Remaist Online: Return Of The Legend

Remaist Online: Return Of The Legend
239. Perpisahan dan pertemuan


__ADS_3

“Wah, sederhana sekali...” Rayhan mengepalkan tangannya, “Aku akan mencoba hal itu!”


“Ibu sarankan jangan, Rayhan...” Raisya menatap Rayhan, “Ibu takut bukannya kau mendapat cinta pertamamu malah kau dilaporkan oleh orang yang kau sukai.”


Ria mengangkat tangannya, “Lalu bagaimana ceritanya lagi?”


Ryan mengelus dagunya, “Lanjutannya, ayah berteman dengan ibumu sampai hari kelulusan kami di SMP 8...”


“Banyak rumor yang beredar di kalangan para siswa, kalau ayah menembak ibumu dan menjadikannya sebagai pacar ayah, tetapi itu tidak benar...”


“Teman-teman ayah tetap bersama ayah, bahkan sesekali mengganggu kami saat berbincang.”


“Kalian tahu Ray, Rei, dan Hendra, bukan? Mereka selalu mengerjai ayah dan terus memaksa ayah untuk bersama ibumu selamanya waktu dulu...”


“Saat kenaikan kelas 9, ayah mendapat kelas yang sama dengan ibumu dan kami berteman semakin dekat.”


“Tanpa ayahmu ketahui waktu itu, sebenarnya ibu sudah memiliki perasaan padanya...” Raisya memotong cerita Ryan, “Tetapi hanya takut untuk menyampaikannya karena takut kehilangan seorang teman...”


“Teman, ya?” Rayhan tersenyum jahil.


“Ayahmu sepertinya sama saja seperti waktu dulu itu, menunda sampai 11 tahun barulah mengungkapkan perasaannya pada ibumu ini.” Ujar Raisya.


“Ternyata masalah menunda bisa membuat dua orang yang saling menyukai dalam diam semakin menyukai yang lainnya...” Rayhan mengambil kesimpulan dari sedikit kisah yang diceritakan oleh ibunya. 


“Begitu ya...”


“Selanjutnya adalah hari dimana ayah tak bisa bertemu ibumu selama bertahun-tahun...” Ryan tersenyum sebentar lalu melanjutkan ceritanya.


***


Ujian kelulusan sudah berlalu seminggu lalu dan semua siswa akan melanjutkan ke jenjang berikutnya, yaitu SMA. Begitu juga dengan Ryan, Ray, Rei, Hendra, Liem, Don, Yudi, dan Dido.


Mereka akan berpisah untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya dan pergi ke sekolah impian mereka.


Hari ini adalah hari kelulusan yang diadakan di sekolah. Sekitar lebih dari seratus siswa kelas 9 yang lulus berkumpul di sekolah itu sambil mendengarkan pidato kepala sekolah.


Mereka memakai pakaian santai mereka. Suasana terasa sederhana karena yang hadir hanya beberapa guru saja serta seluruh murid kelas 9.


“Mana Raisya?” gumam Ryan sambil mengedarkan pandangannya. Ia tak menemukan orang yang ia cari.


“Yo...” Ray menepuk pundak Ryan. Ia memakai baju lengan panjang dan celana berwarna biru. Ryan mengenalinya sebagai celana sekolahnya.

__ADS_1


“Hah, kukira siapa...” Ryan menggaruk kepalanya laku kembali mengedarkan pandangannya.


Ray yang heran melihat sikap temannya itu lalu bertanya, “Apa yang kau cari?”


“Orang...”


“Aku tahu orang, tapi siapa namanya?”


“Bertanyalah dengan benar, kawan. Harusnya kau bertanya, siapa yang kau cari...”


“Siapa yang kau cari?”


“Raisya...”


Wajah Ray langsung memburuk saat mendengar nama yang diucapkan oleh Ryan, “Kenapa kau mencarinya?”


“Dia tidak ada disini...” Ryan mengepalkan tangannya, “Aku ragu ia masih tidur di rumah...”


“Kalau ia sudah pergi, kau takkan bisa menghentikannya...” Ray menatap ke keramaian di halaman sekolah itu, “Kalau takdir mengizinkan, kalian pasti akan bertemu lagi. Pasti...”


“Kau percaya takdir?” tanya Ryan. Ray mengangguk.


***


“Akhirnya sedikit menyedihkan, bukan?” tanya Rayhan. Ia merasa kalau dadanya sedikit sesak saat mendengar perpisahan kedua orangtuanya di masa lalu.


“Berawal dari nyanyian bisa membuat kalian bahagia seperti ini, sungguh hebat...” Ria menitikkan air mata.


“Kenapa kalian sedih?” tanya Raisya lalu merangkul Ria, “Itu semua berakhir seperti ini, bukan?”


