
Naze diam saja dan langsung menarik pedangnya kemudian melesat menyerang orang berjubah merah itu. Orang itu bukan lain adalah Slitherio.
Geisha yang menggerutu memilih menjauh untuk menghindari serangan nyasar dari
Slitherio tidak membalas serangan Naze, melainkan hanya menghindari serangan-serangan itu. Serangan-serangan Naze lebih ke arah serangan tusukan dan sedikit serangan tebasan.
Slitherio sedikit kesulitan saat menghadapi serangan Naze susah ditebak. Saat Naze memberikan celah, Slitherio bergerak cepat merampas pedang Naze dan menancapkannya di tanah.
“Kau?! Bagaimana bisa?!” Naze yang masih tidak terima kekalahannya mengambil busurnya, berniat melepaskan panah ke arah Slitherio.
Slitherio yang bergerak cepat lebih dahulu. Slitherio melesat menuju belakang naze dan mengambil busur Naze kemudian melompat kembali ke tempatnya tadi berdiri.
Naze yang sudah tidak memiliki senjata menarik pisau miliknya dan melesat menuju Slitherio yang menatapnya dengan tatapan bingung.
“Sebenarnya kau memiliki senjata berapa?!” seru Geisha dari jauh.
Naze mengalihkan perhatiannya pada Geisha dan berniat menyerang Geisha. Slitherio yang melihat tatapan naze segera memahami maksud Naze.
“Kau menyerangnya aku tidak akan segan lagi...” Slitherio mengangkat tangannya, mengeluarkan api berukuran sedang.
Naze yang melihat itu menyadari ia telah mencari lawan yang salah, “Kau... Kau adalah Slitherio? Flame King Slitherio?” Naze memasukkan pisaunya lagi.
“Untung saja kau menyadari kesalahanmu, Rio...” ujar Slitherio sambil berjalan ke arah Naze.
Naze yang mendengar itu terkejut, “Slitherio? Ryan?”
Slitherio tersenyum saat sudah berhenti di depan Naze, “Kau sangat mudah dikenali berkat pedangmu yang berwarna hitam dan nama karaktermu, Naze.”
Naze menenangkan dirinya kemudian meminta kembali pedang dan busurnya. Slitherio mengembalikannya.
Naze meletakkan senjatanya lagi di tempatnya semula sebelum bertanya, “Kalian ingin kemana?”
Slitherio menjawab, “Blanc Mountain...”
Naze mengangguk paham, sebenarnya ia tidak tau dimana letak Blanc Mountain. Tetapi ia mengangguk saja agar dianggap paham oleh Slitherio.
Geisha mendekat kemudian mengenalkan dirinya dan alasan kenapa ia bisa bersama Slitherio. Naze terkejut saat mendengar alasan Geisha bisa bersama Slitherio.
“Apa kau mau ikut kami ke Blanc Mountain?” tawar Slitherio yang dijawab gelengan pelan Naze.
“Aku tidak bisa ikut karena harus melaksanakan misi dari WhiteFang, ketua Guildku.” Jawab Naze.
__ADS_1
Slitherio mengangguk kemudian membiarkan Naze melanjutkan misinya, “Hati-hati.”
Naze tersenyum kemudian berjalan meninggalkan mereka. Saat Slitherio melihat Naze sudah tak terlihat, Slitherio bertanya, “Apa kita akan mengulangi cara yang tadi?”
Pertanyaan Slitherio membuat wajah Geisha kembali memerah. Dengan hitungan detik, ia sudah menghilang dari pandangan dan memukul wajah Slitherio.
Slitherio terpukul mundur dan memegangi wajahnya, “Kenapa kau memukulku?”
“Tidak apa, aku hanya ingin memukulmu saat melihat wajah tampanmu itu...” jawab Geisha asal-asalan.
Slitherio mengelus pipinya yang tadi dipukul Geisha, “Kau maunya pergi kesana berjalan kaki?”
Geisha mengangguk. Slitherio menanggapinya dengan senyuman tipis.
Mereka kemudian melanjutkan perjalanan mereka ke Blanc Mountain.
***
Leone sudah hidu lebih dari lima ratus tahun, tetapi dirinya tidak menunjukkan tanda-tanda menua. Disebabkan karena kemampuannya itulah dirinya bisa bertahan dari penuaan.
Dirinya satu generasi dengan Daishi, kaisar Heaven Empire yang sekarang. Dirinya termasuk dari Seven Deadly Sins dan menjadi yang terkuat diantara mereka semua.
Sebenarnya Hell Empire diperintah oleh tujuh orang Demon yang memiliki kekuatan yang luar biasa, melebihi Beast Remaist biasa. Kekuatan ketujuhnya dikatakan setara dengan Beast Remaist World Ruler dan dijadikan pilar utama Heaven Empire.
Hari ini, Visidha melaporkan hasil penyerangannya yang berakhir gagal dan muridnya gugur dalam pertempuran itu.
Setelah mendengar laporan Visidha, dahi Leone mengerut. Visidha yang menantikan keputusan Leone berkeringat dingin.
