Remaist Online: Return Of The Legend

Remaist Online: Return Of The Legend
255. Pekerjaan, perpisahan, dan awal yang baru - Season 5 (End)


__ADS_3

Enam tahun kemudian...


Ryan akhirnya lulus SMA empat tahun lalu dan lulus kuliah dua bulan lalu. Kehidupan Ryan yang sebelumnya penuh dengan berbagai tugas akhirnya selesai.


Yang ada dalam pikiran Ryan saat ini hanyalah bekerja setelah memutuskan takkan mengambil permainan apapun itu yang bisa mengubah hidupnya lagi. Cukup Physical and Magic saja yang mengubah hidupnya, jangan yang lain.


Setelah turnamen dunia itu, Ryan menjadi Top Global selama lima season berturut-turut dan akhirnya ia bosan dan akhirnya berhenti bermain selama empat tahun untuk fokus pada kuliahnya.


Tentang kemenangannya, Ryan telah menyimpan medali kemenangannya baik-baik di sebuah tempat di kamarnya.


Dua bulan berlalu setelah Ryan lulus kuliah dan kini umurnya sudah 22 tahun. Ia sedang mencari pekerjaan dan pencarian itulah yang mengantarkannya ke sebuah tempat kerja yang direkomendasikan oleh temannya.


“Ah, kau betul-betul datang?” tanya seorang pria dengan rambut acak-acakan. Ia bernama Rangga.


“Datanglah, demi uang...” ujar Ryan lalu menatap tempat kerja didepannya itu, “Bantu aku melamar pekerjaan...”


“Demi, uang? Aku akan tertawa kalau saja disini bukan tempat kerja...” Rangga menutup mulutnya. Saat ia kuliah dulu bersama Ryan, Ryan sekalipun tak pernah menyinggung tentang uang.


Rangga juga tahu tentang identitas asli Ryan yang merupakan kapten dari tim Indonesia yang bermain enam tahun lalu di Jepang.


“Oh, ayolah, terima saya sebagai bawahan Anda...” ujar Ryan memohon saat ia akan ditolak.


“Siapa bilang aku akan menolakmu?” tanya seorang pria paruh baya. Ia dipanggil pak Fendi oleh Rangga.


“Dari wajah bapak, saya sudah melihat wajah kasihan seperti itu sebanyak sepuluh kali dan saya ditolak sebanyak itu juga...” Ryan berkata dengan sedikit kesal. Sudah cukup rekor sepuluh kali ditolak kerjanya, jangan lebih lagi.


“Aku menerimamu, tetapi dengan syarat kalau kau harus datang tepat waktu...” sebelum Ryan masuk, Rangga sudah menceritakan tentang Ryan yang dulunya sering terlambat masuk.


“Oi, jangan bilang kalau Rangga yang mengatakan itu?” tanya Ryan. Ia tahu beberapa orang yang mengetahui kebiasaan anehnya ini, termasuk Rangga.


“Memang...” ujar pak Fendi lalu ia menjulurkan tangannya, “Mohon kerjasamanya...”


***


Ryan berjalan pulang sambil menyampirkan jaketnya di pundaknya. Ia sendiri hanya membawa tas gendong saja yang isinya ponsel, laptop, beberapa kertas, dompet, Headphone, pengisi daya laptop serta ponselnya, satu buku, dan beberapa alat tulis.


Bukunya sendiri ia pakai untuk mencatat apapun yang tidak berguna. Buku itu akan menjadi kenangan terbaik yang dimiliki Ryan karena buku itu bertahan dari kelas 7 sampai sekarang. 


Isinya sendiri adalah gambaran sederhana dan beberapa kata-kata sederhana. Kata sederhananya, buku harian.


“Pekerjaan sudah, tinggal makan...” ujar Ryan lalu ia berjalan ke restoran yang ada di dekatnya.


“Aku memesan nasi goreng dan teh jahe hangat...” ujar Ryan sambil menaikkan dua jarinya, “Tak pakai lama, oke?”


Si pelayan hanya mengangguk dan menuliskannya di sebuah kertas lalu menyerahkannya pada rekannya di dapur.


Ryan menunggu di mejanya sambil melihat-lihat ponselnya. Karena bosan, ia memilih membaca sebuah manga online di ponselnya.


Tak lama, pesanannya datang dan Ryan menyimpan ponselnya. Ia lalu memakan makanannya dengan cepat lalu membayarnya dengan cepat pula.


