
Slitherio menahan aura sembilan dewa itu dengan seluruh auranya. Sekilas, mata Slitherio terlihat berwarna merah menyala sebentar. Entah apa penyebabnya, mungkin saja karena ia mengerahkan seluruh auranya.
Slitherio melepaskan Murderous Aura, Fighting Aura, dan Phoenix Aura seluruhnya dan itu cukup membuat dirinya merasa kepanasan.
Tubuh Slitherio mengeluarkan cahaya kemerahan sebelum ia jatuh berlutut. Sean dan FastStone sudah berlutut lebih dulu dibanding Slitherio.
Slitherio merapatkan giginya, ia lalu bangkit perlahan dan berdiri dengan wajah yang basah akan keringat, “Aku masih bisa...”
Jay, Zein, Luna, Eny, Tany, dan Monte menatap Slitherio kagum. Kina, Vesta, dan Max menaikkan alisnya.
“Jika kami meningkatkan lagi kekuatan aura kami, pulau bisa berantakan, lho...” Max menatap Slitherio sambil tersenyum tipis.
“Aku masih bisa...” Slitherio berkata dengan nada kecil. Teman-teman lainnya sudah tak mampu untuk menahan aura ini.
Slitherio bisa bertahan selama ini karena Aura Resistance miliknya sudah mampu membuatnya hampir kebal dengan semua aura, kecuali God Aura. Dengan kata lain, Slitherio bisa menahan God Aura sebesar 69% sekarang ini.
“Karena kau bersikeras, baiklah...” Jay memijat keningnya sambil terkekeh kecil, “Jika terjadi apa-apa, jangan salahkan kami...”
Tekanan di sekitar Slitherio semakin berat, tak perlu waktu lama bagi Slitherio untuk menahan aura itu sebelum ia jatuh lagi berlutut.
Sembilan dewa berniat menarik kembali aura masing-masing, tetapi Slitherio mengangkat tangannya, “Tunggu...”
Slitherio berdiri perlahan dan terlihatlah wajah penuh keringat dan lelah dari wajah Slitherio yang selalu terlihat santai itu.
“Aku ragu untuk melanjutkan ujian pertama ini...” ujar Vesta pada yang lainnya dengan Telepati.
“Aku juga...” Eny ikut berkomentar.
“Jika kita tarik kembali, ia akan kembali bersikeras untuk menerima aura kita...” Jay berkata. Ia lalu menatap wajah Slitherio yang terlihat berkeringat.
“Jika kita lanjutkan maka kita akan menghilangkan satu manusia yang akan menjadi dewa...” ujar Monte sambil menatap Slitherio yang wajahnya sudah berkeringat.
__ADS_1
Selain berkeringat, napas Slitherio juga tidak teratur. Mungkin saja itu disebabkan karena dia mengeluarkan kekuatannya seluruhnya, batin Kina.
Jay menghela napasnya lalu menarik kembali auranya. Delapan Dewa lainnya ikut menarik aura masing-masing dan menatap Slitherio dengan senyuman bangga.
“Memang, hanya kau saja yang bisa menahan semua aura itu sendirian setelah seluruh temanmu jatuh terduduk...” Zein mengibaskan tangannya, seketika seluruh aura yang menekan tempat itu menghilang.
Slitherio berdiri dengan napas terengah-engah, ia sungguh tak menyangka bisa menerima aura sekuat itu, bahkan bertahan.
“Mungkin keberuntungan...” Slitherio tersenyum tipis, ia lalu menatap teman-temannya yang masih terduduk.
“Hei, bangun. Ujiannya sudah selesai...” Slitherio menepuk pipi Sean dan berniat membangunkannya. Tetapi Sean masih memejamkan matanya.
“Apa kau bilang? Ujiannya sudah selesai?” Eny menatap Slitherio, ia mendengar apa yang Slitherio tadi katakan.
“Ujiannya baru dimulai, lho...” Tany menyeringai lebar.
“Masa?” Slitherio menepuk dahinya, padahal ia sudah berjuang keras, tapi tekanan aura tadi ternyata barulah awal.
Luna menatap Zein dan bertanya, “Bagaimana kalau kita saja yang diam disini mengawasi ujian?”
Monte mengangguk dan melompat ke atas. Tanah-tanah muncul dari jalur lompatannya Monte dan menghilang.
