Remaist Online: Return Of The Legend

Remaist Online: Return Of The Legend
182. Purple Pearl Island IV


__ADS_3

Buu menatap Slitherio kebingungan, “Kau bisa sampai disini, tetapi tidak mengetahui ini dimana?”


Slitherio menggaruk kepalanya, FastStone hanya mengusap wajahnya kasar. Buu menatap kedua dengan kebingungan lalu bertanya lagi dengan nada penasaran, “Jangan bilang kalian tidak membawa peta?”


Slitherio menepuk dahinya, ia tidak mungkin menceritakan pertarungan antara delapan orang yang hampir mencapai kemampuan dewa melawan makhluk raksasa semalam itu.


“Kemarin badai keras dan ada awan hitam jauh di tengah lautan sana...” Buu mengelus dagunya sambil berpikir, “Biasanya hanya ada satu makhluk yang munculnya dengan pertanda seperti itu sebelumnya...”


Slitherio menyikut FastStone dan berbisik, “Ceritakan soal kemarin itu, aku tidak mau dikira pengkhayal tingkat tinggi...”


FastStone memijat keningnya lalu berkata pada Buu, “Kami sebenarnya memiliki peta, tetapi kejadian semalam membuat peta kami hilang...” FastStone lalu menceritakan pertarungan mereka melawan makhluk besar semalam itu.


Semakin jauh ceritanya, semakin buruk wajah Buu saat mendengarnya. Saat FastStone selesai bercerita, Buu segera menatap Slitherio dengan tatapan ngeri.


“Bisa menandingi salah satu dari empat penguasa Triangle Sea, hanya kalian yang bisa melakukannya...” tubuh Buu tak berhenti gemetar setelah mendengar cerita FastStone.


Buu bisa merasakan kalau cerita FastStone bukanlah cerita karangan biasa ataupun kisah bohongan. Tetapi kisah yang nyata terjadi.


Memang, semalam itu badai keras terjadi dan awan hitam datang entah dari mana asalnya. Sekitar dua jam selanjutnya, sebuah cahaya terang muncul diantara awan hitam itu dan makhluk transparan turun dari cahaya itu.


Badai yang terjadi juga membuat gelombang tinggi di sekitarnya, membuat penduduk pulau sekitar membuat ucapan kalau sang dewa telah datang.


“Jika kalian dibiarkan lolos oleh makhluk itu...” Buu menatap Slitherio dengan ketakutan, “Artinya sesuatu yang besar akan terjadi...”


“Tunggu dulu...” Slitherio menepuk pundak Buu pelan, “Memangnya makhluk apa yang sebelumnya kami hadapi?”


Mereka akhirnya sampai di tebing yang Buu maksud. Slitherio dan FastStone segera menurunkan teman-temannya dan membaringkan mereka di atas batu.


Buu melihat itu lalu berkata, “Makhluk itu adalah White Shark dan kalian berhasil melewati salah satu ujianNya...”


Slitherio semakin tidak memahami maksud Buu, tetapi Sean sadar dan ikut mendengarkan cerita Buu.


“Sepertinya kau menyebutkan salah satu teknikku, bukan?” tanya Sean sambil menatap Buu, “Cahaya yang kalian lihat semalam itu adalah cahaya dari teknik terkuatku, kau tak perlu tahu...”


Buu menelan ludahnya, ia merasakan kalau kekuatan Sean berada di atas FastStone dan berada di bawah Slitherio. Bisa dibilang Sean amat kuat.


“White Shark?” FastStone menatap Buu, “Dan apa maksudmu kami sudah menyelesaikan salah satu ujianNya?”

__ADS_1


“Ujiannya tidak disebutkan, tetapi yang pasti empat penguasa Triangle Sea akan muncul untuk menguji para makhluk dunia, apakah pantas untuk menapaki jalan dewa atau tidak...” Buu mengelus dagunya.


“Itu tidaklah penting, yang sekarang dimana posisi kita sekarang?” tanya Slitherio menghentikan Buu yang berniat melanjutkan.


“Pulau ini ada di selatan Triangle Sea dan dekat dengan Gods Island sekitar seminggu lagi...” Buu berpikir sambil mengelus pipinya dengan tangan kanannya.


“Seminggu lagi?!” Slitherio, FastStone, dan Sean menatap Buu bersamaan, “Apa itu benar?”


Buu mengangguk. Ia lalu melanjutkan, “Dan Veny yang sebelumnya kau hadapi itu adalah salah satu dari sekian banyak makhluk dunia yang ingin menapaki jalan dewa dan gagal...”


FastStone menelan ludahnya, ia merasakan kalau kekuatan Veny bisa dibilang menyetarai dirinya dan pengalamannya jauh dibawah mereka semua.


