
Li menatap laut di hadapannya yang memantulkan cahaya pagi. Ia tidak bisa tenang di dunia nyata karena ia memang lebih sering menghabiskan waktunya di Remaist Online daripada di dunia nyata. Dengan kata lain, Li sudah menganggap Remaist Online sebagai dunianya sendiri.
Li tersambung kembali saat ujung tebing sudah terang kembali karena fajar datang dari timur. Li duduk sendirian ditemani oleh sebotol minuman yang diberikan oleh Whu sebelum berangkat beberapa hari lalu.
Buu sebelumnya mengatakan ingin mencari makanan di hutan sebentar, meski Li melarangnya Buu tetap bersikeras ingin pergi.
Karena malas berdebat, Li akhirnya membiarkan Buu pergi dan mengingatkan agar mencari makanan di sekitar saja. Jika mengalami kesulitan, Buu tinggal berteriak dan Li akan datang.
Li melempar-lempar batu ke laut dengan bosan. Biasanya, jam segini Li akan bermain di salah satu tempat kerjanya di Kota Hostix. Tapi sekarang, ia malah duduk kebosanan sambil melempar-lempar batu.
Li terus begitu sampai batu di sekitarnya bisa dihitung sampai angka sepuluh. Saat itulah, Li berpikiran kalau ia bisa mengisi waktu dengan bermain seruling.
Li mengeluarkan Bamboo Flute dan meniupnya, dengan harapan kalau dirinya bisa terbebas dari kebosanan.
Li memainkan lagu yang dulu pernah ia perlihatkan pada Art Goddess Reiy. Hari ini, Li memainkan lagunya lebih dari sekali, saking bosannya.
Tak lama, FastStone datang dan ikut duduk di sebelah Li, “Sedang apa kau?” tanyanya saat duduk di sebelah Li sambil menepuk pundaknya.
“Mengisi waktu yang membosankan ini...” Li menatap lautan luas. Tak lama, ia melihat sesuatu dari kejauhan.
“FastStone, apa kau melihat bayangan hitam di Utara itu?” tanya Li sambil menunjuk ke arah sesuatu yang ia sebut bayangan hitam itu.
“Tentu...” FastStone ikut melihat ke arah itu, “Dan apa itu?”
Keduanya menyipitkan mata mereka masing-masing. Bayangan hitam itu semakin jelas saat semakin dekat.
FastStone meraih senjatanya yang tersarung di pinggangnya, yaitu Blue War Sword. Ketika bayangan hitam itu menunjukkan wujudnya, FastStone langsung menarik pedangnya dan memasang posisi siaga.
Wujud bayangan hitam itu adalah seekor naga yang berwarna hitam pekat. Li yang melihatnya menaikkan alisnya, “Apa ini?”
“Naga, seharusnya...” FastStone tetap tidak menurunkan tingkat siaganya. Ia menyipitkan matanya, memperhatikan naga itu lebih jelas.
Naga itu memiliki sisi luar berwarna hitam dengan kaki empat dan ekor panjang yang diujungnya terdapat sejenis sirip.
“Naga apa ini?” tanya Li. Ia ikut memasang posisi siaga dengan memegang Bamboo Flute lebih erat.
“Night Cloud Dragon?! Bagaimana ia bisa ada disini?!” suara Buu terdengar di belakang mereka. Buu berhenti di sebelah Li dan menatap FastStone dan Li bergantian, “Turunkan senjata kalian, dia tidak akan menyerang kalian...”
“Darimana kau tahu?” tanya FastStone sambil menaikkan alisnya, “Dan karena alasan apa aku harus melakukannya?”
__ADS_1
“Night Cloud Dragon terkenal akan kecepatan terbangnya yang amat tinggi dan ia sering berkeliaran di sekitar sini. Para penduduk pulau memberinya nama seperti itu karena ia sering muncul dari sela-sela awan malam dan menghilang di sela-sela awan malam pula...” Buu menunjukkan sesuatu, “Aku membawa beberapa buah.”
Buu meletakkan satu buah di ujung tebing lalu menatap Night Cloud Dragon yang masih melayang di atas laut.
“Ini, kuberi kau buah...” Buu mengambilnya lagi dan menawarkannya pada naga hitam itu.
Li menggaruk kepalanya, ia merasa seperti mengingat dirinya dulu. FastStone memilih menutup matanya saking malunya dengan tindakan Buu itu.
“Kenapa kau tidak menyisakan sup tadi itu padaku?!” suara Geisha terdengar di belakang mereka dan ketika FastStone berbalik, ia melihat Slitherio dan Geisha sedang berjalan beriringan. Di belakang mereka diikuti oleh Naze.
