Remaist Online: Return Of The Legend

Remaist Online: Return Of The Legend
186. Purple Pearl Island VII


__ADS_3

Slitherio menatap Sean dengan tatapan terkejut, “Nomor satu?”


Sean mengangguk, “Aku tidak tahu?”


“Dia tadi menonton berita, tapi ia mengabaikan berita tentang itu...” Seolah mengetahui kalau Slitherio sedang berbohong pada Sean, Geisha memilih mengatakan yang tidak benar juga.


Sean melepaskan tangannya dari pundak Slitherio, “Lupakan soal itu...”


“Apa yang kalian bicarakan?” Buu yang tidak memahami kata-kata Sean bertanya.


“NPC diam saja.” Ujar Li lalu menatap Sean, “Apa itu benar?”


Buu menggaruk kepalanya, ia lalu memilih duduk di dekat api unggun yang masih menyala.


“Benar, dan kita sekarang harus menuju Gods Island secepatnya...” Sean berkata dengan serius.


“Apa alasannya?” tanya Atra. Ia mendekat setelah berhasil menguasai dirinya setelah menerima berita itu.


“Itu, aku malu mengatakannya...” Sean menggaruk kepalanya.


“Katakan saja, lagipula aku juga ingin menyelesaikan perjalanan ini secepatnya...” Slitherio berusaha mendesak Sean agar bicara.


“Kau juga?” tanya Atra.


“Apa kita mengalami hal yang sama?” tanya Sean, “Aku diberi cuti sampai perjalanan ini selesai...”


“Kalau aku diberi cuti tambahan...” Slitherio ikut mengatakan situasinya saat di dunia nyata.


“Kalau aku diberhentikan dari pekerjaanku karena terlalu lama mengambil libur...” Atra berkata dengan santai.


“Diberhentikan?” Slitherio dan FastStone mengetahui kalau diberhentikan itu sama saja dengan kehilangan pekerjaan.


“Meskipun atasanku sudah kuberitahu berita tadi itu, tetap saja atasanku tidak menerima alasanku...” Atra menggaruk kepalanya.


“Baiklah, kita harus menyusun rencana selanjutnya terlebih dahulu...” Slitherio lalu duduk, diikuti oleh Geisha dan yang lainnya.


“Kota harus membebaskan pulau ini dari kekejaman Veny...” ujar Slitherio sambil menatap Buu yang menatap mereka, “Kemari...”


Buu mengangguk dan duduk diantara mereka. Sebelum Slitherio melanjutkan, Clarey datang sambil berkata, “Maaf terlambat...”


Slitherio hanya mengangguk dan membiarkan Clarey duduk. Slitherio lalu melanjutkan, “Buu, apa kau tahu markas utama Veny ini?”


Buu mengangguk, “Di depan kau kemarin berduel itu...”


Tentu yang dimaksud oleh Buu adalah FastStone. FastStone masih mengingat tempatnya sehingga masalah ini  selesai.


“Selanjutnya adalah tentang peta menuju Gods Island...” Slitherio kembali menatap Buu, “Apa ada salah satu dari penduduk pulau ini yang memiliki peta menuju Gods Island?”


Buu menggeleng, “Peta yang dimiliki oleh kepala desa sebelumnya sudah dirampas oleh Veny...” Buu menjawabnya sambil mengepalkan tangannya. Jelas kalau ia menyimpan dendam pada Veny.


“Rencana untuk meminta peta pada penduduk sekitar gagal...” Sean memijat keningnya.


“Akhirnya aku menemukan kalian disini!” suara keras terdengar dari hutan dan mengejutkan mereka semua.


Seorang wanita dengan pakaian berwarna ungu dengan pedang tersarung di pinggangnya datang sambil menunjuk FastStone, “Kita selesaikan duel kemarin!”


Veny menarik pedangnya dan mengangkat ke atas, “Muncullah, para pengikutku!”


Tak perlu waktu lama untuk mereka muncul. Sekitar seratusan orang muncul dengan senjata masing-masing dan menghunuskan senjata pada mereka semua.

