirnya Mide mampu mengimbangi Fei hanya dengan wujud ularnya itu.


Luvian melawan Boss Behemoth dan ia mengalami kesulitan karena tubuh Boss Behemoth yang keras dan kuat.


Gorzsha mendapat lawan yang berbentuk manusia dengan bawahnya yang seperti gurita dan ia mengaku bernama Kraken. Mendapat lawan yang memiliki kekuatan dan bentuk tubuh seperti itu, Gorzsha langsung mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menghadapinya, meskipun pada akhirnya ia terpojokkan juga.

__ADS_1


Para pemimpin dua belah pasukan bertarung dengan lawan masing-masing dan semuanya memiliki kesulitannya masing-masing.


Biar begitu, pertempuran terus berlanjut sampai pada akhirnya seluruh pasukan dua belah pihak habis tak tersisa dan menyisakan seluruh pemimpin pasukan yang terus bertarung.


***


Di Everest Mountain...


FolkChase dan July sedang menikmati pagi yang indah pegunungan ketika seorang pria datang sambil memejamkan matanya.


“Ware, kau sudah kembali?” FolkChase menatap pria itu. Pria itu mengangguk.


Ware membuka matanya dan memperlihatkan mata yang pupilnya berwarna hijau. Dia memiliki identitas lain, yaitu Three Headed Dragon sekaligus anak dari FolkChase sang Heaven Dragon.


“Apa kau ingin pergi ke Gods Island dan bertemu dengan Dragon God?” tanya FolkChase sekali lagi. Ware menggeleng.


July memijat keningnya, sudah menjadi hal biasa kalau hanya FolkChase yang berbicara saat seperti ini.


Ware dikenal karena sikap pendiamnya yang amat parah, saat diajak bicara sekalipun ia akan menjawab secukupnya saja. Tetapi beda kasusnya kalau ia berbicara dengan Chao.


“Dia sudah berkembang pesat, tetapi kekuatannya saat ini tidak memungkinkannya untuk pergi ke Gods Island, apalagi ke kampung halaman orang tuanya.” Seorang pria dengan wajah memancarkan aura Kedewaan muncul dan menepuk pundak Ware.


“Aku ingin melihat kampung halaman orang tuaku...” Ware menoleh dan menatap Chao.


Chao menghela napas panjang kemudian berkata, “Baiklah...” keduanya lalu menghilang.


FolkChase menghela napasnya, “Tadi Serioza datang kemari...” 


Serioza datang untuk meminta bantuan FolkChase, tetapi FolkChase menolaknya dan membiarkan urusan ini nantinya diselesaikan oleh Slitherio.


“Kenapa kau memberikan tugas seberat ini pada pemuda itu?” tanya July setelah mendengar ucapan FolkChase.


“Karena ia akan melampaui semua yang telah dilakukan oleh Twelve First Gods itu...” ujar FolkChase sambil menatap ke selatan, “Kuharap ia tidak mati sia-sia disana...”

__ADS_1


**Menggambarkan pertempuran itu memang sulit, ya?


Sebab itu scene pertempurannya saya gambarkan seperti ini saja dulu, selanjutnya mungkin akan dijelaskan secara detail**.


__ADS_2