
Zein berjalan melewati rumahnya lalu menuju pohon yang menjadi pintu masuk Gods Realm.
Slitherio mengetahui pintu masuk ini dari Zein dan disebut Gate to Gods Realm. Penampilannya sungguh tidak meyakinkan.
Hanya sebatang pohon seperti itu dan juga terlihat seperti baru ditanam, sulit dipercaya kalau pohon itu adalah gerbang menuju Gods Realm.
Tetapi apa yang dilakukan Zein membuat Slitherio memikirkan penampilan pohon itu sekali lagi.
Zein menasukkan kunci yang sejak tadi ia pegang ke dalam pohon itu dan secara tiba-tiba, sebuah cahaya putih terlihat dari batang pohon itu.
“Ini adalah pintu menuju Gods Realm, silahkan masuk...” Zein berjalan melewati cahaya itu dan menghilang, diikuti oleh Luna lalu yang lainnya.
Slitherio saling tatap dengan yang lainnya sebelum mengikuti Zein dan Luna ke dalam cahaya itu.
Ketika Slitherio dan yang lainnya memasuki cahaya itu, sebuah tekanan yang amat kuat langsung menekan kedelapannya. Terasa kalau tekanan itu adalah kumpulan aura dan kekuatan Spirit yang melimpah di tempat itu.
Slitherio dan yang lainnya mengedarkan pandangan mereka ke sekitar, sungguh pemandangan yang amat sulit dipercaya. Mereka tak bisa berhenti untuk kagum
Mulut Li bahkan tak hentinya terbuka saat melihat pemandangan dunia yang ada di dalam cahaya itu. Beberapa bangunan yang berdiri diatas kumpulan awan, itulah tempat yang disebut dengan Gods Realm.
“Tapi, dimana gunung tanpa batasnya berada?” tanya FastStone sambil menatap lagi ke depan, tempat sebelumnya Zein berdiri. Tetapi yang dicari sudah berada jauh di depan.
“Kita ikuti saja mereka...” ujar Slitherio lalu berlari mengikuti Zein.
Langkah kaki Zein benar-benar cepat, bahkan setelah berlari hampir setengah jam masih belum bisa mendekati Zein dan Luna sepenuhnya.
“Apa mungkin kekuatan sembilan dewa elemen dan dewa lainnya akan meningkat jika berada disini?” tanya Naze sambil berlari. Berkat ujian disambar petir serta menerima aura dingin dari Luna dan Jay, Naze dan Li yang dikenal memiliki stamina paling sedikit bisa mengimbangi stamina milik Clarey saat ini yang dianggap memiliki stamina yang lumayan besar dibawahnya Slitherio, Sean, FastStone, dan Atra.
“Entah...” Atra menaikkan bahunya sambil berlari.
Mereka berlari sambil dilihati oleh beberapa dewa yabg kebetulan sedang bersantai di tempat itu. Tetapi mereka mengabaikannya dan terus berlari.
“Nah, sudah sampai...” Zein dan luan tiba-tiba berhenti di depan sebuah gunung yang tingginya menembus awan-awan.
Slitherio, Sean, dan FastStone yang pertama sampai, lalu diikuti oleh Atra, Naze, Li, Geisha, dan terakhir Clarey.
__ADS_1
“Gunung...” Sean menunjuk gunung dihadapannya. Zein mengangguk.
“Inilah gunung tanpa batas...” Zein menunjuk gunung tanpa batas dengan santai, “Disinilah ujian ketiga kalian akan dilakukan...”
“Kalian harus mendaki gunung ini tanpa teknik apapun dan tanpa kekuatan Spirit. Hanya dengan kekuatan fisik saja...” ujar Luna.
“Bukankah itu terlalu sulit?” Li menunjuk gunung tanpa batas, “Gunung itu tingginya tak terlihat, bagaimana caranya kita bisa mencapai puncaknya hanya dengan kekuatan fisik?”
“Jay dan Tany membuktikan kalau keduanya bisa mencapainya dulu sekali, di gunung tanpa batas yang ada di dekat Gods Island...” Zein menaikkan bahunya, “Tanya saja keduanya kalau kalian tidak percaya...”
Seketika Li terdiam. Ia tidak berani menanyai Jay karena ia mendengar dari Reiy kalau Jay itu amatlah mengerikan. Ia merupakan dewa terkuat diantara sembilan dewa elemen dan jika ia marah maka tidak diketahui lagi nasib bumi ini.
“Tidak berani, tidak berani...” Li mengayunkan tangannya menolak jawaban Zein.
“Kalau begitu, tunggu apalagi? Daki gunung tanpa batas bolak-balik dari sini sampai puncak sebanyak dua kali!” Zein menunjuk puncak gunung tanpa batas yang tak terlihat itu dengan semangat. Tetapi semangatnya tidak terlihat di wajah Slitherio dan yang lainnya.
