
Zein menutup pintunya dengan perlahan lalu duduk menyandarkan dirinya ke pintu lalu memegangi kepalanya sambil menekuk lututnya.
“Kekuatan mereka... Melebihi sebelas Dewa elemen saat seusia mereka...” Zein memegangi kepalanya.
Zein berdiri lalu mengaktifkan Heaven's Vision lalu mendengarkan seluruh pembicaraan Slitherio dan teman-temannya.
Heaven’s Vision adalah pendengaran serta penglihatan Dewa, yang artinya kemampuan ini bisa menembus apapun yang menghalangi dua indera ini untuk bekerja. Para dewa mendapatkan kemampuan ini saat mereka memiliki 30 kekuatan Spirit dan batasnya akan terus meningkat seiring makin banyaknya kekuatan Spirit yang dimiliki.
Sebagai salah satu dari Twelve First Gods, Zein memiliki batas Heaven’s Vision sejauh 10.000 Km dan seluruh Twelve First Gods juga memiliki batasan seperti itu.
Zein memusatkan Heaven’s Vision pada pembicaraan orang-orang di depan rumahnya. Semakin jauh ia mendengarnya, semakin ia mengerutkan dahinya, “Tak... Terkalahkan?”
Zein menyenderkan kepalanya sampai menghadap ke kanan dan mendengarkan dengan telinga yang menempel di pintu. Heaven's Vision masih aktif.
“Bagaimana mungkin...” suara Slitherio yang terdengar tidak mempercayai kekuatannya sendiri sampai di telinga Zein.
Zein menarik kembali Heaven’s Vision dan berdiri. Ia lalu keluar dari rumahnya dan berjalan menuju belakang rumah sederhananya.
Ia masih bisa mendengar pembicaraan Slitherio dan yang lainnya sudah selesai, sebab itulah Zein berjalan menuju belakang rumahnya.
Ada satu rahasia yang hanya diketahui oleh Twelve First Gods dan para murid-muridnya. Yaitu keberadaan pintu menuju Gods Realm.
Pintu menuju Gods Realm ada di hutan di belakang rumah Zein. Zein dipercaya untuk menjaga pintu itu karena kekuatannya yang amat besar serta bisa dipercaya.
Selain dijaga oleh Zein, pintu itu juga dijaga oleh sembilan ekor naga kecil yang dijuluki dengan panggilan The Nine Guard Dragons.
Selain Twelve First Gods, ada juga lima dewa yang disebut The Five Gods Cardinal Direction. Mereka berkuasa atas lima arah mata angin, yaitu Utara, Timur, Selatan, Barat, dan Tengah.
Zein mengingat sedikit kekuatan dari The Five Gods Cardinal Direction dan Weapon Gods. Mereka rata-rata memiliki sekitar 60-75 kekuatan Spirit. Yang artinya mereka amatlah kuat.
Zein mempercepat jalannya yang pada dasarnya sudah cepat lalu berhenti di depan sebuah pohon yang terliha berusia 50 tahun. Tetapi nyatanya pohon itu sudah ada sejak Era Penciptaan ribuan tahun lalu.
Zein mengaktifkan teknik yang dimilikinya untuk berkomunikasi dengan delapan Dewa lainnya, yaitu Telepati.
“Semuanya, aku ingin bertemu dengan kalian semua...” ujar Zein lalu menyentuh kulit pohon itu. Sebuah pintu berwarna putih tercipat dan Zein membukanya. Itulah pintu atau istilah kerennya adalah portal menuju Gods Realm.
Zein menatap sekelilingnya. Ia memilih dimunculkan di dekat kediaman utama Thunder God Jay dan terlihat kalau yang dicari sedang duduk santai dengan Wind God Max.
“Halo Zein, aku sudah mendengar panggilanmu dan tak kusangka kau malah terpental kesini...” Jay melambaikan tangannya. Zein cemberut lalu berjalan mendekati keduanya.
__ADS_1
“Apa yang kalian lakukan?” Zein mengabaikan ucapan Jay sebelumnya dan mendekat.
“Seperti yang kau lihat, duduk...” Max menaikkan dua jarinya. Jay hanya tersenyum lebar.
“Mana yang lain?” Zein tidak menghiraukan jawaban Max yang menurutnya sudah terlalu bodoh.
“Mungkin sedang di ruang pertemuan...” Jay berdiri lalu merapikan jubahnya yang terlihat berantakan lalu menatap Zein, “Ayo kita ke ruang pertemuan...”
Max berdiri dan melayang di sebelah mereka. Zein dan Jay berjalan duluan dan diikuti oleh Max.
Sepanjang perjalanan, beberapa dewa-dewi sejenis Art Goddess dan lainnya duduk santai di Gods Realm karena mereka tidak memiliki pekerjaan lagi atau istilah lainnya tidak ada pekerjaan.
Zein, Jay, dan Max sesekali disapa oleh dewa-dewi lainnya dan mereka hanya tersenyum tipis. Mereka sudah biasa menerima sapaan sejenis itu selama ini.
