
“Ayah kenal dengan Paman Rio seperti itu? Rayhan baru tau...” Rayhan mengelus dagunya. Jam mulai berjalan menuju tengah malam dan jam segini seharusnya Rayhan dan Ria tidur.
“Apa kalian tidak tidur?” Tanya Raisya. Ia sendiri khawatir kalau anaknya meniru kebiasaan ayah mereka.
“Sekarang Minggu, apa ibu tak tahu?” Tanya Rayhan balik. Ria tersenyum.
“Sekarang Minggu, mereka santai-santai saja karena bisa saja besok mereka tak bangun pagi...” Ryan menekuk lututnya lalu memeluk kedua lututnya.
“Oh, kalau mereka besok bangun siang aku takkan memberi mereka sarapan, bagaimana?” usul Raisya.
“Eh, tak boleh!” Rayhan dan Ria berdiri lalu meninggalkan kedua orang tuanya di teras depan.
Raisya menyandarkan kepalanya di pundak Ryan setelah ia yakin kalau Rayhan dan Ria sudah tak terlihat lagi.
Tanpa mereka ketahui, Rayhan dan Ria masih mengintip kedua orang tuanya dari balik pintu.
“Mereka tetap romantis, kapan aku seperti itu?” tanya Rayhan dengan berbisik.
“Saat kakak sudah bertemu dengan orang yang akan kakak jaga sampai kalian menghembuskan napas terakhir kalian...” ujar Ria.
“Darimana kau dapat kata-kata itu?” Tanya Rayhan.
“Novel...” jawab Ria sambil tersenyum lebar.
***
“Sampai mana tadi malam ceritanya?” tanya Ryan saat siangnya. Siang adalah waktu yang tepat untuk bersantai di hari Minggu.
“Ayah bertemu dengan seseorang teman...” Rayhan mengangkat tangannya, “Siapa namanya, ya?”
"Rio?"
"Benar..." Rayhan menjentikkan jarinya, "Setelah itu apa?"
“Setelah itu ayah akan menceritakan saat terbentuknya Squad legendaris dari Indonesia, yaitu Squad N5S...”
"Bagian yang kutunggu dari ayahmu..." Raisya yang duduk di sebelah Ria menggosok kedua tangannya. Dia adalah penggemar rahasia suaminya dulu.
"Baik, ayah akan mulai bercerita..."
***
Ryan menatap papan tulis di depan kelas dengan sedikit malas. Hari ini pelajaran fisika dan itu adalah pelajaran yang jarang ia sukai.
“Ryan, kau bermain Physical and Magic, bukan?” seorang laki-laki bertanya pada Ryan.
“Main, hanya saja aku tak terlalu suka akhir-akhir ini...” jawab Ryan.
__ADS_1
Laki-laki yang bertanya itu bernama Rio. Mereka kini sudah akrab dan Ryan masih saja belum banyak memiliki teman.
“Kenapa?” tanya Rio.
“Aku sering kalah akhir-akhir ini. Kemampuanku membuat strategi tak terlalu berfungsi kalau bermain solo...” ujar Ryan menjawab pertanyaan Rio.
Telah berlalu empat bulan sejak Ryan masuk ke SMA dan mulai belajar disana. Tak banyak teman yang Ryan miliki, hanya satu saja dan teman itu bernama Rio.
“Oh, kau sering kalah, ya?” Rio menatap Ryan penuh makna, “Bagaimana kalau kau bergabung ke sebuah Squad?”
“Squad? Boleh juga...” Ryan lalu menatap ke bukunya, “Aku juga...”
Belum selesai Ryan menjawab pertanyaan Rio, guru fisika sudah menatap Ryan tajam sambil berkata dengan keras, “Dimohon jangan berbicara saat pelajaran sedang berlangsung!”
Ryan dan Rio terdiam. Guru itu kembali melanjutkan pelajarannya dan membiarkan Ryan yang sedang berbicara dengan berbisik pada Rio.
“Aku sudah lelah menjadi solo player. Siapa saja yang sudah kau kumpulkan?” tanya Ryan yang membuat Rio terdiam seribu bahasa.
“Baru kau saja...” Rio mengelus dagunya. Rio sendiri duduk di sebelah Ryan dan itu membuatnya bisa berbicara dengan leluasa pada Ryan.
Ditambah mereka duduk di belakang dekat jendela membuat mereka mendapat posisi yang bagus. Angin sejuk dari jendela dan tempat yang seru, itulah tempat yang keduanya tempati saat ini.
“Oh ya, apa kau tahu kalau salah satu dari teman kelas kita, Leo juga bermain?” tanya Ryan.
“Aku tahu, dan aku baru mendapat beberapa orang...” Rio lalu membuka buku tulis halaman terakhirnya dan mengambil sebuah pensil.
“Kau maunya berapa memang? Batas anggota Squad hanya sembilan saja dan jumlah ini sudah termasuk lima pemain utama dan dua pemain cadangan...” Rio melirik Ryan kesal.
“Oke-oke, nama? Sebuah Squad perlu nama bukan?” tanya Ryan lagi. Hal semacam ini betul-betul baru baginya.
