
Slitherio terus melesat hingga akhirnya ia dicegat oleh sesosok Orc bertubuh kurus dan melepaskan Murderous Aura.
Slitherio menjadi waspada dengan sosok tersebut dan menggenggam erat pedangnya. Pedangnya berubah menjadi merah api setelah ia mengucapkan sebuah skill.
“Weapon Skill: Red Sword...” Slitherio memilih maju menyerang Orc itu dan hanya ditahan dengan lengannya saja. Ia bergeser mundur beberapa senti dari posisinya semula
“Apa kau benar orang yang diceritakan Zen yang memiliki kemampuan besar?” Tanya sosok itu sambil tersenyum tipis, “Pemuda ini, kekuatannya melebihiku saat seusianya...”
Slotherio bertanya dengan cepat, “Siapa namamu?”
“Aku? Wagata, murid Hell Dragon Visidha. Salam kenal dan mohon bimbingannya.” Wagata menurunkan tangannya dan mengulurkannya.
Slitherio mengumpat dalam hatinya, bagaimana mungkin dirinya yang baru sampai di medan perang malah langsung bertemu dengan pemimpin pasukan lawan sekaligus orang yang baru ia bicarakan dengan FolkChase tadi.
Wagata tersenyum dan memukul pelan Slitherio. Slitherio menahan pukulan itu dengan pedangnya dan terpukul mundur cukup jauh.
“Kau beruntung, aku tadi baru mengerahkan separuh kekuatanku dan kau sudah terpukul mundur cukup jauh...” Wagata mendekati Slitherio kemudian berniat menendangnya tetapi ditahan oleh Slitherio.
Slitherio menghempaskan kaki Wagata kemudian menjauh dan menancapkan pedangnya kemudian mengucapkan sebuah mantra yang Wagata tidak ketahui artinya yang berakhiran dengan nama sebuah skill.
“Flame Warmage Technique: Flame Seal.”
Segel itu membuat pedang Slitherio tidak bisa ditarik oleh siapapun selain Slitherio sendiri. Ia kemudian bergumam lagi.
“Flame Warmage Technique: Stream of Fire...” sebuah aliran api merambat di tanah dan mencegat Wagata bergerak lebih jauh.
“Art of Dark Fist: Dark Fist.” Energi disekitar Wagata berubah menjadi hitam keunguan, meningkatkan kekuatan Wagata secara singkat hanya untuk melepaskan diri dari skill Slitherio.
“Flame Sword Technique: Flame Wave...” Slitherio mengayunkan pedangnya kemudian menghasilkan gelombang serang yang tepat mengenai Wagata yang baru berhasil lepas dari skill Slitherio yang tadi.
“Sial, Art of Dark Fist: Bad Luck Fist.” Wagata melesat ke arah Slitherio dan melepaskan pukulan keras ke tempat Slitherio tadi berdiri dan berhasil menghancurkan tanah di sekitarnya.
“Seandainya aku terkena skill itu sudah tidak terbayang wujudku nanti seperti apa...” Slitherio terbang makin tinggi, yakin Wagata tidak akan mencapai dirinya.
Tebakannya benar. Wagata yang memiliki kemampuan tidak terkalahkan tidak bisa melompat lebih tinggi dari sepuluh meter, ia terus melompat dan turun lagi. Hal itu terus terjadi hingga akhirnya tanah disekitarnya hancur.
“Slitherio, tolong aku!” suara Whu terdengar keras di udara, membuat Slitherio turun dari langit dan mendarat didekatnya.
__ADS_1
Wagata sedang memukuli Whu yang menahannya dengan tongkatnya, Wagata terus memukuli Whu hingga HP Whu tersisa kurang dari separuh jumlah awalnya.
Wagata menyeringai sambil tertawa cekikikan, “Ini... Menyenangkan...” Wagata melanjutkan memukuli Whu.
Tiba-tiba, Atra datang menahan pukulan Wagata dan menghempaskannya jauh-jauh. Slitherio melesat dan memberikan banyak Heal Flame hingga HP Whu terisi penuh lagi.
Mereka berdiri berdampingan, menarik senjata mereka masing-masing.
“Kita hadapi ia bersama-sama...” Slitherio berbisik yang ditanggapi dengan anggukan cepat oleh Atra dan Whu.
Pertarungan antara tiga Remaister melawan pendekar peringkat terkuat nomor enam dimulai dengan saling tatap dalam diam.
Masing-masing dari mereka berusaha menganalisis kekuatan lawan mereka. Slitherio, Atra, dan Whu berhasil menganalisis kemampuan lawan, sedangkan Wagata tidak mampu menganalisis kemampuan ketiga lawannya karena ia merasakan aura tidak asing berasal dari tiga orang di depannya.
“Kalian... Apa hubungan kalian dengan Zon?!” tanya Wagata sambil menunjuk ketiganya.