__ADS_1


“Tunggu, FastStone...” Slitherio menahan FastStone yang berniat melawan Veny, “Biar aku yang melawannya...”


“Tapi...” FastStone tentu ingin memberikan Veny pelajaran karena sebelumnya ingin menjadikan mereka pengikutnya, tetapi FastStone memilih mematuhi perintah Slitherio.


Slitherio berdiri dan memakai gauntletnya saja, “Jadi, apa kau mau melawanku?”


Slitherio menatap Veny yang memasang wajah kesal, “Kenapa harus kau?!”


“Aku mewakili War God FastStone untuk berduel denganmu...” Slitherio memutar-mutar pergelangan tangannya.


“Pasti dia takut...” ujar Veny sinis. Ia lalu menatap Slitherio lagi.


“Tidak, aku yang memintanya...” Slitherio menaikkan bahunya, “Asal kau tahu saja, aku ini lebih lemah darinya, lho...”


“Aku tidak percaya!” Veny menunjuk FastStone, “Ia mengatakan kalau kau memiliki 12 kekuatan Spirit!”


“Apa kau mempercayai musuh?” tanya Slitherio lagi, tetapi kali ini dengan senyuman lebar.


“Tidak ada!” Veny berseru makin keras, “Kau akan merasakan akibat kalau berurusan dengan Blood Crystal Veny...”


Veny menarik pedangnya dan menghilang dari pandangan. Seharusnya, Slitherio sudah panik. Tetapi kali ini Slitherio sudah memiliki kekuatan yang besar.


Dengan cepat Slitherio berbalik dan memukul Veny yang sedang menghunuskan pedangnya pada lehernya.


Dengan cepat Veny menghindar dan mengambil jarak dari Slitherio, “Bagaimana kau bisa tahu?”


“Insting...” Slitherio menjentikkan jarinya, tak lama ia pun ikut menghilang.


Kali ini, Veny yang paniknya luar biasa. Ia tidak pernah melihat kecepatan setinggi itu. Tetapi tak lama ia pun tersadar.


“Aku kan memiliki kecepatan yang tinggi juga...” Veny lalu melesat menuju Li yang sedang memandangi pertarungan itu.


Li yang menyadari kalau dirinya yang diincar segera melesat dan menghindari serangan Veny. Dan sekarang, Veny sudah berada di kepungan musuh.


“Bagaimana mungkin...” Veny kembali melompat menjauh menuju hutan lagi, “Bagaimana bisa musisi sepertinya bisa memiliki kecepatan seperti itu?”


“Dia memiliki gelar Musician God di Midvast dan seharusnya kau memujanya...” Slitherio menunjuk Li yang kembali duduk di tempatnya semula.


“Mana mau aku melakukannya!” Veny mengangkat pedangnya, “Semuanya, serang dia!”


Ketika Veny berseru demikian, tak ada yang merespon. Veny berbalik dan melihat pengikutnya yang lenyap tak tersisa.


“Mereka kabur...” Slitherio memberikan penjelasan.


Sean, FastStone, Naze, Atra, Clarey, Geisha, dan Li menahan tawa mereka saat melihat Veny yang mematung. Slitherio mendekatinya dan memberikan skill yang dipakainya untuk menyandera seseorang.


Veny langsung jatuh terduduk dan Slitherio menariknya menuju api unggun yang sudah mati.


“Baik, apa kau mau memberikan penjelasan tentang Gods Island?” tanya Slitherio setelah Veny duduk dengan tenang.


“Mau yang panjang atau yang singkat?” tanya Veny. Ia tahu kemungkinannya kabur adalah nol jika melihat kecepatan tak pernah ia sangka dari Slitherio.


“Terserah, tapi yang penting kami membutuhkan penjelasan segera...” Slitherio menggenggam ujung kepala Veny, “Beritahu kami...”


“Tapi bohong!” Veny menjulurkan lidahnya dan seketika ia merasakan sesuatu yang keras di ujung kepalanya.


“Beritahu kami...” Slitherio menatap Veny tajam.


“Tidak akan!” 

