
Acara penutup dilakukan sepuluh menit setelah selebrasi dari tim Indonesia dan pernyataan Tsuyoshi.
Acara penutupan benar-benar meriah, setiap peserta diberi oleh-oleh berupa border dan skin gratis. Apapun itu, entah itu Skin Epic ataupun Skin Legend.
Karena Squad N5S adalah manusia gratisan, mereka meminta satu skin Legend dan lima skin Epic. Tentu saja jumlah hanya dibatasi sampai sepuluh skin.
Ryan dan seluruh peserta berterima kasih pada pencipta Physical and Magic yang tidak ingin menyebutkan namanya.
Selesai acara penutupan, semua peserta diperbolehkan untuk kembali ke negara masing-masing atau beristirahat dulu.
Tim Indonesia yang menjadi pemenang langsung mengamankan piala serta uang tunai yang mereka dapatkan dengan aman di koper milik Ryan yang sedikit isinya dan besar kopernya.
“Aku baru tahu kalau koper kapten bisa sebesar ini dan sesedikit ini isinya...” komentar Agus saat melihat isi dan bentuk koper Ryan.
“Heisshh, diam!” Ryan mengibaskan tangannya dan memasukkan pialanya dengan mudahnya dan menutup kopernya.
“Lalu kita kembali dengan apa?” tanya Rio saat mereka telah santai. Malam telah larut.
Maklumlah, acara penutupan berlangsung sampai pukul 22.00 waktu Jepang. Dengan kata lain, di Indonesia masih jam 21.00.
“Dengan cara yang sama saat kita kemari...” ujar Ryan. Ia lalu menghubungi orang yang mengirim mereka ke Jepang.
“Akan kami urus kepulangan kalian ke Indonesia, tenang saja...” ujar Ari. Ia yang mengangkat teleponnya karena Ryan menghubunginya.
“Jadi, kapan kalian akan pulang?” tanya Ari.
Ryan berpikir sebentar lalu berkata, “Kami akan pulang besok siang. Kalau bisa samakan jamnya dengan jam keberangkatan kami sebelumnya...”
“Hmm, kalau aku lihat disini...” Ari terlihat sedang memeriksa sesuatu, “Ada satu penerbangan menuju Indonesia besok jam 09.00 waktu Jepang...”
“Boleh, hanya saja aku ingin sedikit lebih lama disini...” ujar Ryan lagi.
“Kalau begitu bagaimana kalau kau meminta duta besar disana untuk dipesankan tiket kembali ke Indonesia?” usul Ari.
“Mana mau! Nanti aku malah diusir...” Ryan berkata dengan nada tinggi.
“Apanya diusir? Kau sudah mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, mana berani duta besar disana mengusirmu keluar...” ujar Ari.
“Tidak, aku maunya kau yang memesankannya...” ujar Ryan dengan tegas.
“Baiklah, aku akan pesankan...” Ari lalu melakukan sesuatu, “Sekarang kau cek foto yang akan kukirim sekarang...”
“Kau harus check in lewat link yang akan kuberikan...” ujar Ari, “Biar kami yang mengurus pembayarannya...”
Ryan menyetujui hal itu dan ia melakukan yang diminta Ari. Yang lainnya juga melakukan apa yang diminta Ari dan tiket mereka jadi.
“Nah, yang terakhir kita tinggal pulang ke Indonesia!” Rio mengangkat tangan kanannya dengan cepat dan yang lainnya mengikuti.
***
Bandara di Jepang benar-benar ramai. Mungkin saja karena peserta dari beberapa negara pulang hari ini, pikir Ryan.
Mereka lalu pergi ke ruang tunggu setelah memperlihatkan tiket elektroniknya dan tanda ia semalam check in.
__ADS_1
Selesai itu, mereka menitipkan koper mereka yang besar itu ke bagian bagasi lalu mereka menunggu di ruang tunggu dengan tas gendong mereka.
“Home~...” Justin bernyanyi sendiri.
“Aku tak sabar melihat reaksi orang tuaku saat aku pulang...” Leo terlihat bahagia.
“Aku hanya akan menunggu tugas selama sebulan yang telah kita lewatkan....” ujar Ryan sambil menangkupkan kedua tangannya di depan mukanya.
“Paling-paling kita akan diberi waktu istirahat satu hari karena kita akan ampai di Indonesia saat sore harinya, mungkin...” ujar Hendra.
“Semoga...” ujar Fredy.
Tak lama, pemberitahuan untuk menaiki pesawat terdengar dan mereka langsung bergerak menuju tempat yang diminta.
Sebelum itu, mereka menatap ke belakang mereka sambil bergumam bersamaan, “Jepang, sampai jumpa...”
***
Udara hangat negara Indonesia langsung menyambut mereka saat mereka turun dari pesawat. Perjalanan memakan waktu tujuh jam dan saat ini di Indonesia sudah jam 3 sore.
“Akhirnya udara hangat!” Ryan, Rio, Hendra, dan Leo menaikkan kedua tangannya ke atas setelah mereka turun dari Indonesia.
Jaket mereka yang terdapat lambang bendera Indonesia dan lambang N5S segera dikenal banyak orang ketika mereka sampai di gedung bandara.
