Remaist Online: Return Of The Legend

Remaist Online: Return Of The Legend
197. Ujian ketiga


__ADS_3

Sehari setelah Slitherio dan teman-temannya membuka Kunci Keabadian...


Slitherio diangkat menjadi murid Flame God Zein dan akan diberikan latihan yang keras untuk menempa tubuhnya agar bisa menahan kekuatan besar yang nantinya akan keluar dari tubuh Slitherio setelah melalui ujian-ujian ini. Begitulah yang dikatakan oleh Zein ketika mengangkat Slitherio menjadi muridnya.


Sebenarnya, Slitherio bisa saja menolak itu semua, tetapi karena mengetahui jika seandainya ia membuat Zein marah, kemungkinan dirinya tidak akan hangus adalah nol persen.


Dengan begitu, Slitherio akhirnya menjadi murid Zein dan memisahkan diri dari teman-temannya. 


Membicarakan tentang hal ini, Art Goddess Reiy mengangkat Li menjadi muridnya dan mengajaknya ke Kota Dewa. Lalu FastStone dan Sean diangkat menjadi murid oleh Gaburon serta diajak ke hutan tepi pulau. Naze diangkat menjadi murid oleh Bow God Zie dan diajak tinggal di Kota Fana. Sisanya akan diletakkan di perpustakaan dan diminta belajar disana sendiri.


Memang terlihat tidak adil, tetapi bakat ketiganya bisa dibilang rata-rata, membuat mereka tidak dilirik oleh dewa lainnya untuk dijadikan murid. Terpaksa, mereka akhirnya tinggal di perpustakaan ditemani oleh ratusan rak penuh berisi buku.


Hari ini, Slitherio berdiri di depan rumah Zein sambil memegang gagang Flame Phoenix Sword dan menghadap Zein.


“Hmm, kau dijuluki Flame God di Midvast, tetapi kau memiliki kombinasi senjata paling banyak diantara sepuluh orang terkuat di Midvast, sebenarnya kau itu bisanya dimana?” Zein menggaruk kepalanya sambil menaikkan alisnya saat melihat Slitherio.


Slitherio bisa dibilang sebagai pemain serba bisa. Bisa menggunakan skill magic dan skill physical secara bersamaan, bisa memakai dua pedang sekaligus, bisa melawan pemain terkuat nomor satu, serta bisa berhadapan dengan makhluk terkuat nomor tiga di dunia, hanya Slitherio orangnya yang bisa melakukan itu semua.


Slitherio diminta menemui Zein karena Zein penasaran dengan kombinasi senjata milik Slitherio. Slitherio menampilkan dirinya yang memakai satu pedang, dua pedang, dua pedang besar, dan terakhir satu pedang besar. Tak lupa, ia menampilkan satu cakar Phoenixnya yang diselimuti api merah.


“Kau itu lebih cocok dipanggil Sword God dibanding Flame God...” Zein menjentikkan jarinya, “Tidak salah menyebutmu sebagai orang terhebat sepanjang sejarah dunia...”


“Baiklah, kau ingin kuberikan pelajaran pedang atau pengendalian api?” tanya Zein.


Slitherio berpikir lama, dalam kepalanya muncul  pemikiran seperti ini, “Kalau pedang, aku akan menjadi Dewa Pedang dan tidak bisa menjadi Dewa Api. Kalau aku menerima pelajaran pengendalian api, aku akan menjadi Dewa Api. Kalau aku menerima keduanya, aku bisa dipukuli oleh Zein...”


“Baiklah, keduanya saja...” Slitherio mengepalkan tangannya. Ia sudah memutuskan hal itu.

__ADS_1


“Yakin?” Zein menatap Slitherio, “Mempelajari keduanya bisa membuat tubuhmu kelelahan, bagaimana?”


“Tidak akan kuubah meski anda mengatakan hal itu...” Slitherio memasang wajah serius.


Dan itulah awal dari perjalanan pedang Slitherio yang panjang serta melelahkan itu.


***


Seminggu kemudian...


Seminggu berlalu dan tidak terasa delapan orang dari Midvast akhirnya berhasil memiliki 25 kekuatan Spirit dan memiliki status rata-rata berada di angka 1.990.