“Ayo kita lakukan...” Atra mengangkat tangannya dengan lemah lalu berlari melewati Zein dan Luna dengan cepat, meninggalkan Slitherio dan yang lainnya yang berusaha mencerna situasi lebih baik.
“Ini sudah ringan, jangan menolak!” Luna mmendekati Sean dan menyentil dahinya dengan keras, sampai HP Sean turun ke angka 75 dengan cepat.
Sean yang terkejut segera berlari mengikuti Atra lalu diikuti yang lainya. Ujian ketiga resmi dimulai!
***
“Hei, apa kalian tidak ingin menghemat tenaga? Puncak gunung ini tak terlihat...” seru Slitherio agar semua orang bisa mendengar ucapannya.
“Menghemat? Untuk apa? Kita punya Flame Sword God yang bisa memberikan stamina gratis...” seru Sean dari depan dengan keras dan santai.
“Tapi kita tidak diizinkan memakai skill!” Clarey yang mendengar aturan dari Luna memperingatkan Sean dan Atra yang berlari di depan mereka. Seketika Atra dan Sean berhenti tiba-tiba.
“Apa maksudmu?” Sean segera melirik ke belakang lalu berbalik.
“Bagaimana kalau kita berlari santai saja? Bukankah itu menghemat tenaga?” Slitherio melompat-lompat kecil dengan santai.
“Bukankah jadi lama?” Sean menaikkan alisnya, ia sendiri sebenarnya bingung dengan apa yang harus ia lakukan agar staminanya cukup untuk dua kali mendaki gunung tanpa batas.
__ADS_1
“Lari santai, kita hanya perlu istirahat saat enam dari kita sudah lelah. Bagaimana?” usul Naze. Yang lainnya menyetujui usulannya.
“Seharusnya ada batasan waktunya, bukan?” Pertanyaan Clarey segera menyadarkan yang lainnya kalau ujian ini seharusnya memiliki batasan waktu.
“Batasam waktunya selama seminggu, oke?” entah skill apa yang dipakai Zein, sebuah suara terdengar di telinga Slitherio dan lainnya.
“Bisa?” setelah mendengar batasannya dari Zein, Slitherio menatap semuanya.
“Kalau lebih, bagaimana?” tanya Naze. Ia berharap pertanyaannya akan didengar oleh Zein.
“Bisa saja, tetapi 5 kekuatan Spirit kalian akan hilang sebagai hukuman karena melewati batasan yang diberikan...” jawab Zein.
“Kalau begitu, kita harus mengurangi waktu istirahat kita...” ujar Sean sambil mengelus dagunya. Semua orang mengangguk.
“Daripada berlama-lama lagi, kita harus maju agar waktu yang tersedia bermanfaat...” ujar Slitherio lalu berjalan di depan. Semuanya lalu mengikuti.
***
Pertemuan antara sebelas Ketua Guild Profesional selalu dilaksanakan dengan alasan keamanan Midvast. Seperti biasa, dilakukan setiap minggu.
“Whu, seharusnya kau tahu kalau ada sebuah aktivitas tak wajar yang kami deteksi, bukan?” tanya Alex hari ini. Whu mengangguk.
“Tetapi seperti yang aku jelaskan sebelumnya, tetap waspada terhadap suatu aktivitas tak wajar, sekecil apapun, tetap perhatikan...” ujar Whu, “Jika ada yang mencurigakan, lapor padaku...”
“Jika ada ancam selevel Hell Empire lagi, apa kita harus mencari Slitherio?” tanya Luvian. Diantara yang lainnya, ia adalah yang terkuat.
“Sejak tadi pagi, aku melihat kalau sinyal dari Slitherio, FastStone, Sean, Li, Atra, Naze, Geisha, dan Clarey menghilang entah kemana...” Whu memijat keningnya.
“Kalaupun ketemu, kita tidak akan bisa mencari mereka karena jarak antara Midvast dengan Gods Island itu amatlah jauh, yaitu sekitar satu bulan lebih atau kurang.” Ujar Zero. Ia pernah berdiskusi dengan Sean sebelumnya dan itulah prediksi Sean tentang jarak Midvast dan Gods Island.
“Diantara kita, hanya Luvian dan Guild Sevens sajalah yang bisa memantu mempertahankan kedamaian di Midvast, sisanya tidak terlalu meyakinkan...” Qiun memejamkan matanya.
“Apa kau meremehkan kami?” WhiteFang mengangkat jari telunjuknya dan menunjuk Qiun.
“Bukan begitu, hanya saja kita perlu lebih kuat...” Qiun mengangkat tangannya, “Siapa tahu mereka yang pergi ke Gods Island kembali-kembali sudah berlevel tinggi dan berkemampuan tinggi juga...”
__ADS_1
Ucapan Qiun menyadarkan semuanya kalau kemenangan di Sahara Desert hanyalah keberuntungan berkat adanya Slitherio yang memakai God Skillnya.
“Kita masih lemah, itulah yang kuanggap selama ini...” Kurei yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara.