Remaist Online: Return Of The Legend

Remaist Online: Return Of The Legend
92. Jawaban Riana


__ADS_3

“Flame Sword Technique: Stream of Fire!”


“Fly Fan Technique: Winter Breeze!”


Dua cahaya berwarna merah dan putih terlihat lalu saling bertabrakan dan menimbulkan ledakan dahsyat yang sampai menghancurkan sekitarnya. Asap kemudian menghilang dan menunjukkan dua sosok manusia yang saling menghunuskan senjata masing-masing.


“Apakah mereka serius bertarung disini?”


“Inikah pertarungan antara dua Remaister?”


Naze, Whu, Atra, dan Geisha menatap keduanya dengan tatapan aneh. 


Riana melesat maju dan mengarahkan kipasnya ke depan, “Fly Fan Technique: Darkness Wave!”


Kipas Riana melepaskan gelombang berwarna hitam gelap dan langsung melesat menuju Slitherio yang langsung menghindar dengan melompat tinggi.


Riana ikut melompat kemudian berseru, “Original Skill Soul Remaist: Nightmare Bullet!” Riana melepaskan sebuah peluru berwarna hitam yang langsung melesat mengikuti Slitherio kemanapun ia terbang.


“Sial...” Slitherio terbang dengan kecepatan tinggi. Sebuah ide kemudian terbersit di pikirannya ketika ia melihat peluru itu.


Slitherio berbalik kemudian mengayunkan pedangnya dan menghancurkan peluru itu. Aksinya membuat semua orang yang melihat pertarungan itu.


“Apa-apaan itu?”


“Dia menghancurkan skill Riana?!” 


Slitherio tersenyum kemudian bertanya dengan nada menyindir, “Apa hanya kau saja yang memiliki Original Skill Soul Remaist? Aku juga...”


Slitherio kemudian mendarat turun dan menyarungkan pedangnya, “Lihat ini! Original Skill Soul Remaist: Great Holy Phoenix Mode!”


Tubuh Slitherio kemudian memancarkan cahaya merah terang sebelum berubah menjadi seekor burung yang memiliki bulu berwarna merah terang yang di beberapa sisinya diisi api yang panasnya amat tinggi.


Semua orang yang ada disana menatap Slitherio dengan tatapan kagum, tak pernah mereka lihat Slitherio mampu berubah seperti itu sejak ia mendapatkan Soul Remaist.


Slitherio yang berbentuk burung api segera melesat dan mengejar Riana yang ikut berubah, “Original Skill Soul Remaist: Nightmare Peacock Mode!”


Riana berubah menjadi seekor merak yang memiliki ekor berwarna hitam dan warna bulu di tubuhnya yang berwarna putih terang. Riana segera melesat kabur dan terjadilah kejar-kejaran antara dua burung.


“Itu... Apa mereka yakin?”


“Sepertinya iya...”


“Lihat saja sekitar ini...”


Sekitar mereka tadi bertarung sudah berubah menjadi lapangan yang amat luas yang disebabkan karena ledakan yang terjadi tadi saat skill Slitherio dan Riana saling bertabrakan.

__ADS_1


“Rasakan ini! God Skill: Ring of Fire!” Slitherio melesat dengan cepat ke arah bawah dan menyentuh tanah dengan telapak tangannya.


Dengan cepat, sebuah lingkaran besar segera tercipta di atas tanah. Lingkaran itu kemudian mulai berubah menjadi berwarna merah sebelum mulai menyemburkan api-api dari dalam tanah.


Di area dalam lingkaran itu, hutan mulai hancur digantikan oleh lubang yang amat besar.


Riana yang kebetulan berada di atas juga ikut terkena api-api yang menyembur dari bawah tanah yang disebabkan oleh skill Ring of Fire milik Slitherio.


“Eh?!” 


“Apa mereka yakin dengan pertarungan ini?”


“Bisa saja mereka akan dianggap dewa jika seperti ini.”


“Bukankah para Remaister itu sering dianggap dewa?”


Whu dan Atra yang paling merasa terkejut, para Remaister dianggap dewa? Mimpi apa Geisha semalam sampai bisa mengatakan hal itu.


Riana kemudian jatuh ke bawah dengan wujudnya yang sudah kembali menjadi manusia lagi.


Slitherio yang melihat itu melesat terbang dan meraih Riana yang jatuh dari ketinggian. Slitherio kemudian menggendong Riana di depan lalu melesat menuju tempat para teman-temannya menunggu.


“Kau berhasil menciptakan masalah lagi...” Naze menepuk dahinya. Ia kemudian menatap lubang besar yang diciptakan Slitherio kemudian menatap Slitherio lagi.


Whu dan Atra menepuk dahinya , sedangkan Geisha menatap Slitherio tajam.


“Pekalah sedikit, Slitherio...” Naze mengusap wajahnya kasar.


Slitherio kemudian menurunkan Riana yang sudah bangun lalu menyuruhnya berdiri.


“Jadi, apa jawabanmu?” tanya Slitherio pada Riana.


“Aku mengaku kalah...” Riana mengangkat kedua tangannya. Ia menatap Atra, Whu, Naze, dan Geisha secara bergantian.


“Nah, sekarang baru kita lanjutkan perjalanan...” Slitherio mengangkat sebelah tangannya kemudian berjalan kembali menuju Void Hill.


***


Perjalanan mereka sudah berlangsung selama dua hari sejak mereka meninggalkan Oxyvian Labyrinth yang setengahnya hancur oleh kekuatan Riana dan Slitherio.


Selama itu pula, mereka terus berusaha berbaur dengan Riana yang menurut mereka orang yang bisa diajak berbicara segala hal.


Perjalanan jadi terasa tidak membosankan dengan adanya Riana yang selalu berusaha berbaur dengan mereka.


Geisha sudah menghubungi ketiga temannya dan ketiganya langsung menyetujuinya. 

__ADS_1


Slitherio yang mengetahui kemungkinan bahwa Lavenia adalah bangsawan pengkhianat mengatur semua jadwal pertemuan mereka di Void Hill.


Jadwal pertemuan mereka diatur agar dilaksanakan di Void Hill, sesuai dengan rencana Slitherio. Termasuk juga rencana pertemuan mereka dengan semua anggota Squad N5S.


Semua anggota segera melesat dari tempat masing-masing terakhir berada menuju Void Hill secepatnya. 


Mereka juga sempat singgah di kota Merchania dan mengajak Li untuk ikut bergabung di guild buatan mereka. Li yang melihat kesempatan berkembang menjadi lebih kuat akhirnya memilih ikut bergabung dan ikut melakukan perjalanan.


Slitherio yang melihat itu segera tersenyum lebar, rencananya untuk membongkar kedok Lavenia akan dimulai.


***


Waktu yang diperlukan untuk menuju Void Hill adalah selama  seminggu penuh. Jadi mereka mengisinya dengan berburu sambil mengisi waktu.


Selain berburu, mereka juga saling berbincang tentang segala sesuatu di Midvast. Seperti legenda, Equip langka, dan sebagainya. Seperti saat ini.


“Hei, apakah kalian pernah mendengar tentang sebelas Dewa?” Riana memulai pembicaraan.


“Tentu saja...” Slitherio, Whu, dan Atra menjawab bersamaan. Slitherio kemudian mengeluarkan sebuah buku yang mereka baca ketika di Phoenix Gold Kingdom.


Naze dan Li kemudian meraih buku itu bersamaan. Kebetulan mereka berdua duduk berdampingan dan mereka kemudian membacanya bersama-sama.


“Aku ikut satu...” Geisha berjalan menuju belakang Naze dan Li kemudian ikut membaca lewat sana. Riana bangun kemudian duduk disebelah Geisha dan ikut membaca.


“Yah, diantara kita hanya kita saja yang sudah membaca sampai habis...” Slitherio membaringkan tubuhnya di rumput-rumput.


Situasi sedang malam dan mereka masih di hutan. Sebab itulah bintang-bintang bisa terlihat dari tempat mereka sekarang beristirahat.


“Bintangnya indah, bukan?” Whu ikut membaringkan tubuhnya di sebelah Slitherio kemudian tersenyum.


Slitherio tersenyum tipis, tanda ia menyetujui ucapan Whu. Ia kemudian duduk dan mengeluarkan satu buku. Buku itu berjudul 'Book of Secret Midvast'.


Ia kemudian membenarkan tempat duduknya kemudian berniat membaca, tetapi perhatiannya teralihkan oleh ucapan Whu, “Hmm, jika mereka membaca buku itu, artinya kita akan berdiam selama hampir enam jam ya?”


“Benar...” Atra mengangkat jari telunjuknya. Ia kemudian menatap Slitherio.


“Hei, apa yang akan kau baca itu?” tanya Atra. Whu kemudian mendekat.


“Apa kalian ingat Hell Castle? Buku ini kita dapatkan saat kita berhasil menyelesaikan Hell Castle.” Jawab Slitherio sambil menguji ingatan keduanya.


“Dari sana ya? Aku ikut...” Whu kemudian duduk di sebelah kiri Slitherio.


“Aku pun...” Atra kemudian duduk di sebelah kanan Slitherio lalu membaca judulnya.


“Book of Secret Midvast? Menarik...” Atra berkata sambil menatap sampul buku itu.

__ADS_1


Slitherio membuka buku itu kemudian membacanya, “Buku ini adalah...”


__ADS_2