Remaist Online: Return Of The Legend

Remaist Online: Return Of The Legend
179. Purple Pearl Island


__ADS_3

Sean dan FastStone saling tatap ketika melihat pertarungan Slitherio. Mereka merasakan hal yang disebut dengan pusing.


Keduanya memegangi kepala masing-masing, tetapi tidak ada yang menyadarinya. FastStone memanggil ketujuh pedangnya kembali dan menyimpannya sebelum terjatuh di atas Gold.


Sean berusaha mempertahankan kesadarannya sambil menggigit giginya, tetapi tidak berhasil dan akhirnya ia pun terjatuh.


Clarey yang pertama menyadari dua Attacker mereka yang perkasa jatuh, tetapi ia juga merasa pusing dan akhirnya ia pun ikut terjatuh di sebelah FastStone.


Naze merasakan kalau tiga orang yang sebelumnya turun suaranya menghilang dan ketika ia berbalik, ia merasa pusing dan akhirnya terjatuh.


Yang tersisa hanya Geisha, Li, dan Atra yang berusaha membangunkan empat orang itu.


Tepat ketika Atra mencoba menepuk pipi Sean, Slitherio muncul dan berdiri dengan tubuh tidak tegap lagi. Tak diketahui apakah ia juga mengalami hal yang sama dengan empat orang itu.


Slitherio mendekat kemudian terjatuh sambil tersenyum tipis setelah melihat Geisha yang menatapnya dengan khawatir.


“Eh?!” Geisha dan Li yang paling terkejut, mereka ditinggal pingsan oleh lima teman mereka yang hebat dan kuat itu.


Yang mampu melindungi Li hanya Atra dan Geisha, tetapi hal itu juga tidak mungkin karena Atra juga kehabisan stamina dan ia memaksakan diri untuk tetap berdiri.


Li sebenarnya merasa sesak, ia tadi meniup Heaven Flute dengan keras dan itu menyebabkan tubuhnya terbebani.


Yang memiliki kondisi lumayan bagus hanya Geisha, yang artinya ia akan disuruh oleh Atra untuk melindungi yang lainnya.


“Geisha, lindungi yang lainnya...” ujar Atra lemah sebelum menutup matanya. Yang tersisa sekarang hanyalah Li.


“Aku... Akan memaksakan diriku hanya untuk membantumu membawa mereka ke pulau terdekat...” ujar Li lemah. Ia lalu duduk dan melihat map.


Peta mereka sebelumnya tertinggal di kapal dan menghilang bersamaan dengan kapalnya yang tenggelam.


Map juga sudah semakin buram, yang artinya hanya itulah satu-satunya hal yang bisa menuntun mereka ke Gods Island.


“Ada satu pukau kecil di dekat sini, kita bisa memakainya untuk tempat istirahat...” ujar Li. Ia tetap berusaha mempertahankan kesadarannya.


Geisha juga merasakan kalau laju terbang Gold berkurang karena membawa beban banyak orang, ditambah hampir tidak ada pulau yang dekat yang bisa dipakai untuk tempat istirahat.


“Itu saja, bagaimana?” tanya Geisha sambil menunjuk satu arah. Li hanya mengangguk kemudian berkata.

__ADS_1


“Bawa kami ke sana...” ujar Li sebelum pingsan, menyusul enam temannya.


Geisha menepuk dahinya, ia lalu menuntun Gold menuju pulau itu dengan perlahan.


***


Gods Realm...


Zein menatap semuanya dengan tenang ditemani oleh Luna menatap sebuah bola yang menunjukkan sebuah pertarungan dahsyat.


Zein menghela napas panjang, “Akhirnya Gods Island kedatangan tamu...”


Luna masih menatap bola itu dengan seksama, “Apa maksudmu?”


“Eny telah mengatakan kalau White Shark telah mengijinkan delapan orang pergi ke Gods Island...” seorang pria dengan tubuh kekar menatap keduanya. Ia adalah Jay.


Jay berjalan sambil menatap bola itu, “Kekuatan yang amat dahsyat...”


“Hmm, kau juga menyadarinya?” tanya Zein pada Jay. Jay mengangguk.


“Apanya yang kalian sadari?” tanya Luna. Ia tidak paham dengan maksud dua orang itu.


