Remaist Online: Return Of The Legend

Remaist Online: Return Of The Legend
82. Kisah musisi jalanan


__ADS_3

“Percaya dengan kemampuan sendiri ya?” Gumam Slitherio sambil tersenyum tipis.


“Dengan adanya aku yang mampu menghilangkan perbedaan jumlah, Dungeon seperti apapun akan mampu kita lewati bersama.” Ujar Whu.


“Pernah dengar kata-kata 'Kuantitas tidak mempengaruhi segalanya'?” Tanya Slitherio.


“Tentu saja!” Jawab Naze dan Atra bersamaan, “Jadi, apa yang ingin kau katakan?”


“Aku hanya ingin bilang, kemampuan kita jika digabungkan maka akan mampu mengalahkan apapun yang menghalangi jalan kita.” Slitherio mulai berkata.


“Whu dapat menghilangkan perbedaan jumlah dengan mengeluarkan clon yang kurang lebih memiliki kemampuan yang setara dengannya, Atra yang mampu bergerak dengan cepat dapat membantuku membersihkan banyak monster dalam satu gelombang, sedangkan Naze dapat merasakan keberadaan monster di sekitar kita dengan bantuan instingnya.” Slitherio menjelaskan.


“Dan Geisha, ia dapat menggunakan berbagai jenis senjata. Ia dapat kita jadikan pengganti dari beberapa tipe pemain yang kurang dalam tim kita.” Slitherio menatap Geisha sejenak, “Dan, kita memiliki enam Undead yang memiliki kemampuan yang setara dengan pemain level 150.”


“Nah, seluruh kemampuan kalian sudah aku ketahui, jadi apakah kita akan menerimanya?” tanya Slitherio lagi.


“Baiklah...” jawab Atra dan Naze bersamaan.


“Kapan kita akan berangkat?” tanya Whu.


“Besok saja.” Usul Geisha.


“Ya sudah, aku akan mengatakannya besok pada Duke Lavenia.” Ujar Slitherio kemudian berpikir lagi.


“Ada apa?” tanya Whu.


“Kita akan tidur dimana?” tanya Slitherio setelah selesai berpikir.


Mereka semua kemudian berpikir sebelum akhirnya Atra memiliki sebuah ide.


“Bagaimana kalau kita menginap saja disini?” usul Atra.


Mereka semua pun menyetujuinya. Slitherio kembali berjalan ke ruangan Duke Lavenia dan mengabarkan hasil diskusinya sekaligus mengatakan permintaannya.


***


“Apa ada yang anda inginkan lagi?” tanya Duke Lavenia keesokan harinya.


Hari ini adalah hari dimana Slitherio bersama teman-temannya pergi menaklukan Oxyvian Labyrinth. 


Semalam, Slitherio meminta pada Duke Lavenia untuk disediakan 5 kamar, 100 Gold untuk mencari perlengkapan, dan peta menuju Oxyvian Labyrinth.


Duke Lavenia mengabulkan semuanya dan sekarang, peta itu sudah berada di tangan Slitherio dan mereka bersiap menaklukan Dungeon tersulit kedua di Midvast.


“Apa perlu kusiapkan Door Everywhere?” tanya Duke Lavenia lagi.


“Door Everywhere?” tanya Slitherio bingung. Ia hampir tidak tau istilah apa lagi itu.

__ADS_1


“Sejenis portal, tetapi pintu ini dapat mengirimkanmu ke berbagai tempat dalam waktu bersamaan.” Ujar Naze menjelaskan.


“Kenapa kita baru tau?” Whu menatap Atra dan Slitherio bergantian.


“Itu karena kalian selalu berpetualang di alam bebas dan tidak pernah berpindah tempat langsung.” Geisha berkata, “Dan karena kalian tidak pernah punya uang untuk membayar biaya perpindahannya.”


“Benar...” Atra menggaruk kepalanya sambil tertawa kecil, sementara Whu hanya tersenyum lebar.


