Remaist Online: Return Of The Legend

Remaist Online: Return Of The Legend
156. Siksaan untuk Vue dan lokasi Hell Empire


__ADS_3

“Oh ya, aku ingin bertanya soal orang yang kau bawa lima hari sebelumnya...” Naze bertanya pada Slitherio yang masih berdiri di dekat jendela.


“Oh, Vue apalah itu?” Asvi tersenyum kecil, ia lupa dengan nama belakang Vue.


“Sudah lima hari ini kau diamkan dia di kediamanmu, mau kau apakan dia?” Whu menatap Slitherio yang menyeringai lebar.


“Aku memiliki rencana tersendiri untuknya...” Slitherio mengelus dagunya.


“Hmm, entah kenapa aku sekarang sedikit kasihan pada Vue...” Geisha bergumam ketika melihat senyuman Slitherio yang terlihat mengerikan.


Slitherio berjalan mendekat kemudian menepuk meja, “Aku akan menengok Vue itu, yang mau ikut silahkan ikuti aku...”


Slitherio mengangkat tangannya kemudian berjalan keluar dari markas, diikuti oleh semua orang. 


Mereka semua penasaran dengan rencana yang dimaksud oleh Slitherio tadi, sebab kalau Slitherio tersenyum seperti itu maka hal yang menarik akan terjadi.


***


“Aku beri kau waktu untuk berpikir, tapi kenapa kau malah tidur santai disini?!” Slitherio menarik rambut Vue yang berwarna merah gelap.


“Aku itu berpikir sambil tidur!” Vue memegang tangan Slitherio. Harus Vue akui, tangan Slitherio terasa keras, meskipun tidak memakai Flame Phoenix Gauntlet sekalipun.


Saat ini, mereka berada di dalam kediaman Slitherio, di dalam kamar Slitherio. Disanalah Vue ditahan.


Apa mungkin tangannya terbuat dari logam?, Batin Vue dalam hatinya.


“Kau sudah kuberi waktu berpikir...” Slitherio menurunkan tangannya, membuat Vue sedikit lebih lega.


“Aku sudah berpikir dan hanya perlu memberitahu jawabannya...” Vue berusaha melepaskan tangan Slitherio, tetapi tetap tidak bisa, “Dan juga, bisakah kau melemaskan tanganmu ini?”


“Aku sudah melemaskan tanganku ini...” Slitherio mengangkat bahunya.


Tangan Slitherio tetap keras meskipun ia mengaku sudah melemaskannya. Vue jadi ragu Slitherio ini sebenarnya bukanlah Phoenix biasa.


Sejak Slitherio membawa Vue ke Kota Hostix, Vue sudah diberi sebuah pertanyaan.


“Apa kau benar-benar mau tinggal disini?” itulah pertanyaan yang ditanyakan oleh Slitherio.


Selama lima hari ini, ia terus mempertimbangkan pertanyaan itu. Jika ia menyetujuinya, maka ia akan dianggap sebagai pengkhianat oleh Leone, bukan tidak mungkin Leone akan membunuhnya. Jika ia menolak, Slitherio dan rekan-rekannya akan membunuhnya tanpa ampun.


Meskipun berhasil lolos, dirinya tetap akan dibunuh oleh Leone karena dianggap tidak becus saat bertugas.


Vue menggigit bibirnya dengan taringnya, “Aku akan tinggal disini...”

__ADS_1


Semua orang yang melihat itu membuka mulut mereka lebar-lebar, sulit dipercaya seorang petinggi Hell Empire akan tunduk di bawah Slitherio.


Slitherio tersenyum makin lebar, ia lalu meraih kepala Vue, “Benarkah itu?”


Pantas saja Vue terlihat pasrah saat mengatakan jawabannya, batin semua orang saat melihat perlakuan Slitherio pada Vue. Terlihat kejam.


“Be-benar!” Vue memegang tangan Slitherio lebih erat, ia tidak ingin mati hanya karena kepalanya digenggam dengan kuat oleh Slitherio.


Slitherio melepaskan genggamannya pada kepala Vue, “Jadi, apa kau juga menyetujui permintaanku sebelumnya?”


“Tentu saja! Akan kuberikan pasukan Dracula dalam jumlah besar!” Vue menangkupkan kedua tangannya, terlihat ia tidak ingin menerima siksaan seperti tadi itu.


Memang itulah rencana Slitherio, meminta Vue untuk membuatkan pasukan Dracula.


Pada hari pertama, Vue tetap bersikeras tidak ingin membuatkannya pasukan Dracula. Hari kedua, Vue masih tetap pada pendiriannya. Hari ketiga, Slitherio mulai bingung harus dengan cara apa meminta pada Vue. Hari keempat, Slitherio memutuskan untuk menyiksa Vue sambil terus menanyakan hal yang sama pada Vue. Hari ini, Vue akhirnya memberikan jawabannya.


“Pertama, aku membutuhkan darah dalam jumlah besar...” Vue menatap Slitherio.


