Remaist Online: Return Of The Legend

Remaist Online: Return Of The Legend
226. Pertempuran Heaven Empire III


__ADS_3

Raisya menggigit bibirnya sampai berbekas. Hari ini ia melihat berita di forum milik Ryan kalau ada serangan menuju Heaven Empire.


Karena berita itu keluar pukul setengah empat sore, ia memiliki waktu untuk bersiap-siap dan ikut pasukan bantuan. 


Tetapi itu dulu. Sekarang ia sudah memiliki anak dan tak mungkin ia bisa meninggalkan kewajibannya begitu saja.


“Bagaimana ini?” Raisya berpikir keras. Ia tak pernah berpikir keras seperti ini sejak ia lulus dari kuliah.


“Ibu kenapa?” Tanpa Raisya sadari kalau ia masih duduk di sofa ruang santai bersama Rayhan.


“Kau tidak jadi tidur?” Tanya Raisya balik yang dijawab dengan gelengan Rayhan.


“Rayhan penasaran dengan apa yang ibu lakukan...” ujar Rayhan sambil menaikkan dua jarinya.


Raisya menghela napas panjang lalu membiarkan Rayhan duduk di sebelahnya. Ia sendiri sedang melihat forum Remaist Online milik Ryan.


“Beberapa guild mengirim anggota mereka ke Heaven Empire?” gumam Raisya.


“Ini siapa, ibu?” Rayhan menunjuk ke beberapa orang yang berdiri di atas awan dan ia menunjuk tepat ke orang yang memakai jubah merah.


“Eh, itu ayahmu....” ujar Raisya menjawab pertanyaan Rayhan lalu pindah dari forum itu menuju ke beberapa daftar. 


Daftar itu adalah daftar para pemain yang mencapai dewa dan mereka tetap dihitung menjadi bagian dari rangking pemain.


Sistem sekarang ini sudah mengubah nama daftar pemain terkuat dari Top Global menjadi Player Rank. Lalu mereka yang mendapat posisi di Player Rank disebut Titled Player atau Pemain Bergelar karena semua pemain disini memiliki gelar mereka masing-masing.


Kalau disusun dari nama Slitherio di paling atas, maka akan jadi seperti ini daftar para dewa:




Slitherio – Flame Sword God – Guild Sevens




Sean – Gold Dragon God – Guild Reister




Whu – Golden Staff God – Guild Sevens




FastStone – War God – Guild Sevens




Luvian – Schyte God – Guild Darkness




Zero – Azure Sword God – Guild Azure Dragon




BlackDream – IlusitionGod – Guild Darkness


__ADS_1



Carey – Mad Goddess – Guild Crimson




Alex – Thief God – Guild Thiefer




Kurei – Axe God – Guild Xiun




JadeRed – Dragon Sword God – Guild Reister




Geisha – Ice Goddess – Guild Sevens




LoghSeveria – Whip God – Guild Sevens






Vius – Punch God – No Guild




Riana – Nightmare Goddes – Guild Sevens




Naze – Wind Bow God – Guild Sevens




Wilhelm – Blue Dragon God – No Guild




Lore – Desert God – No Guild



__ADS_1


Fei – Purple Sword Goddes – Guild Violeta


... Dan seterusnya.




Pemain yang mendapat gelar God dan Goddess sebenarnya banyak, bahkan lebih dari dua puluh. Ini disebabkan karena mereka ini pergi ke Gods Island tepat setelah Slitherio dan teman-temannya kembali. Lalu beberapa pemain mencoba peruntungan mereka menuju Gods Island dan beberapa dari mereka gagal.


Lalu, sekitar empat tahun lalu, Gods Island secara tiba-tiba menghilang dari map. Tak ada yang mengetahui lagi letak dari Gods Island ini. Sebab itulah jumlah dewa tak ada yang bertambah.


Raisya mengepalkan tangannya lalu menjambak rambutnya, “Apa yang harus kulakukan?!”


“Bantu ayah?” lagi-lagi Raisya melupakan Rayhan yang duduk di sebelahnya. Ia sendiri tidak bisa membaca nama-nama yang ada di laptop ayahnya itu.


“Kalau ibu pergi, ayah akan memarahi ibu.” Raisya menggaruk kepalanya, tetapi ia sendiri tak pernah merasa dimarahi oleh Ryan.


“Daripada ibu teriak-teriak disini, lebih baik ibu langsung saja kesana...” ujar Rayhan lalu menatap Raisya dalam-dalam, “Rayhan yakin ayah pasti menunggu ibu...”