Kasir dan pelayan yang tadi mengurus pesanan Ryan terpana, “Cepat amat itu orang makan...”


Ryan berjalan santai menuju rumahnya sambil mendengarkan musik dengan Headphonenya. Headphone itu sendiri sudah ia miliki sejak ia SMA.


Rumahnya terlihat bersih dari luarnya, seperti di dalamnya juga. Itu wajar karena kedua orangtuanya menghabiskan waktu senja mereka dengan bersih-bersih di rumah ataupun menanam tanaman sederhana di halaman rumah.


Umur keduan orangtuanya sudah 44 tahun dan mereka berencana berlibur ke luar negeri untuk sesekali.


“Ryan, ini adalah penawaran terakhir ayah untukmu, apakah kau mau ikut kami ke Jepang?” tanya ayahnya beberapa hari setelah Ryan diterima kerja.


“Hmm, bagaimana ya? Ryan tak ingin pergi keluar negeri dulu untuk sementara waktu, sudah cukup yang waktu itu...” jawab Ryan.


“Itu kan salahmu sendiri kenapa tak bertanya pada orang-orang sekitar...” ayahnya mengacak-acak rambut Ryan yang awalnya sedikit rapi.


“Hehe...” Ryan menggaruk kepalanya, tingkahnya saat masih kecil dulu kadang terbawa sampai ia dewasa.


“Baiklah, kami akan liburan saat akhir tahun. Berdoalah agar kami kembali saat kau upanga tahun yang ke-23 tahun...” ujar ayahnya.


***


“Oh, jadi kau kehilangan orang tuamu saat berulang tahun?” tanya Raisya sambil menepuk-nepuk pundak Ryan.


Ryan mengangguk, “Saat itu adalah saat terendah dalam hidup ayah...”


“Terendah?” Ria menggaruk kepalanya.


“Kehilangan orang tua yang sudah berjanji kalau akan kembali saat ulang tahun adalah saat terendah dalam hidup ayah. Meski kembali, tetapi kembali dalam keadaan tak bernyawa lagi...” ujar Ryan sambil menutup wajahnya.


“Sampai saat itu, ayah berpikir kalau ayah masih belum mampu membahagiakan kedua orang tua ayah...” Ryan berkata.


“Dimananya letak ayah masih berpikir belum mampu membahagiakan kedua orang tua ayah?” tanya Rayhan.


“Ayah mampu keluar negeri gratis, apalagi bersama teman-teman ayah yang terus mendukung ayah. Dimananya?” tanya Ria. Ia lalu melirik ibunya.


“Tetapi, teman ayah datang dan memberitahu kalau ayah sudah berhasil...” ujar Ryan, “Tiga bulan setelah itu...”


***


Tiga bulan kemudian...


“Ayah, ibu, hati-hati di sana...” ujar Ryan lalu berpamitan dengan kedua orang tuanya yang akan berjalan-jalan untuk mengisi waktu.


Karena sisa uang dari pekerjaan Ryan, mereka bisa berjalan-jalan keluar negeri. Tentu saja mereka mengambil uang simpanan dari masa lalu mereka yang digabungkan.


Ryan menatap sekeliling bandara, ia kemari bersama orang tuanya yang menaiki mobil. Ryan sendiri tak bisa mengendarai mobil sehingga meminta temannya, Don untuk membantunya.

__ADS_1


“Kau baru datang setelah lama pergi? Hebat sekali kau...” ujar Don yang terdengar menyindir Ryan.


“Oh ayolah, aku tak bisa mengendarai mobil dan kau harus mengantarku pulang dua hari lagi...” Ujar Ryan memohon. Kejadian ini terjadi dua hari lalu.


“Baiklah, tetapi traktir aku semangkok mie ayam untukku, ya?” ujar Don memberi sebuah syarat.


Kedua orang tua Ryan tahu Don karena Don sering mengajak Ryan bermain di taman kompleks perumahan mereka, sebab itulah Don diajak juga pergi ke bandara.


“Baiklah, kau tahu tempatnya, bukan?” tanya Ryan pada Don ketika mereka sampai di dalam mobil.


“Tahu karena aku sering makan disana...” ujar Don lalu melakukan mobilnya menuju tempat yang dimaksud.


Selesai makan mie ayam, Don mengantar Ryan pulang dan Don diberi selembar uang kertas, “Upahmu...” saat ditanyai Don.


