Remaist Online: Return Of The Legend

Remaist Online: Return Of The Legend
183. Purple Pearl Island V


__ADS_3

“Maksudmu?” Tanya Naze kebingungan. Ia sejujurnya malas membuka Map.


“Menurut perkiraanku, jika melihat map maka waktu yang diperlukan untuk mencapai Gods Island kira-kira selama seminggu lebih, mungkin...” Ujar Li. Ia mencoba melihat peta dan ia pun sama terkejutnya dengan Atra.


“Kalau cuacanya mendukung...” Sean memilih menatap laut, “Jika seperti kemarin maka bukan tidak mungkin kita bisa terkena masalah lagi seperti tadi...”


“Hmm, bagaimana kau bisa tahu kalau aku tadi sempat terkena masalah?” Tanya FastStone pada Sean dengan heran, “Bukankah tadi kau pingsan?”


“Dia termasuk dalam daftar orang yang pura-pura pingsan...” Slitherio menunjuk Sean.


Sean menggaruk kepalanya sambil tertawa kecil. FastStone mendengus lalu bertanya pada Slitherio, “Kalau begitu, apa dua hari lagi kita akan berangkat?” 


“Jika masalah di pulau ini sudah selesai...” ujar Slitherio menjawab pertanyaan FastStone.


“Tentang penduduk pulau ini yang menderita karena Veny itu?” tanya FastStone. Ia terlihat seperti tertarik pada kasus ini.


“Benar...” Slitherio memangku dagunya, “Kalau mereka bersedia kembali ke asalnya, maka perjalanan bisa kita lanjutkan lebih cepat...”


“Kalau tidak?” Li, Naze, Atra, dan Clarey tidak mengetahui masalah yang dimaksud oleh Slitherio, tetapi mereka memilih ikut satu membicarakan masalah itu.


“Kali ini, aku meminta pada Sean dan Li untuk mengurus masalah itu...” Slitherio menatap keduanya dengan senyuman licik.


“Aku merasakan hal yang tidak seru akan terjadi selanjutnya...” ujar Sean. Ia lalu menunjuk Clarey, “Kenapa bukan dia saja yang kau suruh untuk mengurus masalah ini?”


“Dia memang kuat, tetapi tidak diketahui apakah ia bisa menandingi Veny atau tidak...” Slitherio menatap Clarey dengan tatapan bersalah.


“Bukannya aku meremehkanmu, tetapi memang kekuatanmu berada sedikit di bawah Veny...” Slitherio mencoba menghibur Clarey, tetapi Clarey seolah sudah memahaminya dan ia memilih diam saja.


“Sudah cukup aku terkena masalah hari ini...” FastStone meregangkan punggungnya lagi dan berbaring di atas batu.


Atra dan Naze menatap FastStone, berat pasti bagi FastStone karena batu saja ia sadar sudah terkena masalah. Untung saja ia kuat, kalau tidak mungkin FastStone gagal melindungi yang lainnya.


“Apa kau berpikir kalau masalah ini besar?” tanya Slitherio yang memiliki kemampuan terjebak masalah.


Sean, Naze, dan Atra menahan tawanya. Tentu mereka tahu kalau Slitherio pernah dikejar-kejar orang karena suatu hal yang mana Slitherio sendiri tak bisa ceritakan.


“Lupakan saja saat-saat itu...” Geisha menutup wajahnya, ia termasuk orang yang ikutan terjebak masalah bersama Slitherio.


Masalah yang dimaksud adalah saat Slitherio dan Geisha dikejar-kejar oleh pasukan Soul Knights tanpa Slitherio ketahui sebabnya.


“Lupakan itu, sekarang adalah bagaimana kita mendapatkan peta baru menuju Gods Island...” ujar Slitherio lalu menatap FastStone lagi. Yang ditatap hanya menggaruk kepalanya sambil tersenyum lebar.


“Saat kita menyelesaikan masalah disini, mungkin kita bisa meminta peta pada penduduk sekitar?” usul Li.


Semua orang menyetujuinya. Tetapi Sean kemudian berubah pikiran dan bertanya, “Kalau penduduk sekitar tidak memilikinya?”

__ADS_1


“Kita minta saja pada Veny itu...” FastStone menaikkan bahunya, seolah hal itu bisa saja ia lakukan setiap saat. Istilah lainnya, mudah.


“Kalau dia mau memberikannya...” Sean memalingkan wajahnya.


“Kalau tidak bisa cara halus, cara kasar saja...” Atra berkata sebelum melihat ke tenda tempat Buu diminta istirahat.


Semua orang ikut melihat ke arah Atra melihat. Tenda sudah sepi, entah sejak kapan.


Hari sudah malam ketika mereka berbincang santai di ujung tebing itu. Malam semakin larut ketika mereka selesai makan malam.


“Hei, bagaimana kalau kita memutuskan sambungan sebentar untuk melihat kondisi dunia nyata?” usul Naze ketika melihat hari semakin malam.


“Tetap sama, pastinya...” ujar Clarey. Ia lalu melihat ke arah tenda, “Dan jika kita ingin memutuskan sambungan, kita harus memutuskan sambungan di dalam hutan...”


“Agar tidak diketahui oleh Buu, bukan?” tanya FastStone. Ia lalu berdiri.


Clarey mengangguk. Slitherio menatap semua dan berkata, “Baik, kita akan memutuskan sambungan sebentar dan kembali tersambung besok pagi.”


Selesai berkata begitu, Slitherio berjalan masuk ke hutan lagi dan diikuti oleh yang lainnya. 


Saat di hutan, mereka memutuskan sambungan dan meninggalkan Purple Pearl Island untuk sementara.