“Lalu bagaimana dengan Rayhan?” tanya Raisya. Ia sendiri tidak enak meninggalkan anaknya sendirian di rumah.


“Ibu tinggal minta tolong saja pada Paman Rio untuk kemari...” Rayhan mengenal Rio karena Rio terkadang datang kemari bersama Clare, istrinya.


“Paman Rio sendiri ikut bertempur bersama ayah...” Raisya menggaruk kepalanya.


“Tinggalkan saja Rayhan di rumah, Rayhan bisa menjaga diri...” Rayhan tersenyum.


Raisya menggaruk kepalanya makin keras lalu akhirnya ia berkata, “Kalau Rayhan bersikeras, baiklah. Ibu akan pergi kesana dan Rayhan akan ibu berikan ponsel milik ayahmu...” Raisya lalu terlihat berpikir sejenak.


“Rayhan sudah paham cara memakai ponsel...” seolah mengetahui pertanyaan yang ada di pikiran Raisya, Rayhan berkata begitu.


Raisya menaikkan alisnya dan terlihat kalau ia terkejut. Tetapi ia menyimpan keterkejutannya lalu berkata, “Ibu akan pergi sebentar. Diam saja di ruang kerja ayah dan kunci semua jendela dan pintu. Kalau ada yang mengetuk pintu, jangan dibuka.” Pesan Raisya sebelum ia mengajak Rayhan ke ruang kerja Ryan. Rayhan lalu duduk di kursi meja kerja Ryan dan memegang ponsel milik Ryan.


“Sampai jumpa...” ujar Raisya sebelum tersambung ke Midvast.


***


Pertempuran di Heaven Empire tampak tak ada habis-habisnya. Seperti itulah yang bisa digambarkan setelah satu jam berlalu sejak pertempuran itu berlangsung.


Selama satu jam ini, pasukan bantuan tak kunjung menemukan Slitherio dan yang lainnya. Para dewa yang berpencar masing-masing sudah menemukan lawan dan bertarung.


Slitherio yang sebelumnya asyik membantai prajurit lawan malah bertemu langsung dengan Benario yang membawa tombak hitamnya itu.


Wujud Benario sendiri amat mengerikan. Tubuh Benario berupa manusia biasa, tetapi ia memakai topeng yang terlihat menyatu dengan kepalanya. Topengnya sendiri memiliki motif seperti tengkorak.


“Kau... Apa kau adalah Pedang Api?” tanya Benario. Ia menghunuskan tombaknya.


“Bukan, aku biasa dipuja di Phoenix Gold Kingdom sebagai murid dari God Zein dan memiliki gelar Flame Sword God...” ujar Slitherio, “Dan kalau aku tidak salah, kau adalah Benario, si pengkhianat yang memiliki gelar Death God?”


“Kau sudah tahu identitas diriku tetapi tidak ketakutan, apalagi menyerah. Memang kau adalah lawan yang pantas bagiku...” ujar Benario sambil menaikkan tombaknya.


“Kenapa kau tidak mencari lawan yang sepadan dengamu?” seorang pria dengan jubah putih berdiri di sebelah Slitherio sambil membawa tongkat yang berwarna putih emas.


“Xue? Apa kita akan duel seperti dulu lagi?” tanya Benario sambil menurunkan tombaknya, “Sebaiknya kau mengurungkan niatmu itu...”


“Apa alasannya? Setelah kau kuhabisi ratusan tahun lalu kau masih mengatakan hal yang sama.” Xue memijat keningnya, “Dan sekarang kau berpikir bisa menang dariku? Bodoh...”


“Tidak, aku memiliki alasan...” Benario merentangkan kedua tangannya, “Inilah alasanku...”


Jumlah pasukan Hell Empire terlihat tidak berkurang sedikitpun. Jumlah jutaan itu sepertinya benar, batin Xue.


“God Xue, serahkan Benario padaku...” ujar Slitherio sambil menarik kedua pedangnya, "Kekuatanku sebesar 95 kekuatan Spirit dan aku harus menghabisinya...”


“Slitherio! Jumlah mereka tidak berkurang sedikitpun!” seru Lore dari bawah. Napasnya masih teratur tetapi ia terlihat kelelahan.


“Mundur dahulu, minta pada Riana untuk mencari keberadaan pasukan bantuan!” seru Slitherio dari jauh.


“Kau masih berani berkomunikasi dengan rekanmu setelah menyatakan duel padaku? Berani sekali dirimu ini...” ujar Benario lalu mengangkat tombaknya, “Darkness Curse!”


 

__ADS_1


__ADS_2