"Kita terlalu miskin untuk berpindah tempat secara langsung." lanjut Atra sambil tertawa kecil.


“Tidak, kami akan tetap berpetualang di alam bebas.” Slitherio menolak penawaran Duke Lavenia.


“Ah, baiklah.” Duke Lavenia kemudian mengangguk. Ia mengantar Slitherio dan teman-temannya sampai di gerbang kediaman sebelum melihat Slitherio berjalan menjauh bersama seluruh teman-temannya.


Setelah yakin Slitherio sudah berjalan menjauh dan menghilang, Duke Lavenia bergumam sambil menyeringai lebar, “Aku... Akan mendapatkan pujian dari Sang Terhormat...”


***


Li adalah seorang pemain yang memilih job Musician, job yang membuat pemain dapat memainkan berbagai alat musik dan menggunakannya untuk menghibur atau menyerang.


Li memutuskan untuk bermain Remaist Online sejak permainan ini baru diluncurkan. Server Remaist Online dimulai tepat pukul 14.00 waktu dunia nyata.


Li langsung tersambung dan memilih job sebagai Spearman. Sebagai Spearman, seharusnya ia dapat bermain menggunakan tombak dengan sedemikian baiknya.


Tetapi, entah karena memang dirinya yang selalu takut maju duluan atau dirinya yang lemah, dirinya selalu tidak berhasil  melewati level 20.


NPC itu menjelaskan pada Li bahwa job ini dapat digunakan untuk menghibur maupun menyerang dengan sebuah senjata yang disebut dengan Music Instrument.


Tanpa ragu, Li langsung menerimanya dan job Li langsung berubah menjadi Musician. Setelah menerima job itu, Li pergi menuju sebuah kota yang terkenal dengan berbagai Music Instrumentnya yang sangat hebat dan indah.


Saat sampai disana, Li membeli dua seruling yang bernama Jade Flute dan Bamboo Flute. Kedua seruling itu Li simpan dengan baik dan ia pun mencoba memainkannya.


Karena memang di dunia nyata, Li terkenal di sekolahnya dulu sebagai pemain seruling terbaik di sekolahnya. Sehingga Li dapat memainkan seruling itu tanpa kesulitan berarti.


Saat itu, Li memainkannya serulingnya di pinggir jalan dan ia mengeluarkan selembar kain untuk menampung penghasilannya. Siapa yang tahu kalau permainan seruling Li sangatlah indah, sampai mampu membius seorang pedagang yang sedang tidak mendapatkan keuntungan sedikitpun.


Li terus memainkan serulingnya tanpa henti selama lima belas menit dan selama itu, ia mendapat lumayan banyak keuntungan.


Setelah Li selesai memainkan serulingnya, seorang pemilik restoran mengajaknya untuk ikut bergabung di restorannya untuk menghibur para pelanggannya. Sebagai bayarannya, Li akan mendapatkan satu Music Instrument tambahan, yaitu Storm Harp.


Dengan Storm Harp, Li mulai bekerja dan ia pun mendapatkan lebih banyak keuntungan. 


Disaat ia sedang merasa senang, ia mulai menyadari bahwa poin INT yang dimilikinya berada di angka yang mengerikan, yaitu sebesar 500 poin. Poin status lainnya tidaklah berkembang dengan signifikan.


Si pemilik restoran tempat Li bekerja memberikan Li sebilah pisau untuk membantunya dalam membela dirinya. Ia pun mendapat satu Mastery baru, yaitu Knife Mastery.


Berkat job Musician yang dapat membuat pemain menggunakan dua jenis senjata, yaitu Music Instrument dan satu jenis senjata sederhana untuk membela diri.

__ADS_1


Setelah mendapat pisau baru, Li mencoba kemampuannya dengan melawan seekor monster level rendah.


