
Slitherio memegangi kepalanya, “Bagaimana mungkin...”
Yang lainnya memijat keningnya, Slitherio sungguh-sungguh terlalu kuat untuk ukuran seorang pemain.
Tetapi kejadian ini mungkin saja bisa mempengaruhi keseimbangan permainan karena kekuatan Skill pasif Immortal Beast milik Slitherio.
Bukan tidak mungkin nanti Slitherio akan diburu karena kemampuannya itu, yang bisa saja mempengaruhi keseimbangan permainan.
Sebelumnya memang sudah terlihat ketidak seimbangan karena kemunculan para petinggi Hell Empire. Tetapi ketidak seimbangan itu bisa dilalui dengan kemampuan tinggi para pemain Profesional yang berhasil mengalahkan monster-monster itu.
Slitherio mengelus dagunya, “Lupakan hal itu, yang penting sekarang kita akan istirahat dimana?”
Pertanyaan Slitherio menyadarkan mereka semua. Sudah berlalu hampir dua jam sejak mereka menemukan Gods Island dan sudah berlalu hampir setengah jam setelah mereka berpikir tentang aura Zein yang kuat itu.
“Di Kota Fana saja, bagaimana? Sid God sudah memberitahu kita sebelumnya, bukan?” tanya Sean. Yang lainnya mengangguk.
“Memangnya disana ada penginapan?” Geisha menatap Sean, “Tempat ini adalah tempat ujian, bukan tempat berlibur...”
“Bisa saja kalau mereka menyiapkan tempat untuk istirahat sejenak, bukan?” FastStone menyetujui usul Sean.
“Benar juga...” Naze dan Li mengelus dagu mereka.
Akhirnya mereka memilih kembali ke Kota Fana untuk beristirahat sejenak.
***
Kota Fana...
Slitherio dan yang lainnya berhasil menemukan tempat menginap sejenak setelah mengelilingi Kota Fana selama hampir tiga jam.
Kota Fana luasnya benar-benar mengerikan, sampai membuat sekelompok orang pendatang mengelilingi kota itu selama hampir tiga jam.
Slitherio bersandar di pilar dekat meja resepsionis sambil berkata, “Kami ingin memesan kamar...” dengan suara kecil.
Resepsionis itu hanya menaikkan alisnya sambil bertanya, “Berapa kamar?”
Slitherio menatap ke belakangnya. Teman-temannya sedang duduk di beberapa tempat duduk santai dengan wajah berkeringat.
Mungkin mereka ditakuti di medan perang, tetapi mereka tetap saja bisa kelelahan karena berjalan-jalan tanpa ada tujuan jelas. Ditambah terik matahari yang amat menyengat membuat stamina mereka dikuras.
Situasi di Gods Island mungkin tak separah saat di Sahara Desert, tetapi entah kenapa panas disini lebih panas dibandingkan saat di Sahara Desert.
“Tujuh kamar...” Slitherio menaikkan jempol dan telunjuk kirinya dengan lemas. Resepsionis memahami maksud Slitherio sehingga ia menuliskan sesuatu kemudian mengeluarkan tujuh kunci.
__ADS_1
“Kamar anda sekalian ada di lantai tiga. Makan malam akan dikabari oleh pelayan kami sekitar pukul enam sore nanti.” Ujar resepsionis itu sambil menyerahkan tujuh kunci itu.
Slitherio menerima ketujuh kunci itu lalu berjalan menuju teman-temannya yang sudah berkeringat, “Lantai tiga...”
Wajah Li yang berubah paling cepat, ia memiliki stamina yang terbatas karena ia adalah seorang Musician. Ia hanya bermain alat musik dan tidak memerlukan stamina jumlah besar dibanding yang lainnya.
“Lantai tiga, ya?” Sean berkata dengan suara kecil, “Lewat mana?”
“Apa tidak ada lift? Aku lelah berjalan...” Naze mengangkat kedua tangannya lalu meregangkan punggungnya.
“Ini dunia lain, mana ada lift...” Slitherio mengangkat tengahnya berniat memukul kepala Naze, tetapi ia mengurungkan niatnya itu.
“Tuan sekalian lelah? Disana ada portal yang bisa mengantar anda sekalian ke lantai tiga...” resepsionis tadi memperhatikan gerak-gerik Slitherio dan yang lainnya sehingga sedikit memahami situasi mereka. Ia lalu menunjuk ke sebuah lingkaran putih besar di dekat pilar tadi Slitherio bersandar.
Sean dan FastStone membuka mulut mereka lebar-lebar. Tanpa basa-basi lagi, mereka langsung berlari ke portal itu sambil berseru, “Third Floor!”
***
Esok paginya...
Semalam mereka beristirahat dengan santai dari waktu mereka mendapatkan kamar sampai esok paginya.
Baru saat itu saja mereka bisa tidur dengan tenang setelah melalui petualangan yang menakjubkan seminggu lebih lalu.
“Apa kalian menyadari kalau kita tidak bisa memutuskan sambungan saat disini?” Slitherio bertanya setelah mereka semua selesai sarapan pagi.
“Masa?” Sean membuka menu, “Tetap ada, hanya saja kita perlu waktu tertentu barulah bisa memutuskan sambungan...”
“Sebut saja dua hari dari sekarang kita bisa memutuskan sambungan...” Naze ikut melihat menu.