“Kau kira aku ini tukang angkut barang apa? Sampai diberi upah segala...” Don berkata begitu, tetapi menerima uang itu.


“Akhirnya kau terima, kan?” Ryan berkata dengan sedikit jahil. Setelah itu Don pulang ke rumahnya yang dekat dengan rumah Ryan.


Hari demi hari berlalu dan Ryan berhubungan dengan kedua orang tuanya di Jepang. Mereka berencana pulang pada tanggal dua puluh bulan sebelas.


Sebuah foto dikirimkan dan Ryan tak menemukan suatu keanehan pada foto itu. Pada akhirnya, puncak dari kehidupan kedua orang tuanya tiba.


Pada saat yang amat mengerikan, pesawat yang ditumpangi oleh kedua orang tuanya disambar petir yang amat hebat.


Berita memberitahu kalau sinyal terakhir pesawat itu ada di tengah laut Cina Selatan. Dengan cepat, tim pencari segera bergerak kesana dan mencari sisa-sisa dari para penumpang.


Sekitar lima jam berselang, tepatnya saat tanggal dua puluh satu bulan dua belas, kedua orang tua Ryan ditemukan dalam kondisi masih utuh.


Sebagian diri Ryan bersyukur, tetapi sebagian lagi merasa amat kehilangan. Kehilangan sosok yang dibanggakannya, yaitu ayahnya dan sosok yang ia sayangi, yaitu ibunya.


Pemakaman langsung dilaksanakan setelah dilakukan pemeriksaan sederhana pada jasad kedua orang tuanya.


Ryan hadir langsung ditemani oleh sahabatnya, yaitu Rio, Don, dan teman-temannya yang memiliki waktu untuk datang, memberi bela sungkawa pada Ryan.


Malamnya, Ryan akhirnya harus menerima bahwa kedua orang tuanya telah pergi untuk selamanya. 


Ia terus duduk di meja makan yang hanya diterangi oleh cahaya bulan dari luar dan sebuah lilin. Hari ini adalah ulang tahunnya dan hadiah dari kedua orang tuanya adalah kematian.


“Kenapa, ayah dan ibu harus pergi?” Ryan berkata sambil terisak.


Ia lalu meniup lilin yang ada di hadapannya, “Selamat ulang tahun Aku, semoga Aku semakin maju dan semakin mudah menerima kenyataan...”


***


“Pada akhirnya, sahabat ayah datang dan memberitahu pada ayah untuk selalu menerima kenyataan...” ujar Ryan sambil mengusap sedikit matanya.


Raisya menutup wajahnya dengan kedua tangannya, ia tahu kisah ini karena lebih dari sepuluh tahun lalu ia mendengar kisah ini langsung dari mulut Ryan.


Rayhan dan Ria malah memiliki reaksi yang lebih parah dari Raisya. Keduanya menangis dengan keras karena mendengar kisah akhir hidup kakek dan nenek mereka.


“Kalau kematian itu menyenangkan, orang-orang pasti akan berteriak senang...” Ryan memukul kepala Rayhan pelan. Karena masih dalam fase pertumbuhan, Ryan tak boleh menyiksa anaknya lebih dari ini. Ya, sebenarnya Ryan tak pernah menyiksa anaknya sih...


“Lalu, ayah memulai hidup baru dengan bekerja seperti biasa, mengurus rumah sendirian, menonton televisi sendiri, bangun sendirian, sarapan sendirian, dan sebagainya, sampai sebuah permainan kembali mengubah hidup ayah...”


***


Pagi yang cerah di tepi Ibukota Indonesia...


“Kring...” suara jam weker memecah kesunyian di sebuah kamar milik seorang pemuda.


“Kri... Plak!” pemuda itu memukul jam weker itu hingga terjatuh.


“07.30?! Untung hari ini hari Minggu, jadi masih bisa santai.” Ucap pemuda itu.


Pemuda itu bernama Ryan Putra, seorang arsitek yang tinggal seorang diri di rumah milik orang tuanya. Orang tuanya meninggal setahun lalu. Tahun ini ia berumur 24 tahun.


Ryan kemudian bangun meninggalkan tempat tidurnya dan menuju kamar mandinya yang berseberangan dengan kamar miliknya yang berada di lantai 2 untuk menggosok gigi.


Selesai menggosok gigi, Ryan turun ke lantai 1 untuk membuat sarapan. Sarapannya hari ini adalah segelas susu dan sepiring biskuit.


“Pagi-pagi begini ada acara apa kira-kira?” pikir Ryan dalam hatinya.