Sean berdiri dan melihat ke arah timur, “Tak terasa bisa secepat ini kita mendekati Gods Island...” Sean meregangkan punggungnya.


Tak lama, Li sang Musician God akhirnya sadar dan menatap semuanya, “Hai...”


Yang pertama kebingungan tentu saja adalah Buu. Li terlihat lemah dan terlihat kalau ia tak memiliki senjata apapun.


“Dia...” Buu berniat bertanya pada Slitherio, tetapi Slitherio sudah lebih dahulu memintanya untuk diam.


“Dimana ini?” tanya Li.


“Kita ada di Purple Pearl Island...” jawab Sean. Ia lalu duduk di ujung tebing dan melihat laut.


Hari sudah semakin senja saat Slitherio, FastStone, dan Buu sampai di tebing yang dimaksud oleh Buu.


“Sebaiknya kau diam disini saja daripada kau kembali kesana...” Slitherio menahan Buu yang ingin kembali menuju tengah pulau, “Jika mengingat ucapanmu sebelumnya pada Veny...”


FastStone mengangguk, ia jelas mengetahui akibatnya jika Buu kembali kesana. Veny mungkin akan membunuhnya karena membela Slitherio dan dirinya.


“Baiklah...” Buu sepertinya juga sudah memikirkan hal itu sebelumnya.


Slitherio mengangguk dan mengeluarkan sesuatu dari Inventorynya, yaitu beberapa tenda. Tenda itu Slitherio dapatkan dari Whu dan toko Serba Guna yang ada di Kota Hostix.


Slitherio membuat tenda dan membuat sebuah keputusan, “Tiga laki-laki akan tidur di tenda ini, tiga laki-laki akan tidur di tenda ini, dan sisanya tidur di tenda ini.” Ujar Slitherio sambil menunjuk tenda-tenda.


“Kau akan tidur dengan mereka...” Slitherio menunjuk Sean dan FastStone. Yang ditunjuk hanya tersenyum lebar.

__ADS_1


Buu mengangguk dan masuk ke dalam tenda yang ditunjuk oleh Slitherio. Setelah Buu masuk, Slitherio segera membangunkan Atra, Naze, Geisha, dan Clarey bergantian.


“Bangun, aku sudah tahu kalian sudah bangun sejak tadi...” Slitherio menepuk pipi Atra dan Naze bergantian.


Naze hanya tersenyum tipis, Atra tertawa kecil, dan keduanya akhirnya duduk sambil meregangkan punggung mereka.


“Bagaimana kau tahu kalau kami sudah bangun sejak tadi?” tanya Atra sambil menahan tawanya.


“Tentu saja dari kelopak matamu yang bergerak sendiri, berusaha menutup mata dengan paksa...” Slitherio menatap Naze juga, “Kau pun sama, mengikuti contoh yang tidak benar...”


“Kalau aku betulan pingsannya...” Naze menunjuk dirinya dengan bangga.


Slitherio menatap Geisha dan Clarey bergantian. Naze yang melihatnya segera menunjuk Slitherio, “Kau? Bagaimana kau bisa selamat?”


“Aku? Bukankah kau sudah melihat pertarungan epikku semalam itu?” Slitherio menatap Naze heran, seolah Naze tidak melihat pertarungannya.


“Tanya Geisha saja...” Naze mendengus sambil menunjuk Geisha.


“Dia sudah pingsan, bahkan sebelum kau kembali ke Gold...” Geisha menunjuk Naze, “Dasar lemah!”


“Hei, aku tidak lemah!” Naze mencoba berdiri, tetapi tidak bisa karena ditahan oleh Atra.


“Diam saja dan terima nasibmu saja.” Ujar Atra sambil tertawa kecil.


Naze terdiam. Sebenarnya ini adalah nasibnya karena menerima Grand Job sebagai Wind Archer, bukan sebagai Adventurer yang bisa memakai segala jenis senjata.


“Sudahlah, yang penting sekarang adalah kita harus memulihkan diri dan bersiap untuk perjalanan kita dua hari lagi...” ujar Slitherio. Ia lalu membuka Map.


“Buu tidak bohong, bukan?” tanya FastStone. Jika Buu berbohong, maka FastStone tidak segan untuk mematahkan tulang lengannya.


“Tidak, dia tidak berbohong...” Slitherio berkata, “Tetapi jaraknya jika kulihat maka...” Slitherio segera terdiam.


“Maka?” Sean, Li, dan Clarey menatap Slitherio.


“Kenapa kalian tidak buka saja di Map masing-masing?” tanya Geisha kemudian membuka Map. Tak lama ia lalu terdiam.


“Bagaimana mungkin...” Atra menutup mulutnya, “... Kita bisa sedekat ini dengan Gods Island?!”

__ADS_1


__ADS_2