“Selain waktu itu, tidak akan bisa...” Geisha memahami maksud Naze, “Jangan bilang kau ingin memutuskan sambungan?”
Slitherio menggaruk kepalanya, “Benar...”
“Kita sudah mengonsumsi pil gizi sebelum tersambung lagi. Seharusnya itu cukup untuk menjaga tubuh kita selama dua hari di dunia nyata...” ujar FastStone setelah meminum airnya.
“Selama waktu kita diberi kesempatan memutuskan sambungan, ada baiknya kita melakukan hal yang lupa dilakukan saat di dunia nyata sebelumnya...” Clarey ikut bicara.
Semua orang mengangguk. Setelah selesai sarapan pagi, mereka langsung berjalan menuju rumah Zein untuk diajak menemui delapan Dewa lainnya.
Rumah Zein dan Kota Fana bisa dibilang jauh. Perlu waktu selama hampir satu jam untuk kesana dengan skill Wind Step serta kecepatan dasar mereka.
Seperti yang diduga, Zein sudah menunggu dengan tenang di depan rumahnya, “Halo...”
__ADS_1
Slitherio memberi hormatnya. Yang lainnya ikut melakukan apa yang Slitherio lakukan.
“Baiklah, apa kalian siap bertemu dengan delapan Dewa lainnya yang kurang lebih memiliki kekuatan setara denganku?” seolah memahami kesulitan Slitherio saat menahan auranya, Zein bertanya dengan pertanyaan seperti itu.
Slitherio mengangguk. Zein tersenyum dan berjalan, “Ikuti aku...”
Slitherio baru kembali melihat Zein saat ia sudah ada jauh di depan. Slitherio terdiam.
“Sebenarnya secepat apa dia jika melesat?” tanya Sean. Ia sendiri juga tidak percaya, bahkan ia tidak percaya kalau ia sendiri melihat Zein berjalan.
Tak ada pilihan, mereka kembali memakai skill Wind Step dan menyusul Zein yang sudah berjalan jauh di depan.
Untung saja mereka memiliki skill Wind Step, jika tidak mungkin Slitherio dan yang lainnya akan tersesat di hutan itu.
Setelah berhasil menyusul Zein, mereka berjalan beriringan dengan santai sampai mereka tiba di depan sebuah tangga rendah yang menyambungkan daratan dengan sebuah bangunan tinggi diatasnya.
Perlu waktu hampir empat jam untuk mereka akhirnya sampai di tempat itu. Saat sampai disana, Zein berkata, “Jika saja jalan kalian tidak lambat, kita bisa sampai disini setengah jam lalu, lho...”
Slitherio dan Atra yang mendengarnya merasa kecil, kecepatan tadi itu adalah kecepatan penuh mereka dan itu dibilang lambat oleh Zein. Ada yang salah dengan otak pria ini, batin Atra.
“Alasannya karena kalian terlalu berpatokan pada skill kalian, tidak dengan kemampuan kalian sendiri...” ujar Zein.
“Kalau saja kalian juga melatih kecepatan dasar kalian, maka kalian pasti bisa bergerak secepat angin...” lanjutnya.
Slitherio terdiam. Sepertinya ucapannya benar. Yang lainnya juga memahami maksud Zein.
“Mereka akan datang, bersiaplah...” Zein berjalan maju dan ketika ia menaiki tangga itu, aura miliknya semakin berat dan jubahnya yang sebelumnya berantakan kini berubah menjadi bercahaya dan semakin rapi.
Ketika Zein berhenti naik tangga dan berjalan menuju bangunan itu, petir besar menyambar dari atas langit dan memunculkan seorang pria dengan tubuh kekar serta petir-petir biru mengelilingi tubuhnya.
Setelah petir itu menghilang, sebuah gas berwarna ungu muncul dan seorang wanita dengan jubah ungu gelap muncul dengan seringai seramnya. Slitherio sedikit bergidik ketika melihat wajah wanita itu.
Setelah gas ungu itu menghilang, pasir-pasir di sekitar mereka naik ke tangga itu dan membentuk seorang pria yang membawa sebuah batu di tangannya. Terlihat aneh, batin Geisha.
Setelah pria itu datang, daun-daun datang entah dari mana dan membentuk tubuh seorang wanita cantik yang memakai jubah berwarna hijau terang. Mulut FastStone terbuka sedikit saat melihat kecantikan wanita itu.
Setelah itu, cahaya berwarna perak dan angin keras datang secara bersamaan kemudian cahaya itu memunculkan seorang pria yang hanya memakai celana, tetapi tubuhnya berwarna perak mengkilap. Angin itu semakin keras dan seorang pria melayang turun dengan perlahan di sebelah wanita berjubah hijau.
Tak lama setelah itu, hawa dingin datang dan bersamaan dengan itu, air yang ada di lautan bergelombang besar. Beberapa air datang dan membeku, memunculkan seorang wanita dengan jubah biru dengan lingkaran besar di punggungnya.
Di sebelah wanita berjubah biru itu, berdirilah seorang wanita dengan jubah berwarna biru yang bermotifkan gelombang air dan menaikkan telapak tangannya, “Halo semuanya...”
“Selamat datang di Gods Altar!” tepat setelah semua orang itu menaikkan telapak tangan mereka, tekanan besar datang menerpa delapan orang yang akan menerima ujian dari para Dewa.
__ADS_1