
“Hei, apa kau sudah melihat semuanya?” Seru Slitherio sambil menoleh menatap pohon yang berada di belakangnya.
Wanita itu turun kemudian melesat menuju Slitherio, “Kau pasti memakai Cheat...”
Wanita itu menyerang dengan tangannya yang membentuk cakaran. Cakaran itu mengeluarkan cahaya gelap dan setiap ia mencakar, akan timbul bekas cakaran itu di udara.
“Ah, kau tidak percaya. Baiklah akan kulakukan hal itu...” Slitherio mengelak sekali kemudian melompat ke belakang wanita itu.
Ryan kemudian menyentuhkan telapak tangannya ke punggung wanita itu sambil bergumam, “Flame Warmage Technique: Flame Seal...”
Tubuh wanita itu seketika kaku. Ia kemudian jatuh ke tanah dengan posisi telungkup.
“Aku penasaran bagaimana reaksi Geisha ketika melihat hal ini...” seseorang memecah kesunyian hutan itu setelah pertarungan selesai.
Slitherio menoleh dan menyusuri sekelilingnya. Setelah mencari selama beberapa detik, ia akhirnya menemukan Whu yang berdiri ditopang tongkatnya di atas sebuah cabang pohon.
“Apa yang kau lakukan disana?” tanya Slitherio.
Whu melompat turun dan mendarat di hadapan Slitherio, “Menunggumu menyelesaikan pertarunganmu.” Jawabnya.
Tak lama Whu mendarat di tanah, satu orang lagi bergabung dengan mereka. Ia adalah Naze yang baru tersambung.
“Hm, apa aku melewatkan sesuatu?” tanya Naze saat melihat seorang wanita yang telungkup di atas tanah.
“Tidak ada, Slitherio hanya bertarung dengan wanita ini tadi.” Jawab Whu.
Setelah Naze, satu orang lagi bergabung dengan mereka, yaitu Geisha. Geisha kebingungan saat melihat seorang wanita yang sedang telungkup di tanah.
“Apa yang...”
“Tidak ada, Slitherio tadi bertarung dengan wanita ini saat kalian belum datang.” Jelas Whu dengan singkat.
“Bertarung?” tanya Naze dan Geisha bersamaan.
“Tak kusangka Slitherio bertarung melawan seorang wanita.” Sindir Naze sambil berjalan menjauh.
“Aku tidak melawannya, yang ada wanita ini yang menyerangku duluan...” ujar Slitherio membela dirinya sambil mengangkat bahunya.
“Bisakah kalian berhenti memanggilku wanita? Aku punya nama!” seru wanita itu, “Namaku Riana, ingat itu!”
“Oh, Riana? Sepertinya aku mengenalnya...” ujar Whu sebelum berpikir.
“Dia adalah Nightmare Girl, Top Global nomor lima belas. Ia disejajarkan dengan sembilan puluh sembilan pemain karena kemampuannya untuk mengecoh lawan dan cakarannya yang mengandung kekuatan kegelapan.” Jelas Slitherio.
“Oh...”
“Lepaskan aku! Mau sampai kapan kau mengikatku seperti ini?!” seru Riana sembari terus meronta.
“Aku tidak mengikatmu, aku hanya...” ucapan Slitherio terhenti karena melihat tatapan tajam Riana, “Hah, baiklah...”
Slitherio menyentuh punggung Riana dan seketika tubuh Riana bisa digerakkan kembali. Riana yang sudah bisa bergerak memilih kabur ke hutan sambil berseru, “Aku akan mengingat ini semua!”
__ADS_1
“Dia yang mulai duluan...” gerutu Slitherio sebelum melanjutkan perjalanan ke Phoenix Gold Kingdom. Naze, Whu, dan Geisha mengikuti Slitherio dari belakang.
“Hm... Aku penasaran seperti apa negerinya para Phoenix.” Ujar Naze sambil tertawa kecil.
“Tunggu!” seseorang berlari dari arah hutan dan mendekati Slitherio.
Slitherio berbalik dan melihat orang itu. Orang itu adalah Atra.
“Susah payah aku berlari dari BloodThirsty Kingdom selama hampir seminggu lebih, sampai melewatkan tahun baru, sampai disini ditinggal...” ujar Atra sambil berusaha mengatur dirinya agar berdiri dengan benar.
“Ah, kau membawa buku itu?” tanya Slitherio sambil tersenyum lebar.
“Ada...” Atra kemudian mengeluarkan sebuah buku yang terlihat usang dan tidak terlihat judulnya apa.
“Ini...”
Slitherio membaca judulnya di halaman pertama buku itu. Ia kemudian membaliknya dan melihat daftar isi.
“Hanya lima?” tanya Slitherio.
“Benar...”
“Dikatakan bahwa disini...” Slitherio mulai membaca dengan nadanya yang biasa ia pakai saat berbicara.
Ada lima jalan untuk mencapai impian nomor satu seluruh makhluk hidup, impian itu adalah Dewa.
Kelima jalan itu adalah, mencapai tingkat penguasaan tertinggi ilmu senjata, penguasaan tertinggi teknik, memiliki 5 kekuatan Spirit untuk dipakai dalam jurus Kedewaan, mengalahkan dua monster yang memiliki kemampuan lebih tinggi, dan yang terakhir melewati Triangle Sea untuk menuju Gods Island.
“Spirit?” Whu yang mendengarnya bingung dengan istilah baru yang didengarnya.
“Apa?! 10.000 Mana? Kau bercanda?” seru Naze sambil menjambak rambutnya.
“Disini juga dikatakan bagaimana cara mencari 5 kekuatan Spirit itu...” Slitherio melanjutkan.