***


Ryan membuka matanya dan melihat ke arah jendela. Hari masih siang dan ia meraih ponselnya sebentar.


Jam menunjukkan pukul 13.46 saat Ryan memutuskan sambungan dan ia tidak sendirian.


Raisya duduk di sebelahnya dan menatapnya dengan datar. Ryan yang dilihati seperti itu merasa aneh dan ia pun bertanya, “Kenapa?”


“Tidak, aku hanya penasaran dengan wajahmu saat baru kembali ke dunia nyata...” ujar Raisya sambil mendekat.


“Aku mandi dulu...” Ryan berdiri dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi yang ada di seberang kamarnya.


“Samaan?” tanya Raisya sambil tersenyum-senyum sendiri.


“Tidak usah!” Ryan langsung menutup pintu dan meninggalkan Raisya sendirian di kamar.


“Sudah kuduga...” Raisya mengusap wajahnya, ia lalu berjalan keluar dan membersihkan rumah Ryan yang terbilang cukup berdebu.


Rumah itu sudah pernah tidak disapu oleh Ryan selama satu minggu, yang artinya saat ini Ryan sudah berubah menjadi orang yang tidak terlalu memikirkan tentang Remaist Online. Meskipun alasan Ryan tidak menyapu rumahnya selama satu minggu itu karena ia dilatih oleh Zon.


Di kamar mandi, Ryan memikirkan semua yang sudah terjadi selama ini. Sejak ia menikah dengan Raisya dan memiliki satu penghuni baru, rumahnya selalu terlihat bersih.


Ryan memilih duduk di kamar mandi saja ketika sudah selesai sambil melihat ponselnya. Ia tadi menyelundupkan ponselnya ke dalam bajunya dan membawanya ke kamar mandi.

__ADS_1


Ryan melihat grup pekerjaannya dan melihat pesan dari pimpinannya. Pimpinannya meminta Ryan untuk datang ke rumahnya segera.


“Mau apa pimpinan menemuiku?” gumam Ryan. Ia lalu berdiri lagi dan keluar kamar mandi.


Di luar, lantai rumah sudah bersih dan tidak terlihat sisa debu di lantainya. Ryan hanya terdiam saat melihat itu, bagaimana mungkin Raisya bisa membersihkannya dalam waktu singkat.


Ryan berjalan sambil memasukkan ponselnya ke dalam kantong celananya dan berjalan turun ke bawah, mencari sesuatu yang bisa dimakan.


Ryan turun tangga perlahan sambil mengintip ke bawah. Ia melihat Raisya yang sedang duduk di kursi di depan televisi sambil menonton televisi.


Raisya menoleh ke arah Ryan kemudian melambaikan tangannya sambil memanggil Ryan, memintanya mendekat.


Ryan menaikkan alisnya, tetapi ia tetap berjalan turun dan melihat ke arah televisi yang menyala dan menampilkan sebuah berita yang terdengar cukup menarik.


“Kau lihat? Namamu diangkat menjadi pemain terkuat nomor satu menggantikan Gold Dragon God Sean...” ujar Raisya sambil menunjuk ke televisi.


“Masa?” Ryan duduk di sebelah Raisya dan melihat ke televisi.


“... Slitherio kami jadikan pemain terkuat nomor satu bukan tanpa alasan. Dia adalah satu-satunya pemain yang bisa menandingi pemain yang memiliki lima sampai sepuluh level diatasnya serta kapasitas Mananya sudah melebihi kapasitas Mana pemain terkuat nomor satu sebelumnya, yaitu Sean...”


“... Dan juga, kami juga menyatakan kalau Li sang Musician God akan dijadikan pemain terkuat nomor lima dengan gelar yang sama...”


“Li sepertinya akan mendapat masalah yang rumit nantinya ketika kembali ke Midvast...” gumam Ryan sambil menonton berita itu.


“... Guild Reister mengalami perkembangan yang sangat pesat ketika diawasi oleh Staff God Whu dan tiga wakil ketua Guild Reister. Sebab itulah, Whu akan kami berikan posisi pemain terkuat nomor enam...”


“... Sepertinya hanya Guild Sevens saja yang memiliki anggota yang seluruhnya memiliki namanya masing-masing di Midvast, karena itulah Guild Reister akan kami jadikan guild terkuat nomor satu sedunia!”


Ryan yang mendengar menjadi terkejut. Guild yang berdiri kurang dari setahun bisa mencapai kekuatan Guild Profesional, bahkan guild terkuat.


“Aku tidak tahu bagaimana perasaan Sean saat mendengar berita ini...” gumam Ryan sambil mengelus dagunya. 


Di tempat lain, di kediaman Sean sang Gold Dragon God, Sean yang mendengar berita itu langsung emosi tak terkira.


“Sialan Slitherio itu! Beraninya ia mengambil posisiku!” Sean memukul meja, tetapi meja tidak hancur.


“Sabar, mungkin ini cobaan...” istri Sean yang kebetulan ikut menonton memilih menenangkan Sean yang sudah emosi, “Bisa jadi juga kalau ia lebih pantas memiliki posisi itu...”


“Benar juga, mungkin dia lebih pantas menduduki posisi itu dibanding diriku...” gumam Sean, tetapi istrinya bisa mendengarnya.


“Bagaimana dengan perjalananmu?” tanya istri Sean, mencoba mengalihkan pembicaraan.


“Lancar saja, malah Slitherio ini lebih terkenal dibanding aku...” Sean menutup wajahnya.


“Kalau begitu, istirahat saja dan persiapkan dirimu untuk petualangan selanjutnya...”

__ADS_1


__ADS_2