
Di Death Valley...”
“Apa kalian berhasil mengacaukan Midvast?” Leone menatap ketujuh jendralnya. Yang ditanyai mengangguk mantap.
“Apa ada halangan?” Tanya Leone sekali lagi.
“Ada, Yang Mulia...” Visidha, Maxe, Whazard, dan Kraken mengangkat kepala mereka lalu menatap Leone.
“Hmm?” Nada bicara Leone berubah menjadi tidak senang, “Siapa yang berani mengacaukan rencanaku?”
“Apa Yang Mulia sudah pikun? Tentu saja para pendekar tersembunyi Midvast ini...” Visidha mengepalkan tangannya erat.
“Hehehe...” Leone menggaruk kepalanya, “Jika hanya mereka saja, maka takkan ada masalah...”
“Masalahnya adalah...” Bagune yang kebetulan berada di ruangan yang sama angkat bicara, “Hampir seluruh pasukan kita sudah lenyap saat penyerangan kedua ke Sky Empire...” ia lalu menatap Visidha.
“Mau apa kau?” Visidha mengangkat alisnya saat ditatap oleh Bagune. Yang ditatap balik memilih menundukkan kepalanya.
“Kalau begitu...” Leone menggaruk kepalanya, ia sendiri juga bingung dengan situasi ini.
Tak pernah dalam sejarah Midvast ataupun sejarah dunia ada yang mampu mengeluarkan skill yang mampu memusnahkan hampir 100.000 prajurit. Leone yang mendengar kisah Visidha yang belum pergi dari tempat penyerangan saja bergetar.
“Nampaknya, Pedang Api Slitherio ini harus kita habisi dulu barulah kita melancarkan serangan...” Bagune memberi sarannya yang sebenarnya sudah ada di kepala Leone terlebih dahulu.
“Dengan sisa pasukan yang sekarang? Kau pasti bercanda...” Leone merapatkan giginya.
“Apa anda tahu kalau ada makhluk yang lebih kuat dariku di Midvast dan sedang bersembunyi?” Visidha menatap Bagune dan Leone bergantian. Bisa dibilang, Visidha adalah juru bicara bagi para jendral Hell Empire lainnya.
“Apa Heaven Dragon FolkChase?” Leone menatap Visidha, “Dia akan kuserahkan padamu...”
“Hah...” Visidha menghembuskan napasnya.
“Ada dua pilihan yang dapat kita pilih...” Leone berkata.
“Satu, langsung menyerang tanpa memikirkan resiko yang mungkin terjadi selanjutnya jika gagal.” Leone memberikan satu pilihannya.
__ADS_1
“Aku memilih ini...” Mide, Whazard, Behemoth, dan Maxe mengangkat tangannya.
“Tetapi lima dari Seven Deadly Sins memilih pilihan kedua...” Leone menatap Bagune, “Pilihan kedua, kita akan mengumpulkan kekuatan dengan cepat dan saat sudah terkumpul, maka kita bisa langsung menyerang.”
“Jika seperti itu, maka kita memberikan kesempatan pada lawan untuk berkembang...” Whazard yang memilih pilihan pertama menolak pilihan kedua.
“Sebab itulah aku mengatakan akan mencari secepatnya dan sebanyak-banyaknya kekuatan untuk menguasai Midvast. Jika memungkinkan, kita akan menghancurkan seluruh pemerintahan yang berdiri di Midvast dan menggantinya dengan kekuasaan Hell Empire.” Leone memberikan alasan kenapa memberikan pilihan kedua, “Dan juga aku ingin membuat agar hanya ada satu ras di Midvast ini, yaitu Demon...”
“Boleh juga!” Lava Bird yang menyukai pembantaian tanpa ragu langsung memilih pilihan kedua.
“Akhirnya aku akan membalas dendam pada Slitherio itu...” Visidha juga memilih pilihan kedua.
“Kalau begitu, kita akan berpencar ke seluruh Midvast untuk mencari sisa-sisa dari keluarga bangsawan yang menganut ajaran sesatku dulu itu...” Leone berkata sambil tersenyum lebar dan mengerikan.
Siapa yang mengira, kalau pilihan mereka saat itu nyaris saja menghancurkan Hell Empire.
***
Disaat Hell Empire sedang menyusun rencana, pihak yang memilih mempertahankan Midvast sedang mengatur rencana mereka juga.