Untung saja tidak ada yang melihat, jika ada yang melihat, mungkin akan menjadi sebuah berita hangat karena seorang Musician mengalahkan seekor monster dengan satu tiupan seruling, apalagi jenis monster itu adalah Jade Crane.


Li mengalahkan Jade Crane level rendah dengan satu tiupan seruling. Ia kemudian merasa puas kemudian kembali ke kota.


Setelahnya ia kembali ke kota, ia membuat jadwal kehidupannya. Pagi hari ia akan berburu sebentar, siang ia akan bermain Music Instrument untuk menghibur para pelanggan, sore dan malam beristirahat di dunia nyata.


Selama kurang lebih tiga bulan ia melewati hari-harinya dengan rutinitas seperti itu. Nama 'Street Musician' tersebar dengan cepat di kalangan para pemain Remaist Online maupun para NPC.


Namun, Li tidak masuk dalam daftar Top Global karena memang dirinya terlalu lemah untuk dapat disetarakan dengan pemain kelas atas seperti itu.


Level Li terbilang tertinggal jauh diantara para pemain satu angkatan dengannya. Dengan level 105 sama sekali tidak memungkinkan untuk melewati para pemain kelas atas yang sangat hebat, seperti Flame King Slitherio.


Level job Musician dapat ditingkatkan dengan bermain di hadapan para penonton dan si pemain job Musician dapat mendapat EXP untuk menaikkan level. Ada juga dengan cara berburu yang memang paling umum diketahui para pemain, tetapi job ini mengharuskan penggunanya berada di barisan belakang untuk membantu para temannya.


Li amat berharap dirinya bisa bertemu dengan Slitherio, sang Top Global nomor satu Remaist Online dan mendapatkan sedikit bantuan.


Sepertinya, hari ini adalah hari keberuntungannya karena Slitherio singgah ke Kota Merchania dan beristirahat sejenak disana.


***


Lima hari sudah berlalu sejak Slitherio dan teman-temannya meninggalkan Void Hill. Perjalanan menuju Oxyvian Labyrinth bisa berlangsung selama seminggu, menurut perkiraan Slitherio.


Level mereka bisa dibilang hanya naik satu level, Slitherio naik level menjadi 203, level Whu naik menjadi level 202, level Naze naik menjadi level 200, dan level Geisha naik menjadi level 198.


Enam mantan Pendekar Naga Hijau naik level secara bersamaan ke level 180, 20 level lagi untuk melakukan revolusi keduanya.


Dengan level begitu sebenarnya masihlah kurang untuk dapat menaklukan Oxyvian Labyrinth, tetapi ucapan Slitherio enam hari lalu masih terngiang di telinga mereka semua.


“Kuantitas tidak mempengaruhi segalanya...” begitulah ucapan Slitherio saat itu. Tadi, ia menambahkan sedikit kalimat, “Yang terpenting adalah Kualitaslah yang mempengaruhi segalanya.”


“Apakah level itu penting? Setauku tidak...” ujar Slitherio.


“Tidak penting?” tanya Whu kebingungan. Ia tau Slitherio sedang merendahkan dirinya. 


“Level hanyalah angka, karena yang terpenting adalah kemampuan kita dalam menggunakan kekuatan yang kita dapatkan saat kenaikan level itu.” Jawab Slitherio.


Slitherio kemudian melanjutkan, “Level tidaklah penting, karena meskipun kita memiliki level tinggi, jika tidak mampu mengalahkan monster yang berlevel sama dengan kita, maka level itu tidaklah ada gunanya.”


“Benar, kita pasti bisa menaklukan Oxyvian Labyrinth.” Whu melanjutkan kata-kata Slitherio.


Di depan mereka ada sebuah kota, di map tertulis nama kota itu adalah Merchania.


Slitherio tersenyum kemudian berkata, “Kita akan singgah ke kota itu sebentar.”


Punya IG? Follow @widiadnyana_wp

__ADS_1


__ADS_2