“Kita? Tidak, hanya aku saja yang memiliki hubungan dengan orang yang kau maksud...” Slitherio menancapkan pedangnya, “Aku muridnya.”
Mata Wagata melebar begitu melihat Flame Phoenix Sword, “Benar, ini pedangnya...” Wagata tersenyum tipis.
“Setelah ia kabur, ia malah mengirim muridnya kemari... Menarik...” Wagata meregangkan kesepuluh jarinya, “Aku gagal membunuhnya jadi aku akan membunuh muridnya saja.”
Slitherio memilih terbang, sementara Whu dan Atra menghindar ke samping kemudian melesat menyerang Wagata dengan mengeroyoknya.
Satu demi satu serangan berhasil mendarat di tubuh Wagata, HP milik Wagata juga mulai berkurang sedikit demi sedikit.
“Kalian!” Wagata melompat mundur dan saat itulah, Slitherio muncul di belakang Wagata dan menusukkan pedangnya ke jantung lawannya.
“Si... Sialan...” Wagata menggenggam ujung Flame Phoenix Sword dan berniat mendorongnya, tetapi Whu muncul di belakang dan memukulkan tongkatnya ke ujung gagang Flame Phoenix Sword hingga tertusuk lebih dalam.
Slitherio mengucapkan sebuah mantra kemudian menyentuhkan pedangnya dan menjauh bersama Whu dan Atra.
Wagata berniat melepaskan pedang Slitherio yang tertusuk di jantungnya dan melesat membunuh mereka bertiga, namun sekujur tubuhnya terasa kaku, tidak mau bergerak.
Wagata berteriak pada Slitherio, “Apa yang kau lakukan?!”
“Aku? Menyegelmu sejenak agar pasukan Sky Empire bisa melawan seluruh pasukanmu...” Jawab Slitherio santai.
__ADS_1
“Hanya dengan pedang ini dapat menahanmu, kau gagal memenuhi ekspektasi ku... Wagata...” seseorang berbicara di samping telinga Wagata, namun ucapannya dapat didengar oleh semua orang.
Orang-orang mengambil jarak dengan musuh mereka, namun para Orc seakan tidak mau melepaskan musuh mereka.
Serioza yang berhasil membuat jarak dengan Zen melepaskan auranya hingga banyak Orc yang mematung di tempatnya.
“Guru! Tolong aku!” seru Wagata setelah melihat wajah orang berbicara dengannya.
Slitherio memucat begitu mendengar Wagata menyebut orang itu sebagai gurunya, begitu juga dengan Serioza bersama pasukannya dan juga Zen bersama pasukannya.
Sang Hell Dragon Visidha muncul dihadapan mereka!
Slitherio merasa dirinya yang sekarang tidak akan mampu melawan Visidha sehingga ia memilih terbang berniat mencari FolkChase namun orang yang dimaksud sedang berdiri di sebelahnya sambil mengelus jenggot putihnya yang pendek.
“Hm... Aura ini, milik Visidha...” FolkChase menoleh pada Slitherio sambil tersenyum hangat.
“Kau? Bagaimana kau bisa ada disini?” tanya Slitherio bingung.
“Hm? Kau tidak suka dengan keberadaanku?” FolkChase berkata sambil berjongkok di atas awan. Mata Slitherio melebar melihat kemampuan FolkChase, “Kau penasaran? Teknik ini bernama Langkah Angin, pada tingkatan tertinggi dapat membuatmu seakan melayang di udara.” Jelas FolkChase.
Jauh di bawah, Visidha berniat menarik pedang Slitherio yang tertancap di punggung Wagata, namun dirinya sendiri bahkan tidak bisa menariknya.
Visidha menoleh pada Whu dan Atra, “Apa yang kalian lakukan pada muridmu?”
“Kami? Kami menyegelnya agar ia tidak merusuh nantinya, jadi Slitherio menyegelnya selama seribu tahun.” Jawab Atra sambil mengangkat bahunya.
Tiba-tiba, pedang Slitherio terbang naik ke atas dan menghilang diantara awan-awan. Atra dan Whu menatap ke atas dan berusaha melihat apa yang ada diatas sana yang berhasil mengambil pedang Slitherio.
Catatan Penulis:
Sekali gak up entah kenapa rasanya tidak enak gitu. Seperti ada perasaan kasian liat pembaca yang nunggu.
Meskipun sudah saya kasih catatan sedikit di chapter sebelumnya. Mungkin ada saja beberapa yang tidak membacanya. (Pasti dibaca kok, kan chapter terakhir:v)
Satu aja dulu. Hari ada keberuntungan saya selesai belajar lebih awal. Sebelumnya selalu habis waktu buat belajar aja.(Maklum, penulis tidak terlalu bisa pelajaran Matematika dan Fisika) :)
Itu aja. Udah malem. Dimarah ibu ntar ketahuan begadang.
__ADS_1
Salam,
Rio.