
Asheuin dan teman-temannya sedang berburu di sekitar desa Havesta ketika sekitar dua puluh makhluk yang menyerupai manusia tetapi memiliki telinga panjang.
Para Dark Elf itu menghadang jalan Asheuin dan teman-temannya yang ingin lewat lalu menghunuskan senjata masing-masing.
Asheuin tidak ada pilihan selain ikut menarik senjatanya, tetapi Bhiosa berkata, “Kita ajak saja mereka dahulu kepada tuan, siapa tau tuan mau menjadikan mereka sebagai penduduknya...”
Para Dark Elf itu maju menyerang setelah Bhiosa menyelesaikan kata-katanya. Asheuin yang terlanjur menyarungkan kembali pedangnya terpaksa menariknya lagi dan menahan serangan dari para Dark Elf ini.
Kata-kata Bhiosa tentang ingin menjadikan Dark Elf ini sebagai penduduk desa Havesta masih terngiang di telinga Asheuin. Ia akhirnya memilih tidak membunuh Dark Elf ini tetapi hanya melukainya saja.
Pada awalnya, jumlah Dark Elf tidaklah bertambah. Tetapi setelah setengah dari jumlah Dark Elf awal yang menghadang mereka terluka, puluhan Dark Elf langsung melompat bergabung di pertarungan dan mengeroyok Asheuin.
Sen, Adhie, Dee, dan Zeo membantu Asheuin sedangkan Bhiosa membawa mundur Asheuin. Asheuin melompat mundur lalu memulihkan dirinya.
“Jangan lukai mereka, kita akan membawa Dark Elf ini kembali ke desa!” Asheuin berseru lalu menyarungkan pedangnya. Ia lalu berjalan maju dan melepaskan Murderous Auranya.
Murderous Auranya memiliki tekanan yang kurang lebih hampir menyetarai milik tuannya, Slitherio. Ia juga melepaskan Dragon Aura yang kuat dan mengarahkannya pada puluhan Dark Elf itu.
Dark Elf langsung diam mematung dan saat itulah, beberapa Dark Elf kembali datang, tetapi dengan jumlah yang lebih sedikit dari jumlah Dark Elf yang kedua.
Sen dan Adhie mengurus mereka yang baru datang sedangkan Asheuin, Dee, dan Bhiosa melumpuhkan lalu mengikat semua Dark Elf itu agar tidak kabur.
“Apa kalian tidak terlalu kejam pada mereka?” tanya Zeo.
“Agar mereka tidak kabur...” jawab Asheuin singkat. Dee dan Bhiosa mengangguk
“Tapi jangan juga sampai sepuluh dijadikan satu ikatannya...” ujar Sen yang baru selesai melumpuhkan sisa Dark Elf.
“Nah, waktunya interogasi...” Asheuin meregangkan jarinya yang mengeluarkan suara saat diregangkan. Ia lalu mulai bertanya pada salah satu Dark Elf yang terlihat pintar.
Mereka adalah Dark Elf yang tinggal di sebuah desa dekat desa Havesta. Mereka sudah mendengar kabar tentang sebuah desa yang hancur yang kembali dibangun oleh beberapa petualang. Para petualang yang dimaksud adalah Guild Sevens.
Pada awalnya, para Dark Elf berniat menjadikan desa Havesta sebagai desa baru mereka mengingat desa mereka sudah kepenuhan oleh para Dark Elf kecil.
Beberapa petinggi desa itu juga sudah memutuskan akan mengambil desa itu lalu menjadikannya desa yang baru yang lebih luas dan juga lebih rapi.
Siapa sangka malah Guild Sevens mendapatkan desa itu lebih dulu dari Dark Elf. Beberapa Dark Elf sempat mengintip proses pembangunan desa Havesta dan langsung melaporkannya pada petinggi ras Dark Elf.
Hari itu seharusnya mereka menghancurkan desa yang baru dibangun itu, tetapi siapa sangka malah mereka bertemu dengan rombongan Asheuin.
Mereka lalu menghunuskan senjata mereka dan menebak kalau rombongan Asheuin adalah salah satu dari beberapa petualang yang mendapatkan desa Havesta.
Mereka sempat berpikir bahwa jumlah adalah segalanya, tetapi hari itu mata mereka terbuka oleh kemampuan individu Asheuin dan teman-temannya.
Mereka lalu dibawa ke desa Havesta untuk menanti keputusan Slitherio selanjutnya.
__ADS_1
***
[Desamu akan dimasuki oleh 4.817 Dark Elf!
Terima?]
“Baiklah, kalian akan aku jadikan penduduk desa Havesta ini.” Slitherio mengangguk sambil tersenyum kecil. Jumlah yang banyak, batin Slitherio.
Puluhan Dark Elf itu tertawa girang lalu melompat-lompat senang, “Terima kasih, tuan!”
Slitherio menggaruk kepalanya kemudian berkata, “Kalian kembalilah ke desa kalian dan bawalah seluruh teman ras kalian kemari.”
Salah satu Dark Elf yang terlihat pintar mengangguk lalu pergi menuju hutan lagi. Karena hari menuju sore, Dark Elf itu dengan cepat melesat menuju desanya.
Slitherio pernah mendengar kalau Dark Elf itu akan menjadi lebih kuat saat malam hari dan kekuatannya akan berkurang sedikit saat siang. Geisha mengatakan itu, apa benar?, Batin Slitherio.
Slitherio ingin mencoba menggunakan tenaga para Dark Elf untuk membantu pembangunan desa. Meski baru dua hari mereka membangun, baru sedikit juga yang selesai.
