
“Ryan Putra dan Raisya Endranto, kalian belum membuat teks ulasan, ya?” Tanya guru Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia adalah salah satu pelajaran kesukaan Ryan saat SMP.
“Belum...” Jawab Raisya.
“Yang mana itu?” tanya Ryan pada Resa di sebelahnya.
“Dua hari lalu kau sakit, bukan?” Tanya Resa balik. Ryan mengangguk.
“Dua hari lalu itu kami diminta untuk membuat sebuah teks ulasan dan saat itu kalian berdua tidak masuk bersamaan...” Ujar Resa.
“Ambil buku tulis kalian dan cari satu buku di perpustakaan untuk kalian ulas isinya. Lalu kumpul saat jam pelajaran saya berakhir, mengerti?” guru itu menatap Raisya yang duduk di depan.
Raisya berdiri dan berjalan keluar kelas setelah ia mengambil buku dan peralatan tulisnya. Ryan lalu berdiri dan berjalan meninggalkan tempat duduknya.
Ray yang duduk di bangku sebelah Ryan dan Resa mengacungkan jempolnya, “Semangat!”
Ryan menaikkan alisnya, “Apa-apaan Ray itu?”
Ryan dan Raisya meninggalkan kelas dengan berbagai bisikan yang terdengar di kelas itu.
“Beruntung sekali Ryan, bisa berada dalam satu ruangan dengan Raisya...”
“Yang kupikirkan adalah dengan cara apa Ryan bisa bertahan di ruangan yang sama bersama seorang perempuan cantik...”
“Apa maksudmu?”
“Apa kau tidak tau kehebatan Raisya untuk membuat orang lain diam?”
***
Ryan mengambil satu buku yang isinya tentang sejarah bumi. Ini adalah salah satu buku yang terlihat menarik di matanya.
Raisya sendiri mengambil buku tentang kesehatan, entah apa tujuannya. Keduanya lalu duduk dalam diam dan berjauhan.
Perpustakaan memanglah luas dan disana hanya ada Ryan, Raisya, dan penjaga perpustakaan. Saking luasnya, Ryan sampai menguasai satu meja untuk dirinya sendiri dan Raisya juga begitu.
Ryan memulai dalam diam, begitu juga Raisya. Sepertinya Otak Mesin tak berencana untuk akrab dengan siswa biasa sepertiku, batin Ryan saat melihat Raisya yang fokus pada buku di depannya.
Tetapi nyatanya, pikiran Ryan bertentangan dengan pikiran Raisya. Siapakah dia? Kenapa aku tidak tau kalau ada orang yang bernama Ryan di kelas? Batin Raisya.
Ryan meletakkan bolpoinnya lalu meregangkan jari-jarinya sampai berbunyi. Baru berlalu lina belas menit dan waktu pelajaran Pak Diky, guru Bahasa Indonesia.
__ADS_1
“Kita coba lihat yang ini...” Ryan membuka buku yang diambilnya lagi lalu membacanya. Diam-diam, ia melirik ke arah Raisya yang juga meliriknya.
“Diam...” ujar Raisya yang terdengar dingin di telinga Ryan.
“Sial, harusnya ia dijuluki Ratu Es karena dinginnya sifat yang ia miliki...” gumam Ryan. Ia lalu melanjutkan kegiatannya.
Tiba-tiba, ia mendapat sebuah inspirasi. Sebuah lagu. Ia lalu menyanyikan dengan nada kecil lalu perlahan mengeras.
“Kita berada di ruang yang sama, tetapi kita saling tak mengetahui perasaan masing-masing...
Kita ada dalam waktu yang sama, tetapi aku tetap tak tahu tentang perasaan yang ada di hatiku ini...
Aku tak tahu tentang perasaan yang ada dalam hatiku ini...
Sama sekali tak tahu...
Yang kutahu...
Aku tak bisa mengungkapkannya hanya dengan kata-kata...
Lautan dan berbagai hujan telah kulalui...
Tetapi aku masih tak mengetahui tentang perasaan yang ada dalam hatiku ini...
Perasaan itu adalah perasaan-... Aduh!”
Lagu Ryan seketika berhenti saat lagunya hampir saja selesai. Ryan lalu menemukan sebuah bolpoin yang tergeletak di depannya.
“Apa kau tahu diam?” tanya Raisya kesal. Bolpoin yang tadi ada di tangannya menghilang.
“Apa kau kehilangan bolpoinmu?” tanya Ryan. Ia lalu mengangkat bolpoin berwarna pink yang dibawanya.
“Sini kembalikan!” Raisya menjulurkan tangannya, meminta bolpoinnya kembali.
