
Serioza bertukar puluhan serangan dengan Zen dan masih tidak bisa melukai Zen sekalipun. Zen juga berada di kondisi yang sama dengan Serioza.
Mereka mengambil jarak kemudian Serioza berkata, “Setelah bertarung puluhan serangan pun kau tetap tidak bisa menggores ku sedikitpun...”
Zen mendengus kencang kemudian melesat mengarahkan ujung tombaknya yang tajam menuju jantung Serioza.
Serioza menggeser tubuhnya dan serangan Zen meleset. Tombak Zen tertancap di tanah dan melemparkan Zen kemudian terjatuh tidak jauh dari tombaknya tertancap.
Serioza terasa ingin tertawa melihat kejadian itu, tetapi ia menahannya dan berjalan mendekati Zen.
Zen bangkit dan menarik tombaknya kemudian bertukar serangan lagi dengan Serioza hingga sebuah seruan terdengar di telinga mereka berdua.
“Mati kau!”
Lyne menebaskan pedangnya pada leher Fadexion yang jatuh berlutut dan kepala Fadexion menggelinding di atas tanah.
Zen meninggalkan pertarungannya dan melesat meraih kepala Fadexion yang berhenti di dekatnya. Tubuh tak berkepala Fadexion tersangga oleh pedangnya sendiri.
“Kau! Kau akan kubunuh!” Zen melesat mengambil tombaknya dan melemparkannya ke arah Lyne berdiri.
Lyne dan Despian yang melihat hal itu segera bereaksi. Lyne menghindari tombak itu dan Despian memilih melempar tombaknya. Ketika kedua tombak itu berbenturan, percikan api tercipta dari gesekan antara kedua mata tombak itu.
Keduanya melesat meraih tombak mereka masing-masing dan mengadunya. Perbedaan kekuatan yang jauh berbeda membuat Despian dengan cepat terpukul mundur.
Salah satu mantan jendral yang bersentakan perisai dan pedang bergerak dengan cepat menahan Zen dan bertukar serangan dengannya.
Fisvion tidak terima atas kematian rekannya sehingga ia melesat menyerang Lyne yang sedang berdiri menatap pertarungan itu.
Mantan jendral yang lain yang bersenjatakan pedang besar menahan serangan Fisvion dan bekerja sam dengan Lyne untuk melawannya.
Kombinasi keduanya tidak mampu mengalahkan permainan kapak Fisvion hingga akhirnya mantan jendral bersenjata pedang besar terpental jauh dan mendarat dengan kepala lebih dahulu. Ia kemudian kehilangan kesadarannya.
Mantan jendral yang tersisa memilih menghalangi Orc yang berniat mengganggu pertarungan mereka dengan permainan cambuknya yang lentur.
Dengan perlahan, matahari terbenam di barat dan digantikan oleh bulan yang mulai perlahan muncul di timur.
Pertempuran masih berlanjut, pasukan bantuan Gorzsha banyak membantu dalam melawan pasukan Orc yang tiada habisnya.
Gorzsha sendiri sedang menghabisi Orc yang mendekatinya dengan pedang biru gelapnya. Salah satu pemain yang kebetulan sedang beristirahat memilih merekam pertempuran yang terjadi dan berniat mengunggahnya nanti di forum Remaist Online.
__ADS_1
Saat ini, perhatiannya terfokus pada pertarungan tiga Remaister melawan Dark Ruler Wagata. Pertarungan mereka berlangsung imbang, skill demi skill dilancarkan dan setiap benturan skill tersebut menciptakan ledakan yang menghancurkan sekitarnya.
Tiba-tiba, Gorzsha mendekat dan ikut membantu Slitherio bersama kedua temannya. Ia juga tidak mau kalah dengan pemain baru seperti mereka.
Gorzsha dengan semangat melancarkan serangan demi serangan hingga akhirnya sebuah seruan terdengar di telinga mereka.
“Kalian harus berbagi denganku!” pemilik seruan itu bukan lain adalah Sean, ketua Guild Reister sekaligus pemain terkuat di Remaist Online.
Ia mendarat di sebelah Gorzsha dan berkata, “Aku mana bisa melewatkan pertarungan ini...” Sean menarik pedangnya dan bilah pedang yang berwarna putih kekuningan dengan ukiran naga meliuk di bilahnya menambah kesan mewah pedang itu.
Meskipun sedang dikeroyok oleh lima orang dengan Special Job tak membuat Wagata mundur begitu saja.
Pertarungan mereka berlangsung imbang hingga akhirnya Atra tewas karena terkena tapak Wagata yang mengandung Hell Flame yang kuat.
“Kau... Harus menang...” ucap Atra kemudian berubah menjadi butiran perak dan menghilang.
Ketidakseimbangan tercipta dan mereka semua tiba-tiba menunjukkan celah, Wagata tidak menyianyiakan kesempatan itu dan melepaskan lima serangan tapak berturut-turut pada Slitherio, Whu, Sean, dan Gorzsha.