“Coba diulang...” sebuah tangan menyentuh bola itu dan mengulang kembali pertarungan itu. Tangan itu adalah milik Vesta.


“Bisa mengangkat dua pedang besar secara bersamaan, kita saja bahkan ragu-ragu untuk melakukannya dulu...” seorang pria datang dan ikut menatap bola itu. Ia adalah Tany.


“Benar...” Jay, Zein, Vesta, dan Luna menatap Tany. Mereka mengetahui kalau Tany memiliki bakat untuk itu.


“Kekuatan mereka sudah melebihi kita saat seusia mereka...” ujar Jay. Ia mengakuinya karena ia adalah yang terkuat diantara sebelas manusia dari Midvast yang mampu mengimbangi Dragon God Chao pada masanya.


“Yah, kita serahkan saja dunia pada mereka...” 


***


Pagi yang terik di sebuah pulau...


Geisha turun dari Gold dan menurunkan teman-temannya. Ia sudah merasa kelelahan, tetapi ia juga harus menjaga tubuh tujuh temannya agar tidak dibunuh oleh monster sekitar.

__ADS_1


Untuk Slitherio, Geisha yakin untuk meninggalkannya pingsan karena Slitherio memiliki skill pasif dimana bisa membuatnya hidup kembali.


Geisha menatap sekitarnya dan menatap Gold, “Gold, jaga kami ya...” Geisha mengelus rambut Gold dan menjatuhkan dirinya di atas pasir yang empuk itu.


Gold menatap semuanya sebelum memutuskan untuk ikut tiduran. Meski ia hanya pet, ia bisa memahami kelelahan tuannya. Tetapi ia juga lelah dan ia memutuskan untuk tiduran saja sambil menutupi tubuh delapan orang itu dengan sayapnya.


Memang benar kalau tidak ada monster di pulau itu, tetapi keberadaan sekelompok makhluk juga tidak diketahui oleh Geisha.


Seorang makhluk dengan tubuh tinggi dengan telinga kecil mendekat dan menatap Gold dengan ketakutan.


Wujud Gold bisa dibilang menakutkan dan itu cukup untuk menakuti monster atauoun makhluk yang mencoba mendekat.


Tak lama setelah makhluk itu mendekat, FastStone membuka matanya dan menatap sekelilingnya kemudian menemukan makhluk itu.


“Mau apa kau?” tanya FastStone dengan nada seram.


Makhluk itu menatap FastStone ketakutan kemudian berkata dengan gemetar, “Kapten Veny melihat seekor singa terbang dan mendarat di pulau ini, jadi ia memintaku untuk mencari kalian dan membawa kalian ke hadapannya.”


“Veny? Siapa dia?” tanya FastStone. Ia lalu menatap makhluk itu dengan tatapan penasaran, “Dan namamu siapa?”


“Namaku adalah Buu dari Benua South serta berniat pergi ke Gods Island bersama dengan Kapten Veny.” Ujarnya.


Buu lalu menarik pisau yang tersarung di balik pinggangnya dan menghunuskannya pada FastStone, “Dan aku adalah orang dari ras Demon yang memiliki tiga kekuatan Spirit!”


FastStone menatap Buu dengan datar lalu menarik pedangnya, “Apa kau bisa melakukan ini dengan pisau kecilmu itu?”


FastStone mengangkat pedangnya dan menebas pasir yang ada di bawahnya sampai membentuk sebuah garis lebar.


“Tentu saja!” Buu berseru dan melakukan hal yang sama dengan FastStone.


Buu menunduk dan tepat ketika ia melakukan hal yang tadi dilakukan oleh FastStone, FastStone menyarungkan pedangnya dan mengangkat pedang tersarungnya kemudian memukul punggung Buu dengan pedangnya yang tersarung.


Buu terjatuh dan memeluk tanah. FastStone yang melihat itu bertanya lagi pada Buu, “Apa kau bisa melakukan itu juga?”


“Aku bisa melakukannya lebih baik darimu!” Buu berdiri dan menusukkan pisaunya ke arah perut FastStone.


FastStone bergerak cepat dan menggenggam bilah pisau itu dengan tangan kanannya dan menarik mundur kaki kanannya dan menjauhkan perutnya dari pisau itu.

__ADS_1


“Aku bisa mematahkannya jika kau memajukan pisaumu lebih dari ini...” ujar FastStone dingin.


__ADS_2