Remaist Online: Return Of The Legend

Remaist Online: Return Of The Legend
160. Panggilan darurat III


__ADS_3

Seorang pria sepuh dengan wajah terlihat berusia tiga puluhan tahun dengan senyuman yang memancarkan kehangatan hati.


“Siapa?” Sean tidak berani menoleh, ia menunjuk pintu masuk dan belakangnya secara bergantian.


Pria itu menepuk pundak Sean pelan, yang lainnya menarik sedikit senjata masing-masing.


“Oh, tenang saja. Aku takkan menghabisi salah satu pilar penyelamat Midvast...” Pria itu mengangkat tangannya dari pundak Sean.


“Siapa?” Slitherio bertanya sambil menggenggam kedua gagang pedangnya.


“Aku bernama Chao...” Pria itu mengenalkan dirinya, “Aku biasa dijuluki Naga Abadi di Benua Northev dan mungkin Dewa Naga di Benua Midvast...”


Tepat setelah Chao menyelesaikan kalimat terakhirnya itu, seketika semua orang menyarungkan senjata masing-masing dan berlutut.


“Maafkan kami, Dewa...” 


Chao mengangkat alisnya, “Eh?”


“Kenapa Dewa seperti anda mau mendatangi tempat sederhana seperti ini?” Fei membaca kisah tentang Chao di buku ‘Kisah para Dewa' dan ia tentu mengenali nama Chao serta julukan Dragon God dan Immortal Dragon.


“Aku hanya ingin mengatakan, hati-hati saat kalian menghadapi masa depan...” Chao mengangkat tangannya, seketika semua orang langsung berdiri.


“Tak ada yang tahu masa depan, yang menentukan itu hanya kalian...” Chao menatap Slitherio dengan lembut.


“Aku tahu kalau semua orang yang duduk disini, akan menjadi orang yang sangat kuat, hebat. Salah satu dari kalian mungkin akan menjadi salah satu kawan kami, Twelve First Gods.” Chao menatap Slitherio lama. Yang ditatap hanya mengangguk.


“Tapi, bahaya di depan haruslah kalian hadapi terlebih dahulu, barulah kalian memikirkan kata-kataku sebelumnya...” Chao menatap sekelilingnya.


“Begitu saja kata-kataku hari ini, semoga membantu dan...” Chao menatap Slitherio lama, “Sampaikan salamku juga pada FolkChase atau Viones...” Chao lalu menghilang.


Semua orang lalu menatap Slitherio kebingungan, yang ditatap hanya bisa menggaruk kepalanya sambil tertawa kecil.


“Baik, kita lanjutkan...” Sean akhirnya memutuskan hal yang sudah sejak lama ia pikirkan. Yaitu membubarkan Great Party yang ia buat saat di Gate of Beast Hell.

__ADS_1


“Apa?!” yang paling terkejut jelas Alex. Dirinya yang selalu memiliki kekuatan besar saat sendirian dan sekarang ia melemah. Ia tahu alasannya sekarang.


“Pantas saja kekuatanku berkurang tajam...” Alex menatap Sean tajam. Yang ditatap hanya menggaruk kepalanya.


Sean akhirnya membubarkan Great Party itu dan sekarang seluruh kekuatan 11 Ketua Guild Profesional akhirnya meningkat pesat.


“Pantas saja aku kalah waktu itu...” Zero menepuk dahinya.


“Baik, dengan ini pertempuran besar antara para pemain Remaist Online melawan Hell Empire dimulai!” Sean mengangkat tangannya, tetapi tak ada yang merespon.


“Aku ingin mengatakan sesuatu...” Qiun membuka tudung jubahnya yang terus tertutup sejak dulu sekali, saat mereka semua saling kenal.


“Saat kalian mengetahui diriku adalah Half Demon, bagaimana reaksi kalian?” Qiun menampakkan wajahnya, mata berwarna ungu dengan pupil berwarna hitam.


“Biasa saja...” Slitherio mengayunkan tangannya, “Aku bahkan pernah melihat yang lebih parah daripada itu...”


“Lalu?” Sean, Luvian, Gorzsha, WhiteFang, Alex, Zero, Kurei, Carey, dan Fei menatap Qiun bingung.


