Remaist Online: Return Of The Legend

Remaist Online: Return Of The Legend
177. Empat penguasa Triangle Sea


__ADS_3

Triangle Sea dikuasai oleh empat makhluk yang memiliki kekuatan amat dahsyat. Keempatnya telah hidup sejak Era Penciptaan dan mereka masih hidup sampai sekarang.


Dua diantaranya merupakan bawahan dari Hell Empire, salah satu dari dua kekaisaran legendaris di Midvast, yaitu Whazard dan Kraken.


Whazard digambarkan memiliki wujud seperti kadal yang berukuran amat besar yang menyetarai ukuran paus, sebab itulah dia dipanggil Whale Lizard atau disingkat Whazard.


Kraken merupakan mimpi bagi pelaut ataupun nelayan yang mencari ikan di Triangle Sea ataupun disekitarnya. Ia digambarkan memiliki wujud seperti gurita dengan ketahanan serta kelenturan tentakelnya yang amat hebat serta sulit dicari lawannya.


Dua lagi merupakan makhluk laut yang tidak ingin pergi ke Gods Island ataupun menjadi Beast Remaist World Ruler, yaitu Black Eye Whale dan White Shark.


Black Eye Whale memiliki wujud paus dan memiliki ukuran tubuh yang hampir menyetarai Whazard. Kekuatannya belum diketahui, karena siapapun yang melihatnya akan mati dengan tubuh yang tak pernah ditemukan. Hanya satu orang yang mampu membuat Black Eye Whale tunduk, yaitu Ocean Goddess. Konon, kekuatannya bahkan melebihi kekuatan Whazard saat berada di air.


White Shark merupakan satu-satunya lawan yang mampu menandingi Black Eye Whale saat di air. Ia digambarkan memiliki wujud seperti hiu dengan taring yang besar juga tajam serta tubuh yang amat besar. Disebutkan jika ada badai besar kemudian diikuti oleh laut yang tenang dengan awan hitam, maka itu adalah pertanda kalau White Shark berada di sekitar.


Keberadaan mereka disebut-sebut merupakan ujian bagi para manusia yang ingin menapaki jalan dewa yang terakhir, yaitu menuju Gods Island.


Tuhan berkata, yang mampu melewati mereka akan menerima berkah, yang tidak mampu akan menerima kematian. Lebih baik tidak usah ke Gods Island jika tidak mampu menghadapi salah satu dari empat makhluk ini, ujar Tuhan.


Dan sepertinya, salah satu dari empat makhluk itu akan menghambat perjalanan Slitherio menuju Gods Island.


***


Malam...


Selepas terbang ke langit dan istirahat sejenak, Slitherio dan teman-temannya melakukan rutinitas biasa mereka setelah rebahan, yaitu makan malam.


Makanan hari ini dimasak oleh Geisha dan skill Cooking milik Geisha sudah mendekati tingkat Master. Menunya adalah sayur kuah.


Entah apa yang akan terjadi malam ini, mereka tetap menjalani kegiatan mereka selama di laut dengan santai dan penuh sederhana.


Mereka menyelesaikan makanan masing-masing sebelum melanjutkan kegiatan sederhana mereka selanjutnya, yaitu menatap laut.


Biasanya, mereka akan menatap laut sambil bercerita santai untuk mengisi waktu. Kejadian tadi siang sudah membuat mereka menyadari kalau perjalanan ini seharusnya dinikmati, bukan untuk malas-malasan.


Slitherio duduk di bawah tiang utama bersama Sean, FastStone, Li, Naze, dan Atra. Geisha dan Clarey memilih duduk terpisah dengan yang lainnya dan berbincang seru. Entah apa yang dibicarakan oleh dua orang itu, batin Sean.


Sean menatap Slitherio yang duduk dengan santai, “Apa kalian tak merasa ada hal yang aneh?” tanya Slitherio


“Aneh?” tanya FastStone dan Atra bersamaan.

__ADS_1


“Anginnya sedikit keras...” Naze mengangkat jarinya, “Seharusnya dengan angin ini kita bisa sampai kurang dari setengah bulan.”


Jarak antara timur Midvast dengan Triangle Sea seharusnya berjarak hampir sebulan jika pergi dengan kapal berkecepatan rendah ini.


Tetapi angin hari ini membuat Slitherio kebingungan, “Tidak biasanya angin sekeras ini, bukan?”


“Arahnya berubah...” Li mencoba memeriksa map yang sudah sedikit jelas, “Kita keluar dari jalur...”


Ucapan Li membuat Sean, Slitherio, dan FastStone terkejut, “Bagaimana mungkin...” FastStone memejamkan matanya.


“Sepertinya angin yang membuat kapal ini keluar dari jalurnya...” Geisha berdiri, tetapi tak lama ia kembali duduk karena angin yang keras.


“Anginnya mengarah ke utara!” Clarey mencoba berdiri sambil berpegangan pada pinggiran kapal. Ia lalu berdiri dengan gemetar.


