Remaist Online: Return Of The Legend

Remaist Online: Return Of The Legend
59. Kembali ke dunia fantasi


__ADS_3

Dua Minggu berlalu setelah penyerangan ke Heaven Mansion. Kehidupan Ryan bisa dibilang kembali ke hari sebelum ia memakai V-Gear.


Hari pertama ia berlibur, ia hanya bengong saat hari mulai berjalan. Di saat orang-orang sedang bekerja, ia bengong. Bingung harus melakukan apa.


Dua hari pertama liburan terasa membosankan bagi Ryan yang sering melakukan petualangan di Midvast.


Hari ketiga, Rio datang dan terus membujuk Ryan agar mau bermain bersama tiga anggota Squad N5S. Ryan akhirnya setuju.


Lima hari kemudian Ryan lalui dengan mabar bersama anggota Squadnya. Posisinya sebagai kapten Squad N5S masih diberikan padanya, terpaksalah Ryan terus mengajak teman-temannya bermain.


Hari kedelapan berlibur, Ryan memilih berjalan-jalan ke taman dekat rumahnya. Dan kebetulanlah terjadi lagi. Ia bertemu dengan Raisya dan mereka berjalan-jalan bersama.


Hari kesembilan ia berlibur, ia mengubah sebagian uangnya di Remaist Online menjadi uang nyata sebesar Rp 500.000,00. Ia kemudian mengajak Rio untuk berlibur bersama, tetapi Rio tidak mau.


Maka Ryan pergi berlibur sendiri, selama dua hari keluar kota. 


Hari keduabelas berlibur, Raisya mengajak Ryan makan malam. Ryan yang bingung harus mengenakan pakaian apa akhirnya memilih kaos, jaket, dan celana panjang. Pakaian yang aneh untuk makan malam.


Dua hari lagi liburannya akan berakhir, ia akhirnya diam di rumah hingga liburannya selesai.


Setelah berlibur selama empat belas hari, membuat tubuh Ryan menjadi sedikit segar dan lentur lagi. Bermain selama seharian, apalagi seminggu penuh membuat tubuh Ryan sedikit kaku dan pegal.


Sebelum tersambung, Ryan bergumam, “Kuharap perjalananku kali ini akan lebih mudah...”


***


Sebelum memutuskan sambungan bersama, Slitherio, Whu, Naze, dan Geisha telah berjanji akan bertemu di Berlino lagi.


Naze berlari menuju pusat kota, tempat mereka berjanji akan berkumpul lagi. Namun ditempat itu hanya ada satu orang yang membawa tongkat di punggungnya. Ia sedang duduk sambil memakan sesuatu.


Naze mengenali orang itu sebagai Whu, si kera bertingkat yang juga memiliki kemampuan membuat tiruan dirinya.


Whu tersenyum ke arah Naze. Naze berjalan mendekati Whu kemudian ikut duduk disana. Mereka kemudian menunggu dua orang yang belum datang.


Tak lama kemudian, dua orang yang ditunggu akhirnya sampai. Kedua orang itu adalah Slitherio dan Geisha. Entah apa yang dilakukan keduanya sebelum sampai kesini.


“Jadi, kita akan kemana?” tanya Whu. Ia penasaran dengan tujuan selanjutnya Slitherio.


“Kau tau Blanc Mountain? Kita akan kesana.” Sahut Slitherio.


Slitherio kemudian berjalan meninggalkan Whu dan Naze yang masih duduk. Keduanya mengikutinya dan melesat secepat ia bisa.

__ADS_1


Tak lama kemudian, suara seruan terdengar saat mereka sudah berada tidak jauh dari tempat itu.


“Hei, bayar makananmu dulu!” 


Naze menyadari teriakan itu mungkin ditujukan pada Whu yang tadi langsung menyelesaikan makanannya sebelum kabur.


“Ehem, aku malas membayar pesanan...” begitulah ucapan Whu saat Naze menanyainya.


Keempatnya berjalan dengan santai menuju Utara, melanjutkan perjalanan ke Blanc Mountain.


***


“Apa?!” seseorang menggebrak mejanya saat mendengar laporan dari salah satu prajuritnya.


“Benar tuan, saya melihat dengan mata kepala saya sendiri. HeavenSoul sudah dihancurkan...” ucap prajurit itu.


Orang itu memijat keningnya, bingung dengan laporan prajurit tersebut.


Prajurit itu gemetar saat orang dihadapannya menatapnya dengan tatapan tajam.


“Kau yakin?” tanya orang itu.


“Beritahu pada Hell Dragon, suruh dia untuk mengirimkan selusin Hell Knight ke Void Hill.” Perintah orang itu.


Prajurit itu mengangguk kemudian memberi hormatnya pada orang itu dan kemudian pergi.


Orang itu menyeringai lebar, “Aku ingin lihat, jika Soul Knight kebanggaan HeavenSoul bisa dikalahkan, apa mungkin Phoenix itu mampu menghadapi selusin Hell Knight...”


Orang itu tertawa cekikikan, tawa yang terdengar menyeramkan dan terdengar hingga seantero Hell Empire.


