Remaist Online: Return Of The Legend

Remaist Online: Return Of The Legend
214. Enam tahun


__ADS_3

6 tahun berlalu sejak perjalanan menuju Gods Island...


Ryan dan Raisya kini sudah berumur 30 tahun serta memiliki anak yang kini berumur 6 tahun. 


Perjalanan Slitherio di Remaist Online masih panjang karena kabar tentang Chapter terakhir yang masih dikerjakan oleh Neil Young sudah tidak jelas lagi.


Ada yang mengatakan kalau waktu yang diperlukan untuk bisa meluncurkan Chapter terakhir ini sangatlah lama karena memang, untui bisa membuat AI dimana AI ini memiliki kekuatan besar amatlah sulit.


Dari hasil wawancara sekitar 2 tahun lalu, Neil mengatakan kalau jumlah AI yang rencananya ia akan buat menjadi level max itu ada sebanyak lebih dari sepuluh AI.


Banyak yang tidak mempercayainya jumlah itu. Jika sebanyak itu jumlah AI yang memiliki level max, bisa saja para pemain kesulitan menangani Chapter terakhir ini.


Tetapi, ada sekitar 20 pemain lebih yang akhirnya berhasil menjadi dewa dengan melakukan perjalanan panjang ke Gods Island.


Jumlah ini sudah menyusut banyak karena tidak sedikit pemain yang gagal dan terpaksa mengulangi lagi perjalanan itu meskipun tetap gagal.


Diantara guild yang ada di Midvast, hanya ada satu guild yang memiliki jumlah pemain tingkat God yang paling banyak. Guild itu bukan lain adalah Guild Sevens yang diperkirakan memiliki jumlah pemain tingkat God sebanyak 11 orang. Jumlah yang fantastis karena rata-rata Guild Profesional saja memiliki antara 1-5 pemain tingkat God. Itupun sudah dihitung dengan ketua mereka sekalian.


11 Ketua Guild Profesional akhirnya menjadi Dewa Bergelar dan memiliki gelar mereka masing-masing setelah melalui 1 tahun ujian di Gods Island.


Selama 7 tahun permainan Remaist Online ini berlangsung, hampir seluruh pemain di Midvast memiliki level 900 lebih.


Level tertinggi kembali dipegang oleh Sean dengan level 962 diikuti oleh Luvian yang memiliki level 961, Slitherio yang memiliki level 960, Zero yang memiliki level 959, dan seterusnya.


Karena level mereka terbilang tinggi, pada akhirnya 11 Guild Profesional berpencar ke seluruh dunia untuk menempati benua lain. Alasan lain, monster di Midvast bisa dibilang sudah terlalu lemah untuk mereka kalahkan, sampai mereka mencari ke benua lain dengan bantuan skill Teleport para dewa.


Semenjak mereka masuk ke level 700, kecepatan mereka naik level berkurang karena banyaknya EXP yang diperlukan. Tetapi berkat EXP Potion buatan para Alchemist, membuat menaikkan level bisa menjadi lebih mudah.


Guild Reister berpindah ke Benua Northev bersama dengan Guild Azure Dragon. Guild Thiefer dan Guild Crimson tetap tinggal di Benua Midvast bersama dengan Guild Sevens. Guild Takazui, Guild Xiun pindah ke Benua Westerie. Serta Guild Darkness, Guild Archero ke Benua South. Sisanya ke Benua Eastest, yaitu Guild Violeta dan Guild Reozsya.

__ADS_1


Guild One-Star lainnya sekali lagi menantang 11 Guild Profesional dan dari sekitar 30 Guild One-Star yang ada di Midvast, hanya 4 saja yang diakui oleh 11 Guild Profesional. Mereka adalah Guild Vrieze, Guild B-Blank, Guild Night, dan Guild Scarlet Night. Tetap saja, kekuatan 11 Guild Profesional tak bisa disamakan dengan 4 guild baru ini.


Hari ini, Ryan kembali bekerja seperti biasa karena memang ia tidak memiliki rutinitas lain selain berkunjung sebentar ke Midvast lalu kembali lagi ke dunia nyata untuk bekerja.


Ya, pekerjaan Ryan kembali lagi dan seperti tujuh tahun sebelumnya, sebelum Remaist Online diluncurkan, jalanan kembali ramai oleh orang-orang yang berangkat kerja ataupun pergi mencari ilmu.