Selesai membuat sarapan, Ryan menuju ruang santai yang berada di dekat dapur dan menyalakan televisinya berharap dapat menonton siaran yang berguna.


“Aih, berita semua?” tanya Ryan.


Ryan terus memindahkan siaran televisi sampai akhirnya ia melihat siaran berita yang berisi tentang peluncuran game terbaru.


“... Selamat pagi kawan berita yang saya hormati, hari ini adalah hari peluncuran game terbaru yang berjudul Remaist Online yang diciptakan oleh SuperSoft Corporation. Game ini bergenre MMORPG yang dapat dimainkan hanya dengan memakai V-Gear yang tersambung dengan internet yang memungkinkan penggunanya untuk berpetualang di dunia fantasi yang biasanya hanya dapat ditemukan dalam permainan sejenis dan film.”


“... Tunggu apa lagi, mainkan permainan Remaist Online dengan membeli V-Gear seharga Rp9.000.000,00 dengan diskon bulan pertama sebesar 10%. Dapatkan alat ini di Super Gadget yang tersebar di kota and masing-masing. Jadi, selamat berpetualang di dunia fantasi yang penuh fantasi ini!” ujar penyiar itu.


Ryan terdiam kemudian meregangkan sedikit badan. Dia lalu bangkit mematikan televisi miliknya dan berjalan ke arah pintu masuk rumahnya.


“Hm, seingatku kemarin sudah dibersihkan. Tapi kenapa berdebu lagi?” tanya Ryan sambil melihat lantai terasnya yang sedikit kasar.


Ryan mengambil sapu dan menyapu lantai terasnya. Tak lama, suara yang sangat dia kenal memanggil namanya dengan keras dari balik pintu gerbangnya.


“Ryan!” panggil orang itu.


“Aku Rio.” Tambah orang itu mengingat pintu gerbang rumah Ryan sangat tinggi yang bahkan melebihi tinggi Ryan yang jelas lebih tinggi dari dirinya.


Rio adalah sahabat Ryan yang sangat dekat Ryan. Mereka sudah kenal sejak mereka bertemu di SMA dan secara kebetulan masuk kelas yang sama. Kini, hanya Rio seorang yang masih menemani Ryan menjalani hidupnya di dunia ini.


Ryan meletakkan sapunya di tempatnya tadi ia menemukannya dan berjalan membukakan pintu untuk Rio.

__ADS_1


“Kau mau apa ke rumahku pagi-pagi begini?” tanya Ryan saat mereka sampai di tempat tadi Ryan duduk untuk menonton televisi.


“Apa kau mau membantuku menyelesaikan dungeon terakhir di game Shadow Blade?” pinta Rio dengan sangat kepada Ryan.


“Atas dasar apa kau meminta bantuan ku?” tanya Ryan pada Rio.


“Entahlah, tapi firasatku mengatakan kalau bermain denganku aku selalu menang. Tetapi saat aku bermain solo, aku selalu kalah.” Rio menjelaskan dengan kebohongan yang tidak berhasil ia tutupi.


Ryan yang mendengar itu hanya tersenyum tipis dan meninggalkan Rio seorang diri di tempat santainya. Tak lama, Ryan datang dengan seteko air dan gelasnya beserta sepiring biskuit.


“Baiklah, tunggu aku. Ah, sudah masuk. Invite aku agar bisa masuk.” Ujar Ryan.


“Oke. Bersiaplah monster sialan, aku kembali dengan mantan Top Global.” Rio sangat senang karena ia pasti akan berhasil menyelesaikan dungeon itu.


13 menit kemudian...


Rio menutup wajahnya sedangkan Ryan menghela napas pelan. Ryan mengambil segelas air kemudian meminumnya.


“Aku kan sudah bilang, kau maju bila aku memintamu maju. Eh, kau malah maju sendiri. Ya, begini jadinya.” ujar Ryan cepat.


“Sekali lagi!” teriak Rio kesal. “Kau berhasil membuatku mengalami 16 kekalahan secara beruntun hanya karena satu dungeon ini.”


12 menit kemudian...


“Apa kubilang, kalau kita mencoba saat urutan kesempatannya ganjil kita pasti menang.” ujar Ryan santai.


“Lupakan saja kata-kataku tadi.” ujar Rio pelan.


“Apa kau tau Remaist Online?” tanya Rio, langsung mengganti topik.