“Reaksi kalian terlalu biasa!” Qiun memukul meja keras.


“Keragaman ras itulah yang membuat kita berbeda...” WhiteFang memangku dagunya.


“Apa kau pernah melihat pertarungan antar ras selama di Midvast?” Alex dan Carey yang jelas lebih sering berpetualang di Midvast bertanya pada Qiun yang dibalas dengan gelengan.


“Pasti ada sebabnya...” Slitherio yang sering melihat ketidakadilan di dunia nyata malah melihat kedamaian di Midvast.


“Semenjak Sky Empire diserang beberapa bulan lalu, memang kedamaian di Midvast berkurang. Tapi karena dua keluarga bangsawan terbesar di Midvast dihancurkan oleh Slitherio...” WhiteFang berkata kemudian menatap Slitherio, “Hampir tak ada kekacauan lagi di seluruh Midvast...”


“Tak usah dipikirkan soal dari ras mana kau berasal, tetapi yang pasti seluruh ras di Midvast pastinya sedang menghadapi lawan yang sama...” Carey yang terlihat waspada sejak tadi menepuk pundak Qiun pelan.


“Aku akan berkhianat terhadap rasku sendiri...” Qiun menggaruk kepalanya.


“Biarkan dirimu berkhianat, lagipula jika kau dibunuh maka kau akan hidup lagi, bukan?” Kurei tersenyum lebar.

__ADS_1


“Benar...”


“Pertemuan hari ini kububarkan...” Sean menepuk meja dan semua orang berdiri lalu keluar ruangan, meninggalkan Sean dan Slitherio saja.


“Apa?” Sean yang melihat semua orang sudah keluar kecuali Slitherio yang sedang menatapnya.


“Apa kau mau tidak mengadakan pertemuan selama beberapa bulan ini?” Slitherio mendekat.


“Tentu...” Sean mengangguk, “Apa yang ingin kau lakukan?”


Slitherio terdiam lalu berkata, “Berkembang...”


“Berkembang?” Sean menaikkan alisnya.


“Biarkan semua pemain di Midvast berkembang sampai saat Hell Empire memberikan serangan. Jika waktu Hell Empire menyerang kita semua kira-kira memiliki level 400 sampai 500, maka saat itulah saat terbaik bagi kita untuk menyerang balik.” Slitherio mengatakan rencana yang sejak tadi ia pikirkan. Ia lalu mengambil ketiga buku yang tadi ia keluarkan.


“Sungguh, aku kagum dengan dirimu...” Sean mendekat lalu menepuk pundak Slitherio.


“Tapi kita tidak tau, apa Hell Empire akan memberikan kita waktu berkembang atau tidak...” Slitherio mengabaikan ucapan Sean, “Dari yang kutahu adalah itu...”


“Tak ada musuh yang akan membiarkanmu berkembang...” ujar Sean, “Kata-kata itu sudah umum diantara kalangan pemain MOBA sepertimu...”


“Sekali saja mereka membiarkan kita berkembang, maka mereka akan menyesalinya...” ujar Slitherio, “Mereka takkan seperti itu...”


“Benar...” Sean mengusap dagunya.


“Jika ada hal yang membuatmu bingung, jangan sungkan untuk memintanya padaku...” Slitherio menepuk pundak Sean, “Dan juga ingatlah untuk selalu mengawasi Midvast diam-diam. Kedamaian seperti ini takkan berlangsung lama...”


Slitherio menepuk pundak Sean beberapa kali sebelum berjalan keluar. Sean menatap itu semua sambil bergumam, “Aku yakin dia akan berkembang menjadi yang tak terkalahkan...”


Diluar, hati sudah menjelang sore, “Selama itukah pertemuan tadi berlangsung?” gumam Slitherio pelan. Ia lalu mengedarkan pandangannya.


Sambil berjalan, ia menikmati sore yang indah itu. Setidaknya ia berjalan sampai pintu gerbang Kota Verys.

__ADS_1


Saat sudah diluar, Slitherio mengeluarkan sebuah kristal dan berkata, “Go Hostix City!”


__ADS_2