Slitherio dan yang lainnya berdiri di depan Gods Altar, menunggu Zein dan Luna untuk memulai ujian ketiga mereka, yaitu mendaki gunung tanpa batas.


Cukup lama mereka menunggu sampai pada akhirnya Zein datang setelah hampir satu jam menunggu.


“Halo, sudah berlalu satu minggu dan hari ini kita akan memulai ujia ketiga kita, yaitu mendaki gunung tanpa batas...” Zein mengayunkan tangannya. Setelah itu Luna muncul di sebelah Zein.


“Eh? Secepat itukah?” Sean menggaruk kepalanya, ia sendiri dijelaskan tentang dunia itu kemarin oleh Slitherio saat istirahat di perpustakaan.


“Mau bagaimana lagi, hanya disana sajalah yang terdapat gunung tanpa batas...” Zein menaikkan bahunya.


Luna melirik Zein, “Kau berbohong...”


“Eh?” Li menatap Luna yang memasang wajah kesal sambil melipat tangannya, “Apa di sekitar sini ada gunung tanpa batas lagi?”


Sebelumnya, Atra sudah mendiskusikan hal ini sebelumnya dengan Slitherio dan FastStone. Hasilnya adalah gunung tanpa batas merupakan pulau besar di luar Triangle Sea serta tidak dianggap sebagai bagian benua manapun. Hal itu terlihat di peta sehingga Slitherio mengetahuinya.

__ADS_1


“Ada, hanya saja jika kita ingin kesana maka memerlukan waktu serta tenaga yang besar. Kalian tidak akan bisa mencapainya hari ini juga...” Zein menghembuskan napasnya.


“Apa lagi yang kita tunggu? Ayo kita ke Gods Realm!” FastStone mengangkat tangannya dengan semangat, diikuti oleh Naze dan Li yang tidak tahu apa-apa.


Zein tersenyum lebar lalu berkata, “Ikuti aku...”


***


Pembangunan Kota Hostix sudah selesai dan bagian mengurus Hostix yang sebelumnya berada di tangan Slitherio berpindah ke tangan LoghSeveria.


LoghSeveria memiliki banyak inovasi dalam mengembangkan Hostix, tetapi entah kenapa inovasinya itu jarang ada yang menerimanya.


Hari ini, LoghSeveria berencana mempercantik perpustakaan serta berniat membuat taman kota di dekat pemukiman warga, tetapi satu jawaban Riana membuatnya mengerutkan dahinya kebingungan.


“Aku tidak percaya denganmu...” ujar Riana ketika dimintai pendapat oleh LoghSeveria.


“Sebaiknya kita mengembangkan kekuatan Guard of Hostix dibanding mengurus hal-hal yang bisa diurus belakangan seperti itu...” ujar Asheuin.


“Kalian lebih memilih kekuatan dibanding keindahan kota ini ya?” LoghSeveria mengelus dagunya sambil tersenyum tipis.


“Bukan begitu, hanya saja...” Riana yang berada di tempat yang sama mengangkat tangannya, “Whu berkata kalau ada sebuah aktivitas yang tidak bisa Black Fast Alex dan Mad Girl Carey lacak di Midvast...”


“Aktivitas yang tidak bisa dilacak Alex dan Carey?” LoghSeveria mengenal dua orang itu karena memang kelincahan mereka bisa dikatakan diatas Slitherio dan Zynga.


“Entahlah, Whu tidak memberitahu detailnya.” Riana mengelus dagunya, “Yang aku takutkan adalah rencana skala besar seperti yang terjadi pada kasus Hell Empire saat itu...”


“Kalau benar begitu, artinya kita harus menyelesaikannya tanpa bantuan Slitherio, bukan?” LoghSeveria bertanya dengan nada serius. 

__ADS_1


“Aku akan mengembangkan Guard of Hostix lebih baik lagi agar saat Ketua kembali, ia bisa melihat kedamaian di benua ini...” ujar Asheuin lalu meninggalkan Riana dan LoghSeveria di markas utama.


Riana dan LoghSeveria saling tatap sebelum akhirnya mereka mengambil keputusan yang sama dengan Slitherio lebih dari delapan bulan lalu, yaitu meningkatkan level mereka setinggi-tingginya agar saat rencana yang hampir menyetarai rencana Hell Empire terjadi lagi.


__ADS_2