Remaist Online: Return Of The Legend

Remaist Online: Return Of The Legend
138. Duel Kaisar Pedang Api dan Tujuh Pedang


__ADS_3

Gaburon menatap lima orang yang mulutnya terbuka saat ia bercerita, “Kenapa kalian ini?”


Reiy sudah asyik dengan Li yang cepat mengerti seluruh pelajarannya dan melupakan Gaburon yang baru datang.


“Hebat...” Hanya itu kata yang keluar dari mulut lima orang yang selalu menggunakan pedang sebagai senjata mereka.


“Baik-baik, aku tau kalau aku ini sering disebut hebat. Tetapi, siap diangara kalian yang lebih kuat?” Gaburon mengelus dagunya sambil menatap lima orang didepannya.


Tsuyoshi menunjuk FastStone, sedangkan Naze dan Lynx menunjuk Slitherio. FastStone ikut menunjuk ke arah Slitherio.


“Eh?” Gaburon menurunkan tangannya, “Yang mana lebih kuat? Jubah merah atau jirah biru?”


“Slitherio!”


“FastStone!”


Tsuyoshi, Naze, dan Lynx menyerukan nama orang yang mereka pilih. Gaburon menepuk dahinya lalu bertanya pada Li, “Hei, menurutmu siapa yang lebih kuat?”


Li menunjuk Slitherio dan FastStone bersamaan lalu kembali mendengarkan penjelasan Reiy.


“Cara untuk mengetahuinya hanya duel...” Gaburon menggaruk kepalanya.


Slitherio menaikkan alisnya, “Membuat saya melawan pengikut saya? Bukankah itu tidak adil?”


“Tapi salah satu pengikutmu menunjuk jirah biru...” Gaburon menunjuk Tsuyoshi, “Apa kau yakin dia adalah pengikutmu?”


“Tentu saja...” Slitherio menggaruk kepalanya, yang ia takutkan adalah ia membuat FastStone mati atau membuatnya malu.


Tetapi hal itu tidak mungkin karena memang FastStone memiliki kekuatan yang hampir mendekati Slitherio, Atra, dan Whu. Jika seandainya ia mati di tangan Slitherio, mungkin ia akan bersyukur.


“Akan kuterima...” FastStone mengambil pedang dan perisainya di dalam Inventory. Ia menatap Slitherio.


Slitherio menghembuskan napas panjang sebelum menarik kedua pedangnya. Sebelum itu, ia berkata, “Apa kita boleh berduel di tempat lain?”


“Boleh...” Gaburon lalu menunjuk ke dekat ujung tebing, “Bagaimana kalau disana?”


Naze dan Lynx menepuk dahi mereka keras, Tsuyoshi sendiri memilih memalingkan wajahnya. Tempat itu... Adalah tempat yang mungkin Slitherio dan FastStone rencanakan sebagai tempat duel.


Slitherio menurunkan pedangnya dan menyeretnya ke dekat ujung tebing itu dan memasang posisi siaga.

__ADS_1


FastStone sendiri sedang mengirim permintaan duel pada Slitherio sebelum mengangkat kedua senjatanya.


“Tanpa teknik apapun...” ujar Gaburon di sebelah telinga FastStone.


[Dari: FastStone


Tipe: PvP


Aturan: Tanpa skill


Waktu: Tak terbatas


Terima?]


“Terima...” Slitherio mengerutkan alisnya lalu bersiap. Waktu jeda tersedia selama tiga detik dan itu cukup untuk mempersiapkan diri.


Ketika waktu jeda menunjukkan angka 0, keduanya langsung melesat dan saling mengadu senjata masing-masing.


Slitherio memilih menyerang lebih dulu dan karena FastStone tidak menyadari serangan tiba-tiba Slitherio, FastStone memakai perisainya untuk menahan serangan Slitherio.


Untung saja dirinya memakai perisai, jika tidak mungkin dirinya sudah kalah sedari tadi. Siapa yang mengira kalau Slitherio mengayunkan pedangnya dengan cepat dan kuat.


Ayunan pedang Slitherio selalu dimulai dari atas ke bawah, lalu dari bawah ke kiri atas, kiri atas ke kanan bawah, kanan bawah ke tebasan horizontal, dan begitulah seterusnya.


FastStone mencoba mendorong perisainya dan merasakan kalau perisainya makin terasa berat.


“Apa-apaan ini?” FastStone bergumam sambil berusaha menahan perisainya, ia seperti tidak diberi kesempatan menyerang.


Apalagi ditambah dengan tubuh Slitherio yang tidak ada celahnya, semakin membuat Slitherio terlihat menakutkan di mata FastStone.