“Hmm, bagaimana dengan N5S? Nama itu melambangkan lima orang No Life yang ada di Squad ini...” Rio lalu menunjuk lima nama di daftar itu dengan pensilnya, “Agus, Justin, Hendra, Rio, dan Ryan adalah lima orang yang dimaksud.”
“Apa maksudmu, bodoh?” Ryan menarik buku itu, “Apa kau sedang meledekku karena aku yang terlihat seperti orang No Life ini?”
“Ya itu kan penilaianku saja selama empat bulan kita berteman. Kalau hal-hal lain, aku tidak tahu...” Rio menarik kembali bukunya.
“Baiklah, aku mau menjadi salah satu anggota Squad ini. Sebagai gantinya, biarkan aku yang menjadi ahli strategi kalian.” Ujar Ryan.
“Yang di dekat jendela, mohon untuk mendengarkan!” guru fisika itu sekali lagi memergoki Ryan dan Rio berbicara di kelas.
“Ah, maaf. Kami hanya membahas tentang pelajaran yang bapak berikan.” Jawab Ryan santai sambil menggaruk kepalanya dan tertawa kecil.
“Membahas? Aku saja bahkan tak paham dengan apa yang diberikan oleh guru itu.” Rio menatap Ryan datar.
“Aku sudah menambal kesalahanmu dan seperti ini balasanmu?” Ryan menatap Rio datar.
“Baiklah, aku akan menghubungi lima orang ini untuk berkumpul di belakang sekolah saat istirahat-...” belum selesai Rio menjelaskan, bel istirahat terdengar.
__ADS_1
“Sekian dulu pelajaran hari ini, kerjakan halaman 30 sebagai latihan di rumah dan dikumpulkan di pertemuan kita selanjutnya.” Guru fisika merapikan bukunya laku keluar dari kelas.
Rio membiarkan bukunya tergeletak di atas meja sebelum ia berlari menghampiri orang-orang yang tadi ia tuliskan di buku tulisnya.
Ryan menggelengkan kepalanya, Rio ini memang seperti itu kalau urusannya sudah darurat.
Eh, darurat?
***
“Singkatnya, aku ingin kalian menjadi anggota Squad yang akan kubentuk.” Ujar Rio menyelesaikan permintaannya. Mereka kini berada di belakang sekolah yang sepi dengan orang dan ramai akan sepeda motor ataupun sepeda biasa.
“Boleh, aku sudah lelah dengan kehidupan soloku di permainan tak adil itu...” orang dengan tubuh lebih pendek dari Ryan berbicara. Dia bernama Agus.
Semua orang mengangguk. Terlihat kalau mereka sudah lama menjalani kehidupan solo mereka di permainan yang dasarnya tidak adil itu.
Bagaimana tidak adil kalau ada seorang pemain yang bermain solo yang sering bertemu dengan tim yang bermain duo ataupun trio. Benar-benar tidak adil.
“Itu adalah pertimbangan pertamaku saat membuat Squad ini bersama salah satu orang No Life diantara kita...” Rio secara tidak langsung membawa nama Ryan dalam pembicaraan ini.
“Apa Rank kita setara?” tanya orang paling tinggi diantara mereka. Dia bernama Hendra, "Rank-ku adalah Legend bintang 429..."
“Aku Legend...” Jawab orang dengan tubuh sedikit gemuk. Dia bernama Fredy, "... Bintang 402..."
“Conqueror 1 bintang 6...” orang dengan tubuh pendek berbicara. Dia bernama Justin.
“Legend bintang 300... Mungkin?” orang dengan tubuh kurus berkata. Dia bernama Leo.
“Legend bintang 509...” jawab Agus.
“Legend bintang 208...” jawab Rio.
“Legend bintang 620...” jawab Ryan yang terakhir. Semua orang langsung menatap Ryan.
“Bagaimana, bagaimana mungkin?” Agus menatap Ryan, “Orang yang terlihat No Life di antara kita bisa memiliki Rank lebih tinggi dariku?!”
“Bagaimana menjelaskannya, ya?” Ryan lalu menceritakan tentang perjalanannya di Physical and Magic.
Di kelas 7 ia sudah sampai di Rank Gold, di kelas 8 ia sudah sampai di Rank Diamond, di kelas 9 ia sudah sampai di Rank Legend. Dan di kelas 10 ia sudah sampai di Rank Legend bintang 600 lebih.
“Begitulah perjalananku...” jawab Ryan. Ia bisa saja bilang kalau permainan Physical and Magic ini tidak adil, tetapi mereka nanti tidak akan percaya.
“Bagaimana kalau kita memeriksa ponsel masing-masing? Kalian bawa ponsel, bukan?” usul Rio setelah melihat tatapan Ryan dan Agus semakin tajam.
“Benar...” Justin berkata, “Biar kulihat, apakah ada yang berbohong disini?”
Mereka semua lalu membuka ponsel masing-masing dan memperlihatkannya pada teman-teman mereka.
__ADS_1
“Kalian... Tidak bohong!” Agus dan Fredy berteriak keras, membuat beberapa orang yang kebetulan lewat disana menatap mereka semua.