Remaist Online: Return Of The Legend

Remaist Online: Return Of The Legend
63. Seleksi


__ADS_3

Sepuluh menit berlalu setelah Atra menemukan tempat duduknya. Dia duduk sendiri dan ia juga tidak ada niat untuk bergaul dengan peserta lainnya.


Atra mendapat nomor urut lima puluh, angka tengah dari seluruh peserta seleksi ini. Peserta akan dipanggil acak sebelum mereka melakukan pertarungan sederhana.


Pertarungan ini bisa dibilang membosankan bagi Atra karena mereka tidak sekalipun mengeluarkan skill apapun. Pertarungan terus berlalu hingga akhirnya nomor Atra dipanggil.


“Pertarungan selanjutnya akan dilakukan oleh peserta nomor lima puluh melawan peserta nomor tiga puluh dua.” Seseorang mengumumkan pertarungan selanjutnya.


Atra bangkit kemudian berjalan menuju tengah aula. Disana sudah menunggu dua orang, yang satu berpakaian seperti wasit dan satu lagi mengenakan pakaian seperti seragam. Atra menebak orang berseragam ini adalah lawannya sekarang.


“Siap?” tanya wasit itu kepada Atra. Atra mengangguk. Wasit itu juga menanyakan hal yang sama pada lawan Atra dan ia mengangguk.


Wasit itu mundur kemudian berseru, “Pertandingan dimulai!”


Atra dan lawannya masih diam setelah seruan itu terdengar. Atra hanya berencana melancarkan satu pukulan agar lawannya nanti mengakui kekalahannya. Ia tidak ingin ada yang terluka.


“Hei, serang aku. Aku ingin memenangkan seleksi ini secepatnya.” Ujar lawan Atra.


Atra diam saat mendengar itu, “Kau yakin? Satu pukulan ku dapat menumbangkanmu dengan cepat.”


Kata-kata Atra berhasil membuat lawannya merasa emosi, sepanjang hidupnya tidak pernah ia diremehkan oleh orang lain.


Ia segera maju menyerang dengan pukulannya, sesekali ia juga mengeluarkan cakar serigalanya dari jari-jarinya.


Atra memilih menghindar saja, hingga akhirnya sebuah celah terlihat di tubuh lawannya. Dengan cepat Atra memukul bagian itu dan membuat lawannya terpental mundur, sangat jauh hingga membentur pilar yang menopang atap aula tersebut.


Pilar itu hanya bergetar sejenak sebelum diam, tindakan Atra membuat dirinya diwaspadai. Atra merasa biasa saja, ia memilih kembali ke tempat tadi ia duduk.


Banyak yang melihat Atra, tak sedikit juga yang membicarakannya diam-diam.


Atra kembali menunggu gilirannya. Dikarenakan jumlah peserta sebanyak seratus dua puluh orang membuat jumlah pertarungan akan berlangsung sebanyak enam puluh kali.


Setelah mendapat enam puluh peserta, kegiatan akan dilanjutkan dengan mencari tiga puluh peserta terbaik. Setelah mendapat tiga puluh orang, ketiga puluh orang tersebut akan bertarung hingga mendapat lima belas peserta yang akan melanjutkan hingga salah satu diantaranya akan menjadi jendral tertinggi yang baru. Empat dari empat belas pemain yang gagal menjadi jendral tertinggi akan diangkat menjadi jendral biasa. Sepuluh orang lagi akan diangkat menjadi Commander tambahan bagi BloodThirsty Kingdom.

__ADS_1


Atra hanya akan mengejar tingkatan jendral tertinggi, berharap dapat memasuki ruangan misterius yang tadi ditemuinya.


Setelah pertarungan mencari enam puluh orang peserta, mereka diberikan waktu istirahat selama lima belas menit sebelum melanjutkan pertandingan.


Atra memilih mengganti pakaiannya menjadi jubah biasa saja, jirahnya tadi sangat menarik perhatian. Ia juga berencana melepas cakar mekaniknya dan memakai wujud serigalanya saja untuk pertandingan selanjutnya.


Atra juga mencari makan, kebetulan dapur istana menyiapkan makanan untuk para peserta seleksi ini sehingga Atra tidak perlu mencari makanan lagi diluar.


Tak terasa lima belas menit berlalu. Enam puluh peserta yang terpilih dipanggil kembali ke aula tempat tadi melaksanakan pertandingan. 


Seluruh peserta diminta mengambil nomor undian baru untuk menentukan lawannya sesi ini. Atra mendapat nomor enam puluh, nomor terakhir.


Atra kembali mencari tempat duduk sendiri dan menjauhi lainnya. Masih tidak ada penonton di aula itu sehingga aula itu terasa sepi.


Atra dianggap sebagai peserta terkuat kedua di seleksi ini. Orang terkuat pertama adalah seorang pria yang bertubuh kurus. Orang-orang menyebutnya Deushi. 


Deushi terlihat lemah, tetapi kemampuannya tidak bisa diremehkan begitu saja. Atra sudah melihat sendiri kemampuannya. Kekuatan cakaran serigalanya sangatlah kuat, bahkan sampai merobek tubuh lawannya sedikit saja.