Ryan berjalan dengan santai menuju tempat kerjanya dan saat sampai, ia disambut oleh teman-teman kerjanya.


Hari ini jam menunjukkan pukul 07.30, yang artinya Ryan akan bekerja selama empat setengah jam karena memang jam kerjanya dikurangi oleh atasannya. Begitu juga yang lainnya.


***


Siang, 12.00...


Karena sudah memiliki anak, Ryan sudah tidak memiliki alasan lain untuk tetap berada di luar untuk bersantai. Ditambah sudah memiliki istri semakin membuatnya tidak bisa diam di rumah saja, bersantai saja.


Ryan berjalan pulang ke rumahnya sambil melihat ponselnya. Ponselnya sepi, karena teman-teman Ryan jarang berbincang lewat ponsel melainkan lebih sering bertemu langsung.


“Seharusnya jam segini Rayhan sudah kembali dari sekolahnya...” Ryan bergumam sendiri saat membayangkan anak pertamanya itu.


Namanya adalah Rayhan. Ia memiliki nama belakang yang sama dengan ayahnya, yaitu Putra. Ia kini berusia 6 tahun dan ia baru saja masuk ke SD.


Biasanya, anak SD akan pulang jam 11.00 atau bisa saja lebih sedikit. Jam ini berlaku untuk anak kelas 1 sampai 2. Kelas ke atas akan pulang jam 12.00 atau lebih.


Karena ada tambahan anggota keluarga baru, rumah Ryan sudah tidak sepi lagi seperti biasanya, ramai oleh kata-kata atau cerita dari Rayhan.


“Aku pulang...” Ryan sampai di rumahnya dan ia langsung disambut oleh anak kecil yang memiliki tinggi yang setara dengan perut Ryan.


“Ayah!” anak itu adalah Rayhan. Ia langsung menghampiri Ryan dan bertanya, “Apa ayah lelah?”

__ADS_1


“Tidak terlalu. Dimana ibumu?” Ryan mengedarkan pandangannya. Biasanya, Raisya akan duduk di ruang tamu sambil membantu Rayhan mengerjakan tugas sekolahnya. Itupun kalau ada. Kalau tidak ada, ia akan berkeliling sambil melihat buku koleksi Ryan.


“Sedang mencoba membuat makanan ringan untuk nanti malam...” jawab Rayhan. Ia lalu menarik tangan Ryan dan membawanya ke dapur.


Disana sudah ada Raisya yang terlihat sedang mengaduk sesuatu. Karena Ryan mengatakan ingin makan di luar, jadi Raisya hanya memasak sedikit untuk siang dan malamnya.


“Apa kau ada tugas dari sekolah?” tanya Ryan sambil mengusap kepala Rayhan yang dijawab dengan anggukan.


“Nah, kau lanjutkan saja tugas itu. Nanti panggil saja ayah atau ibumu jika memerlukan bantuan...” ujar Ryan lalu duduk di salah satu kursi meja makan.


Raisya masih tidak menyadari keberadaan Ryan di belakangnya dan melupakannya sambil membuat sesuatu yang disebut makanan ringan oleh Rayhan.


Ryan menggaruk kepalanya, sudah biasa jika Raisya sampai serius dalam mengerjakan sesuatu, entah itu sesuatu yang sepele ataupun yang sulit.


Ryan berdeham lalu berkata, “Aku akan bermain sebentar...”


“Apa kesepakatan kita tentang waktu bermain?” tanya Raisya tanpa menatap Ryan.


“Kita hanya akan bermain saat malam.” Jawab Ryan sambil menghela napasnya. Kesepakatan ini mereka ambil setelah Rayhan lahir enam tahun lalu.


“Dan itulah yang harus kau lakukan. Kalau kau melanggarnya, kau akan kehilangan satu sendok nasimu nanti malam.” Ujar Raisya tanpa menatap Ryan. Tak lama ia pun berbalik.


“Buat apa kau itu?” tanya Ryan. Ia lalu berdiri dan melihat makanan yang dibuat Raisya, “Keripik? Memangnya ada acara apa nanti malam?”


“Rayhan meminta kita untuk menemaninya belajar untuk ulangan besok.” Jawab Raisya.


“Ulangan? Bukankah baru sekolah sekitar 3 minggu?” Ryan mengelus dagunya.


“Intinya kau harus menemaninya atau tidak ia tidak mau melihatnya lagi...” ujar Raisya sambil menyeringai lebar. Ryan hanya menghela napasnya dan mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2