
Serioza mengambil palu itu dan mengambil armor yang terletak di dinding kanan dan mengambil gauntlet serta sepatunya. Ia mengenakannya kemudian menatap Despian dan Lyne yang masih melihat senjata yang terpajang disana.
“Hm, aku akan memakai pedang saja...” Lyne maju dan mengambil pedang yang terpajang disana.
“Aku tombak saja.” Despian mengambil tombak itu dan mengambil set yang cocok dengan tombak itu. Lyne juga melakukan hal yang sama.
Serioza melihat kedua jenderalnya dan mengajaknya keluar untuk mengatur pasukan yang tersisa.
Serioza akan memimpin sepuluh ribu pasukan sementara Despian dan Lyne akan memimpin lima ribu pasukan. Jadi total pasukan yang akan turun sebesar dua puluh ribu pasukan.
Tiga puluh ribu yang tersisa akan menjaga ibukota jika semisal pasukan musuh menggunakan serangan gerbang tenggara sebagai serangan peralihan sebelum mereka menyerang ibukota.
Serioza dan kedua jenderalnya pergi ke gerbang tenggara untuk ikut serta dalam pertahanan disana.
Siapa mengira pertarungan pertama Prince John melibatkan dirinya dengan bawahan dari Zen, Fadexion yang juga dikenal sebagai Blood Sword.
Dengan senyum mengerikan ia menyerang membabi buta melawan Prince John sementara kakaknya ikut membantu sedikit.
Serioza tidak tahan melihat Prince Xaviero diserang secara ganas sehingga ia memilih melompat ke tembok pertahanan dan melempar keluar Fadexion ke arah pasukan besar yang akan datang menyerang.
“Kau sudah melakukan yang terbaik...” Serioza menepuk pundak Prince Xaviero pelan kemudian mengeluarkan palunya.
“Serioza! Aku datang untuk menantangmu bertarung!” suara seruan terdengar dari pemimpin pasukan itu.
“Inilah yang kutunggu...” Serioza mengangkat palu kecilnya ke langit, “Sky Splitting Technique: War Mode Hammer!”
Palu kecil itu berubah menjadi besar, berukirkan naga dan diselimuti petir berwarna biru. Petir juga menyambar dari langit menyambut wujud palu pembelah langit yang sebenarnya.
Serioza melompat keluar dari tembok pertahanan dan mendarat di hadapan pemimpin pasukan itu. Pemimpin pasukan itu bukan lain adalah Zen Oryokoza.
Zen menarik tombaknya dan mengacungkannya ke arah Serioza, “Aku menunggu saat aku akan membunuhmu, Serioza...”
Zen melepaskan Murderous Aura dan maju menyerang Serioza yang menanggapi dengan santai, bahkan Serioza masih sempatnya menguap karena serangan yang tidak mampu mengenainya sedikit pun.
“Hmph!” Zen mendengus kemudian memberikan serangan terkuatnya, Blood Puncture.
__ADS_1
Saat itulah, Serioza mengangkat palunya dan berseru, “Sky Splitting Technique: Execution Strike!”
Seriza memukulkan palunya dan ditahan oleh Zen menggunakan tombaknya, “Kau beruntung mampu menahannya, sebagian besar kawanku di masa lalu tidak ada yang bisa menahannya...’ Serioza menghela napas panjang.
“Paling ringan, mereka hanya kehilangan senjatanya. Paling parah adalah mereka kehilangan nyawanya...” Serioza melepaskan Murderous Auranya dan tersenyum lebar.
Murderous Aura merupakan skill yang murni didapatkan seseorang setelah membunuh monster atau manusia. Semakin banyak monster dan manusia yang dibunuh, semakin pekat auranya itu.
Tidak ada pendekar yang tidak memiliki Murderous Aura, termasuk Serioza dan Zen. Nama mereka sudah terkenal dan tidak terhitung jumlah monster yang sudah mereka bunuh.
Dari seluruh pendekar di Midvast, nama Serioza dan Zen termasuk dalam peringkat sepuluh besar pendekar terkuat dimana Serioza dan Zen berada pada posisi yang sama.
Mereka bertarung beberapa jurus sebelum akhirnya Zen dan Serioza menghentikan pertukaran serangannya kemudian memisahkan diri.
Kondisi Zen sedikit buruk, ia mendapat banyak memar di sekujur tubuhnya sedangkan napas Serioza masih teratur tetapi tubuhnya juga mendapat sedikit luka.
