
Sean akhirnya berhasil mengalahkan Fadexion dan membunuhnya. Ia lalu mengalihkan pandangannya dan membantu Riana yang akhirnya terpojok setelah berusaha mengalahkan Zen dan Fisvion seorang diri.
Disisi lain, Slitherio berhasil membunuh Wagata dengan sedikit kesulitan karena kekuatan Wagata berada sedikit diatas Slitherio. Slitherio akhirnya mengedarkan pandangannya dan melihat satu orang yang sebelumnya hilang.
“Selena, kemana saja kau?” Slitherio menghampiri Selena yang terlihat kesulitan bernapas. Ia terlihat seperti telah melewati pertarungan yang berat.
“Aku tadi kembali ke istana setelah melihat kalau dua Jendral Tertinggi Sky Empire berada disini. Aku kembali seorang diri dan aku pun dihadang oleh beberapa orang berjirah hitam.” Selena menjelaskan dengan nada kacau, ia amatlah kelelahan.
Akhirnya, Sean dan Riana berhasil menyelesaikan pertarungan mereka lalu berjalan mendekati Slitherio.
“Terima kasih atas bantuan anda, Dragon King Sean.” Slitherio berdiri dan menghadap Sean yang berusaha mengatur napasnya.
“Tak usah begitu, lagipula aku datang karena tidak ingin nama besar Guild Reister rusak hanya karena aku tidak datang membantu.” Sean menepuk pundak Slitherio.
“Ah, kau benar juga...” Slitherio mengangguk, “Mungkin nama Guild Sevens akan dikenal orang-orang nantinya setelah pertempuran ini selesai.”
Sean dan Riana mengangguk, hanya Selena yang memasang wajah sedih. Slitherio yang menyadari raut wajah Selena yang berubah segera bertanya, “Kenapa?”
Selena menatap Slitherio sambil mengusap wajahnya, “Tidak apa, hanya saja aku sekarang menyesali keputusanku waktu itu yang menolak mengikutimu...”
Slitherio mengusap rambut Selena yang lebih pendek darinya lalu berkata, “Tidak ada yang perlu kau sesali...”
Riana berdeham lalu bertanya pada Sean, “Mana nagamu yang warnanya putih tadi itu?”
Sean mengangkat alisnya, tentu ia tidak menyadari akan tidak dihormati saat diluar guild, tetapi ia mengendalikan dirinya lalu berkata, “Aku buat di berada di tempat yang aman.”
“Begitukah? Padahal nagamu itu bentuknya keren dan aku belum melihat kemampuan nagamu itu...” Riana mengangkat bahunya.
Slitherio menepuk dahinya, sikap Riana inilah yang membuatnya terlihat sadis, yaitu sikap tidak pedulinya itu pada orang lain.
__ADS_1
Sean berdeham sejenak lalu bertanya pada Slitherio, “Bagaimana rasanya menjadi Remaister? Apalagi menjadi Remaister yang dianggap sebagai Remaister terkuat diantara lima Remaister?”
Dihadapannya kini sudah ada tiga Remaister dan sebelumnya lima Remaister sudah berkumpul pada pertandingan sebelumnya.
Slitherio menarik tangan Sean lalu mendekatkan mulutnya pada telinga Sean lalu berbisik, “Jujur saja, aku tidak menduganya sebelumnya, jadi aku bersikap biasa saja padahal aku terkejut sekali...”
Mata Sean melebar saat mendengar jawaban Slitherio. Biasa? Itu adalah impian semua pemain Remaist Online! Bagaimana bisa dia berkata kalau seolah sudah biasa mendapatkan hal seperti itu?
“Aku yakin kau pasti bertanya kenapa aku bisa bersikap biasa padahal aku mendapatkan impian utama semua pemain Remaist Online. Hal itu disebabkan karena aku selalu berusaha tenang.” Slitherio menjawab dengan terang-terangan.
Riana menarik tangan Selena lalu mengajaknya keluar stadium, masih ada pertempuran di luar yang menunggu mereka.
Riana sejujurnya merasa khawatir pada Li dan Geisha. Bisa dibilang kalau kemampuan keduanya biasa-biasa saja, tetapi kemampuan Li itulah yang membuat Riana memahami alasan Slitherio mengajak Li masuk Guild Sevens.
