
Gaburon berjalan mendekati rumah itu lalu mengetuk pintunya, “Universe Sword God Gaburon menghadap!”
Setelah itu Gaburon memasang tubuh tegak dan menunggu pintu itu dibuka. Perlu waktu lama bagi Gaburon untuk menunggu pemilik rumah itu untuk membuka pintu.
Seorang pria dengan rambut merah menyala mengintip dari pintu yang terbuka sedikit lalu berkata, “Mau apa kau kemari?”
Gaburon menaikkan alisnya sambil menatap pria itu keheranan, “Bukankah anda sendiri yang meminta saya untuk menjemput langsung para peserta ujian dari Midvast?”
“Eh, iya-iya...” pria itu menggaruk kepalanya, ia lalu membuka pintu. Terlihatlah seorang pria dengan rambut merah menyala yang berantakan dan memakai jubah berwarna merah yang sama berantakannya dengan rambutnya.
“Namaku adalah Zein dan salah satu dari kalian adalah keturunanku...” Zein menunjuk Slitherio, “Kau adalah orangnya...”
Slitherio yang ditunjuk matanya berbinar-binar, ia sungguh tak bisa percaya kalau dirinya bisa bertemu dengan sosok yang selalu ia pikirkan.
“Halo, apa kau masih memedulikanku?” Zein berjalan mendekati Slitherio dan melewati Gaburon begitu saja. Ia lalu mengayunkan tangannya di depan muka Slitherio.
“Ah, iya, mungkin benar aku adalah keturunan anda...” Slitherio segera tersadar dan memasang tubuh tegap.
“Baiklah, kau tinggalkan kami disini...” Zein menunjuk Gaburon dan memintanya pergi. Gaburon mengangguk dan berjalan pergi.
Setelah yakin Gaburon sudah berjalan jauh, Zein langsung menatap Slitherio, “Apa kau sudah yakin memiliki kemampuan yang tinggi?”
Slitherio yang mendengar itu menaikkan alisnya, “Anda menanyakan apa aku sudah memiliki kekuatan yang besar? Anda pasti bercanda...”
Slitherio lalu menceritakan tentang pertempurannya melawan Hell Empire dan juga pertarungan mereka melawan makhluk raksasa yang tinggal di Triangle Sea.
“Kau berani memasuki Triangle Sea tanpa mengenal lebih dalam apa yang ada di dalam Triangle Sea?” Zein menatap Slitherio heran, ia baru pertama kali melihat orang seperti Slitherio.
“Mau bagaimana lagi, satu-satunya cara untuk mencegah Hell Empire balas dendam hanya dengan menjadi lebih kuat dari sebelumnya...” Slitherio membungkuk.
“Baiklah, kau sebaiknya mempersiapkan diri untuk bertemu dengan delapan Dewa lainnya...” Zein menepuk pundak Slitherio, “Jika kau mau tinggal disini, boleh saja...”
__ADS_1
Zein berbalik dan kembali masuk ke rumah sederhananya. Saat Zein sudah menutup pintu, Sean dan yang lainnya langsung menghembuskan napas lega.
“Auranya amat kuat...” FastStone memegang dadanya dengan erat.
“Inikah... Kekuatan sosok yang memiliki 100 kekuatan Spirit?” Sean memegangi pundak Slitherio yang masih berdiri tegak.
“Asal kalian tahu saja, tadi itu aku menahan diriku agar tidak jatuh saat menerima aura sekuat itu...” Slitherio bisa merasakan kakinya yang gemetaran.
“Tapi aku masih tidak paham...” Atra mendekat sambil memasang wajah seperti berusaha menahan sakit, “Bagaimana mungkin dirimu bisa bertahan sedangkan kami tidak?”
Li menatap Atra, ia bisa melihat kalau diantara yang lainnya, hanya Atra saja yang mengalami efek yang amat besar.
“Apa karena aku tadi melepaskan Phoenix Aura?” Slitherio menatap Zein, “Mungkin juga karena elemen kita sama...”
“Tapi, aku penasaran dengan delapan Dewa lainnya...” Clarey memegang dagunya, “Jika aura dari satu Dewa saja sudah seperti ini, bagaimana jadinya dengan sembilan aura bertekanan sama berkumpul menjadi satu?”
Atra tentu yang paling panik saat mendengar itu, “Kalau begitu, bukankah kita bisa mati?”
Ucapan Slitherio membuat orang lain berpikir sebentar, “Apa maksudmu?”
“Apa kalian tidak merasakan kalau kita memiliki satu Resistance lagi dalam karakter kita ini?” Slitherio menatap yang lainnya.
