Remaist Online: Return Of The Legend

Remaist Online: Return Of The Legend
114. Babak penyisihan II dan malam


__ADS_3

Atra mengejar Selena yang meneriakkan satu skill bawaan setiap Remaister, “Original Skill Soul Remaist: Wrath of Abyss Demon!”


Selena berubah menjadi sesosok wanita dengan mata hitam dan rambut panjang terurai, tatapan matanya berubah menjadi lebih dingin. Ia lalu berbalik dan melesat menuju Atra yang masih tersenyum lebar.


“Original Skill Soul Remaist: BloodThirsty Werewolf...” Atra bergumam sebelum tubuhnya membesar dan berubah menjadi setengah serigala. Ia lalu mengaum sekerasnya lalu melesat menyambut serangan Selena.


“Apa?!” Selena melambatkan kecepatannya dan menahan serangan Atra yang jauh lebih hebat dibanding dirinya.


Atra melompat mundur lalu mengerahkan skill yang membuatnya melesat secepat kilat yang melebihi kecepatannya menggunakan Wind Step.


“Wolf Curse!” Atra melesat secepat kilat sampai tidak terlihat wujudnya sekalipun, bahkan Slitherio yang memiliki kecepatan diatasnya saja tidak mampu mengikuti kecepatannya.


Atra melesat sebelum mendaratkan puluhan serangan yang juga tidak mampu Slitherio lihat.


“Apa-apaan itu?” Slitherio membuka mulutnya, hari itu mata semua orang terbuka lebar sampai hampir lepas karena takut melewatkan pertarungan hebat ini.


“Heh, dimananya dahsyat? Pertarunganku dengan Slitherio jauh lebih dahsyat...” Riana menatap Slitherio yang sedang berdiri dengan tenang.


“Tentu saja, bahkan pertarungan kalian itu hampir menghancurkan Oxyvian Labyrinth...” Whu mengangkat bahunya.


“Apa?” Renne, June, Li, Clover, FastStone, LoghSeveria, Asvi, dan Zynga bertanya bersamaan.


“Pertarungan Slitherio melawan Riana hampir menghancurkan sebuah hutan dan Oxyvian Labyrinth di dekatnya karena Slitherio mengerahkan dua skill terkuatnya, yaitu Spirit Boom dan God Skillnya.” Whu menjelaskan sambil menunjuk Slitherio. Bahkan ia sendiri tidak yakin mampu berbuat seperti Slitherio.


Lynx, Geisha, dan Clarey berhasil menyelesaikan tugasnya dengan mengeluarkan enam anggota Guild B-Blank keluar arena.


Selena masih tidak menyadari semua rekannya keluar arena sampai Atra berkata di belakangnya, “Semua temanmu sudah keluar arena, menyerahlah...”


Selena berbalik dan tidak menemukan Atra dibelakangnya, tetapi Atra berada di depannya dan menarik tangan Selena sebelum melemparnya keluar arena.


“Pemenangnya adalah Guild Sevens!” 


“Oh, hebat juga para pendekar ini. Sampai mampu melesat tanpa meninggalkan bentuk kasarnya di tempatnya berdiri...” Serioza yang duduk disebelah Albert berkomentar sambil menunjuk Atra.


“Benar, ada suatu alasan kenapa kami mengadakan pertarungan antar serikat seperti ini...” Neil tertawa kecil. Di mata NPC, guild disebut dengan serikat.

__ADS_1


“Serikat ini dapat membuat posisi kami sebagai kaisar terancam jika mereka sampai dibiarkan berkembang.” Trestio ikut berkomentar.


“Tidak ada yang mampu mengalahkan Kak Serioza dalam hal bermain palu.” Zaburo berkata sambil tertawa kecil.


“Benar, tak ada yang mampu mengalahkan anda dalam bermain palu.” Neil berkata sambil tersenyum lebar.


“Tidak, itu hanyalah ilmu turunan dari Leluhur Semipa, mana berani aku menganggapnya sebagai ilmu buatanku.” Serioza berkata sebelum menunjuk pada satu arah, “Andai saja saat itu tidak ada pemuda berjubah merah seperti itu, mungkin Teknik Palu Pemecah Langit akan berhenti padaku.”


“Oh, pendekar yang bernama Slitherio itu? Saya mengenalnya...” Alberto tersenyum tipis.


“Julukannya di antara penduduk Midvast adalah Pedang Api, bukan?” tanya Zaburo, “Aku amat mengagumi permainan pedangnya yang menyetarai permainan tangan apinya.”


Pandangan Serioza berganti menatap pertandingan di hadapannya kini. Pertandingan di depannya terbilang membosankan baginya, tetapi ia memilih menontonnya karena ia ingin mengetahui kekuatan pendekar zaman sekarang.


Menurutnya, kekuatan pendekar sekarang itu sudah berbeda jauh dengan kekuatan pendekar pada masanya dulu.


