Remaist Online: Return Of The Legend

Remaist Online: Return Of The Legend
61. Revolusi


__ADS_3

Blood Dungeon, merupakan sebuah dungeon yang bercirikan Tower. Setiap lantai yang berhasil ditaklukan akan dijadikan titik penentuan kesulitan dungeon ini.


Seperti saat ini, Slitherio bersama teman-temannya sedang berusaha menaklukan lantai terakhir dungeon ini. Yaitu lantai 50 yang merupakan ruang bisa level 300.


Dengan Slitherio yang memiliki level 200, Naze yang memiliki level 197, Whu yang memiliki level 199, dan Geisha yang memiliki level 195, lantai terakhir dungeon ini terasa sulit. Ditambah dengan enam makhluk yang memiliki level setara pemain level 80, seharusnya lantai terakhir ini dapat ditaklukan dengan sedikit kesulitan.


Namun yang menjadi masalahnya hanya pada HP Spider Queen Qirathna yang bisa dikatakan nyaris tidak berkurang.


“Sial! Kapan habisnya ini laba-laba?!” umpat Whu sambil memukulkan tongkatnya. Seluruh serangan mereka digabungkan hanya berhasil mengurangi HP laba-laba tersebut sampai 80%.


Slitherio juga tidak bisa tenang, cakarannya sudah tidak terlalu kuat karena untuk mempertahankan cakar itu, membutuhkan Mana dalam jumlah yang tidak sedikit.


Cakar Phoenix Slitherio menghilang, ia memilih melesat sambil berseru, “Flame Warmage Technique: Flame Palm!”


Telapak tangan Slitherio mendarat di punggung laba-laba tersebut, namun laba-laba itu tidak tumbang sedikitpun. Bergeser saja tidak.


Slitherio berdecak, ia kembali melepaskan serangan yang sama berkali-kali. 


Disisi lain, Whu juga kewalahan karena laba-laba itu juga menyerang dengan kedua kakinya. Dua clon yang baru saja dibuatnya sudah menghilang dikarenakan laba-laba itu.


Naze tidak dalam kondisi yang sama dengan Slitherio dan Whu, ia bisa dibilang tidak dipedulikan oleh laba-laba itu. Dengan begitu ia bisa leluasa menyerang menggunakan pedang hitamnya itu.


“Puncture Sword!” Naze menusukkan pedangnya ke tubuh Spider Queen Qirathna dan menembusnya. Ia kemudian melompat mundur kemudian kembali menusukkannya di tempat yang sama.


Setelah tertusuk, ia menggunakan pedangnya untuk melebarkan luka yang disebabkan pedangnya itu. Dengan segala kekuatannya, ia membuat luka tersebut semakin lebar.


Slitherio yang melihat itu ikut melakukan hal yang sama dengan Flame Phoenix Sword dan menusukkannya ke punggung laba-laba tersebut. 


HP Spider Queen Qirathna semakin berkurang, ia juga tidak bisa melakukan banyak gerakan karena segala sisinya sudah dikepung oleh enam mantan Pendekar Naga Hijau.


Kombinasi serang keenamnya bisa dibilang sangatlah bagus, kombinasi keenamnya membuat Spider Queen Qirathna tidak bisa melebarkan jarak serangnya.

__ADS_1


Asheuin bersama kelima temannya tidak memiliki satupun skill aktif, mereka hanya mengandalkan skill pasifnya dimana skill pasif mereka meningkatkan kekuatan mereka saat bertarung bersama seluruh rekannya.


Perlahan, HP Spider Queen Qirathna berkurang hingga 30%, hal ini semakin membuat kesepuluh penyerangnya semakin bersemangat.


Tetapi, Spider Queen Qirathna sudah mempersiapkan satu serangan lagi untuk mereka. Ia melompat tinggi dan menghilang di langit-langit goa itu.


Slitherio yang tidak mengetahui dimana letak persembunyian laba-laba itu. Diantara semuanya, hanya Slitherio seoranglah yang memiliki sisa HP paling sedikit, sekitar 15%. Satu serangan fatal bisa membunuhnya dalam sekejap.


Dan hal yang tidak diinginkan malah terjadi. Setetes darah muncul di bawah kaki Slitherio, Slitherio yang tidak menyadari kemunculan darah itu membiarkannya.


Laba-laba tersebut melompat turun dengan kecepatan tinggi, menusuk tubuh Slitherio yang tertutup Jirah dan menembusnya.


Tubuh Slitherio menghilang dan berubah menjadi butiran cahaya merah keemasan. Asheuin yang tidak mengetahui skill pasif tuannya berseru dengan keras kemudian menyerang Spider Queen Qirathna dengan membabi-buta.


Whu, Naze, dan Geisha juga tidak mengetahui tentang skill pasif Slitherio, Geisha memilih melompat maju menyerang Spider Queen Qirathna dengan pedangnya. Memang kemampuan Ranger tidak bisa diremehkan.


