
“Ya, babak yang pasti ditunggu oleh para penggemar Physical and Magic telah tiba!”
“Babak final yang mempertemukan dua tim yang selalu bertemu di final dua turnamen sebelumnya kembali bertemu!”
“Tetapi kita tidak tahu akhir dari final ini, karena bisa dibilang kalau dua tim ini jelas yang paling pesat perjalanannya di turnamen ini.”
“Itu benar! Sebab itulah kami telah mempersiapkan tempat terbaik bagi dua tim ini untuk bertanding!”
Babak final World Tournament Physical and Magic berlangsung setelah empat minggu melakukan babak penyisihan dan babak semifinal.
Bagi para peserta yang lolos ke babak semifinal, ini jelas kesempatan untuk melihat Jepang lebih dalam lagi.
Seperti yang dilakukan tim Indonesia. Mereka berkeliling Jepang ditemani oleh Kaku, pemandu mereka.
Menurut Kaku, babak final ini ditayangkan di seluruh dunia dan para reporter dari seluruh dunia meliput turnamen ini langsung dari Tokyo, Jepang.
“Wah, kalau begitu semua teman kita di Indonesia juga melihat babak final kita...” Rio bergetar. Kalau seluruh dunia, Indonesia juga...
“Aku tak bisa membiarkan Indonesia kalah lagi!” Hendra mengepalkan tangannya.
“Kau benar...” ujar Ryan. Ia tahu kalau orang tuanya juga melihat turnamen ini di televisi.
Lawan mereka kali ini adalah tim Jepang, tim yang selalu menjadi rival utama tim Indonesia sejak di turnamen sebelumnya.
Ryan berniat memberi tim Jepang pelajaran karena pernah membuat Indonesia kalah, dua kali juga. Niat ini muncul karena Ryan mencintai negara Indonesia melebihi rasa cintanya pada apapun itu.
“Yosh! Sebelum bertanding, ada baiknya kita berdoa bersama agar kita diberi kemudahan dalam babak ini...” ujar Ryan lalu menundukkan kepalanya. Yang lainnya mengikuti untuk berdoa.
Ryan menjulurkan tangannya, Rio menumpuk tangannya di atas tangan Ryan, lalu diikuti Hendra, Fredy, Agus, Leo, dan Justin.
“Indonesia, berhasil!”
***
“Dua tim yang diidolakan oleh beberapa orang akhirnya datang ke arena. Untuk yang pertama, kita sambut tim dari tuan rumah sendiri, yaitu tim Jepang!”
__ADS_1
Lima orang dengan tubuh tinggi naik ke arena dan mereka tersenyum lebar. Menurut Agus yang sering menonton pertandingan tim Jepang, kapten tim Jepang bernama Tsuyoshi Yiziru. Nicknamenya sama dengan namanya, yaitu Tsuyoshi.
“Dan kita sambut tim yang menjadi rival utama tim Jepang, yaitu tim Indonesia!”
Lima orang dengan seragam berwarna biru dengan garis hitam di pundaknya dan bendera Indonesia di dada kiri mereka. Itulah tim Indonesia yang diwakili oleh Squad N5S.
Sorakan segera terdengar saat kedua tim saling berjabat tangan. Tatapan mereka semua tajam seperti pisau dan terlihat dari tatapan mereka kalau mereka takkan membiarkan lawan mereka menang.
Mereka duduk di tempat yang telah ditentukan dan kalau dilihat dari kursi penonton, terlihat kalau setiap tim dipisahkan oleh sebuah dinding kaca. Dengan kata lain, tempat kedua tim berbentuk seperti ruangan yang dindingnya terbuat dari kaca.
Tempat ini eksklusif buatan perancang peta di Physical and Magic. Mereka lalu duduk dan memakai Headphone yang dibawa oleh masing-masing pemain.
Tim Indonesia iseng membawa Headphone untuk mendengarkan lagu. Tak mereka sangka kalau Headphone mereka akan berguna saat ini.
Fase Draft Pick dimulai dengan ketegangan dari setiap tim. Setiap tim menyusun rencana mereka dalam waktu jeda dan terlihatlah kalau tim Jepang percaya diri dengan kemampuan mereka.