Meskipun dirinya dikenal semua orang sangat kejam, dihadapan Leone dirinya tidak ada apa-apanya. Bahkan Leone mampu membunuhnya jika Leone bertarung serius. Jika ketujuhnya bekerjasama, Visidha tidak yakin bisa bertahan melawan mereka.
Leone menghela napasnya, membuat jantung Visidha berdetak tidak beraturan. Leone bangun kemudian berseru, “Panggil Sueta kemari!”
Visidha yang mendengar itu semakin berkeringat dingin. Sueta dikenal sebagai salah satu dari Seven Deadly Sins dan dikenal terkuat kedua setelah Leone. Sueta dijuluki Wrath Sins.
Seorang pria yang terlihat berusia tiga puluhan tahun datang memasuki ruangan. Ialah Sueta.
Leone tersenyum pada Sueta kemudian bertanya, “Apa yang harus kita lakukan sekarang?” Leone kemudian meminta Visidha menceritakan situasi kemarin.
Visidha bercerita dengan keringat dingin. Kedua orang di depannya memancarkan aura yang luar biasa kuatnya sehingga ia berkeringat dingin.
Saat sampai di bagian dirinya bertarung melawan FolkChase, wajah Sueta berubah menjadi serius.
__ADS_1
“Masalah ini... Bukanlah masalah biasa...” Sueta segera menyimpulkan cerita Visidha.
Sueta menghela napasnya, “Ada kabar dari dua bangsawan yang kita kirimkan permintaan kerja sama?”
Leone berpikir sejenak sebelum menjawab, “HeavenSoul sudah menerimanya, sedangkan Lavenia sedang memikirkannya...”
“Bagaimana mungkin HeavenSoul bisa menolak permintaanmu jika yang kau tuliskan adalah ancaman untuk menghancurkan Heaven Mansion?!” suara seruan menambah keringat dingin di tubuh Visidha.
Seorang pria yang seutuhnya memiliki mata hitam berjalan santai sambil menunjuk Leone, “Aku bisa menerima isi dari permintaan ke Lavenia, tapi yang ke HeavenSoul sangatlah aneh bagiku...”
“Bagaimana mungkin Pride Sins menyerang satu bangsawan besar seorang diri tanpa pasukan bangsawan itu bisa melawan? Ini bisa membuat malu namamu,. Leone...”
Leone menatap tajam pria itu, tetapi pria itu tidak peduli. Pria itu adalah Bagune, sang Gluttony Sins. Dirinya adalah Demon terkuat ketiga dibawah Leone dan Sueta.
Berdasarkan ucapan Bagune, dikatakan bahwa Leone akan menghancurkan Heaven Mansion jika mereka berani menolak permintaan kerja sama yang diajukannya.
Leone membiarkan Bagune berceloteh tentang permintaan kerja samanya pada HeavenSoul dan berkata pada Visidha, “Sebaiknya kau mengerahkan selusin Hell Knight untuk membantu HeavenSoul dalam melakukan rencana ini...”
Leone memberikan rencananya pada Visidha. Visidha mendengarkan dengan seksama, takut ada yang terlewatkan.
Menurut rencana Leone, HeavenSoul harus mencari seorang Phoenix yang bernama Slitherio dan menyerahkannya padanya.
Slitherio ini sudah menghancurkan dua rencana awal kebangkitan Hell Empire. Yang pertama, Slitherio berhasil mengambil Magic Cube yang berisi jiwa Heaven Dragon yang dicuri oleh Asheuin.
Yang kedua, Slitherio sudah menghentikan serangan pasukan Zen ke Sky Empire yang dibantu oleh Wagata sang murid Visidha. Bahkan dengan bantuan Visidha sekalipun serangan itu tidak membuahkan hasil.
Leone memejamkan matanya, ia kemudian membuka matanya dan menatap Visidha, “Kita akan melaksanakan rencana selanjutnya.”
“Kita akan mengacaukan kondisi Midvast dengan bantuan HeavenSoul dan Lavenia. Dengan bantuan keduanya, seharusnya rencana setelahnya akan lebih mulus...”
Rencananya, HeavenSoul harus menghancurkan perdamaian di Midvast dengan segala cara. Yang pasti, Leone sangat mengharapkan perang karena hanya itulah satu-satunya cara menghilangkan kekuatan Midvast secara perlahan.
Setelah lebih dari separuh kekuatan Midvast menghilang, barulah Hell Empire akan menguasai Midvast.
Tentu ancaman utama Hell Empire dalam melaksanakan rencananya hanyalah keberadaan Heaven Empire dan beberapa jagoan tua yang masih hidup di Midvast. FolkChase dan July adalah salah satunya.
“Tentu ancaman selanjutnya adalah Immortal Dragon Chao yang kemungkinannya masih hidup...” Visidha menggaruk kepalanya, ia masih mengingat kekuatan Chao yang sangatlah besar, “Paling dia akan menghancurkan kita sebelum kita melancarkan rencana terakhir.”
Leone, Sueta, dan Bagune terduduk lemas. Mereka semua tahu kekuatan Chao yang melebihi kerja sama mereka bertujuh jika mereka sampai bertarung.
“Memang sebaiknya aku tidak ikut, bukan?” suara pria sepuh terdengar memecah keheningan di ruangan itu.
__ADS_1
Bonus Chapter: 8/10