__ADS_1


“Cara biasa sepertinya tidak akan mempan...” Sean melipat jari-jarinya sampai berbunyi, “Kita pakai cara kasar...”


“Dengar, temanku sudah kesal, lho...” Slitherio menyeringai lebar, “Temanku yang ini kalau kesal mengerikan juga...”


Veny tetap tidak bergeming, bahkan setelah diancam seperti itu. Slitherio menarik tangannya lalu menggaruk kepalanya.


Sean mendekat dan menampar pelan pipi Veny berkali-kali, “Beritahu!”


Veny tetap tidak mau memberitahu. Sean menggaruk kepalanya dan ia pun menatap Slitherio.


Slitherio memahami maksud Sean sehingga ia memilih melakukan hal yang tak pernah ia duga sebelumnya.


***


“Baiklah, baiklah, akan kuberitahu!” Veny meronta-ronta dengan kencang saat menerima hal yang Slitherio berikan padanya.


Slitherio mengikat tubuh Veny di seutas tali, lalu Slitherio meminta Buu mencari sebuah kayu yang cukup kuat untuk menopang beban seorang manusia. Buu mencarikannya.


Setelah Buu mendapatkannya, Slitherio mengikat ujung tali yang lain itu di ujung kayu itu dan meminta Sean dan FastStone untuk memegangnya sebentar.


Sean dan FastStone diminta untuk memegangnya sebentar sementara Slitherio melepas Flame Seal yang sebelumnya ia pakai.


Tentu saja Veny ketakutan luar biasa ketika digantung di ujung tebing oleh Slitherio hanya agar dia mau bicara.


“Turunkan aku!” seru Veny dari atas laut.


“Apa?! Aku tidak dengar!” Sean meletakkan tangannya di sebelah telinganya sambil berseru. Ia lalu tertawa kecil.


“Aku akan memberitahu kalian semuanya!” Veny mengeja perkataannya dengan keras.


“Ulangi, aku tidak mendengarnya!” Clarey ikut berseru.


“Kumohon, aku takut ketinggian!” seru Veny.


Semua orang lalu terdiam. Tetapi Naze tersenyum licik dan ia pun berseru, “Apa?! Aku tidak mendengarnya! Maaf ya!”


Veny serasa ingin mencekik Naze, Slitherio, Sean, dan FastStone yang sudah mengerjainya.


“Jangan digerakkan lagi!” Veny merasakan kalau jarak antara dirinya dan ujung tebing makin menjauh.


“Maaf, aku tidak mendengarmu...” ujar Slitherio santai. Ia menggeser kayu itu menjauhi tempat sebelumnya.


“Baiklah, aku akan memberitahunya dari sini...” sebelum Veny berbicara, seekor ikan besar berputar di bawahnya.


“Arrgghh, jauhkan aku dari laut!” Veny meronta lebih keras.


“Diam saja dan kau tidak akan membuat hiu itu mendekat.” Ujar Slitherio santai. Ia memegangi kayu itu dengan santai bersama Atra.


Veny lalu diam dan menggantungkan dirinya dengan lemas di atas laut. Sesaat kemudian hiu itupun pergi.


Slitherio menarik lagi kayu itu mendekati ujung tebing bersama Atra perlahan-lahan. Veny yang tidak sabaran kembali meronta-ronta.


“Lebih cepat lagi!” Veny menggerakkan tubuhnya lebih kencang.


Sesaat kemudian Veny merasakan tubuhnya kembali menjauhi ujung tebing. Saat itulah ia menyesal telah membuat mereka kesal.


“Tarik aku lagi ke sana! Aku takut dengan lautan!” 


Slitherio dan Atra kembali menariknya dengan perlahan. Kali ini, Veny akhirnya sampai di ujung tebing dengan kaki gemetaran.

__ADS_1


“Jadi, apa yang akan kau beritahu?” tanya Slitherio dengan senyuman mengerikan, membuat Veny menjadi jinak dan tenang di hadapan semuanya.


“Ini terjadi sepuluh tahun lalu...”


__ADS_2