“Hanya ada satu pilihan yang bisa kita ambil saat ini selain bersiaga, yaitu mulai berkembang secepat-cepatnya.” Slitherio yang memimpin pertemuan itu memberikan satu pilihannya. Ia sudah mendiskusikan hal ini dengan Sean saat di dunia nyata tadi.
“Memang itu adalah satu-satunya pilihan yang kita miliki, tetapi masalahnya adalah sejak melewati level 290, kenaikan level kita menjadi melambat...” FastStone mengangkat tangannya.
“Mungkin berpencar untuk menaikkan level boleh juga kita lakukan...” Riana ikut berbicara.
“Berpencar? Aku ragu itu adalah pilihan yang tepat...” LoghSeveria mengelus dagunya.
“Aku tahu satu tempat berburu yang ada banyak monster level tinggi yang mampu memberikan EXP yang banyak...” Tsuyoshi mengangkat tangannya, “Di sekitar Nippon ada banyak sekali hutan yang menjadi sarangnya monster berlevel tinggi.”
“Sebenarnya langit sudah memberi kita solusi...” Li menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dadanya. Sejak menyelesaikan satu syarat menjadi dewa, aura Li menjadi sedikit lebih kuat dari sebelumnya. Siapapun yang mendengar Li pasti akan langsung menerima ucapan Li.
“Apa?” tanya Whu.
“Apa kalian tahu tentang berita terbaru? Tentang penyerangan besar-besaran para monster ke beberapa kota dan desa di Midvast?” tanya Li. Semua orang mengangguk.
__ADS_1
“Ada yang mengatakan kalau itu adalah salah satu event yang diadakan oleh SuperSoft Corporation, ada juga yang mengatakan kalau itu hanyalah reaksi biasa para monster.” Ujar Li.
“Kita bisa memanfaatkan peristiwa semacam ini untuk meningkatkan level kita.” Lanjut Li.
“Jika seluruh pemain Remaist Online memburu monster-monster ini secara gila-gilaan, bisa-bisa monster akan punah dan tidak menyisakan monster untuk para pemula.” Geisha mengerutkan alisnya.
“Kita memerlukan cara lain...” Slitherio meletakkan kedua tangannya di bawah dagunya.
“Menyelesaikan Dungeon?” usul Naze.
“Bisa dilakukan, tetapi jumlah Dungeon yang tersisa di Midvast kira-kira sudah semakin sedikit...” LoghSeveria menggaruk kepalanya.
“Aku ada satu solusi, tetapi mungkin akan menghabiskan kekayaan kita...” Clover yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara.
“Apa?” Slitherio menatap Clover.
“Membuat EXP Potion...” Clover mengeluarkan sesuatu dari Inventorynya, “Apa kalian masih ingat saat aku dan Ovyx keluar kota saat beberapa hari sebelum Slitherio dan beberapa orang pergi ke Gate of Beast Hell?”
Beberapa orang mengangguk, beberapa lagi tidak, “Memangnya apa yang kalian cari waktu itu?” tanya Clarey.
“Resep EXP Potion...” Clover lalu membacakan resepnya.
Semakin jauh, raut wajah Slitherio berubah saat mendengar bahan-bahan Potion itu yang berjumlah dua saja.
“5 lembar Blood Leaf dan 2 Night Apple untuk 3 botol EXP Potion? Boleh juga...” Riana yang tidak mengetahui harga dari dua bahan itu mengusap dagunya pelan.
“Sepuluh lembar Blood Leaf seharga 10 Silver, sedangkan satu Night Apple seharga 1 Gold, apa resep itu tak berlebihan?” Asvi menggaruk kepalanya, ia sering mendengar nama-nama itu dari Clover karena ia sering membicarakan tentang itu.
“Tidak, itu mesti kita coba...” Slitherio menepuk meja pelan, “Urusan membuat Potion, akmi serahkan padamu. Buat sebanyak 18 botol Potion untuk seluruh anggota Guild Sevens.”
“Jika resep ini berhasil, maka kita dapat menjualnya di tokoku dan uangnya akan kita pakai untuk membeli bahan-bahan Potion itu.” Lanjut Slitherio.
“Tapi kalian harus mengimbanginya dengan berburu yang giat...” Lynx ikut angkat bicara setelah sejak tadi menyimak. Yang lainnya mengangguk.
Hari itu, menjadi awal dari puncak konflik antara Hell Empire dengan Benua Midvast ini.
__ADS_1