Mereka terpental jauh dan jatuh telentang. Wagata menyentuh lukanya yang tadi ditusuk oleh Slitherio dan secara tiba-tiba luka tersebut sembuh seolah tidak pernah memilikinya.
HP Wagata juga bertambah hingga mencapai angka 75% dan ia tersenyum lebar.
Slitherio merasa bersyukur, Untung saja bukan Visidha yang sekarang ia hadapi. Jika iya, meskipun kekuatan mereka berlima digabungkan sekalipun tidak akan bisa menggores Visidha sesenti pun.
Wagata melemparkan api itu ke arah Gorzsha yang Hpnya paling rendah diantara mereka semua. Gorzsha tidak sempat bereaksi
Wagata membuat api yang serupa dan melesat menuju Slitherio yang terduduk di atas tanah. Slitherio membuat perisai mana sebelum ia melesat menyerang Wagata lagi.
Whu bangkit meraih senjatanya kemudian melesat menyerang Wagata yang berdiri di dekat mereka. Whu membuat satu clon untuk membantu dirinya.
Sisi lain, Sean merasa terpukul karena terpental mundur terkena serangan Wagata. Tak pernah ia bayangkan ia akan terpental dengan begitu malunya. Ia menghilangkan pikiran itu kemudian melesat ikut menyerang Wagata.
Perlahan, HP Wagata turun perlahan. Tak mau menyerah, ia melakukan beberapa gerakan sederhana sebelum kecepatannya meningkat pesat.
“Hati-hati, ia melakukan hal yang sama pada guruku dulu dan menyebabkan guruku kalah.” Slitherio memperingatkan. Ia mendengar teknik ini dari gurunya dulu ketika berhadapan dengan Wagata. Tentu yang dimaksud guru oleh Slitherio adalah Zon.
Yang lain mengangguk kemudian melancarkan serangan bersama-sama. Sebuah seruan terdengar dari jauh.
“Aku ikut satu!” seseorang yang membawa pisau melesat dengan kecepatan tinggi menuju ke arah mereka.
__ADS_1
Orang itu bukan lain adalah Luvian, pemain terkuat kedua setelah Sean dan ketua Guild Darkness.
“Kau... Bagaimana kau bisa datang kemari?” tanya Sean disela pertarungan.
“Aku membaca pesan... Hei bisakah kau tidak menyerangku?” Jawaban Luvian dipotong oleh serangan Wagata dan menghindarinya sambil mengumpatnya.
“Salahmu sendiri tidak fokus dalam... Kau?!” ucapan Wagata terpotong oleh serangan tapak api Slitherio.
“Salahmu sendiri juga kenapa tidak fokus dalam pertarungan...” jawab Slitherio tenang.
Whu serasa ingin tertawa mendengar jawaban Slitherio yang terdengar seperti menyindir Luvian juga.
“Hanya kau yang berhasil memaksaku mengeluarkan senjata saktiku...” Luvian memasukkan pisau miliknya dan mengeluarkan sesuatu mirip sabit dengan ujungnya yang lebar dengan gagangnya yang panjangnya kurang lebih satu meter.
Luvian tersenyum lebar dan mengangkat sabitnya tinggi-tinggi. Kekuatan bintang diatas mereka seolha tertarik ke arah sabit tersebut.
“Sambutlah, Schyte of Dark Star Light!” Luvian mengangkat sabitnya tinggi-tinggi dan sabitnya mengeluarkan cahaya samar berwarna hitam kebiruan.
Wagata melesat mengarahkan tapaknya dan Luvian bertarung menggunakan sabitnya.
Kali ini, pertarungan mereka berlangsung imbang beberapa menit sebelum Wagata menghindar dan menjauh sejauh mungkin dari Luvian.
Meskipun senjata Luvian cenderung besar tapi jarak jangkau serangnya melebihi tombak biasa bahkan cambuk.
Job SchyteMan merupakan Special Job yang memiliki kemampuan bertarung dalam kegelapan, mata yang mampu menembus kegelapan malam, dapat memakai senjata sabit besar, dan mendapat kesempatan memakai jubah kegelapan legendaris yang disebut Dark Cloak Set.
Dark Cloak Set memiliki jubah berwarna hitam yang memiliki tudung berwarna hitam pula dan topeng berwarna hitam dengan ukiran tengkorak. Untuk senjata, yang sekarang dimiliki oleh Luvian sekarang. Dark Cloak Set sebenarnya sudah digunakan oleh Luvian, namun ia memilih tidak memakai topengnya.
Dengan kondisi gelap seperti ini akan menguntungkan bagi Luvian untuk bertarung.
Catatan Penulis:
Sekedar info, nantinya perjalanan Slitherio akan berlanjut hingga ia akhirnya menjadi salah satu pemain terkuat Remaist Online dengan menjadi Dewa Api dan menyelesaikan seluruh Chapter yang ada.
Spoiler jadinya. Itu aja. Jangan lupa Likenya di setiap Chapter karena saya akan memberikan bonus Chapter jika Like sudah mencapai angka 250 Like.
Salam,
Rio.
__ADS_1