Sisi lain, Slitherio semakin beringas saat mengayunkan kedua pedangnya. Ia amat ingin mendapatkan ajaran dari Sword God Gaburon dan mendapatkannya bersama dengan teman-temannya.


Sedikitpun Slitherio tak pernah meremehkan lawan, meskipun lawannya adalah orang yang terlihat lemah sekalipun. Takkan pernah Slitherio membiarkan kelemahannya terlihat oleh musuh.


FastStone mencoba mengayunkan pedangnya dan jadilah dirinya terpojok oleh Slitherio. Saat FastStone berniat mengayunkan pedangnya, tebasan Slitherio malah semakin menjadi, membuat FastStone terpaksa menahan serangan itu.


Tak terasa, waktu sudah berlalu dan matahari mulai terbenam. Beberapa anggota Guild Sevens datang ke tebing itu dan melihat duel antara FastStone dan Slitherio.


“Sial!” FastStone berteriak dan menghempaskan perisainya dengan kuat-kuat dan mendorong Slitherio dua langkah ke belakang.

__ADS_1


Slitherio menancapkan Darkness Fire Sword dan menghunuskan Flame Phoenix Sword, “Mari kita berduel satu pedang saja...”


Jika FastStone sampai menolak ucapan Slitherio, maka harga dirinya sebagai Knight akan terluka. Biar bagaimanapun, seorang Knight harus bisa memakai pedang satu tangan.


FastStone meletakkan perisainya lalu menghunuskan pedangnya. Pedangnya yang ini bernama Blue War Sword, merupakan Equip Ancient dan ia mendapatkannya satu set dengan Seven Sword Set.


FastStone mengangkat pedangnya lalu maju mengadu pedangnya dengan pedang Slitherio.


Slitherio menahannya dan menghempaskannya lalu maju menyerang FastStone yang masih berjalan mundur beberapa langkah.


Slitherio menusukkan pedangnya dan FastStone berputar menghindar sambil mengayunkan pedangnya ke leher Slitherio.


Slitherio menunduk dan melompat mundur. Ia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi dan maju mengayunkannya ke arah bawah.


FastStone melompat dan membiarkan pedang Slitherio menghancurkan tanah di bawahnya kemudian ia mengangkat pedang ya dan mengayunkannya ke arah bawah.


Slitherio tersenyum lalu bergumam, “Kau akan menyesali ini...” Slitherio melompat dan melesat kembali menuju FastStone yang pedangnya kembali menghancurkan tanah.


Slitherio menusukkan pedangnya dan menghentikannya tepat di sebelah leher FastStone yang tidak sempat menghindar.


“Lagi?” tanya Slitherio yang dibalas dengan ayunan pedang FastStone dan mereka kembali bertukar serangan.


Mereka terus bertukar serangan sampai malam tiba. Pada akhirnya, seluruh anggota Guild Sevens duduk menonton duel antara anggota biasa dengan ketua Guildnya.


Saat FastStone menghentikan serangannya dan mengatur napasnya, Slitherio masih bernapas biasa dan menancapkan pedangnya di sebelah Darkness Fire Sword.


“Menyerah?” tanya Slitherio yang dibalas dengan anggukan. FastStone lalu menjatuhkan dirinya ke atas tanah dan memejamkan matanya.


Tak pernah ia sangka kalau kekuatan ketua Guildnya sebesar itu. Ia tidak menyangka juga kalau dirinya akan berduel dengan pemain terkuat nomor tiga di Remaist Online.


“Pemenangnya jubah merah, ya?” Gaburon berdiri lagi setelah Slitherio menyarungkan kedua pedangnya dan menyarungkan pedang FastStone.


Slitherio mengangguk dan berkata, “Bolehkah saya meminta sesuatu pada anda?”


“Apa itu?”


“Biarkan seluruh teman-teman saya ikut mendengar ajaran suci dari Tuhan itu...” Slitherio berkata sambil bersujud. FastStone membuka matanya dan ikut bersujud di hadapan Gaburon.


Reiy sudah sedari tadi menyelesaikan pelajarannya dan ia duduk bersebelahan dengan Li yang bercerita tentang orang-orang di hadapan mereka. Reiy mendengarkan cerita Li sambil menonton pertarungan antara Slitherio dan FastStone.

__ADS_1


“Hah, hanya kau sajalah manusia paling aneh yang pernah kutemui...” Gaburon menghela napasnya sebelum mengiyakan permintaan Slitherio.


Maaf baru up, lagi banyak kerjaan dan juga penulis lagi pening gara-gara kerjain soal matematika sialan itu :)


__ADS_2