
Deushi meletakkan tangannya di pinggangnya, “Apa kau takut saat mendengar namaku?”
Atra berdiri kemudian menatap Deushi, “Oh, aku sangat takut. Apa kau juga takut saat kukatakan guruku adalah Rioz?” Tanya Atra sambil tersenyum lebar.
Deushi beserta seluruh orang yang ada disana terkejut. Nama Rioz adalah salah satu dari nama jendral tertinggi. Namun dia sudah menghilang selama hampir dua bulan lamanya.
Deushi yang mendengar itu gemetaran. Jika seandainya Rioz sungguh guru dari pria dihadapannya ini, mungkin Rioz akan menyiksanya hingga tidak bisa merasakan tubuhnya sendiri.
Siapa yang tidak tau Rioz. Rioz adalah salah satu dari mantan jendral biasa yang namanya dipromosikan untuk menggantikan jendral tertinggi yang gugur saat berkelana.
Sifat Rioz adalah tidak segan untuk menyiksa siapapun yang menyakiti kerabat maupun temannya, tidak peduli entah dia itu rasnya sendiri atau tidak, ia akan terus menyiksanya.
Disisi lain Atra terlihat tenang setelah membohongi Deushi. Tentu semua itu tidak benar karena ia sendiri yang membunuh Rioz bersama Slitherio.
“Oi, peserta nomor lima belas silakan kemari! Pertandingan akan dilanjutkan!” seru wasit itu. Ia tidak bisa menunggu lama karena ia harus memimpin kurang lebih sepuluh pertandingan lagi. Sementara hari sudah mulai menuju sore, waktu yang tersisa tidaklah banyak.
Atra maju dan dia akan dihadapkan dengan peserta nomor dua lima. Orang yang akan menjadi lawannya adalah wanita yang memiliki tubuh kurus, tetapi kulitnya lebih pucat dibandingkan kulit Atra sekalipun.
“Pertandingan dimulai!” wasit itu melompat mundur kemudian membiarkan kedua orang itu bertarung.
Atra memilih akan mengeluarkan cakarnya disaat-saat terakhir. Ia hanya ingin menghindari seluruh serangannya karena ia disuruh melawan seorang wanita.
Tidak ada orang dekat Atra yang menyuruhnya menyerang seorang wanita, biarpun wanita itu yang memulainya duluan. Atra tetap akan memegang ucapan semua orang dekatnya.
Wanita itu bisa dibilang sedikit ganas, serangannya sedikit mematikan. Bahkan sampai nyaris menghancurkan aula tersebut.
Aula tersebut telah disulap menjadi aula terbuka. Kursi penonton juga sudah disediakan sehingga orang-orang bisa menonton seleksi sesi akhir ini.
Wanita itu terus menyerang dengan ganas hingga akhirnya Atra terpaksa mengeluarkan cakarnya dan mengarahkannya ke leher wanita itu. Ia tidak berniat menyerangnya lagi.
“Aku menyerah...” ujar wanita itu sambil menurunkan kepalan tangannya.
“Peserta nomor lima belas akan maju ke sesi terakhir!” wasit itu mengumumkan hasil pertandingan itu.
__ADS_1
Atra kembali mencari tempat duduknya tadi dan menunggu. Pertandingan selanjutnya makin jauh makin membosankan. Hingga akhirnya sesi itu selesai.
Para peserta yang gagal menjadi lima belas besar diminta menuju kursi penonton. Para peserta lima belas besar diberikan sebuah ruangan sebelum sesi terakhir dilaksanakan. Sesi terakhir akan dilaksanakan pada malam hari, saat malam sudah larut. Karena saat itu, para Werewolf akan menjadi lebih kuat.
Semua orang kemudian dibubarkan untuk persiapan seleksi nanti malam.
***
Waktu terasa sangat cepat. Larut malam pun tiba. Aula tempat tadi melakukan seleksi sudah dibersihkan dan diberi lampu-lampu yang indah.
Lima belas peserta yang berhasil lolos diminta naik ke atas panggung, salah satunya adalah Atra dan Deushi.
Sebelum seleksi sesi akhir dilaksanakan, Atra sempat mempelajari satu skill baru. Skill itu bernama Armament. Skill ini dapat dipakai di seluruh jenis senjata, selama senjata itu tidak termasuk dalam senjata elemen.
Atra pernah membaca tentang skill ini. Skill ini dapat membuat penggunanya mengeluarkan suatu elemen yang disebut elemen Chaos.
Elemen ini dapat mematahkan seluruh skill elemen apapun. Bisa dibilang elemen ini adalah elemen terkuat di permainan ini.
Dengan skill ini, Atra dapat mengalahkan seluruh pemain yang memiliki skill elemen, termasuk para Remaister. Hanya dirinya saja Remaister yang tidak memiliki skill elemen apapun.
Peraturan kembali diubah oleh sang raja. Ia ingin menyaksikan pertarungan lagi. Sebab itulah empat belas orang akan dibuat bertarung, hanya peserta terkuat nomor satulah yang tidak akan bertarung, kecuali ditantang oleh salah satu dari tujuh orang peserta terkuat.