“Biar kuberitahu tim Indonesia rasanya mengalami kekalahan...” ujar Tsuyoshi dengan sinis sambil melirik ruangan tim Indonesia.
Justin yang memiliki pendengaran sedikit lebih tajam dari teman-temannya mendengar apa yang dibicarakan oleh Tsuyoshi sehingga ia memberitahunya pada Ryan yang sedang menyusun rencana bersama Rio dan yang lainnya.
“Untuk sementara, aku tak bisa memastikan kemenangan kita karena lawan kita hari ini adalah sang Top Global nomor empat, Tsuyoshi...” ujar Ryan disela-sela diskusi.
“Apa-apaan kata-kata itu?” tanya Rio. Saat melawan tim Korea, Ryan tak pernah berkata seperti itu.
“Aku baru menyadari kalau gaya bermain Tsuyoshi ini amatlah mengerikan, ia bahkan berani maju seorang diri ke dalam kerumunan musuh dan memanggil rekan-rekannya saat dirinya sudah mati dan lawan sudah sekarat...” ujar Ryan, “Aku saja takkan berani mengambil resiko semacam ini...”
“Ryan, apa kau lupa, siapa yang pernah membantumu saat war melawan tim Korea dulu? Fredy...” ujar Hendra sambil melirik Fredy yang sedang menatap semuanya.
“Siapa yang pernah membantumu mendapatkan Maniac dalam pertandingan ini? Justin...” ujar Rio sambil melirik Justin yang saat melawan tim India ia bermain di belakang Ryan dan membantu Ryan mendapatkan Maniac.
“Apa kau tahu kalau semua orang yang bergabung dalam Squad N5S rata-rata sering membantumu dalam mencapai apa yang kau inginkan?” tanya Justin.
Ryan terdiam, “Maaf, ini karena aku gugup...”
“Sebaiknya kau tahu kalau semua orang yang sedang duduk bersamamu ini takkan membiarkan tim Jepang menang untuk ketiga kalinya...” ujar Hendra sambil menepuk pundak Ryan, “Kami akan melakukan sebaik yang kami bisa...”
__ADS_1
Ryan mengangguk, “Aku takkan mengecewakan kalian, kawan...”
Fase Draft Pick telah dimulai dan tim Indonesia mendapat kesempatan membanned Hero untuk yang pertama.
“Ban Tiny...” ujar Ryan. Hendra mengangguk.
“Wuoo, Tiny yang dibanggakan oleh kapten tim Jepang telah dibanned oleh lawan! Apakah tim Jepang ada perlawanan?”
“Gaburon? Terlihat kalau tim Jepang ini ingin mengalahkan tim Indonesia!”
“Tian?! Nampaknya tim Indonesia takkan bisa berkutik...”
“Berto juga dibanned? Persaingan tim betul-betul menegangkan!”
“Yang penting PanMan masih aman...” ujar Rio. Fredy mengangguk.
“Raguf juga dibanned oleh tim Indonesia?!”
“Varezsa dibanned? Kita hanya bisa menunggu, keputusan apa yang akan diambil oleh tim Indonesia...”
“PanMan? Tim Indonesia bercanda?”
“Oi, jangan remehkan!” Justin serasa ingin melompat keluar dan mencekik pembawa acara yang mengatakan itu.
Rio yang duduk di sebelahnya menahan Justin, “Kita harus sabar...” dengan nada yang terdengar seperti menasihati orang yang sedang duel.
“Kano... Telah diambil oleh tim Indonesia! Padahal Kano adalah Hero andalan tim Jepang dalam mengalahkan setiap lawannya!”
“Persetanlah, yang paling penting aku masih paham cara memakainya...” Ryan yang memilih mengambil Kano mengumpat. Ia sendiri paham dengan gameplay Kano yang sederhana ini.
“Oda diambil oleh tim Jepang. Jepang betul-betul mencintai Hero dari negaranya...”
Fase Draft Pick benar-benar berlalu dengan ketegangan dari dua pihak, baik itu tim Jepang dan tim Indonesia serta dari pihak penonton dan pihak pembawa acara.
“Fase Draft Pick selesai, kita akan bergerak menuju fase Match!”
__ADS_1