Remaist Online: Return Of The Legend

Remaist Online: Return Of The Legend
78. Pertemuan N5S


__ADS_3

Atra, Whu, dan Naze terdiam saat mendengar hal itu, “Menunggu?”


“Benar.” Jawab Slitherio santai.


“Baiklah...” Whu menghela napasnya. 


Disebabkan karena alasan itu, mereka akhirnya memilih kembali ke kamar masing-masing dan melakukan aktifitas mereka sendiri-sendiri.


Slitherio memilih memutuskan sambungan dan sekalian mengabari Geisha tentang rencana barunya. Sebelum ia memutuskan sambungan, ia melihat status Geisha dan bergumam, “Ternyata ia memang tidak tersambung sejak tadi...”


Membicarakan tentang jam, sudah berlalu hampir sejam setelah Slitherio bertemu dengan ketiga temannya dan sudah dihitung hampir dua jam setelah Slitherio kembali dari tokonya Exeter.


Slitherio menatap keluar jendela kamarnya sebelum memutuskan sambungan.


***


Ryan melepas V-Gearnya dan menatap keluar jendela kamarnya. Diluar masihlah tengah malam dan Ryan memutuskan sambungan tepat pukul setengah dua belas malam.


Ponselnya sudah ia matikan saat tersambung lagi. Ia kemudian menyalakannya dan melihat beberapa notifikasi dari Chatnya yang mengatakan kalau teman satu Squadnya ingin bertemu di rumahnya Ryan.


“Sialan, kenapa juga harus rumahku...” Ryan mengetikkan pertanyaan di grupnya sebelum mendapat jawaban.


“Karena kau kaptennya.” Balas Hendra.


Ryan menghela napasnya sebelum mematikannya lagi. Ia kemudian menoleh ke jendela kamarnya lagi sebelum menoleh ke satu pintu.


Ryan menoleh menatap pintu yang menjadi satu dengan kamarnya. Kamar itu adalah ruang kerja miliknya, yang dulunya merupakan ruang kerja milik ayahnya.


Semenjak dirinya lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan, ayahnya langsung memberikan ruangan itu untuk digunakan dirinya.


“Jam setengah dua belas malam bagusnya melakukan apa?” Ryan bergumam sendirian. Ia kemudian berdiri dan berjalan memasuki ruang kerjanya itu.


Ruang kerjanya masih utuh seperti sediakala sebelum ia memutuskan untuk bermain Remaist Online. Ruang yang rapi, pikir Ryan.


Ryan duduk dan meraih buku yang ia simpan di laci meja kerjanya. Buku itu merupakan buku untuk menuliskan ataupun menggambar apapun yang Ryan inginkan.


Ya, apapun. Bahkan ada gambar sebuah titik yang dimodifikasi oleh Ryan sampai menjadi sebuah butiran salju yang diperbesar.


Ada juga gambar seorang manusia yang tangannya berusaha menggapai bulan yang jelas terlihat jauh jika manusia itu lihat dari bawah. Gambar ini merupakan cerminan dari Ryan dulu yang selalu berusaha menggapai mimpinya.

__ADS_1


Sebagai seorang anak kecil, pastilah memiliki banyak impian. Begitu juga Ryan.


Ada juga gambar pemandangan pedesaan yang sederhana. Gambar ini dibuat oleh Ryan ketika ia merasa bosan tinggal di kota. Ia ingin merasakan udara segar pedesaan, sebab itu ia membuat gambar itu.


Ryan tersenyum saat melihat gambar-gambar yang dibuatnya dulu. Ia akhirnya meraih pensil yang ia letakkan di dalam sebuah kotak pensil dan memikirkan sesuatu.


Sebuah inspirasi seketika lewat di pikiran Ryan yang sengaja ia kosongkan. Ini adalah salah satu cara Ryan untuk mendapatkan inspirasi, yaitu mengosongkan pikiran.


Ryan mulai menggoreskan pensilnya di atas kertas buku itu yang sudah tersisa sedikit. Ryan sama sekali tidak berani menghapus saat sebuah inspirasi lewat di pikirannya, karena sekali menghapus maka sulit untuk mengingatnya lagi, itulah prinsip menggambar milik Ryan.


Goresan pensilnya akhirnya mulai memperlihatkan bentuknya. Sepasang manusia yang sedang berdiri di pantai dan menatap matahari terbit.


Ryan menyelesaikan gambarnya sebelum melihat hasilnya. Terlihat hancur, tetapi itu disebabkan karena kelebihan goresan pensil.


Ryan mengambil penghapus kemudian menghapus garis-garis yang lebih itu kemudian menyempurnakannya dengan sedikit imajinasinya.


Ryan meletakkan pensil dan penghapusnya sebelum menatap gambar itu sekali lagi. Tidak ada warna, yang ada hanya kesan hitam putih di gambar itu.