Ruang pertemuan nyatanya sudah diisi oleh dewa-dewi lainnya. Entah apa penyebabnya, sang pemanggil yang adalah Zein malah datang terlambat.
“Eh, tidak biasanya kau datang awal...” Max menatap Monte dengan keheranan.
“Aku mencoba membuat pencapaian terbaru, tetapi malah didahului oleh dia, dia, dan dia.” Monte menunjuk Eny, Luna, dan Kina.
“Lagipula, siapa suruh kau memilih berbicara dulu dengan pilar sebelum kemari? Bukankah itu hanya akan membuat pencapaianmu gagal?” Tany yang tadi datang bersamaan dengan Monte menatapnya kesal.
“Bagaimana bisa Tuhan menyerahkan bumi ini pada orang lambat sepertinya?” Vesta menatap Monte datar.
“Lambat? Ulangi kata-katamu itu lagi!” Monte serasa ingin melempar meja yang ada di hadapannya kini, “Kekuatan tanahku jauh lebih kuat dibanding kekuatan cairan ungu milikmu itu...”
Vesta serasa ingin melempar cairan yang dimaksud oleh Monte itu ke arah Monte langsung dengan tangannya sendiri.
“Sudahlah, hal itu tidak penting, bukan?” Zein menengahi keduanya, jika keduanya bertarung kemungkinan pekerjaan Holy Light Goddess akan bertambah. Holy Light Goddess merupakan murid dari Xue dan ia menguasai teknik penyembuhan serta serangan cahaya berkekuatan besar.
“Yang penting sekarang adalah Zein ingin kita bertemu dengan para makhluk dunia yang berhasil menapakkan kakinya di pulau suci ini...” Luna menatap Zein, “Benar begitu, Zein?”
“Ba-bagaimana kau bisa tahu?” Zein menatap Luna, ia tak pernah mendengar Luna bisa meramal apa yang ingin ia ucapkan.
“Menebak...” Luna hanya tersenyum lebar, “Lagipula aku tak pernah berniat meramal ucapanmu itu...”
Zein memilih diam dan duduk di tempatnya biasa. Yang lainnya lalu duduk di tempat masing-masing.
“Nah, apa yang dikatakan oleh Luna sebelumnya itu benar?” tanya Jay sebagai pemimpin dari Gods Realm dan Gods Island serta pemimpin para dewa dan Dewa yang dianggap bisa menyetarai Tuhan.
__ADS_1
“Benar, dan aku ingin mengatakan kalau mereka sudah sampai di Gods Island...” Zein menatap Kina, “Seharusnya kau sudah tahu, bukan?”
Kina mengangguk, “Monte dan Eny juga harusnya tahu tentang ini...”
“Aku lupa...”
“Aku ketiduran selama dua hari ini karena bosan...”
Eny dan Monte memalingkan wajah mereka. Terlihat kalau mereka lupa akan hal itu.
“Kalian!” Tany mengangkat kepalan tangannya dan memperlihatkan sekujur tangannya yang terlihat mengkilap, “Serius sedikit!”
“Aku seriusan...” Eny dan Monte menatap Tany datar, “Aku benar-benar lupa...” Eny berkata sambil menguap.
“Kau?! Ikut-ikutan alasanku saja!”
“Mana kutahu kalau kau juga sama pelupanya dengan Gaburon!”
“Setidaknya aku sudah mengawasi pulau dan bumi dengan baik!”
“Tapi kau tidak mengawasi seluruhnya, bukan?!”
“Aku ini Earth God, bukan Universe God! Jadi aku tidak bisa mengawasi semuanya seperti Guru Manusia Langit!”
“Tapi kau seharusnya ingat kalau ada delapan orang dan dua makhluk berkaki emoat yang menapaki pulau ini!”
“Itu artinya kau ingat!” Vesta yang sejak tadi diam akhirnya bicara dan menghentikan perdebatan tidak berguna itu.
Keduanya langsung diam tanpa ada suara setelah Vesta berbicara. Tak ada Dewa lain yang berani membuat Vesta marah kecuali Twelve First Gods lainnya.
“Aku akan memberikan susunan dewa ini pada kalian agar kalian ingat dengan susunan dewa yang tak pernah berubah ini...” Jay mengeluarkan selembar kertas putih dan meletakkannya di atas meja.
Max memakai anginnya untuk menerbangkan kertas itu dan Kina memakai kekuatannya untuk melayangkannya di atas dan membuatnya bisa dilihat yang lain.
“Aku ingat kembali!” yang pertama selesai membaca kertas itu adalah Monte yang terkenal akan kecepatan bacanya yang mengerikan.
Sisanya menyelesaikan bacanya dengan kecepatan rata-rata. Zein yang melihat semuanya sudah selesai membaca memahami maksud Jay memberikan catatan itu. Alasannya agar mereka tidak lupa dengan para bawahan mereka, itu saja.
“Nah, apa kalian mau bertemu dengan delapan orang ini?” Zein menatap semuanya.
__ADS_1
Semuanya saling tatap sebelum akhirnya mengangguk dan setuju akan turun besok pagi di Gods Altar.