Semua orang lalu menatap FastStone bersamaan, termasuk Slitherio, “Eh?” FastStone yang dilihati seperti itu kebingungan.


“Harus manusia...” Vue menggaruk kepalanya.


Semua orang kembali menatap FastStone dengan sedikit senyuman. FastStone semakin kebingungan.


Slitherio, Whu, Riana, Atra, LoghSeveria, Asvi, Lynx, Ovyx, dan Zynga tersenyum lebar. Ovyx, Clarey, Renne, June, Naze, dan Li tertawa kecil.


“Nasibmu menjadi orang dengan pertahanan terkuat...” Clover menepuk pundak FastStone pelan.


FastStone mengangguk pelan, itu memang nasibnya sebagai satu-satunya Defender di Guild Sevens.


“Aku akan memberikan Potion untuk memulihkan HPmu yang hilang...” Clover tersenyum tipis, pada akhirnya jobnya ada gunanya juga.


“Em, aku juga memiliki keluarga di tempat tinggalku...” Vue mengangkat tangannya, “Siapa tahu mereka dapat membantu...”


Wajah FastStone berubah, tak pernah ia sangka akan menjadi sesial ini karena menjadi seorang Defender.


“Enam Pilar Naga, pergilah ke tempat yang diberitahu oleh Vue ini!” Slitherio menunjuk Enam Pilar Naga yang sejak tadi diam saat Slitherio menyiksa Vue.


“Baik!” keenam orang itu meletakkan kepalan tangan kanan mereka di depan dada kiri mereka.


“Tempat tinggalku ada di Blood Portal, di dekat Death Valley...” Vue menjawab dengan nada biasa, tanpa ada rasa bersalah.


Slitherio tersenyum lebar, “Kesempatan bagus...” Slitherio berniat berbicara, tetapi sudah didahului oleh LoghSeveria.

__ADS_1


“Hei, apa kau tahu lokasi Hell Empire?” tanya LoghSeveria, mengabaikan tatapan terkejutnya Slitherio. Slitherio jelas terkejut saat mengetahui pemikirannya sama dengan pemikiran LoghSeveria.


“Emm, di dekat tempat tinggalku, Death Valley.” Jawab Vue.


“Aku ragu mengerahkan Enam Pilar Naga untuk pergi kesana...” Atra menggaruk kepalanya.


“Apa perlu aku yang kesana?” Whu memasang wajah serius sambil menunjuk dirinya sendiri.


“Tak usah, nanti kau malah menghancurkan tempat itu...” Riana mengibaskan tangannya.


“Benarkah begitu?” Slitherio menatap Vue sambil menyeringai lebar.


“Benar!” Vue menaikkan dua jarinya.


“Apa kami jadi pergi ke tempat itu?” Asheuin bertanya pada Slitherio.


“Ya, dan kalian boleh pergi sekarang...” saat Slitherio selesai berkata begitu, Enam Pilar Naga langsung menghilang dan meninggalkan mereka semua.


Selepas Enam Pilar Naga pergi ke Blood Portal, Vue memulai proses menciptakan pasukan Draculanya.


FastStone menarik napas panjang kemudian menghembuskannya. Ia lalu menaikkan jempolnya.


Vue tersenyum lebar lalu menusukkan jari telunjuknya ke dada FastStone. Saat jari telunjuk Vue menancap di dada FastStone, terlihat jarinya seperti dialiri oleh cairan berwarna merah.


Vue menghisap darah FastStone sejenak sebelum menarik jarinya dari dada FastStone. Ia lalu memejamkan matanya lalu menciptakan sebuah gumpalan berwarna merah.


Gumpalan itu terus berada pada kendali Vue sampai pada akhirnya membentuk seorang manusia dengan tanduk kecil di kepalanya. Ia adalah Dracula pertama yang muncul di Kota Hostix.


HP FastStone hanya berkurang 30% dari jumlah HP awalnya yang sekitar 100.000 lebih. Itu adalah kehebatan seorang FastStone.


Jika hal itu terus berlanjut, maka setidaknya Vue dapat menciptakan tiga Dracula saja.


Tetapi level dari Dracula yang baru diciptakan oleh Vue ada di level 200, membuatnya menjadi makhluk terkuat setelahnya Li.


Vue melakukan hal yang sama sebanyak satu kali lagi sebelum membiarkan FastStone memulihkan HPnya terlebih dahulu.


Proses itu terus berlanjut sampai hampir tengah malam, sampai seluruh anggota Guild Sevens terlelap di kediaman Slitherio, kecuali LoghSeveria.


LoghSeveria diperintahkan untuk membantu Six Dragon Pillar, karena Slitherio mengkhawatirkan nasib keenamnya.


Jika keenamnya mati sia-sia, maka kekuatan pasukan elit Guild Sevens akan berkurang sedikit, setidaknya itulah pikiran Slitherio.


Proses itu berlangsung selama FastStone mengonsumsi Potion sebanyak 10 kali.

__ADS_1


__ADS_2