
Perlahan, Slitherio melihat kalau satu persatu sinyal milik teman-temannya menghilang, tanda kalau mereka sudah tewas. Sinyal teman-temannya sudah menghilang sebelum Slitherio bertemu dengan Benario.
Slitherio memejamkan matanya lalu melihat ke pertempuran di bawahnya, disebelahnya ada Xue yang sedang mengawasi pertarungan Luvian melawan Benario.
“God Xue, kapan pertempuran ini akan berakhir...” Tanya Slitherio yang dijawab dengan gelengan.
“Aku sendiri tidak tahu, aku ingin menghentikan pertempuran ini tetapi kekuatan Spiritku tersegel oleh sesuatu...” Jawab Xue.
“Yang tadi itu hanya gertakan semata, aku bahkan tak berani menatap mata merah milik Benario itu. Aku tak tahu...” Xue menutup wajahnya.
“Berapa kekuatan Spirit yang anda miliki?” tanya Slitherio.
“Hanya 96 kekuatan Spirit. Kalau aku melawannya, bisa saja aku kalah...” jawab Xue dengan pelan.
Slitherio serasa ingin mencekik Xue saat ini. 96 kekuatan Spirit Xue katakan hanya sedikit?!
Slitherio mengendalikan dirinya lalu berkata, “Serahkan Benario padaku dan setelah pertempuran ini usai, bergabunglah kembali dengan para dewa di Gods Island...” ujar Slitherio sambil menatap Xue hangat.
Xue terdiam, “Mereka, masih ingat denganku?” tanya Xue dengan beberspa butiran air mata di ujung matanya.
“Senior disana bahkan menginginkan kalian berdua berdamai kembali seperti dulu...” tambah Slitherio.
Slitherio memalingkan wajahnya dan melihat Luvian yang tangan kirinya sudah hilang dan HPnya tersisa 20%.
HP Benario sendiri tersisa 15%, Luvian bisa saja menghabisi Benario tetapi kondisinya bahkan bisa dibilang sama dengan Benario.
Slitherio menarik pedangnya dan melesat secepat kilat menuju Benario. Benario sendiri terkejut dan ia melesat menuju tempat Xue berdiri.
Xue sendiri terkejut akan kedatangan Benario. Xue mengeluarkan tombaknya dan menahan sabit Benario dengan cepat.
Keduanya saling bertukar serangan sebelum akhirnya Xue berhasil dipojokkan. Benario awalnya puas dengan keberhasilannya, tetapi ia segera tersadar akan sesuatu.
“Tunggu, kenapa kau diam saja?” Benario menatap Xue yang dadanya ditusuk oleh sabitnya.
Xue hanya tersenyum dan ia berkata, “Kalau ini adalah akhir perjalanan dua dewa pertama, maka biarlah ini akan menjadi akhir yang menyejukkan...”
Xue merentangkan tangannya, angin kecil berhembus dengan pelan, menerpa semua orang yang sedang bertarung dengan lawan masing-masing.
__ADS_1
Benario sendiri terdiam, angin kecil ini biasanya menandakan satu hal. Benario segera bertanya lagi dengan wajah panik, “Kau?! Jangan ledakkan dirimu disini!”
Xue tersenyum makin lebar, tubuhnya sendiri sudah bercahaya putih dan Benario tak bisa menarik sabitnya.
"Kumohon, hentikan ini! Aku akan kembali ke jalur awalku!"
"Aku takkan mempercayainya!"
Slitherio segera melesat kembali menuju tempat Xue, tetapi jaraknya amat jauh. Disaat Slitherio merasa kalau ini adalah akhirnya, seekor naga dengan sisik berwarna hijau segera melilit dua dewa itu dan ledakan besar segera terjadi.
Ledakan yang diciptakan oleh para dewa mampu menghancurkan bumi, setidaknya itulah yang diketahui oleh Slitherio.
Naga hijau tadi itu bukan lain adalah Ware, murid sang Dragon God Chao. Tubuh Ware sendiri ikut meledak dan menghancurkan awan-awan di sekitar mereka.
Ledakan tadi itu mengarah ke atas dan ke bawah. Slitherio bisa melihat ledakan dahsyat itu yang ditahan oleh Ware dengan taruhan nyawanya sendiri.
Saat Slitherio berpikir kalau semuanya sudah berakhir, sesosok manusia terlihat terbang dari dalam ledakan itu.
Wujud orang itu adalah tengkorak seutuhnya, tanpa jubah hitam yang menutupi tubuhnya lagi. Ia adalah Benario.
Benario mengangkat tangannya, “Darkness Curse!”
Luvian akhirnya tak mampu berdiri lagi dan ia bersandar di punggung Slitherio. Slitherio yang melihatnya berpikir lagi.