Eny, Tany, Vesta, Kina, dan Max mengetujui usul Luna. Bisa dibilang kekuatan mereka hampir setara jika saja elemen mereka tidak berlawanan, membuat Zein yang terkuat jika keduanya bertarung.
Jika ditanya tentang pemahaman pelajaran dari Tuhan, mungkin keduanya adalah yang terbaik dari yang lainnya. Sebab itulah Monte dan yang lainnya menyetujui kalau keduanya yang mengajari delapan orang penantang langit ini.
Tetapi, Monte, Tany, Vesta, dan Max sedikit kasihan pada Slitherio dan yang lainnya. Jika Luna dan Zein mengajar, mungkin akan sedikit menakutkan karena keduanya selalu memasang wajah serius.
Tetapi itu jauh lebih baik dibanding Kina dan Eny yang mengajar. Keduanya sedikit main-main dan itu bisa membuat pelajaran apapun yang diajarkan mungkin tidak bisa meresap ke dalam otak.
“Kami pergi...” Eny, Tany, Vesta, Kina, dan Max menghilang kemudian meninggalkan Zein dengan Luna di Gods Altar.
__ADS_1
“Hehehehe...” setelah yang lainnya pergi, Zein dan Luna menyeringai lebar dan itu cukup terlihat mengerikan.
“Eh?” Slitherio menatap Luna dan Zein heran, apa yang membuat dua dewa itu tersenyum jahil.
“Bangunkan teman-temanmu, kita akan pergi ke Kota Abadi dan tinggal disana selama ujian...” ujar Zein lalu berjalan turun altar dan melewati Slitherio.
Zein menepuk pundak Slitherio sambil berjalan dan berbisik, “Kerja bagus...”
Slitherio menaikkan alisnya, “Apa maksud anda?”
“Bangunkan teman-temanmu segera, kita harus segera menuju ke Kota Abadi secepatnya...” Luna melewati Slitherio.
Slitherio mengangguk dan segera membangunkan Sean dengan FastStone dengan menepuk pipi keduanya.
Setelah keduanya bangun dan melebarkan mata mereka dengan cukup lebar, Sean dan FastStone yang baru bangun langsung membantu Slitherio membangunkan teman-teman mereka.
“Kita diminta menuju Kota Abadi secepatnya...” ujar Slitherio setelah menceritakan pertarungan aura antara dirinya dengan sembilan dewa setelah Sean dan FastStone tumbang.
“Apa trikmu sampai bisa menahan sembilan aura itu?” Sean menatap Slitherio kebingungan. Mereka berbicara sambil berjalan. Atra ikut melihat Slitherio.
“Apa kau lupa kalau aku memiliki tiga aura?” Slitherio menaikkan tiga jarinya, “Murderous Aura, Fighting Aura, dan Phoenix Aura, semuanya kukeluarkan hanya untuk mendengar kalau ujian ini baru dimulai...”
“Baru dimulai?” Atra yang pernah membaca buku Kisah para Dewa tentu mengingat beberapa ujian yang dilakukan Twelve First Gods ribuan tahun lalu dibawah pengawasan Tuhan, “Seperti berdiri di lautan luas selama seharian penuh, mendaki gunung yang tingginya tak terbatas, menyelam dan mencari makhluk paling ganas di lautan, menerima petir dari Tuhan, dan menaiki anak tangga sebanyak 999 anak tangga?”
“Wah, kau mengingat semuanya, ya?” tiba-tiba, Zein berdiri di belakang Atra dan memajukan kepalanya sampai mendekati kepala Atra, “Siapa namamu?”
“Atra...” Atra berbalik dan membungkuk.
“Hmm, kau memiliki kekuatan yang tinggi di dalam tubuhmu, tetapi kau tidak tau caranya memakainya?” tanya Zein setelah ia memperhatikan Atra lebih seksama.
“Bagaimana...” Atra menatap Zein, bagaimana mungkin Zein bisa mengetahui isi tubuhnya yang ia sendiri bahkan tidak ia ketahui.
__ADS_1
“Aku ada satu ujian yang mungkin bisa membuat kalian memiliki kekuatan yang terpendam dalam tubuh kalian...” Zein menunjuk Luna yang berdiri di sebelah Geisha, entah sejak kapan, “Yaitu menerima aura dingin dari Ice Goddess dan ratusan petir dari Thunder God!”