Slitherio berdiri dan berjalan dengan perlahan, tetapi ia terjatuh dan terpaksa menjatuhkan diri ke lantai kapal.


Lautan kemudian bergelombang seiring angin berhembus semakin kencang. Air-air bahkan melewati kapal dan menyiram semua orang.


“Badai terjadi!” Naze berdiri bersamaan dengan FastStone. Sean memakai pedangnya yang masih tersarung untuk membantunya berdiri.


Kapal kemudian terus bergerak tidak teratur dengan mengikuti arah angin yang sama tidak teraturnya.


Di saat yang bersamaan, kumpulan awan hitam muncul di atas mereka dan seketika badai terhenti begitu saja.


“Badainya sudah selesai?” Sean meletakkan kembali pedangnya di samping. Ia ikut menatap sekelilingnya.


Lautan tenang, batin Slitherio. Tetapi ia tetap tidak menurunkan kewaspadaan dan bersiap untuk yang tidak diinginkan.


“Jangan lengah, siapa tahu kalau ketenangan ini hanyalah...” Slitherio tidak sempat menyelesaikan kata-katanya ketika ombak besar menerbangkan kapal mereka ke langit serta memperlihatkan keadaan yang sesungguhnya di laut.


Taring besar menyembul dari laut dan terlihatlah sebuah mata dari dalam laut berwarna merah serta tubuhnya yang amat besar.


Kapal hanya melayang di udara sesaat sebelum jatuh kembali ke atas laut. Untung saja jatuhnya jauh dari makhluk itu, jika tidak mungkin kapal itu langsung hancur tak tersisa.


Kapal hampir tenggelam ketika kembali ke laut serta menerbangkan air laut di sekitar mereka. Taring yang tadi terlihat bergerak mendekat.


Slitherio yang paling pertama berhasil menguasai dirinya segera berseru, “Semuanya! Bersiap!”


Taring itu bergerak cepat dan menabrak kapal itu serta menghancurkan kapal itu. Slitherio melompat tinggi, diikuti oleh Sean, Geisha, FastStone, Naze, Atra, Li, dan terakhir Clarey.

__ADS_1


Geisha segera berseru, “Gold, kemari!” 


Sebelum kapal itu tenggelam, seekor singa bersayap emas terbang dan mendekati mereka dengan cepat.


Slitherio dengan cepat meraih teman-temannya dan melempar mereka ke arah Gold kemudian terbang dengan sayapnya sendiri.


“Geisha, ajak Gold untuk terbang lebih tinggi.” Slitherio berkata di sebelah Geisha. Geisha mengangguk.


Gold kemudian terbang lebih tinggi diikuti oleh Slitherio dan berhenti beberapa meter lebih tinggi dari ketinggian sebelumnya.


Terlihatlah tubuh besar makhluk yang menyerang kapal mereka diam di bawah air. Awan masih hitam serta tidak membiarkan cahaya bulan menyinari laut. Hanya api dari sayap Slitherio yang bercahaya terang.


Sejak menjadi dewa, cahaya dari api milik Slitherio bahkan mampu menyinari sebuah hutan seluruhnya. Skillnya juga menciptakan cahaya yang amat terang.


Perlahan, makhluk itu memunculkan wujudnya dan diam. Slitherio yang melihatnya bergumam, “Apa yang ingin dia lakukan?”


Makhluk itu menaikkan ekornya dan memperlihatkan panjang tubuhnya yang amat tidak masuk akal. Setelah ekor itu naik amat tinggi, makhluk itu menurunkan ekornya kembali dengan cepat, menciptakan gelombang air yang amat besar.


“Aku... Takkan bisa melawannya...” Slitherio menghela napasnya setelah melihat kekuatan ekor makhluk itu, ia takkan bisa melawannya hanya dengan dua pedangnya.


“Pedang yang lebih kuat...” Slitherio bergumam pelan.


“Ada cara?” tanya FastStone pada Sean. Yang ditanya hanya menggeleng.


“Aku punya cara, yaitu kita mengeroyoknya bersamaan...” Li mengeluarkan Heaven Flutenya lalu meniupnya.


"Tak ada cara lain, ya..." FastStone menarik semua pedangnya bersamaan.


"Sepertinya begitu..." Naze menarik busurnya, ia sudah bersiap.


"Tak ada cara yang lain..." Slitherio berpikir sejenak lalu menarik kedua pedangnya.


Sean menatap Slitherio, "Kabur?"


Slitherio menatap Sean balik, "Kalau kau mau silahkan, kami akan menahannya untukmu kabur..."


Sean memonyongkan mulutnya lalu menarik pedangnya, "Sial..."


"Kau tidak ingin mati?" Atra menatap Sean, "Kami juga..."

__ADS_1


"Tetapi hanya inilah cara yang bisa lakukan untuk membuktikan kalau kita pantas menapaki jalan dewa..." Clarey ikut berkata.


Kata-kata Clarey membuat semua orang tersadar, kalau mereka sudah menempuh perjalanan amat panjang dan tidak mungkin mereka akan kabur begitu saja.


__ADS_2