Cara mendapatkan kekuatan Spirit adalah dengan melawan banyak sekali monster dan menyerap sebagian Mananya, memakai perlengkapan tertentu, dan yang terakhir adalah dengan mencapai tingkatan tertinggi dari penguasaan Teknik.
“Dan satu lagi. Dimana ada Gods Island yang dimaksud dalam buku itu?” tanya Whu.
“Dalam Map tidak ada yang namanya Gods Island.” Ujar Geisha. Ia tadi membuka Map dan tidak menemukan tempat yang dimaksud.
“Dan juga...” Slitherio kembali melanjutkan membaca buku itu.
Dari penciptaan dunia hingga sekarang, hanya ada beberapa orang saja yang berhasil menyeberangi lautan dan sampai di Gods Island.
“Disini tidak disebutkan siapa saja yang berhasil melewati Triangle Sea. Yang jelas, kemampuan orang-orang itu sangatlah besar dimasanya.” Lanjut Slitherio.
Setelah mereka berhasil melewati Triangle Sea dan sampai di Gods Island, tidak ada yang tau kabar mereka hingga saat ini.
“Eh, tidak diketahui?” tanya Naze bergidik.
“Ah, aku juga ingin memberikan satu lagi untukmu...” Atra mengeluarkan satu buku lagi dan memberikannya pada Slitherio.
__ADS_1
“Ring of Fire? Ini adalah skill yang kucari selama ini!” Slitherio menerima buku itu kemudian langsung membacanya.
Buku yang tadi dibacanya dikembalikan ke Atra. Mereka kembali menunggu Slitherio yangmasih membaca buku yang diberikan Atra.
[Selamat, kau berhasil mempelajari keseluruhan Flame Warmage Technique!
Mendapat STR+10, INT+15, dan mendapat title ‘FlameMan Hero']
“Hehe, dengan ini seluruh jalanku sudah tersedia...” gumam Slitherio.
“Sudah?” tanya Atra.
“Sudah, kita lanjutkan perjalanan.” Jawab Slitherio.
Mereka berjalan menuju Blanc Mountain yang sudah terlihat tidak jauh Dimata mereka.
***
“Apa Crystal Magic Stone sudah ditemukan?” tanya Leone.
Leone sedang berada di ruang pertemuan Seven Deadly Sins dan ia sedang tidak sendirian.
Di ruangan itu, selain dirinya ada Sueta, Bagune, dan empat orang lainnya. Keempatnya memiliki mata berwarna hitam dan lingkaran di tengah mata yang berwarna putih.
Mereka bertujuh duduk melingkar mengelilingi sebuah meja bundar yang disebut dengan Circle Table.
Ada seorang pria gendut yang bernama Demino, sang Sloth Sins. Ada seorang pria yang terlihat berusia dua puluh tahun yang bernama Vet, Greed Sins. Ada juga seorang pria yang terlihat tua yang bernama Deviasy, sang Lust Sins sekaligus penguasa cadangan jika seandainya Leone sedang berlatih. Yang terakhir bernama Louse, Envy Sins sekaligus yang tertua diantara mereka bertujuh.
“Jadi, apa Lavenia sudah menemukan Crystal Magic Stone yang kita inginkan?” tanya Leone sekali lagi.
“Visidha mendengar dari salah satu bawahannya kalau Lavenia telah memiliki satu rencana untuk mendapatkan batu itu sekaligus membuat Slitherio tunduk pada kita.” Jelas Demino sambil mengambil satu Hell Sins Fruit. Buah ini berguna untuk meningkatkan kemampuan para Demon selama beberapa minggu.
“Heh, apa gunanya batu hijau itu? Kalau ingin digunakan untuk membangkitkan Demon, kita ada bukan?” gerutu Vet. Ia kemudian memangku dagunya di atas meja.
“Tapi jika kita mati, siapa yang bisa membangkitkan kita?” tanya Louse. Diantara ketujuhnya, hanya dirinya yang memiliki pikiran yang tajam. Ia bisa menangkap maksud Leone.
“Maksudku adalah, bagaimana kita akan membangkitkan makhluk hidup jika kita sendiri saja tidak bisa bangkit kembali?” ujar Leone sambil menunjuk sebuah altar di dekat mereka.
Keenamnya segera menyadari langsung maksud Leone. Altar itu disebut sebagai Summon Altar, sering dipakai untuk membangkitkan atau memanggil seorang dewa yang disebut dengan Death God.
Death God sebenarnya adalah salah satu dari para orang sakti yang berhasil melewati Triangle Sea, tetapi karena keserakahannya, ia dibuang dari Gods Realm dan diletakkan di dunia lagi.
Selama di dunia, Death God membuat satu kekaisaran yang disebut orang sebagai Hell Empire. Sang Life God yang merupakan musuh bebuyutannya mendengar hal itu segera mendirikan satu kekaisaran yang bernama Heaven Empire.
Kedua kekaisaran itu berkembang dengan pesat selama hampir seratus tahun dan keduanya masing-masing menguasai sebagian Midvast.
Leone pernah memanggil Death God sekali dan ia sudah merasakan auranya yang sangat kuat.
“Hmm, menurut catatan dari Leone sendiri, dikatakan bahwa ia menyembunyikan batu itu di sebuah tempat yang disebut dengan Oxyvian Labyrinth.” Ujar Bagune sambil menatap Leone.
Leone tersenyum bangga, memang dirinya yang membuat catatan itu dengan maksud agar dirinya tidak lupa dengan hal itu.
__ADS_1
“Maklumi saja, sudah usia...” ujar Leone sambil tersenyum lebar.
“Hah...” enam Seven Deadly Sins yang lainnya menghela napasnya, tidak menyangka orang terkuat diantara mereka mengalami masalah ingatan.