Hal yang tidak terduga terjadi di dalam pertarungan tersebut. Di tempat Slitherio mati, butiran cahaya merah keemasan muncul dan kemudian menghilang. Digantikan dengan sesosok pria yang memakai Jirah berwarna emas kemerahan. Ia juga menenteng sebuah pedang di pinggangnya.


Sen dan Adhie yang melihat itu matanya melebar, mereka mengenali sosok pria tersebut.


Sontak saja, Naze dan Whu yang sedang menyerang kaget dengan ucapan Sen. Siapa lagi yang akan dipanggilnya Tuan selain Slitherio seorang.


Slitherio mengangkat pedangnya, ia mengarahkan pedangnya ke tubuh Spider Queen Qirathna sebelum ia mengucapkan nama sebuah skill, “Flame Sword Technique: Flame Wave.”


Gelombang api tercipta dari tebasan pedang Slitherio, Naze yang melihat skill itu tersadar dari terkejutnya sebelum ia ikut melepaskan sebuah skill, “Sword Wave Slash!”


Naze berputar dan juga melepaskan gelombang serang yang berputar menuju tubuh Spider Queen Qirathna. 


Entah bagaimana caranya, gelombang api Slitherio dan gelombang pedang Naze menjadi satu kemudian melesat dengan cepat menuju Spider Queen Qirathna.


Serangan tersebut langsung membunuh Spider Queen Qirathna dan memberikan EXP yang banyak ke semua orang yang terlibat dalam penyelesaian Dungeon ini.

__ADS_1


Slitherio naik level menjadi 201, level Whu naik menjadi level 200, level Naze naik menjadi level 198, dan level Geisha naik menjadi level 196. Tentu yang paling signifikan kenaikan levelnya tentu enam mantan Pendekar Naga Hijau.


Keenamnya langsung naik ke level 100 dan Slitherio bersama Whu mendapat sebuah jendela informasi.


[Selamat, Asheuin, Sen, Dee, Adhie, Zeo, dan Bhiosa telah melewati level 100 dan berevolusi menjadi Knight.


Sekarang, Asheuin, Sen, Dee, Adhie, Zeo, dan Bhiosa dapat mempelajari skill!]


“Oh... Aku lupa memberi keempatnya skill...” gumam Slitherio.


“Artinya, sebelum mencapai level 100 mereka tidak akan bisa mempelajari skill.” Whu mengelus dagunya, “Sungguh berbahaya...”


Keenamnya mulai berubah, sekujur tulang mereka mulai tertutupi oleh daging. Seluruh Equip yang tadi diberikan Slitherio terlepas sendiri sebelum terpasang kembali setelah tubuh keenamnya mulai berbentuk.


Tubuh keenamnya terlihat kekar berotot, membuat iri Slitherio yang memiliki tubuh tinggi tetapi kurus. Karena memang pemain Remaist Online menyesuaikan karakternya dengan kondisi tubuh aslinya.


Berbeda dengan para pemain yang memiliki ras selain Human, tubuh mereka akan berubah sedikit, tetapi tidak meninggalkan ciri asli tubuhnya.


“Yah, setidaknya mereka sudah memiliki tubuh yang lengkap dan tanpa memiliki kekurangan sedikitpun...” ujar Slitherio sebelum berbalik menuju pintu keluar Dungeon itu. Yang lainnya mengikuti.


***


BloodThirsty Kingdom berdiri di atas sebuah lapangan luas. Lapangan tersebut telah disulap oleh para generasi sebelumnya dengan rapi hingga menjadi sebuah kerajaan yang sangat rapi dan indah.


Tidak akan ada orang yang percaya bahwa kerajaan yang rapi dan indah ini merupakan sebuah kerajaan milik ras yang paling kejam kedua di Midvast, yaitu Werewolf.


Dan disinilah Atra berada sekarang. Dengan kemampuannya tidak sulit untuk mencapai tempat ini dalam waktu kurang dari seminggu.


Atra kini sedang berada di dalam perpustakaan. Ia tidak menyangka bahwa ras yang terkenal kejam ini bahkan memiliki sebuah perpustakaan. Bahkan, perpustakaan ini sangat ramai.


Atra ikut mengantri dengan memakai jubah bertudung yang tudungnya diturunkan. Dengan penampilannya yang terlihat sedikit pucat, tidak ada yang mencurigainya sedikitpun.

__ADS_1


Kondisi perpustakaan ini bisa dibilang sangatlah kuno, banyak rak yang penuh terisi buku-buku yang terlihat kuno. Cahaya lampu yang sedikit redup menambah kesan kuno di perpustakaan ini.


Atra terus berjalan menelusuri baris perbaria rak-rak buku, mencari sesuatu yang diperlukannya. Atra berhenti berjalan ketika sampai di suatu barisan rak yang diberi nama 'Sejarah'.


__ADS_2