Atra sedikit bergidik saat membayangkan dirinya di posisi lawan Deushi. Tetapi ia menepis pikiran itu. Dirinya adalah salah satu dari sepuluh pemain terkuat, tidak dihitung lima ketua Guild terkuat, mana mungkin dirinya dapat kalah oleh seorang pria yang memiliki kemampuan sedikit dibawahnya.


Atra bangkit kemudian berjalan memasuki tempat pertandingan dilaksanakan. Atra kembali diam menunggu lawannya. 


Lawannya sendiri adalah seorang pria tinggi yang memiliki badan kekar. Sepertinya ia meningkatkan kekuatan otot lengannya yang membuat lengannya terlihat besar,begitu pikir Atra. 


Atra mengangkat kepalan tangannya kemudian berkata, “Aku akan maju duluan...”


Dengan cepat, Atra sudah tidak terlihat lagi di tempatnya tadi berdiri. Lawannya mencarinya di segala penjuru, tetapi tidak terlihat.


“Sesekali perhatikan juga belakangmu...” sebuah bisikan terdengar di telinganya. Dengan cepat ia menoleh dan Atra sudah memukulkan kepalan tangannya ke perutnya.


Ia terpental jauh dan mendarat dengan posisi terlentang jauh dari posisi Atra sekarang berdiri.


“Pe-pemenangnya adalah nomor enam puluh.” Wasitnya mengusap matanya cepat, ia sendiri tidak melihat gerakan Atra sebelum memukul lawannya.

__ADS_1


Atra memakai skill Wind Step yang sudah mencapai tingkatan Advance level 10 dan kecepatan dasarnya. Dengan kombinasi seperti itu sudah berhasil membuatnya bergerak secepat kilat.


Atra kembali berjalan mencari tempat duduk sendiri. Ia memang tidak terlalu suka keramaian. Namun lain halnya jika keramaian tersebut adalah teman-temannya, mungkin ia akan ikut satu dalam keramaian itu.


Pertandingan sesi ini diakhiri oleh pertarungan tadi. Para peserta yang lolos akan diberikan waktu istirahat selama lima belas menit sebelum melanjutkan ke sesi selanjutnya. Di sesi inilah pertandingan akan ditonton oleh seluruh penduduk BloodThirsty Kingdom.


Atra memilih mengenakan jubahnya saja dibanding harus menarik perhatian karena Jirah miliknya yang terlihat terlalu tipis bagi sebagian penduduk kerajaan. Ia juga memakai cakar mekaniknya.


Lima belas menit dilalui Atra dengan memakan makanan ringan yang disajikan dapur istana untuk beberapa orang di istana.


Sambil memakan makanan ringan tersebut, Atra juga mendapat jendela informasi yang mengatakan kalau keenam mantan Pendekar Naga Hijau berhasil berevolusi.


[Selamat, Asheuin, Sen, Dee, Adhie, Zeo, dan Bhiosa telah melewati level 100 dan berevolusi menjadi Knight.


Sekarang, Asheuin, Sen, Dee, Adhie, Zeo, dan Bhiosa dapat mempelajari skill!]


“Hm... Mereka berhasil membuatnya berevolusi. Aku baru tau ada hal seperti ini.” Gumam Atra.


Pertandingan sesi terakhir akan ditonton oleh seluruh penduduk BloodThirsty Kingdom dan sang raja sendiri. 


Ini merupakan pertama kalinya Atra bertemu dengan raja rasnya sendiri. Ia sendiri kagum saat melihat rajanya. Ia juga bisa melihat kalau rajanya mengeluarkan aura yang membuat semua orang ingin berlutut saat melihatnya.


Ketiga puluh peserta yang lolos kembali diminta mengambil nomor undian. Atra mendapat nomor lima belas.


Pertandingan ini akan langsung dilanjutkan dengan pertandingan lima belas besar yang mana seluruh peserta akan memperlihatkan kekuatan sebenarnya dan kejujurannya akan diuji di sebuah bola. Sang raja sendiri yang memutuskan pertandingan selanjutnya mengingat jumlah peserta yang lolos berjumlah ganjil. Tidak mungkin untuk membuat peraturan satu lawan satu. Jika tidak mungkin hanya ada satu peserta beruntung yang tidak akan bertarung.


Baru kali ini Atra menyaksikan pertarungan yang tidak membosankan. Bisa dibilang kekuatan para peserta yang lolos ke sesi ini berada di bawah kekuatan Atra.


Atra menunggu nomornya sambil termenung. Tidak terasa waktu berjalan dan nomornya sudah dipanggil. Namun Atra masih termenung sambil membawa nomornya.


“Ehem, peserta nomor lima belas!” sang wasit sendiri terus berseru memanggil nomor Atra. Seseorang disebelah Atra memukulkan tangannya ke pundak hingga Atra terbangun dari tempat duduknya dan hampir terjatuh.


“Santai bisa?” umpat Atra sambil menunjuk orang itu, “Siapa namamu?”

__ADS_1


“Aku? Deushi...”


__ADS_2