Dengan kekuatan para pendekar sekarang, bukan tidak mungkin penguasa Death Valley dapat menguasai Midvast dengan mudahnya. Bahkan mungkin akan terasa menyenangkan.


Pertandingan selanjutnya terasa membosankan setelah pertandingan Guild Sevens melawan Guild B-Blank. Pertandingan yang seru hanyalah dua pertandingan Guild Sevens yang lagi-lagi diakhiri dengan kemenangan Guild Sevens.


Karena hal itu, babak penyisihan selesai pada hari itu juga saat hari mulai menuju sore. Tersisa 15 guild yang lolos ke babak Semifinal.


Guild Sevens berhasil memenangkan dua pertandingan selanjutnya dengan Slitherio dan Atra seorang saja. Whu yang menunggu giliran sampai menggigit lidahnya sendiri karena merasa kesal tidak mendapat kesempatan turun bertarung.


“Tenang saja, pada babak Semifinal kita yang akan turun, bukan?” LoghSeveria menepuk pundak Whu pelan.


“Meski begitu biarkan aku juga membantai pemain-pemain ini...” Whu menunduk.


“Aku juga...” Riana ikut menunduk.


“Aku pastikan kalian akan mendapatkan pertarungan yang menyenangkan di Semifinal nanti...” Slitherio mendekat sambil tersenyum lebar, “Ayo, kita kembali ke penginapan untuk mempersiapkan diri untuk dua hari lagi.”


Semua orang mengangguk lalu berjalan di belakang Slitherio yang sudah berjalan lebih dahulu.


***

__ADS_1


Malam...


Slitherio dan Naze tidak bisa tidur, entah karena apa. Tetapi ternyata bukan hanya mereka saja yang tidak bisa tidur, ada Clarey dan Geisha yang juga tidak bisa tidur.


“Bagaimana kalau kita ke atas penginapan saja?” usul Clarey yang langsung disetujui oleh semua orang.


Mereka naik ke atas penginapan dan mulai menatap bintang serta bulan yang berbentuk bulan sabit.


“Langitnya indah, bukan?” tanya Slitherio setelah mereka sampai di atas penginapan.


“Yah...” Naze menatap langit.


“Andai saja kita bisa melompat ke masa depan, aku ingin melihat masa depan dari permainan ini.” Clarey berkata sambil tersenyum tipis, “Saat itu, aku tidak tau apakah aku masih bermain atau tidak...”


“Andai saja bisa, aku akan melakukan hal yang sama denganmu, melihat masa depan nanti...” Naze berkata.


Slitherio dan Geisha membaringkan tubuh mereka bersamaan ke atas atap penginapan yang datar.


“Apa kau tahu, jika kita melihat bintang ini maka kita melihat bintang dari masa lalu?” tanya Geisha.


“Mungkin iya, mungkin saja tidak...” Naze ikut membaringkan tubuhnya di sebelah Geisha.


“Itu terjadi di dunia nyata, kalau disini? Mungkin kita melihat program yang sudah dibuat oleh Neil Young dan para Game Master.” Clarey ikut berbaring di sebelah Naze.


“Ah, kenapa kau tidak memperkenalkan dirimu dahulu? Kita bertiga sudah saling mengenal di dunia nyata.” Kata Naze sambil menatap Slitherio dan Geisha di sebelahnya.


“Bertiga? Coba aku koreksi sebentar...” Geisha menarik hidung Naze keras, sampai HP Naze berkurang 1%.


“Namaki sama dengan nama karakterku disini, Clare June. Aku dari Indonesia...” Clarey mengenalkan dirinya lalu bertanya, “Kalau kalian?”


“Namaku adalah Ryan Putra dari Indonesia. Kalau kau ingat dengan Squad N5S saat turnamen dunia Physical And Magic, kapten Squad itu adalah aku.” Slitherio meletakkan kedua tangannya di belakang kepalanya dan membuat alas bagi kepalanya.


“Namaku Rio Andriana, dari Indonesia juga. Kuharap kita bisa lebih akrab lagi di dunia nyata.” Naze mengulurkan tangannya yang disambut oleh Clarey.


“Kalau kau pasti sudah tahu namaku, bukan?” Geisha menunjuk dirinya sendiri. Clarey mengangguk.

__ADS_1


Geisha lalu mendekatkan mulutnya ke telinga Slitherio lalu berbisik, “Mereka makin akrab, bukan?”


Hari itu, hari dimana Naze berhasil menemukan orang yang akan mendampinginya sampai akhir hidupnya dan akan selalu menjaganya sampai akhir. Hari itu juga tidak akan dilupakan oleh Geisha karena hari itu, pertama kalinya ia melihat pipi Slitherio memerah karena gugupnya mendengar perkataan Geisha.


__ADS_2