“Wah, bukankah mereka adalah pemenang turnamen semalam?”
“Mereka pulang saat aku berada di sini?!”
Beberapa orang segera bergerak ke tempat Ryan dan teman-temannya sedang berdiri. Yang dikejar hanya berkata, “Eh?” lalu kabur menuju tempat pengambilan koper.
“Ini, apakah aku bermimpi?”
“Tik Indonesia yang menang semalam ternyata sudah pulang?!”
Beberapa orang lalu mengejar mereka bertujuh dan mereka bertujuh akhirnya memilih diam. Di depan sudah dikejar, ditambah di belakang, tak ada jalan untuk kabur.
“Foto bersamaku!”
“Aku akan mengambil foto kalian!”
“Ini kesempatan langka!”
Beberapa orang langsung memotret ketujuhnya yang sedang berdiri pasrah dan memasang wajah bodoh. Ada yang menggaruk kepalanya, ada yang menutup wajahnya, semuanya memasang pose yang memalukan.
“Sialan...”
“Kenapa kami disambut seperti ini?”
Umpatan demi umpatan keluar dari mulut ketujuhnya, tetapi mereka tak mengatakannya keras-keras. Takut karena akan dinilai buruk oleh orang-orang disana.
“Permisi sebentar, kami ingin kembali ke rumah! Kami lelah!” tak ada pilihan, Ryan langsung mengambil langkah berani dengan berseru keras dan menunjukkan kalau mereka lelah.
“Ah, benar juga...”
__ADS_1
“Biarkan mereka lewat!”
Beberapa orang menyingkir dan memberikan jalan bagi ketujuhnya dengan cepat.
“Untung aku punya pikiran aneh seperti itu...” Ryan mengambil kopernya lalu berlari kabur. Yang lainnya langsung mengambil koper mereka setelah memeriksanya lalu kabur dengan berlari cepat.
Karena baru turun, hanya di bagian pengambilan barang dari bagasi sajalah yang ramai, seterusnya masih sepi, sehingga Ryan dan teman-temannya bisa berlari dengan mudah.
“Cepat, sebelum ada yang...” belum selesai Ryan berbicara, kerumunan orang sudah menunggu di depan ruang keluar.
“Itu, bukankah mereka yang semalam di televisi?”
Meski mereka berkata begitu, tak ada yang menyerbu ke depan. Itu karena keberadaan seseorang yang membawa kertas bertuliskan “Welcome Home, Winner!” dibawahnya ada tulisan nama Squad N5S.
Ryan dan teman-temannya berjalan menuju orang itu lalu bertanya, “Bisakah kita secepatnya pulang?”
“Oh, tentu saja. Tetapi setelah kalian bertemu pak menteri, ya?” ujar orang itu sambil tersenyum lebar.
***
“Hahaha...” tawa Rayhan, Ria, dan Raisya kembali pecah saat mendengar cerita Ryan saat mereka turun dari pesawat.
“Sudahlah, jadi orang terkenal itu susah, tahu?” Ryan mendengus.
“Ayahmu itu orang terkenal, lho...” Raisya lalu menceritakan tentang pertarungan besar antara Slitherio melawan Riana yang menghancurkan separuh hutan.
“Seterkenal itukah ayah di mata dunia?” tanya Ria. Ia tak percaya meski mendengarnya langsung dari mulut Ryan.
“Yah...” Ryan menaikkan bahunya.
“Lalu, apa yang ingin pak menteri bicarakan dengan ayah?” tanya Rayhan.
“Tentang hadiah dan bonus karena memenangkan turnamen itu dan penyerahan piala turnamen itu. Medalinya diberikan pada kami...” ujar Ryan sambil meletakkan kedua tangannya di pinggangnya.
“Berapa memang hadiah utama turnamennya?” tanya Ria.
“Sekitar 100.000 Yen, mungkin. Karena kami membagi uangnya sama rata menjadi dua juta rupiah perorang...” ujar Ryan.
“Uangnya ayah apakan?” tanya Rayhan.
“Ayah beri ke orang tua ayah dan dipakai untuk keperluan sehari-hari. Lima ratus ribunya diberi ke ayah untuk apapun itu...” jawab Ryan.
“Lima ratus ribunya dipakai apa?” tanya Rayhan.
“Dipakai disimpan...” ujar Ryan sambil tersenyum usil dan menaikkan dua jarinya.
“Rayhan kira dipakai beli diamond...” Rayhan menepuk dahinya.
“Tapi, apakah ayah kembali bermain di turnamen itu lagi?” tanya Rayhan.
“Tidak, ayah akan lewatkan saat ayah SMA serta masa kuliah dan lompat ke saat kelulusan, bagaimana?” tanya Ryan. Ia berniat melompati masa SMAnya dan masa kuliahnya karena pada masa ini ada beberapa hal lucu saat itu.
“Terserah, lagipula malam masih panjang dan Rayhan berharap bisa mendengar kisah ayah dan ibu bisa bertemu lagi...” ujar Rayhan.
__ADS_1
“Baik, enam tahun telah berlalu sejak turnamen itu...” ujar Ryan, memulai kembali ceritanya.