“Bagaimana caranya bertarung?” gumam Slitherio. Ia lalu teringat satu skill yang jarang ia pakai.
“Wind Step!”
“Flame Warmage Technique: Flame Wave!”
Gelombang berwarna merah segera bergerak menuju Benario dengan kecepatan tinggi. Benario menahan gelombang itu, tetapi tubuhnya segera hancur karena tak mampu menahan kekuatan besar gelombang api itu.
Api itu segera membakar tubuh Benario dengan ganas, tanpa menyisakan bagian lain dari Benario.
Kali ini, pertempuran sudah benar-benar selesai, setidaknya itulah yang dipikirkan Slitherio awalnya. Tetapi ia segera menyadari kalau pasukan yang dibawa oleh Benario lebih dari dua juta, membuat beberapa pemain yang datang membantu tewas karena dikeroyok banyak prajurit level 500 ke atas.
Slitherio membawa Luvian ke gerbang masuk dan meletakkannya disana. Tak ada lagi prajurit Heaven Empire yang tersisa karena semuanya sudah musnah saat pertempuran dahsyat itu.
__ADS_1
Slitherio segera mengangkat tangannya, sebuah cahaya berwarna merah tercipta di ujung tangannya dan Slitherio berseru, “God Skill: Ring of Death Fire!”
Sebuah lingkaran raksasa tercipta di atas awan. Dari lingkaran itu terpitakah api yang menjalar membakar semua prajurit Hell Empire. Karena yang masih hidup dan sekarat sudah dibawa ke Heaven Empire untuk perawatan membuat prajurit lawan segera mendekati Heaven Empire.
Slitherio melihat pembantaian itu seperti melihat kejadian enam tahun lalu, tetapi ini jauh lebih besar dan kerugian yang mereka terima jauh lebih banyak dari enam tahun lalu.
Slitherio merasa pandangaimenjadi buram, setidaknya sampai ia merasakan sesuatu yang dingin memeluknya.
Setelah itu, Slitherio kehilangan kesadarannya karena ia sendiri mengerahkan skill yang cakupan serangannya mencapai 10 Km di atas awan dan menghabiskan lebih dari separuh kekuatan Spiritnya.
***
“Dimana aku?” Slitherio membuka matanya perlahan, ia menatap wajah yang tidak asing duduk di sebelahnya.
Ia kini terbaring diatas sesuatu yang empuk, mungkin kasur, batin Slitherio. Ia lalu kembali menatap orang yang duduk di sebelahnya.
“Geisha?” Slitherio bertanya dengan pelan, tetapi orang itu mampu mendengarnya.
“Ah, kau sudah sadar?” orang itu bukan lain adalah Geisha, “Baguslah. Kau sudah tidak sadarkan diri selama setengah jam...”
“Tunggu, bagaimana dengan Heaven Empire?! Aku harus menyelesaikan pertempurannya...” Slitherio bangun dan berniat pergi, tetapi Geisha menghentikannya dan memeluknya.
“Tenang, pertempurannya sudah selesai...” ujar Geisha menenangkan Slitherio.
“Tapi!” Slitherio berusaha melepaskan dirinya, “Sean, Luvian, Whu, yang lainnya, mati!”
“Apanya yang mati? Mereka masih hidup...” Geisha menutup matanya, “Yang mati dan kehilangan levelnya hanya beberapa dewa saja...”
“Tetapi, itu sudah berhasil menghilangkan kekuatan Midvast lebih dari separuhnya! Bagaimana kau bisa mengatakan hanya beberapa saja?!”
“Tenangkan dirimu dan lihatlah, pertempuran sudah usai dan kita berhasil menyelesaikan Chapter terakhir yang bernama Vengeance...” Geisha mengeratkan pelukannya.
Slitherio segera terdiam. Apa yang menjadi tujuannya ke Heaven Empire? Ternyata ia berhasil menyelesaikannya.
Slitherio terus diam dan membiarkan dirinya dipeluk oleh Geisha dalam waktu yang lama.
Hingga pada akhirnya, ia pun tersadar akan sesuatu, “Geisha, kenapa kau disini? Bagaimana dengan Rayhan di rumah?”
__ADS_1
“Tenang saja, dia sendiri yang menyuruhku untuk pergi kesini dan membantumu. Dan juga, dia itu adalah anak yang pintar, aku baru menyadarinya dan kita tak boleh membuat anak itu tidak pintar lagi...” jawab Geisha kemudian memeluk erat Slitherio, “Kuharap ini akan menjadi pertempuran terakhir kita disini...”
"Ya, kuharap..." gumam Slitherio lalu membiarkan dirinya dipeluk Geisha.