Remaist Online: Return Of The Legend

Remaist Online: Return Of The Legend
25. Serangan Sky Empire


__ADS_3

Zen dikejutkan oleh salah satu prajuritnya ketika ia sedang istirahat, “Kenapa kau terlihat panik?”


“Lapor, dari arah barat terlihat sebuah cahaya terang warna-warni. Tepatnya di sebuah pegunungan yang saya sendiri lupa namanya.” Lapor prajurit itu sambil menggaruk kepalanya.


“Pertanda... Segera beritahu Fadexion dan Fisvion tentang hal ini.” Zen mengetahui jelas kemungkinan yang membuat cahaya itu adalah Magic Cube.


“Ehem, jendral Fadexion sudah lebih dahulu mengetahui hal ini, ia sendiri sedang menunggu keputusan dari jendral tertinggi saja.” Jawab prajurit itu.


“Lalu dimana Fisvion?” tanya Zen.


“Hm, ia tidak terlihat dimana pun. Bahkan jendral Fadexion sudah mencarinya, tapi tidak ketemu.” Jawab prajurit itu.


“Kau boleh pergi.”


Zen menatap keluar dan keluar lewat jendela tendanya kemudian melesat ke arah hutan. Ia mendapat firasat bahwa temannya itu sedang melakukan hal aneh di hutan.


Benar saja, Fisvion malah sedang memandangi sungai yang mengalir tenang di depannya sambil bergumam, “Tenang sekali sungai ini, padahal akan terjadi hal besar di sekitar sini...”


“Ya, dan sebaiknya kau kembali sebelum sungai itu berubah warna menjadi merah karena darahmu.” Zen muncul lalu berucap demikian.


“Kau lagi... Kabar buruk apa lagi yang kau bawa?” tanya Fisvion ketus, tidak peduli dengan jabatan pria di depannya yang jauh lebih tinggi darinya.


“Sky Empire kembali mendapatkan pelindungnya...” jawab Zen kemudian menarik tangan Fisvion dan melesat menjauhi sungai itu.


Tanpa Zen sadari, Fisvion yang tadi ikut melesat mulai kehabisan tenaga hingga akhirnya ia terseret di tanah hingga sampai di perkemahan.


Zen menoleh ke belakang dan melihat Fisvion yang tubuhnya dipenuhi luka dan pakaiannya robek di sana-sini.


“Kenapa kau menyeretku?!” tanya Fisvion sambil menunjuk Zen.


“Mana ku tau kalau kau terseret jika kutarik tanganmu, jika aku menarik lehermu ada kemungkinan kau akan tewas sebelum berperang.” Jawab Zen sambil mengangkat bahunya.

__ADS_1


Fisvion berbalik dan memasuki tendanya sebelum keluar menggunakan perlengkapannya yang sederhana. Ia berjalan dan berdiri di sebelah Zen dan Fadexion.


“Begini, kita akan melancarkan serangan setelah melihat pelindung Sky Empire muncul. Kita tidak bisa menunda lagi dan kita akan maju menyerang Sky Empire.” Zen menjelaskan dengan tenang.


“Aku sudah membagi pasukan menjadi 3 pasukan. Zen, aku, dan Fadexion akan memimpin beberapa dari kalian, mungkin sekitaran sepuluh ribu prajurit masing-masing akan dipimpin oleh kita betiga.” Fisvion menjelaskan taktik yang akan digunakan menyerang Sky Empire.


“Fisvion akan maju pertama bersama sepuluh ribu pasukan, sementara Fadexion akan muncul sebagai pasukan bantuan.” Zen dengan tidak langsung berkata bahwa ia ingin menantang Serioza sang Blue Hammer Warrior, “Apa kalian sudah paham?” 


Beberapa Commander masih berpikir keras sedangkan seluruh Captain yang ada memilih menyetujui usulan tersebut dan diikuti oleh seluruh Commander yang ada.


Mereka membawa 15 Commander dan kurang lebih 50 Capatain yang memimpin lima ratus prajurit. Dengan demikian, jumlah pasukan yang dibawa mereka adalah tujuh puluh ribu prajurit, jumlah yang sangat besar bagi sebuah kerajaan kecil.