Saat mereka berkembang selama enam bulan saat itu, mereka dipaksa untuk berburu ke berbagai tempat.
Karena hal itulah, mereka semua mendapat Skill Resistance. Skill Resistance adalah skill yang memungkinkan seorang pemain memiliki ketahanan terhadap suatu kondisi alam.
Sekilas, Skill Resistance dan Defense mungkin sama. Tetapi fungsinya berbeda. Seperti yang dikatakan sebelumnya, Skill Resistance hanya akan melindungi pemain dari berbagai kondisi di alam bebas, sebut saja Cold Resistance dan Hot Resistance. Karena kejadian tadi, mereka mendapat Resistance baru, yaitu Aura Resistance.
Meski ada beberapa orang yang berpikir kalau Aura Resistance itu sama saja seperti berusaha beratahn dari serangan, nyatanya berbeda. Aura bisa dipakai menekan musuh atau singkatnya Slow, ataupun dipakai menyerang. Dalam situasi ini, Defense barulah diperlukan untuk menahan serangan Aura.
Dalam Status pemain, sistem tidak memberikan tambahan Stat berupa DEF. Alasannya agar pemain bisa belajar untuk mencari barang ataupun Equip yang bisa dipakai untuk memberikan tambahan Stat di Status mereka.
__ADS_1
Sebut saja sang Blue Defense Gorzsha. Ia dianggap sebagai Defender terbaik di seluruh Midvast karena poin Defensenya yang amat mengerikan. Ditambah ia memiliki serangan serta HP yang luar biasa hebatnya, membuatnya menjadi salah satu pemain dengan kekuatan serta ketahanan yang amat tinggi. Kekuatan serangannya hanya dibawah sang War God FastStone yang juga memegang gelar sebagai pemain Defender serta Attacker terbaik di Midvast.
Slitherio menatap yang lainnya, “Bagaimana? Apa kalian mendapatkan hal yang serupa?”
“Ya, sulit kupercaya...” Sean menatap Slitherio ngeri, “Bagaimana kau bisa bertahan dari Aura sekuat itu?”
“Sudah kubilang...” Slitherio tidak menyelesaikan kalimatnya karena ia menyadari satu hal.
“Auta Resistance milikku ternyata sudah mencapai angka 50%?!” Slitherio menjambak rambutnya, “Bagaimana mungkin?!”
“Mungkin karena kau sudah sejak dulu selalu menerima Aura dari musuh-musuh kita...” Atra menaikkan bahunya.
“Bisa juga...” Naze sebelum bertemu dengan Slitherio juga sudah mendengar nama garang itu. Slitherio dianggap sebagai pemain yang tidak pernah gagal menahan Aura apapun itu, bahkan aura salah satu dari Beast Remaist World Ruler mampu ia tahan.
“Tunggu...” Atra kemudian teringat sesuatu, “Sejak aku mengenal dirimu, aku sekalipun tak pernah melihat kau mati karena serangan musuh...”
Sean yang mendengarnya menatap Slitherio langsung, “Apa itu benar?”
Slitherio berusaha mengingat-ingat kejadian sebelum ia pergi ke Gods Island. Dimulai dari perjalanan pertamanya di Kota Rough, pertempuran kecil pertamanya, pelajaran dari Zon, berburu untuk mencari makanan untuknya dan Zon, memulai petualangan menuju Altar of King, dan masih banyak lagi. Ia merasa kalau ia tak pernah sekalipun mengalami hal yang disebut dengan Mati.
“T-tunggu, maksudmu, apa? Aku tak pernah mati?” Slitherio menepuk pundak Atra, “Apa kau sedang bercanda?”
“Kalau itu benar, artinya kau adalah pemain yang tak terkalahkan di seluruh Midvast, mungkin juga dunia...” Sean menepuk dahinya, keputusannya melepas posisi pemain terkuat nomor satu dan memberikannya pada Slitherio sepertinya sudah benar.
“Kau... Terlalu Over Power...” Naze menatap Slitherio tidak percaya.
“Entah apa yang membuatmu bisa merasakan hal seperti itu...” Geisha ikut menatap Slitherio tak percaya.
“Kejadian kalau di Kota Rough pernah ada seorang Phoenix bernama Zon memanglah sulit dipercaya...” FastStone mengelus dagunya, “Tetap saja sulit dipercaya kalau Slitherio saat itu kebetulan berhasil bertemu dengan orang yang memiliki Soul Remaist di dalam tubuhnya...”
Slitherio yang mendengarnya menjadi bingung, “Bagaimana mungkin...”
__ADS_1