Slitherio berencana meninggalkan proyek ini kepada teman-temannya karena ia ingin meningkatkan levelnya.
Ia melihat bahwa semakin banyak pemain yang melewati level 250 dan Slitherio ingin menjadi salah satunya.
Tetapi sebagian dari dirinya tetap ingin membantu di tempat ini, mengatur agar pembangunan cepat selesai.
Slitherio tersenyum lalu berkata, “Kalian bantulah kami membangun desa ini agar kalian bisa beristirahat secepatnya.”
Para Dark Elf mengangguk lalu berpencar mulai membantu dengan tenaga masing-masing. Slitherio menatap semuanya lalu pergi mencari Atra yang masih di rumahnya.
“Oh, kita akan meminta para Phoenix dan Werewolf kembali ke kerajaan?” tanya Atra setelah Slitherio mengatakan permintaannya untuk mengembalikan bantuan Phoenix Gold Kingdom dan BloodThirsty Kingdom.
Slitherio mengangguk, “Apa kau tahu kalau penduduk desa Havesta sudah melebihi angka sembilan ribu? Mereka semua sudah lebih dari cukup untuk membangun desa Havesta ini yang awalnya kita rencanakan akan selesai dalam empat bulan...”
Mulut Atra terbuka saat mendengar hal itu, “Jumlah itu sudah hampir setara dengan penduduk BloodThirsty Kingdom...”
“Menurut kemungkinanku, desa ini akan selesai dalam waktu satu bulan dari sekarang.” Slitherio mengelus dagunya, “Itupun jika Asheuin tidak membawa pendatang lagi...”
Atra mengangguk tanda memahami maksud Slitherio, ia lalu bertanya, “Jadi, siapa yang akan mengatakan itu pada para Phoenix dan Werewolf?”
“Tentu saja kita, siapa lagi...” Slitherio memukul kepala Atra pelan. Ia lalu berjalan menuju tempat para Phoenix bekerja. Atra pergi menuju tempat para Werewolf bekerja.
Ketika para Phoenix dan para Werewolf diberitahukan hal itu, sebagian dari mereka merasa senang dan sebagian lagi tidak senang.
“Anda sudah kami anggap sebagai pengganti Jendral Zon, mana mungkin kami meninggalkan anda...” para Phoenix menatap Slitherio, “Setidaknya biarkan kami tinggal disini dulu lalu besok kami akan kembali...”
Slitherio menggaruk kepalanya, jika sampai besoknya para Phoenix itu terus berlanjut, maka Chizui pasti akan mengamuk karena penduduknya diambil.
__ADS_1
Ya itu sebenarnya adalah keinginan dari penduduknya sendiri. Jika Chizui mengetahui alasannya, dia akan berpikir kalau Slitheriolah yang mempengaruhi mereka.
Disisi lain, Atra yang mengatakan itu malah disambut dengan baik oleh para Werewolf. Atra yang melihatnya saja sampai kebingungan.
Para Werewolf bahkan mengucapkan selamat tinggal pada Atra lalu berkemas dan langsung melesat dari desa Havesta menuju BloodThirsty Kingdom.
Slitherio dan Atra bertemu kembali lalu Slitherio bertanya, “Menjadi pemimpin itu susah-susah gampang, bukan?” pertanyaan Slitherio dibalas dengan anggukan pelan Atra.
Slitherio menepuk pundak Atra pelan lalu berjalan menuju kediamannya. Disana sudah duduk seorang wanita yang Slitherio ketahui bernama Geisha.
Slitherio lalu duduk di sebelah Geisha yang duduk di atas batu yang menghadap ke arah barat. Slitherio bertanya, “Langit indah, bukan?”
Geisha mengangguk, ia lalu berkata, “Keindahan sebelum perang...”
Slitherio mengerutkan dahinya, “Apa maksudmu?”
Geisha menatap Slitherio lalu berkata, “Perang nantinya yang akan kita hadapi akan lebih sulit dibanding saat kita melawan HeavenSoul dan Lavenia.”
Slitherio menghela napas panjang, “Perang itu masih lama dan aku pasti akan bertambah kuat untuk melindungi siapapun yang aku sayangi...”
Geisha yang mendengar itu tersenyum malu, ia tahu kalau yang dimaksud oleh Slitherio adalah dirinya. Tetapi ia tidak tahu makna sebenarnya dari kata-kata Slitherio.
Matahari semakin turun ke ujung barat, sementara bulan audah muncul di atas kepala mereka meskipun cahayanya masih tidak terlalu tampak.
Geisha menyandarkan kepalanya ke pundak Slitherio dan Slitherio membiarkannya. Momen itu terganggu ketika suara seseorang yang berdeham memecah momen itu.
“Ehem, maaf mengganggu. Aku akan kembali nanti...” orang itu adalah Naze dan ia membawa kertas rancangan Slitherio dan sepertinya ia ingin menanyakan sesuatu. Naze lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
Slitherio menatap langit, di pundaknya masih ada kepala Geisha yang tersandar, “Sepertinya kata-kata Geisha ada benarnya juga...” gumam Slitherio pelan.
Ia lalu menatap matahari yang mulai terbenam di barat dan hari perlahan mulai gelap. Di hari itu, sebuah momen indah berhasil mereka berdua buat yang tidak akan mereka lupakan sampai akhir hayat mereka.
Catatan Penulis:
Makin hari makin malam ya?
Maaf, penulis keasyikan mencari inspirasi sampai lupa menulis untuk hari esok.
Saya harap chapter hari dapat membuat siapapun yang membacanya dapat merasakan perasaan seperti yang penulis rasakan.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya.
Salam,
Rio.
__ADS_1