“Untung saja ayah kalian menjadi pemain terkuat di Remaist Online, andai saja tidak mungkin saja ayahmu akan menyendiri sampai saat ini...” ujar Raisya.


“Baiklah, lupakan tentang perpisahan itu. Kita akan lanjut menuju puncak dari kesuksesan ayah sebagai Ahli Strategi...” Ryan mengangkat tangannya sambil menatap langit.


“Besok Sabtu, Rayhan bisa saja bangun siang...” Rayhan tersenyum lebar.


Ryan dan Raisya saling pandang, mereka berharap agar Rayhan tak meniru cara mereka dulu saat bertemu.


***


Satu bulan telah berlalu sejak Ryan yang tak pernah lagi bertemu dengan Raisya. Selama itu, Ryan terus bermain Rank untuk mencoba melupakan Raisya.

__ADS_1


Baginya, Raisya seperti pelangi. Muncul tak diduga dan pergi tak disangka, seperti itulah yang dilakukan oleh Raisya.


Tanpa Ryan ketahui, ia telah bermain sampai Rank Legend yang dimana di Rank ini tak ada batasan bintang dan tak ada lagi pembagian Rank.


Pembagian Rank disini artinya adalah per Rank dibagi lagi menjadi beberapa tingkatan lagi.


Rank terendah, yaitu Rank Bronze akan dibagi lagi menjadi 3 tingkat dengan setiap tingkatnya memerlukan 3 bintang untuk naik tingkat. Hal yang sama juga terjadi pada Rank Silver.


Rank Gold dibagi menjadi 4 tingkat dengan setiap tingkatnya memerlukan 3 bintang untuk naik tingkat. Di Rank ini, kalau berganti season biasanya akan mendapat Skin Spesial Season. Ini adalah Skin gratisan dan Ryan sering mengincarnya. Skin ini akan diberikan pada setiap player yang mendapat Rank Gold ke atas saat season berganti.


Rank Platinum dibagi menjadi 5 tingkat dengan setiap tingkat memerlukan 5 bintang untuk berganti tingkat. Hal yang sama juga terjadi pada Rank Diamond.


Rank Conqueror merupakan Rank yang bisa dibilang sedikit sulit. Karena rata-rata, pemain di Rank Conqueror mendapat gelar mereka tersendiri di jajaran Top Global ataupun Pro Player. Rank Conqueror dibagi menjadi 6 tingkat dengan setiap tingkatnya memerlukan 7 bintang untuk naik tingkat.


Rank Legend merupakan Rank tertinggi dan merupakan mimpi nomor satu setiap player Physical and Magic. Rank ini tak ada pembagian Rank dan disana merupakan neraka bagi para player. Di Rank ini, rata-rata merupakan pemain Top Global ataupun Pro Player Hero tertentu.


Ryan berhasil meraih Rank Legend setelah bermain selama hampir tiga tahun kalau dihitung sejak ia kenal dengan orang yang namanya Hendra. Ini merupakan sebuah pencapaian yang mengagumkan.


Ryan meletakkan ponselnya di sebelahnya lalu menatap langit-langit kamarnya, “Sudah satu bulan ya?”


Ia sudah pulang sekolah dan ini adalah jamnya untuk rebahan dan malas-malasan sampai nanti malam.


“Ryan, belikan ibu gula dan teh!” seru ibunya dari luar kamarnya. Suara itu sebenarnya berasal dari dapur, tetapi karena suara ibunya yang keras membuat Ryan bisa mendengar suara ibunya seperti ibunya berbicara di sebelah telinganya.


Ryan berdiri lalu berjalan dengan sedikit malas. Ibunya yang melihat Ryan menggelengkan kepalanya, “Kalau sudah dapat, kau boleh rebahan lagi, deh...”


Ryan menerima uang dari ibunya dan berjalan menuju minimarket di dekat rumahnya dengan malas. Panas-panas begini bisa membuat orang-orang bertambah malas.


Ryan menatap jalanan kemudian melanjutkan lagi kegiatannya, sampai seorang laki-laki menepuk pundaknya.


“Apa kau Ryan?” tanya laki-laki itu.


“Aku Ryan, salam kenal...” Ryan menyalami laki-laki itu dan mengenalkan dirinya singkat. Laki-laki di depannya adalah Rio Andriana, teman SMA tempat Ryan belajar.


Keduanya tak terlalu akrab dan Ryan terlihat berusaha kenla dengan Rio ini, “Kau akan pergi kemana?” tanya Rio.


“Aku akan pergi ke minimarket, apa kau mau ikut?” Ryan menatap Rio. Ia tak ingin ada yang mengganggu acara jalan-jalannya.


“Tidak, lagipula aku ada sedikit keperluan...” jawab Rio lalu berlari menjauh.


“Syukurlah...” Ryan mengelus dadanya lalu mempercepat jalannya menuju minimarket yang ada di depan matanya saat ini.

__ADS_1


__ADS_2