“Game baru?” tanya Ryan dengan tampang sedikit bingung, padahal ia sudah tau ada game baru.


“Kau tidak tau?” tanya Rio balik.


“Aku tadi menyapu lantai, memasak sarapan, kemudian aku bertemu denganmu.” jelas Ryan dengan berbagai kebohongan. “Sudahlah, kau pulang saja. Siapa tau Ibumu mencarimu karena tidak menemukan Rionya yang bodoh di kamarnya yang sangat berantakan.” Ryan teringat pada waktu mereka SMA dulu. 


Saat itu, ada tugas yang mengharuskan membuatnya secara berkelompok. Mereka kemudian membuat kelompok sebanyak 7 orang, yaitu para anggota Squad MOBA mereka. 


Ketika mereka sampai di rumah Rio, mereka melihat kamar Rio yang sangat berantakan yang bahkan melebihi kamar Ryan.


“Lupakan saat itu. Sekarang aku menjadi orang yang rajin.” Rio mengacungkan jempolnya saat berkata.


“Kuyakin, tak lama lagi kau pasti akan tau VRMMORPG dan memainkannya.” ujar Rio lalu berbalik dan melambaikan tangannya kemudian berlari keluar rumah Ryan.


“Jangan pernah berkata kalau apa yang dikatakan Rio nanti akan terjadi...” gumam Ryan pelan saat Rio sudah pergi jauh.


Season 5 - Remaist Online - (Ryan's Past) - End


Remaist Online: Return of the Legend - The End


Catatan Penulis:


Remaist Online akhirnya berakhir dengan jumlah kata 285.738 dan jumlah chapter sebanyak 255 chapter.


Chapter ini chapter spesial untuk chapter terakhir dan untuk nostalgia sebentar dengan chapter pertama Remaist Online yang terdengar aneh ini. Spesial karena jumlah katanya ada 3000 kata.


Wuuhuu...


Banyak hal yang telah saya lalui selama ini, yaitu time skip yang kebanyakan+kejauhan, novel game yang berasa Isekai, dan lain-lainnya.


Karena itu adalah komentar dari pembaca, saya akan menerimanya untuk novel saya selanjutnya.


Ada nih yang bertanya di grup penulis beberapa waktu lalu.


Thor, cerita selanjutnya akan bergenre apa?


Oke, saya sudah ada tiga rencana yang siap ditulis. Tetapi satu-satu dulu. Kala saya liat tiga rencana ini, setelah novel ini saya akan menulis genre misteri. Tapi gk tau juga apakah akan benar-benar saya buat, soalnya ada satu ide juga yang terdengar absurd. Tunggu aja di novel selanjutnya, apakah kualitasnya meningkat atau tidak.


Ada lagi nih, satu pertanyaan.


Thor, kok bisa dapet banyak pembaca padahal gk pernah promote di novel orang?


Oke, jadi gini. Sekitar akhir bulan Maret (Kira-kira), waktu saya pertama nulis, saya cuma asal tulis biar novel yang ada di pikiran saya gk ganggu pelajaran saya. Waktu saya bangun jam 6 pagi, saya liat udah ada 3 orang yang mampir ke novel saya.


Dari situ, saya buat sebuah kata-kata, "Saya akan membiarkan pembaca itu datang sendiri, bukan saya yang mengundang mereka..."


Sampai chapter ini dibuat, ada lebih dari 1200 orang yang memfavoritkan cerita ini. Yang nulis aja sampai menaikkan alis, darimana mereka tau cerita yang masih terbilang amburadul begini?


Lalu, saya juga berterima kasih kepada seluruh pembaca yang telah mendukung novel ini, sampai-sampai ada yang ngevote novel ini 10 vote per minggu, entah apa tujuannya padahal sudah yakin gak akan masuk rangking. :D


Lalu... Apa lagi ya?


Karena ini novel saya tulis sambil membuat tugas, banyak pembaca yang menemukan typo dimana-mana.


Urusan itu, akan saya perbaiki.


Lalu, untuk para pembaca yang ingin mengetahui novel apa yang selanjutnya akan saya tulis, sebaiknya kalian masuk grup penulis.


Buat yang bingung kenapa keluar tiba-tiba dari grup, itu karena adanya penyusup dari pihak musuh yang berniat menurunkan popularitas saya. (Wahaha...)


Hehehe...


Nah, sudah panjang, sampai jumpa di novel selanjutnya.


Salam,

__ADS_1


Rio.


__ADS_2