
“Dan juga, Guild Sevens akan dijadikan Guild Profesional karena kontribusi mereka yang telah menggagalkan serangan ke Sky Empire.” Seorang pria mengeluarkan sebuah medali dan seorang pria berjubah merah berjalan maju dan menerima medali itu.
Seorang pria mengangkat tangannya dan mengeluarkan sebuah piala serta sekantong besar yang tidak diketahui isinya lalu menyerahkannya pada pria berjubah merah.
Pria yang tadi memberikan medali pada pria berjubah merah menunjuk pada kamera dan berkata, “Umumkan bahwa mulai saat ini, Guild Sevens adalah Guild Profesional dan berhasil memenangkan Event War Guild. Dan juga, umumkan bahwa Flame King Slitherio akan menjadi pemain terkuat nomor tiga setelah Sean dan Luvian.”
“Hei, bukankah itu kau, Ryan?” Rio yang tadi rebahan segera mengatur posisinya menjadi duduk dan menatap layar televisi. Ayah Rio juga menatap televisi.
Ryan menggaruk pipinya, ia lalu kembali menatap televisi dan melihat sebuah berita baru. Isinya adalah sebuah video pertarungan yang mana menampilkan seorang pria berjubah merah yang terbang dengan kecepatan tinggi ke atas dan melepaskan satu skill yang hebat.
“Pria itu amat kuat, bahkan sampai mampu menghancurkan sebuah kota untuk membasmi pasukan lawan.” Ayah Rio berkomentar sambil menatap Rio, “Kapan kau bisa menjadi seperti itu?”
“Aku mana bisa seperti itu, Ryan mungkin bisa...” Rio berkata sambil menunjuk Ryan yang tersedak napasnya sendiri.
“Eh?” ayah Rio menatap Ryan dan bertanya, “Benar begitu, Ryan?”
Ryan menggaruk kepalanya dan mengangguk. Tak ada alasan baginya untuk mengelak, apalagi dengan keberadaan Rio yang mampu membuatnya terpojok karena kehabisan kata-kata.
“Berita baru...” Ryan mengalihkan pembicaraan dan kembali menatap televisi. Yang lainnya lalu kembali ke kegiatan sebelumnya.
Berita kembali menampilkan video pertarungan, tetapi kali ini bukanlah pembantaian sepihak, tetapi duel antara dua pemain.
Membicarakan tentang isi berita di masa itu, berita di masa itu sudah tidak lagi mengurus tentang politik, ekonomi, ataupun membahas tentang konflik para pejabat, melainkan berita tentang kehidupan para penduduk biasa yang terlihat bahagia.
Presiden Indonesia sudah memutuskan hal itu dan melarang apapun yang berbau urusan pemerintah diberitakan, kecuali tentang perubahan peraturan ataupun tentang kenaikan harga bahan kehidupan. Semua yang mungkin dapat memicu pertengkaran tidak ditampilkan lagi di televisi.
Ditambah dengan masa kejayaannya dunia Gaming, membuat isi televisi hanya tentang berita dunia Gaming dan mungkin diselingi dengan berita kenaikan bahan untuk kehidupan sehari-hari.
“... Alberto Aquilani selaku Ketua IROO sekaligus Direktur SuperSoft Corporation mengumumkan bahwa Event War Guild resmi ditutup. Meski serangan ke Sky Empire membuat event dihentikan, tetapi event tetap berjalan dengan akhir kemenangan Guild Sevens sebagai Savior of Sky Empire.”
“Dan juga, Neil Young dan Alberto Aquilani beserta seluruh petinggi IROO memutuskan untuk menjadikan Flame King Slitherio sebagai pemain terkuat nomor tiga dan Guild tempatnya berasal, Guild Sevens diangkat menjadi Guild Profesional.” Ujar juru bicara IROO. Setelah video itu, sebuah daftar dimunculkan dan nama Slitherio tidak lagi muncul di daftar Top Global.
Tetapi, daftar selanjutnya membuat Ryan dan Rio membuka mulut mereka dengan lebar.
__ADS_1
“Gelar Slitherio diubah menjadi Sword Emperor, gelar Sean diubah menjadi Dragon Emperor, dan gelar Luvian diubah menjadi Dark Emperor. Dengan begini, Remaist Online akhirnya memiliki tiga pemain dengan gelar yang berisi Emperor.” Pembawa acara juga mengatakan sesuatu setelah itu.
“Kondisi ini disebabkan karena batas level yang terus meningkat, menciptakan jarak antara Five Guardian dan Top Global dengan para pemain biasa. Dan juga, ini disebabkan karena kebanyakan pemain sudah mencapai tingkatan Master level awal. Inilah yang menciptakan jarak antara pemain biasa dan pemain yang memiliki gelar.”