Tak lama setelah menyelesaikan gambarnya, Ryan mulai menguap, “Sialan, mengantuk lagi...”


Akhirnya Ryan tertidur di atas meja kerjanya sampai pagi menjelang.


***


Suara panggilan beberapa orang membangunkan Ryan dari tidurnya. Bahkan jam wekernya juga ikut berbunyi di ruangan sebelah.


Jam menunjukkan pukul 09.35 saat Ryan bangun. Ryan yang melihat itu segera berlari keluar rumahnya dan membuka pintunya.


Ternyata teman-temannya datang ke rumahnya, yaitu teman satu Squadnya. Ya kebetulan juga karena mereka ingin membicarakan sesuatu.


Ryan menyambut kelima temannya dan membiarkan mereka masuk.


“Hmm, jarang-jarang sang kapten bangun jam sembilan. Ada apa ini?” tanya seorang pria yang memiliki tubuh kurus dan pendek. Ia bernama Agus.


“Aku kemarin bertapa di kamarku sendiri.” Jawab Ryan sambil menguap. Jujur saja tidurnya tadi itu masih kurang.


Sontak saja lima temannya tertawa lepas. Seorang pria yang memiliki tubuh tinggi namun tidak terlalu kurus yang bernama Hendra bertanya, “Dimana Rio?”


Ryan mengangkat bahunya sebelum menjawab, “Aku tidak tau...”

__ADS_1


Ryan kemudian berjalan menuju kamar mandi dan mencuci mukanya yang sedikit berantakan. Teman-temannya duduk di tempat biasanya Ryan duduk menonton televisi.


Setelah selesai mencuci mukanya, Ryan membuat sarapan sederhana. Ya meskipun sudah hampir siang, tetapi Ryan merasa dirinya harus sarapan tidak peduli jam berapa ia sarapan.


“Jadi, apa kita akan menunggu Rio?” tanya seorang pria yang memiliki tubuh pendek tetapi kurus, ia adalah Justin. Justin kemudian mengambil cemilan yang disediakan di atas meja.


Ryan meminum sarapannya yang berupa susu. Minuman itu membuat teman-temannya bertanya-tanya, kenapa kapten mereka memilih meminum susu untuk memulai harinya?


Tak lama, pintu diketuk dan menampilkan seorang pria yang memiliki wajah sedikit tampan, tetapi hari itu wajahnya sedikit berantakan dan rambutnya juga tidak rapi, “Hai, maaf telat...” orang itu adalah Rio.


Rio masuk kemudian duduk di sebelah seorang pria yang memiliki tubuh tinggi dengan wajah yang menurut Ryan sedikit bodoh dan bertubuh kurus. Ia bernama Leo.


Leo menggeser tubuhnya, memberikan tempat bagi Rio untuk duduk.


Rio duduk kemudian bertanya, “Sudah semua?”


Satu pria yang bertubuh gendut tetapi tingginya setara dengan Ryan mengangguk mewakili seluruh temannya. Ia bernama Fredy.


“Yang akan kubahas adalah tentang event yang diadakan untuk merayakan hari jadi SuperSoft Corporation yang pertama...” Rio memulai pembicaraannya.


Event ini akan diadakan setelah Chapter 04: Deicever Nobleman telah selesai. Sebelum Rio sempat melanjutkan penjelasannya, Justin mengangkat tangannya kemudian bertanya, “Kenapa harus setelah Chapter 04?”


“Katanya mereka ingin membuat event yang dilaksanakan setelah satu Chapter diselesaikan. Karena Chapter 04 sudah terbuka sejak lama dan tidak ada yang mengetahui lanjutannya, maka SuperSoft Corporation mengumumkan untuk melakukannya setelah Chapter 05 dimulai.” Ujar Rio panjang lebar.


“Dan apa intinya kau menginginkan pertemuan ini dilaksanakan di rumahku?” tanya Ryan.


“Aku ingin membuat Guild dengan anggotanya Squad N5S.” Jawab Rio.


“Kau ingin kita membuat Guild? Kau pasti bercanda.” Agus menepuk meja dengan pelan.


“Apa alasanmu tidak ingin membuat Guild?” tanya Hendra.


“Karena aku ingin berpetualang seorang diri terlebih dahulu sebelum bergabung ke dalam suatu Guild.” Jawab Agus.


“Tepat!” Ryan, Fredy, Leo, dan Justin menjawab dengan keras dan bersamaan.


“Lihat, lima dari tujuh anggota N5S setuju untuk tidak membuat Guild.” Ujar Agus dengan senyum kemenangan.


“Artinya kalian tidak menginginkan hadiah utama event itu yang seharga 1 Diamond?”

__ADS_1


__ADS_2