***


Malam tiba. Slitherio mengajak ketiganya untuk beristirahat. Mereka sudah masuk hutan sejak tadi siang dan mereka baru sampai di tengah hutan saat sudah malam.


Mereka harus melalui hutan ini terlebih dahulu dan sampai di sebuah kota. Mereka harus menyusuri sungai besar terlebih dahulu kemudian sampai di hutan lagi. Mereka akan menyusuri hutan itu lagi dan akhirnya sampai di Blanc Mountain, kerajaannya para Phoenix.


Perjalanan akan berlangsung kurang lebih sebulan, itupun jika tidak ada halangan sepanjang perjalanan. Slitherio juga mengetahui tentang keberadaan sebuah Dungeon tingkat Hard yang disebut Blood Dungeon.


Slitherio memberitahukan hal itu dan ketiga temannya menyambut ide itu. Blood Dungeon berada dua hari perjalanan jika mereka berjalan dengan santai dan kurang lebih satu hari jika keempatnya menggunakan skill Wind Step.


Dengan kata lain, Blood Dungeon masih berada di dalam hutan. Mereka sangat ingin mencobanya.

__ADS_1


Whu membuat tenda, Naze berburu mencari tambahan sumber makanan, Slitherio membuat api unggun, dan Geisha menyimak.


Atra sudah memberikan cincin roh Adhie dan Bhiosa untuk Slitherio naikkan levelnya. Atra berencana kembali mengunjungi BloodThirsty Kingdom dan mencari tau kemungkinan seseorang menjadi Dewa.


Atra pernah mendengar dari beberapa penduduk BloodThirsty Kingdom bahwa salah satu dari raja BloodThirsty Kingdom pernah menjadi Dewa. Namun tidak ada bukti yang memadai untuk membuktikan hal tersebut.


Atra juga sedikit meragukan jalan Dewa tersebut karena sebelum ia melakukan perjalanan bersama Slitherio ia juga pernah curi dengar dari beberapa penduduk Kota Rough bahwa ada beberapa makhluk yang memiliki kemampuan Dewa. Pastinya cara pemain dan NPC untuk menjadi dewa sangatlah berbeda, begitu pikiran Atra saat itu.


Slitherio memilih melepaskan keenam mantan Pendekar Naga Hijau dan membiarkan keenamnya berburu untuk menaikkan levelnya. Slitherio memberi pesan jika seandainya ia memanggil mereka maka mereka harus kembali.


Slitherio kini memiliki empat rekan baru, Asheuin, Sen, Adhie, dan Bhiosa. Seiring waktu berjalan, level Adhie dan Bhiosa mulai naik. Kecepatan naik level keduanya bahkan melebihi kecepatan naik level Asheuin dan Sen.


Whu juga terkejut saat melihat hal ini. Ia sungguh tidak menyangka jika dua makhluk yang terlihat lemah itu memiliki kecepatan naik level yang mengerikan. Memang ia sudah melihatnya saat bersama Atra, tetapi saat melihat langsung bertambahnya EXP mereka sungguh terasa lain.


Level keenamnya terus naik hingga akhirnya level Asheuin dan Sen mencapai level 50, Adhie dan Bhiosa mencapai level 45, Dee dan Zeo mencapai level 48. Slitherio memanggil kembali keenamnya.


Saat keenamnya sudah kembali, Slitherio mengembalikan keempatnya ke cincinnya lagi dan Whu juga melakukan hal yang sama. 


“Dengan level mereka saat ini, mereka sudah bisa memakai Equip mereka yang dulu.” Ujar Slitherio saat melihat level keempat rekan barunya.


“Level Dee dan Zeo masih kurang lagi dua level. Mungkin Asheuin dan Sen sudah mencukupi syarat memakai Equip Legendary.” Ujar Whu sambil mengelus dagunya.


“Ah, benar juga.” Slitherio memanggil kembali Asheuin dan Sen. 


Slitherio mengeluarkan satu pedang berwarna hijau gelap dengan ukiran naga dan memberikannya pada Asheuin.


Untung saja level Asheuin mencukupi sehingga dapat memakai pedang itu. Slitherio kemudian mengambil kembali Black Sword yang beberapa hari lalu ia berikan padanya.


Slitherio kemudian mencari sarung tangan besi yang menjadi senjata Sen kemudian memberikannya pada Sen. Sarung tangan besi itu awalnya berada pada tangan Atra, Slitherio memintanya karena mengetahui Sen bersenjatakan sarung tangan besi.


Sen memakainya dan jadilah Sen yang sekujur tubuhnya tertutup Jirah, kecuali kepalanya. Asheuin juga begitu.


“Eh, ada yang salah?”


"Kenapa?" tanya Whu. Ia sudah merasa semua sudah beres.


"Kepala mereka... Tidak tertutup apapun. Jika kita kembali ke kota, para penduduk kota bisa mengusir Asheuin dan Sen." Jelas Slitherio.


"Kan kita punya jubah mereka masing-masing. Kenapa tidak kita pakaikan saja jubah tersebut?" ujar Whu.


"Benar..."

__ADS_1


__ADS_2