“Benar juga, apalagi kemunculan Sword Emperor Slitherio secara tiba-tiba beberapa bulan lalu dan disaat kemunculannya, ia bahkan berhasil menyelesaikan dua Chapter dalam waktu satu bulan.” Adik Rio datang dan duduk di sebelah ayahnya.
“Oh, kau juga mengikuti berita terbaru Remaist Online?” Rio menatap adiknya.
“Tentu saja, semua temanku di kampus menyukai Sword Emperor Slitherio ini, kecuali teman-teman laki-lakiku.” Adik Rio tersenyum saat menatap televisi.
“Astaga, sudah secantik itu saat belum tersenyum, bagaimana saat tersenyum?” gumam Ryan sambil memalingkan wajahnya.
Ryan mengeluarkan ponselnya dan melihat jam. Sudah menunjukkan pukul dua belas lebih lima menit siang.
“Aku akan pulang.” Ryan mematikan televisi dan berdiri, ia mengambil jaketnya yang ia letakkan di atas kursi meja makan kemudian memakainya.
Ia kemudian ke dapur dan mengambil air, kebetulan makanan ringan yang dibuat oleh ibu Rio sudah jadi, sehingga ibu Rio memasukkan sedikit ke dalam kotak dan memberikannya pada Ryan.
“Hei...” Rio menarik tangan Ryan, “Mana salammu untukku?”
Ryan meraih kepala Rio dan berbisik di telinganya, “Nanti kita bertemu di Midvast, bukan?”
Rio mengangguk, ia lalu berjalan keluar dan mengantar Ryan sampai keluar rumah dan mulai berjalan pulang menuju rumahnya.
Ryan berjalan menuju minimarket langganannya, ia berniat mencari kopi bubuk satu bungkus untuk ia coba di rumah. Tak lupa, ia juga membeli beberapa butir pil gizi untuk mengisi stoknya yang sudah habis.
Selama masa jeda event, ia selalu mengonsumsinya untuk menjaga agar tubuhnya tetap sehat. Setidaknya itu yang ia baca di internet tentang pil gizi.
Saat berjalan keluar minimarket dan ingin menyeberang, ia melihat wajah yang tidak asing berdiri di sebelahnya.
“Oh, Ryan...” Raisya menepuk pundak Ryan dan tersenyum tipis tanpa mengalihkan pandangannya pada Ryan.
“Apa?” tanya Ryan.
__ADS_1
“Tidak apa...” Raisya tersenyum kecil, ia menatap jalan dan maju untuk menyeberang karena jalanan sudah sepi. Ryan mengikuti.
“Mau istirahat?” tanya Raisya sambil menunjuk cafe tempatnya dan Ryan bertemu beberapa bulan lalu.
Ryan mengangguk dan masuk ke cafe itu diikuti oleh Raisya.
Karena tidak ada inspirasi untuk meminum apa, Ryan akhirnya memilih kopi yang diatasnya dilukis oleh beberapa gambar.
“Kenapa kau meminum kopi?” tanya Raisya yang kebingungan karena perubahan selera minuman Ryan.
Ryan menggaruk kepalanya dan tidak menjawab selain tertawa kecil. Raisya menghela napas dan memesan teh dingin.
“Kau juga?”
“Apanya?”
“Selera minumanmu berubah juga?”
“Tentu saja...”
Ryan dan Raisya duduk kemudian kembali sibuk dengan urusan masing-masing. Ryan menatap jalanan sementara Raisya menatap wajah Ryan.
Mungkin Ryan terlihat seperti sedang menikmati pemandangan keramaian yang ada dihadapannya kini, tetapi sebenarnya Ryan sedang memikirkan sesuatu yang belum lama ini terjadi.
Yaitu saat ia dan Raisya duduk di pinggir tebing di Midvast dalam diam serta sepi.
“Hei, apa kau memikirkan tentang kejadian tadi saat kita di Midvast?” Raisya menekankan jari telunjuknya pada pipi Ryan dan mengejutkannya.
“T-tentu...” Ryan menjawab dengan canggung, pikirannya berhasil diterobos oleh Raisya.
“Tak apa, karena setelah ini kita akan melakukannya lebih sering.” Raisya berkata sambil mendekatkan wajahnya dan tersenyum.
Pesanan mereka akhirnya sampai, hari ini Ryan akhirnya mencoba sebuah minuman baru yang sudah lama ia ingin coba, yaitu kopi.
__ADS_1