Remaist Online: Return Of The Legend

Remaist Online: Return Of The Legend
74. Mencari penguasa Phoenix Gold Kingdom


__ADS_3

Slitherio menyimpan buku itu kemudian menatap keluar kamarnya. Suasana di luar sangatlah ramai meskipun sudah malam.


Atra dan Whu berkata mereka ingin mencari makanan di luar, Naze berkata ia ingin berkeliling Phoenix Gold Kingdom lagi, sedangkan Geisha memilih menunggu di penginapan.


Slitherio sendiri bingung harus melakukan apa. Tiba-tiba, ia terpikirkan oleh satu hal.


“Bagaimana jika aku pergi ke istana Phoenix Gold Kingdom?” Gumam Slitherio sambil menatap satu menara yang sangat tinggi.


Ia kemudian memakai perlengkapannya, tak lupa dengan jubahnya yang menutupi jirahnya dan Phoenix Flame Sword. Ia kemudian mencari Geisha berniat mengajaknya ke istana. 


Sebelum itu, ia mengirim pesan pada Atra, Naze, dan Whu untuk emngabarkan bahwa ia ingin ke istana sebentar.


Ketiganya membiarkan Slitherio pergi dan mereka berkat akan menunggu di restoran di penginapan. Kebetulan di penginapan itu juga menyediakan restoran bagi para tamunya.


“Geisha, apa kau mau ikut aku ke istana?” tanya Slitherio di luar kamar Geisha. Tidak ada yang merespon.


“Hm, tidak ada respon?” Slitherio kemudian mengetuk pintu kamar Geisha sekali lagi.


“Ya, aku ikut!” seru Geisha dari dalam.


“Memang kau mendengar apa yang kutanyakan?” tanya Slitherio kebingungan.


“Dengar...” Geisha kemudian keluar dari kamarnya. Ia hanya memakai pakaian sederhana seperti di dunia nyata.


Mereka kemudian berjalan turun dan menuju istana.


***


Hanya ada satu alasan kenapa Atra dan Whu terus mengikuti Slitherio kemanapun ia pergi, yaitu untuk membalas kebaikan Slitherio.


Slitherio telah memberikan Soul Remaist yang langka itu untuk mereka berdua, hanya untuk membuat keduanya menjadi lebih kuat.


Sebab itulah, Atra dan Whu akan terus mengikuti Slitherio kemanapun ia pergi, entah itu ke neraka maupun ke surga, keduanya akan terus mengikutinya.


Sekarang, keduanya sedang berada di sebuah tempat yang dikatakan Slitherio merupakan tempat memperbaiki senjata paling hebat yang ada di seluruh Phoenix Gold Kingdom.


Atra berniat memperbaiki cakar mekaniknya, dan juga mungkin menambahkan beberapa atribut tambahan selain Lifesteal. Tetapi sepertinya akan datang masalah lagi.


“Kau... Dari BloodThirsty Kingdom?” tanya penempa yang akan memperbaiki cakar mekaniknya dengan nada ketakutan. Ia bertanya setelah melihat lambang yang terukir di kotak yang menyimpan cakar mekanik itu.


“Ya, aku dikirim kemari untuk mengajukan permintaan perdamaian.” Jelas Atra sambil tersenyum lebar.


“Tidak, aku tidak percaya...” penempa itu mengembalikan cakar mekaniknya dan menghilangkan kedua tangannya di depan dadanya.

__ADS_1


“Oh, ayolah. Apa kalian tidak ingin berdamai dengan kerajaanku?” tanya Atra sambil mendorongkan cakarnya ke penempa itu.


“Bukannya tidak mau, tetapi kerajaanmu yang duluan menyerang dan kerajaanmu yang duluan mengajukan perdamaian? Apa-apaan itu?” tanya penempa itu kemudian menarik cakar Atra dan menggenggamnya, “Mau kau apakan senjata ini? Jika tidak kau ucapkan dalam sepuluh detik, akan kuhancurkan cakar ini.”


“Itu, tambahkan atribut Kecepatan.” Ujar Atra berpikir cepat kemudian berkata dengan cepat.


“Aku mau memperbaikinya bukan karena menerima perdamaianmu itu, tetapi karena aku tidak ada pekerjaan sejak Jendral Tertinggi berganti lagi.” Ujar penempa itu kemudian pergi ke ruangannya, “Kau tunggulah disini...”


Atra dan Whu kemudian mengangguk dan mencari tempat duduk. Tempat itu terbilang kecil, tetapi perlengkapan yang ditawarkan sangatlah bagus. Tidak heran penempa ini disebut sebagai penempa terbaik di Phoenix Gold Kingdom.


Atra penasaran dengan urusan Slitherio, apa sudah selesai atau baru dimulai.


***


Slitherio dan Geisha akhirnya sampai di istana setelah mencari selama hampir setengah jam dan bertanya pada penduduk sekitar.


Slitherio masuk dan keduanya dicegat oleh penjaga gerbang istana.


“Apa ada urusan?” tanya penjaga itu dengan sopan. Berbeda dengan penjaga di gerbang luar, pikir Slitherio.


“Ehem, aku ingin bertemu dengan Yang Mulia Chizui.” Ujar Slitherio.


“Atas dasar apa kau ingin menemui Yang Mulia?” jelas terlihat raut terkejut saat Slitherio berkata ingin menemui Chizui di wajah penjaga itu, tetapi ia tetap berusaha tenang.