Zen mengatakan bahwa ia sudah meminta tiga puluh ribu prajurit tambahan setelah perang sudah berlangsung. Ia akan mengirim sinyal ke selatan dengan sebuah cahaya yang ia tidak beritahu pada yang lain. Dengan begitu jumlah pasukan yang dibawa berjumlah


Fisvion kembali melengkapi perlengkapannya dan kembali dengan senyum lebar yang mengerikan.


Ia pergi menyerang gerbang tenggara Sky Empire dengan membawa sepuluh ribu pasukannya.


Pasukan Fisvion hampir berhasil menyelesaikan tugasnya menghancurkan sedikit dari pasukan penjaga gerbang tenggara ketika seorang bocah berjirah lengkap menghalangi jalannya pasukan itu bersama kurang lebih seratus prajuritnya.


“Hadapi aku terlebih dahulu, baru kau boleh menyerang Sky Empire.”


***


Serioza meminta prajuritnya yang baru melaporkan keadaan untuk kembali membantu pertahanan di tempat masing-masing ditugaskan.


Seseorang mengintip dari balik pintu, mendengar apa pun yang dibicarakan empat orang itu. Ketika tiga orang diantaranya pergi, barulah pengintip ini menampakkan dirinya di depan Serioza.


“Apa kita akan bertempur, ayah?” tanya pengintip itu yang ternyata adalah Prince John, putra dari Serioza.


Prince John masuk dan berkata, “Aku ingin turun perang...” 

__ADS_1


Serioza mengangkat alisnya, heran karena tidak biasanya ia seperti ini, “Atas alasan apa kau berkata hal ini?” 


“Firasatku berkata kalau nanti ayah akan berada dalam bahaya, aku ingin melindungi ayah sebagaimana dulu ayah melindungiku.” Jawab Prince John.


“Kau masih pada tingkatan yang membuatmu tidak...” ucapan Serioza terpotong oleh ucapan Prince John.


“Kumohon, aku ingin menambah pengalaman...” ucap Prince John.


“Waktumu masih panjang, kau bisa mencari pengalaman kapan pun kau mau.” Ujar Serioza tegas, “Jika kau menginginkannya, tidak apa...” Serioza pergi keluar meninggalkan Prince John disana sendirian.


Prince John berniat ikut tapi dicegat oleh Serioza, “Diam disana. Kau bergerak sesenti saja aku bisa saja membatalkan keinginanmu.”


Prince John gembira bukan kepalang mendengar permintaannya dikabulkan. Ia pun diam disana dan menunggu apa yang akan dilakukan ayahnya.


Sesaat kemudian, Serioza kembali dengan peti berwarna hitam kebiruan.


Serioza berkata, “Ingatlah, ini adalah terakhir kalinya aku mengabulkan permintaanmu yang berbahaya. Jika kau meminta hal yang lebih berbahaya, aku tidak segan mengasingkanmu di hutan untuk membuatmu merenungkan permintaanmu itu.” Serioza menghela napas panjang.


“Terima kasih ayah!” Prince John memeluk ayahnya erat yang dibalas oleh ayahnya dengan senyuman.


“Aku melakukannya untuk melindungi apa yang kusayangi...” Prince John bergumam saat mengenakan perlengkapan yang ada di dalam peti pemberian ayahnya.


Prince John menunduk memberi hormat kemudian melesat pergi meninggalkan Serioza di ruangan tahtanya.


Ia tidak menyadari bahwa itulah saat terakhir Serioza melihat anak keduanya berjalan di dunia. Karena nanti ia akan gugur di Medan perang karena serangan nyasar dari musuh yang datang.


***


Ryan membuka V-Gearnya dan melemaskan ototnya yang pegal, tak lama ia merasa lapar. 


Ia mencari makanan dan memakannya tetapi ia tetap tidak merasa kekenyangan sedikit pun. 

__ADS_1


Merasa aneh dengan dirinya sendiri, ia pun berniat pergi ke dokter untuk menanyakan masalah ini kepadanya.


__ADS_2