Slitherio menggaruk telinganya dengan kelingking kanannya dan berkata, “Salahmu tidak mengatakan kalau kau menginginkannya...”
“Memangnya aku harus mengatakannya?”
“Setidaknya agar aku tahu...” Slitherio terlihat belum menyelesaikan kalimatnya saat ia melihat naga hitam yang ada di hadapan Li.
Slitherio memasang posisi siaga sambil bergerak perlahan ke depan. Buu yang melihatnya segera berkata, “Tenang, dia tidak akan melawan kalau kalian tidak mengganggunya...”
“Darimana kau tahu?” tanya Slitherio, Geisha, dan Naze bersamaan.
FastStone menepuk dahinya, ia lalu berkata, “Li mengatakan kalau ia menginginkan Night Cloud Dragon...”
“Night... Apa?” Slitherio tidak terlalu jelas mendengar nama naga itu saat FastStone memberitahu nama naga itu.
Li yang mendengarnya memilih menutup telinganya dan menatap Buu, “Apa dia bisa dijinakkan?”
“Sepertinya bisa...” Buu tetap mengacungkan buah yang dibawanya sambil melihat ke arah Li.
“Akan kucoba...” Li mengambil buah yang ada di tangan Buu lalu menawarkannya pada Night Cloud Dragon, “Mau?”
Night Cloud Dragon mendekat dan mengendus buah yang dibawa oleh Li. Li sendiri menaikkan alisnya sambil merasa ngeri jika tiba-tiba Night Cloud Dragon menggigit tangannya.
Night Cloud Dragon menatap Li sebentar dan seolah memahami maksud Night Cloud Dragon, Li mengangguk.
Night Cloud Dragon menggigit buah itu dan memakannya. Saat itulah Li menyentuh wajah naga itu sambil berbisik, “Kau temanku sekarang...”
[Selamat, kau telah menjinakkan Night Cloud Dragon, seekor monster yang memiliki level 700.
Kau mendapat title 'Dragon Tamer'!
__ADS_1
Mendapat All Stat+30 saat mengendarai Night Cloud Dragon
Selamat, kau mendapat pet baru!]
Li tersenyum senang dan ia pun memeluk kepala Night Cloud Dragon yang memandangnya dengan senang juga.
“Hmm, sepertinya ia mencari Tuan barunya, mungkin...” FastStone yang sebelumnya mendengar kisah Buu bergumam pelan.
“Hei, kita bisa menjadikannya sebagai kendaraan kedua kita ke Gods Island.” Slitherio berkata sambil menunjuk Night Cloud Dragon.
“Kita beri nama siapa ya?” Geisha berpikir setelah berkata begitu.
Naze yang mendengarnya mengusulkan sebuah nama yang terdengar aneh, “Cloud?”
“Tidak, ia tidak menyukainya...” ujar Li setelah melepaskan pelukannya dari kepala Night Cloud Dragon.
“Darimana kau tahu?” tanya Slitherio. Li tidak menjawabnya, melainkan hanya tersenyum lebar.
“Bagaimana kalau Ray?” usul FastStone.
“Itu nama manusia!” Slitherio memukul kepala FastStone pelan.
“Bagaimana kalau Noud?” usul Geisha, “N-nya dari Night, oud-nya dari Cloud.”
“Aneh...” Li menggaruk kepalanya, “Dia tidak menyukai nama-nama itu...”
“Lalu apa?!” Slitherio, Naze, FastStone, dan Geisha menunjuk Night Cloud Dragon, “Maumu apa?!”
“Bagaimana kalau Night saja?” usul Li sambil menatap Night Cloud Dragon. Ia mendarat dan mengangguk.
“Pemilih...” FastStone menggerutu, tetapi ia tersenyum karena ia memiliki teman pet lagi.
“Halo, apa aku melewatkan sesuatu?” suara berat seorang pria terdengar di belakang mereka. Ia adalah Sean.
“Halo, kuucapkan selamat pada Slitherio yang berhasil merebut gelar pemain terkuat nomor satu sedunia.” Sean mendekat dan memukul keras pundak Slitherio.
Slitherio tentu mengetahui berita itu, tetapi ia memilih seolah tidak mengetahuinya, “Apa maksudmu?”
“Kau sudah terkenal! Kau sudah merebut gelar pemain nomor satu!” Sean berkata dengan nada tinggi sambil memegang pundak Slitherio.
__ADS_1
FastStone, Li, dan Naze yang mendengar itu segera terkejut. Atra yang baru datang bahkan ikut terdiam setelah mendengar ucapan Sean dari jauh.
“Eh?!”