“Itu... Ada urusan.” Jawab Slitherio.


Slitherio pernah mendengar dari Zon kalau ada satu temannya disini yang memakai pedang besar sebagai senjatanya. Tak Slitherio sangka ia malah bertemu dengannya.


“Jika aku tidak salah, nama Senior adalah Guldy, bukan?” tanya Slitherio.


“Hm, darimana kau tau namaku?” tanya Guldy. Jelas ia terkejut.


“Dari guruku, ia sering bercerita tentang anda.” Jawab Slitherio.


“Siapa namanya?”


“Zon.”


Guldy terkejut saat mendengar nama itu. Nama yang sudah menghilang selama hampir empat bulan dan sekarang muridnya muncul di depannya.


“Bohong...” Guldy berusaha menepis pikiran itu. Sekarang ia harus menguji kebenarannya.


“Tidak percaya ya sudah...” Slitherio mengangkat jubahnya yang menutupi pedangnya dan memperlihatkan pedangnya.

__ADS_1


Guldy menatap pedang itu dengan seksama, ia merasa mengenalnya. Sesaat setelah ia merasa mengenalnya, satu nama yang selalu membawa pedang itu terlintas di pikirannya.


“Tidak... Tidak mungkin. Bagaimana kau bisa mendapatkan pedang itu?” tanya Guldy sambil menunjuk Slitherio.


“Dia guruku dan dia memberikan pedangnya bersama seluruh perlengkapannya untuk diriku. Ia berkata ia sudah lelah menghadapi dunia.” Jelas Slitherio dengan tenang.


“Ikut denganku.” Guldy menarik tangan Slitherio dan mengajaknya masuk ke dalam, “Kau harus membuktikannya.”


Slitherio menarik tangan Geisha dan memintanya ikut dengannya. Guldy yang melihatnya bertanya, “Kenapa kau mengajaknya?”


“Dia temanku, tidak mungkin kutinggalkan dia diluar sendiri kan?” jelas Slitherio kemudian bertanya balik.


Guldy memalingkan wajahnya dan menarik dua orang itu. Tindakannya membuat banyak orang bertanya-tanya.


“Apa yang dilakukan Jendral Guldy?” begitulah pikiran orang-orang saat melihat Guldy menarik tangan Slitherio yang menarik tangan Geisha.


“Nah, disinilah kita akan membuktikannya...” Guldy melepas tangan Slitherio. Slitherio kemudian melepas tangan Geisha.


Mereka dibawa ke sebuah lapangan luas dan menurut Slitherio lapangan itu adalah tempat biasa para prajurit istana berlatih. Hal itu terlihat dari luasnya lapangan itu yang menurut Slitherio dapat menampung sekitar lima ratus orang.


Guldy menarik pedangnya. Slitherio juga ikut menarik pedangnya dan mengangkatnya.


“Hm, berbeda dari Zon...” gumam Guldy saat melihat sikap siaga Slitherio. Pedang didepan yang dipegang dengan satu tangan kanan, tangan kiri diarahkan ke depan dan punggung sedikit menunduk.


“Perlihatkan seluruh teknik yang diajarkan Zon padamu.” Perintah Guldy kemudian maju menyerang Slitherio.


“Se-semua?” tanya Slitherio gagap. Ia tau banyak dari keseluruhan skillnya, sekitaran lima belas lebih jika Flame Warmage Technique dan Flame Sword Technique.


“Secukupnya saja, bodoh!” seru Guldy dengan keras kemudian melompat mundur. Ia kemudian mengucapkan sebuah skill, “Flame Great Sword Technique: Flame Wave.”


Guldy mengayunkan pedang besarnya dan mengeluarkan gelombang api berukuran lumayan besar kemudian bergerak ke arah Slitherio. 


Slitherio tahu skill ini karena ia juga memilikinya. Slitherio melompat ke atas kemudian berkata, “Flame Sword Technique: Flame Wave.”


Gelombang api berukuran sedang bergerak turun membentur gelombang api yang diciptakan Guldy. Setelah keduanya berbenturan, kedua gelombang itu kemudian meledak dan menghilang.


“Heh, dari semua orang hanya kau yang mampu mengeluarkan gelombang yang mampu menghancurkan gelombang api buatanku.” Ujar Guldy sambil mengacungkan jempolnya ke arah Slitherio.


“Terima kasih pujiannya...” ujar Slitherio sebelum ia mengeluarkan sayapnya kemudian melesat ke arah Guldy sambil bergumam, “Flame Sword Technique: Dance of Flame Sword...”


Slitherio tiba di depan Guldy kemudian memainkan pedangnya. Ia menebaskan pedangnya di depan, kemudian berputar ke kiri sambil menebaskan pedangnya, kemudian melompat ke belakang dengan bersalto di udara dan memberikan tebasan di punggung Guldy, dan terakhir berputar lagi ke kiri kemudian menebaskan pedangnya ke sisi kiri tubuh Guldy.


Slitherio kemudian terbang ke atas kemudian melesat turun ke bawah sambil bergumam, “Flame Warmage Technique: Spirit Boom...”

__ADS_1


Slitherio melesat turun sambil mengarahkan telapak tangannya ke bawah. Sebelum Slitherio berhasil mendarat, sebuah pukulan mengincar pinggang Slitherio.


“Jangan lupa kalau aku adalah Jendral Tertinggi Phoenix Gold Kingdom. Aku tidak akan dikalahkan dengan mudah...”


__ADS_2