Atra sendiri diletakkan pada nomor peserta terkuat kedua, diikuti oleh peserta yang bernama Riz yang memiliki tubuh kurus nan kering. Namun dibalik penampilannya yang kurus itu, Riz memiliki kekuatan yang sangat besar dibalik tubuh kurus keringnya itu. Dengan kekiatannya itu, ia berada di posisi ke tiga peserta terkuat.
Atra sendiri akan mengeluarkan cakar mekaniknya sebagai senjatanya, ia sudah mempersiapkan saat-saat ini sejak tadi sore.
Atra mendapat nomor sepuluh dan akan dihadapkan dengan peserta nomor sembilan. Peserta nomor sembilan ini adalah peserta yang memiliki catatan yang paling hebat diantara semuanya, yaitu memukuli lawannya hingga babak belur. Atra sendiri sedikit kasihan dengan lawannya selama ini.
Wasitnya masihlah wasit yang tadi dan ia sudah melihat aksi Atra selama seleksi ini. Ia kemudian mundur dan mempersilahkan keduanya untuk bertarung.
Atra langsung mengeluarkan cakar mekaniknya dan maju menyerang. Ia tidak berniat main-main lagi dalam seleksi ini. Ia ingin masuk ke ruangan itu!
Atra maju sangat cepat, sangat cepat hingga yang terlihat hanyalah bayangannya saja. Ia maju menyerang tubuh lawannya dengan cepat, tidak memberikan jeda untuk lawannya menyerang balik.
__ADS_1
“Aku menyerah!” seru lawannya itu. Seruan itu seolah mengingatkan Atra pada seseorang.
Sudah berlalu tujuh pertandingan dan pertandingan Atra merupakan pertandingan terakhir. Sesi ini masih berlanjut untuk salah satu orang yang akan menantang Deushi, sang peserta terkuat nomor satu.
Jika tidak ada seorang pun yang menantangnya, dengan begitu Deushi akan langsung menjadi jendral tertinggi. Sebelumnya, Deushi sudah memiliki jabatan sebagai Commander. Ia ingin meningkatkan jabatannya sehingga ia mengikuti seleksi ini.
Melihat tidak ada satupun dari salah satu tujuh peserta yang lolos, Atra mengangkat tangannya, “Aku akan menantangnya...”
Tidak ada bawahan yang cukup bodoh untuk menantang salah satu dari Commander. Hanya Atra yang berani.
Deushi tertawa kecil, “Oh, aku ingin tau kemampuan dari orang yang menantangku...” Deushi melompat ke atas panggung dan berdiri menghadap Atra.
Enam peserta yang tidak menantang Deushi diberikan tempat khusus untuk menonton pertandingan ini.
Deushi menatap Atra sambil mengeluarkan sebilah pisau. Ternyata selama ini ia menyimpan senjatanya untuk pertandingan terakhir ini.
“Kau, terima seranganku!” Deushi maju sambil tertawa kencang, ia mengarahkan pisaunya ke belakang kemudian melesat dengan cepat ke arah Atra.
Atra tidak diam. Ia meletakkan tangannya di samping badannya kemudian mengepalkan tangannya dan cakar keluar dari kotak kecil di punggung tangan Atra. Begitulah cara mengeluarkan cakar mekanik milik Atra. Jika Atra meluruskan seluruh jari-jarinya, cakarnya akan tertarik masuk lagi ke kotak kecil itu.
Atra maju dan menyerang Deushi. Keduanya saling bertukar serangan sebelum Atra dan Deushi melompat mundur.
Napas Deushi mulai tidak teratur, sementara napas Atra masih teratur. Mulailah terlihat kurang perbedaan kekuatan keduanya setelah pertukaran serangan itu.
“Aku tidak akan menyerah!” Deushi maju sambil mengacungkan pisaunya, namun kali ini tidaklah secepat tadi karena napasnya mulai tidak beraturan.
Atra melesat dan berdiri di belakang Deushi kemudian menarik cakarnya. Ia lalu memukulkan kotak kecil itu ke kepala Deushi sangat keras hingga Deushi jatuh telungkup.
“Apa? Teknik itu... Cakar itu juga... Mirip dengan Rioz...” gumam sang raja jauh dari pertandingan itu. Sang raja ditempatkan di sebuah tribun yang berada paling atas aula itu. Sang raja terkejut saat melihat teknik cakar Atra yang terlihat mencoba meraih Deushi.
Salah satu Commander yang mendengar gumaman itu mengerutkan dahinya, “Rioz? Apa Rioz yang itu?” tanya Commander itu.
“Benar. Rioz yang berani berdiri di depanku disaat semua orang menunduk memberi hormat saat aku muncul.” Ujar sang raja dengan pelan. Ia tahu kalau Rioz menghilang kurang lebih dua bulan yang lalu. Seleksi ini dilaksanakan untuk mencari penggantinya. Namun siapa sangka malah orang yang memiliki cakar yang mirip dengannya malah muncul untuk mengambil posisi itu.
__ADS_1
Atra berjalan mendekati Deushi, tetapi Deushi masih tidak mau menyerah. Ia tidak ingin dikalahkan oleh orang yang berumur lebih muda darinya.
“Kau?! Kau memukulku?!”