“Jadi, apa kau masih ingin melanjutkan pertarungannya?” tanya Serioza sambil mengarahkan palunya ke arah Zen yang berdiri sangat jauh darinya.
Dua bawahan Zen dan Serioza datang dan menarik senjatanya. Serioza memisahkan diri dengan Zen dan berdiri di sebelah Despian dan Lyne.
“Wahai Sky Knight yang perkasa, kalian harus mendengarkan perintahku!” suara Serioza yang menggelegar terdengar sampai ke dalam tembok pertahanan.
Para Sky Knight yang mendengar hal itu segera melesat ke tempat Serioza berdiri sekarang. Sekitar seratus Sky Knight datang dan menghampiri Serioza dan berlutut. Mereka adalah pasukan elit milik Sky Empire.
“Kalian harus bertarung keras hari ini. Karena kita akan menghadapi musuh yang sangat kuat.” Serioza menoleh menatap Zen yang tersenyum tipis. Dua bawahannya sudah bersiaga menghadapi serangan mendadak dari lawan mereka.
“Kalahkan mereka semua!” Serioza berseru sambil mengarahkan palunya ke arah Zen bersama pasukannya.
Seruan yang sama juga diserukan oleh seratus Sky Knight yang berada disana untuk mendengar perintah Serioza.
Senyum Zen melebar, ia mengangkat tombaknya dan mengarahkannya ke Serioza dan pasukannya.
“Kalian... Serang mereka semua!” Serioza berseru dan diikuti oleh Zen dengan seruan yang sama.
Pasukan kecil Serioza berbenturan dengan pasukan besar Zen.
__ADS_1
Despian bertarung dengan gagah berani melawan Fadexion sementara Lyne bertarung melawan Fisvion yang sudah menyusul.
Sedangkan Serioza melanjutkan pertarungannya melawan Zen dengan terus mengerahkan jurus-jurus dahsyat yang disambut dengan jurus-jurus yang tak kalah dahsyatnya dengan milik Serioza.
Pertempuran besar yang menjadi awal dari kekacauan di Midvast telah dimulai.
Pertempuran terus berlanjut hingga akhirnya tiga orang pemuda dengan jubah, topeng, dan topi jerami datang.
“Eh, sudah jadi begini?”
***
Slitherio menatap semua yang terjadi sambil bersembunyi di balik sebuah pohon.
Whu terus menggaruk tubuhnya yang sangat gatal ingin turun ikut bertarung sedangkan Atra melakukan hal yang sama dengan Slitherio.
“Slitherio, sampai kapan kita akan melihat saja dari sini? Aku sangat ingin bertarung.” Ucap Whu sambil meraih tongkatnya ketika melihat seorang pria berjirah melompat naik ke atas tembok.
“Tunggu saja hingga pertarungannya sudah mencapai titik yang kuinginkan, kalian boleh membantai pasukan lawan.” Jawab Slitherio dengan santai.
Slitherio mengeluarkan sebuah topi jerami milik Asheuin dan mengenakannya. Penampilan Slitherio semakin terlihat misterius ketika memakai topi jerami itu.
Kombinasi dari jubah berwarna merah api, topeng berwarna merah dengan corak Phoenix, serta topi jerami membuat penampilan Slitherio sedikit misterius.
“Kalau kalian ingin terlihat sepertiku, gunakan saja topi jerami milik teman-temannya Asheuin.” Slitherio menarik pedangnya dan bertepatan dengan pedang itu berada di luar, suara petir yang menyambar terdengar keras.
“Wah, Slitherio, kau memang hebat. Mampu memanggil petir sebesar itu.” Ucap Whu ketika melihat petir yang menyambar berwarna biru.
“Persiapkan diri kalian, kita akan membantu.”
Slitherio berjalan menjauh dan diikuti oleh Whu bersama Atra. Mereka melesat menggunakan Wind Step menuju tembok pertahanan kemudian melompati tembok itu dan berjalan mendekati pertempuran besar yang sudah terjadi.
“Eh, sudah jadi begini?” tanya Slitherio bingung.
Pertempuran berhenti, bahkan pertarungan antara pemimpin dengan pemimpin terhenti. Pemimpin pasukan berjirah biru menatap Slitherio seolah kebingungan akan pemuda berjubah merah yang berdiri sambil menggaruk kepalanya.
__ADS_1
“Maaf, kami hanya datang untuk membantu.” Slitherio menarik pedangnya dan pedang merah dengan aura mencekam segera mengisi kekosongan itu.