“Beri aku penjelasan, kenapa bolpoin ini bisa ada di depanku tadi itu?” tanya Ryan sambil tersenyum penuh kemenangan. Ia sepertinya berhasil membuat Otak Mesin ini marah.
“Penjelasan? Baiklah, kau tadi ribut dan aku tak suka kalau kau ribut. Aku masih tak memaafkan dirimu karena tadi kau membuntuti diriku tadi pagi...” ujar Raisya yang terdengar kesal.
“Pertanyaanku, kenapa bolpoin ini bisa ada di depanku? Bukan kenapa kau melempariku bolpoin ini?” Ryan menatap Raisya dengan senyum kemenangan yang semakin lebar.
“Kau sudah mengetahuinya dan aku tak perlu memberitahumu lagi, bukan?” Raisya menatap Ryan dengan tambah kesal.
__ADS_1
Sebaliknya Ryan malah suka melihat Raisya kesal. Ia sudah lama tak membuat orang kesal lagi.
Ryan tak memiliki seorang saudara dan sebab itulah Ryan tak mempunyai sosok yang bisa ia buat kesal.
“Benar juga...”
“Kalian berdua, diam. Ini perpustakaan dan bukan kantin.” Penjaga perpustakaan datang dan menegur keduanya.
“Baik.” Ryan dan Raisya menjawab bersamaan lalu keduanya kembali membuat tugas mereka.
Waktu terasa berlalu cepat dan keduanya kembali dingin pada sesamanya. Ryan tersenyum usil pada Raisya, sedangkan Raisya terus menatap Ryan dingin.
“Nama, siapa namamu?” tanya Raisya saat mereka sudah selesai membuat tugas mereka.
“Namaku adalah Ryan Putra, kuharap kau tidak melupakan nama orang yang menyukaimu saat ini...” Ryan berkata dengan penuh percaya diri.
“Aku takkan melupakan nama orang yang bisa membuatku sekesal ini selama empat belas tahun ini...” ujar Raisya lalu menatap Ryan balik, “Namaku adalah Raisya Endranto, jangan lupakan nama orang yang akan membuatmu bosan karena lelah membuatku kesal...”
Keduanya lalu menjalani hari dengan biasa. Saat istirahat, Ray tersenyum usil saat Ryan yang duduk dengan wajah sedikit mengerut.
“Bagaimana sensasi saat kau berada satu ruangan dengan Otak Mesin itu?” tanya Ray.
“Biasa saja, aku bahkan membuatnya kesal...” jawab Ryan dengan santai. Ia lalu melirik ke arah Raisya yang sedang memesan makanan bersama teman-temannya, “Yah, mungkin aku bertambah suka dengannya...”
“Lupakan saja ambisimu itu, ada orang yang lebih baik darimu. Dia adalah orang terpintar ketiga. Kuharap kau tak menyesalinya...” ujar Hendra.
“Oi, aku menyukainya karena alasan kagum, tak lebih...” ujar Ray lalu menatap Ryan, “Kalau kau suka dengannya, ada baiknya kau menonton anime yang bergenre Romance...”
“Aku ada satu judul yang keren kalau kau ingin menontonnya...” ujar Hendra.
Sisa waktu terasa lambat karena konsentrasi Ryan terpecah menjadi dua, satu ke wajah Raisya dan satu lagi ke pelajaran.
Saat pulang sekolah pun, Ryan tak hentinya memikirkan wajah Raisya, “Wajah cantik seperti itu, tetapi dingin...” gumam Ryan.
Saat malam pun, Ryan masih memikirkan wajah orang yang tadi ia buat kesal itu. Ia duduk di balkon kamarnya sambil memegangi ponselnya yang menyala.
Tanpa ia ketahui kahuu orang yang ia buat kesal tadi itu ternyata memikirkannya juga. Jauh di sana, di sebuah rumah yang sederhana tetapi besar, seorang perempuan sedang menatap bolpoin yang ia pakai tadi.
Perempuan itu adalah Raisya sendiri. Ia masih memandangi bolpoin yang tadi ia pakai untuk melempari Ryan. Ia lalu meraih ponselnya yang ada di sebelahnya lalu membukanya.
Foto profil Ryan berupa Ryan yang berfoto di depan cermin. Wajahnya sendiri ditutupi oleh ponselnya yang memakai casing berwarna hitam dengan corak berwarna biru gelap.
__ADS_1
“Ryan, kau berhasil membuatku teringat denganmu dalam waktu lama hanya dengan nyanyian sederhana itu...” gumam Raisya sambil menatap foto Ryan yang terlihat tampan di ponselnya.