Slitherio akhirnya berjalan mengikuti Riana dan Selena yang sudah berjalan terlebih dahulu sebelum mereka. Sean akhirnya mengikuti mereka bertiga.
***
Kondisi diluar berada pada kendali pihak Serioza, Zaburo, dan Trestio. Mereka berhasil mengalahkan seperempat dari jumlah awal pasukan penyerang Sky Empire.
Serioza menggunakan Sky Splitting Hammer dan menggunakan skill Rain Thunder dan mengalahkan hampir seluruh pasukan lawan jika saja tidak ada Trestio dan Zaburo yang melindungi beberapa orang bawahannya.
Li sendiri masih ada pada pintu masuk stadium dan terus melancarkan musik-musik yang mengganggu pendengaran lawan.
Geisha menggunakan pedangnya untuk menghabisi lawan sebanyak mungkin dengan bantuan Trestio dan Zaburo.
Luvian sendiri sudah bergabung dengan Pasukan Elit Guild Darkness dan memisahkan diri dari kelompok.
Empat orang dengan wajah sedikit kacau akhirnya keluar dari stadium dan menghampiri Li.
__ADS_1
“Li, kau segera gunakan skill terkuatmu. Kita harus menyelesaikannya hari ini...” Slitherio menepuk pundak Li dan mengeluarkan perintahnya.
“Baiklah...” Li mengangkat tangannya, “Simple Death Music!”
Li memainkan serulingnya dengan cepat dan sedikit kacau, sepertinya ia sudah melalui pertarungan yang berat.
Meski membantu dari belakang, tetap saja serulingnya membutuhkan udara agar mau berbunyi.
Serioza hampir saja mengeluarkan skill terkuatnya jika saja tidak ada rekannya di tempat itu.
Slitherio menarik Flame Phoenix Sword dan bergumam, “Flame Sword Technique: Stream of Fire...”
Hembusan api besar segera muncul dan mendorong habis semua Hell Knight. Slitherio lalu berseru, “Kembali!”
Serioza, Zaburo, Trestio, Despian, Lyne, dan Geisha segera berlari menjauh dengan kecepatan tinggi menuju tempat Slitherio dengan yang lainnya berdiri.
Hanya saja, Geisha yang memiliki kecepatan sedikit di bawah Serioza tertinggal di belakang dan langsung diserbu oleh beberapa Hell Knight. Geisha lalu tewas dan menghilang.
Dada Slitherio terasa sesak ketika melihat Geisha gagal ia selamatkan. Ia melihat Luvian dan Pasukan Elit Guild Darkness datang dengan kecepatan tinggi.
Mata Slitherio berapi-api, ia lalu mengembangkan sayapnya dan terbang ke langit kemudian mengangkat tangannya, “Tak peduli entah itu aku harus menghancurkan sebuah kota atau menghancurkan kekaisaran, aku akan membalas kematian kalian, para anggota Guild Sevens! God Skill: Ring of Fire!”
Slitherio melesat dengan cepat turun menuju medan pertempuran dan mendarat dengan telapak tangan mencapai tanah duluan. Lingkaran api besar segera tercipta di seluruh Syacht dan langsung meledak-ledak.
Situasi kota menjadi tidak terkendali, Syacht akhirnya hancur dan hanya menyisakan puing-puing dari bangunan yang hancur serta lubang besar yang tercipta dari Teknik Kedewaan milik Slitherio.
Serioza dan Trestio hanya menatap Slitherio dengan tatapan seperti memandang dewa, mereka akhirnya menyadari kekuatan sebenarnya dari pendekar jubah merah yang dijuluki Pedang Api oleh penduduk sekitar.
Sean dan Luvian membuka mulut mereka lebar-lebar, mereka tidak menyangka kalau kekuatan Slitherio bisa sebesar itu padahal hanya berada pada level 235.
__ADS_1
Level keduanya berada pada level 290, hampir mencapai level 300. Tetapi dari pertempuran ini, mereka akhirnya semakin mendekati level 300.
Kini, tatapan semua orang menuju Slitherio yang masih melayang dengan wajahnya yang terlihat sendu.